
Viona menemani Nisa di rumah sakit, ia tidak tahu Kenzo dan Fauzan akan pergi ke Arab.
Stevent keluar dari kamar mandi, ia sudah rapi dan bersiap pergi ke kantor.
"Kapan kamu datang?" tanya Stevent.
"Baru saja Kak." Viona duduk di Sofa dan Nisa di kursi roda.
"Apa kamu tidak mengantarkan Kenzo dan Fauzan ke bandara?" Stevent mencium pipi Nisa.
"Aku mencintaimu Sayang." bisik Stevent di telinga Nisa.
"Aku mencintaimu Suamiku." Nisa mencium tangan Stevent.
"Apa maksud kakak?" tanya Viona.
"Kenzo akan pergi bersama Fauzan dan Ayesha ke Arab untuk melamar Ayesha." Stevent dan Nisa menatap Viona yang menunduk.
"Apa kamu masih mencintai Kenzo?" tanya Nisa pelan menyentuh tangan Viona.
"Kak, bolehkah aku meminta sesuatu kepada dirimu?" Viona menatap sedih pada Stevent.
"Katakanlah!" Stevent membalas tatapan adiknya.
"Aku menginginkan Fauzan." Terlihat kilatan di mata Viona.
Stevent dan Nisa saling pandang, mereka khawatir dengan Viona.
"Viona sayang, aku rasa ada banyak pria yang mencintai dirimu." Nisa menyentuh lembut pipi Viona.
"Aku mau pria seperti Kenzo dan Fauzan, tatapan mereka penuh kasih sayang dan sikap yang perhatian." Air mata Viona menetes.
"Kemarilah." Nisa menarik tangan Viona dan memeluknya.
Stevent terdiam dan kebingungan, ini pertama kalinya ia melihat Viona menangis dan terpuruk, karena pria.
Kenzo dan Fauzan adalah pilihan terbaik untuk Viona.
Kenzo telah memilih Ayesha sedangkan Fauzan belum menetapkan hatinya.
"Aku tidak bisa memaksa Fauzan untuk mencintai dirimu." Stevent menatap Viona.
"Viona, kamu hanya perlu berdoa agar Allah kirimkan pria terbaik untuk dirimu." Nisa mengusap kepala Viona.
"Kak, lakukan sesuatu untuk diriku." Viona memegang erat tangan Stevent.
"Viona, kamu seorang wanita, jadilah seperti Nisa yang tidak pernah mengemis cinta pada seorang pria tetapi ada banyak pria yang menginginkannya." Stevent meninggikan suaranya.
"Sayang." Nisa menarik tangan Stevent.
Viona kembali duduk di sofa dengan tertunduk, ia ketakutan dengan amarah Stevent.
Tentu Stevent sangat malu jika adiknya satu - satunya harus meminta cinta pada seorang pria yang berkuasa.
"Dengan Viona, wanita itu harus dikejar bukan mengejar, kakak tidak suka dengan sikap kamu yang cengeng mengharapkan cinta seorang pria." bentak Stevent membuat Viona semakin menangis.
"Sayang." Nisa menarik tangan Stevent agar menjauh dari Viona yang sesegukan.
"Tidak ada larangan wanita mencintai dan mengharapkan cinta dari seorang pria yang ia cintai." Nisa menyentuh pipi Stevent.
"Dengar, Viona boleh berusaha dan berdoa untuk mendapatkan cintanya dengan cara yang benar." Nisa mendekati Viona.
"Viona, yakinkan dulu hatimu, siapa pria yang kamu suka dan cinta, serahkan semuanya kepada Allah." Nisa mengusap lembut wajah Viona mengeringkan air matanya.
"Dekatkan dirimu kepada Allah, pasti Allah akan berikan yang terbaik untuk dirimu." Nisa memeluk Viona memberikan keterangan pada adik iparnya.
"Perbanyak sholat malam dan doa dalam sujudmu, pasti Allah akan kabulkan doa - doa kamu." Nisa berbisik lembut di telinga Viona.
"Terimakasih Kak." Viona menahan tangisnya.
"Tenangkan dirimu." Nisa mengusap punggung Viona.
"Jangan terlalu lama memeluk Viona, aku cemburu." Stevent duduk di sofa melipat kedua tangannya di dadanya.
"Kak, maafkan aku yang egois." Viona memeluk Stevent yang terdiam.
Nisa memberi Isyarat agar Stevent membalas pelukan dan mengusap kepala Viona.
Stevent menuruti perintah Nisa dan melakukan yang Nisa isyaratkan.
Viona mengeratkan pelukannya, merasakan kehangatan dan perlindungan dari seorang Kakak.
"Apa kamu mau melihat kepergian Fauzan dan Kenzo?" tanya Stevent pelan dan Viona menggelengkan kepalanya.
"Kenapa?" tanya Stevent.
"Jika dia jodohku, maka akan kembali kepada diriku." Viona tersenyum melihat kearah Nisa.
"Benar Sayang." Nisa mengusap kepala Viona.
"Aku mau memeluk istriku." Stevent melepaskan pelukannya dari Viona dan memeluk Nisa.
"Kakak." Viona kesal melihat tingkah Stevent.
"Aku tidak mau melihat Nisa cemburu." Stevent mencium bibir Nisa sekilas.
"Bisakah kakak tidak melakukan itu di depan diriku." Viona memasang wajah cemberut.
"Ah, aku tidak bisa menahan untuk tidak mencium Istriku." Stevent mencium pipi Nisa.
"Baiklah aku akan menunggu di luar sana kembali ketika Kak Nisa sendirian." Viona berjalan meninggalkan Nisa dan Stevent.
Melangkahkan kakinya menuju koridor rumah sakit, memikirkan semua ucapan Stevent dan Nisa.
Berusaha dan berdoa untuk mendapatkan yang kita inginkan dengan cara yang benar.
***
Ayesha dan Fauzan keluar bersama dari hotel menuju pesantren.
Mereka pamit pulang ke kerajaan Arab kepada Abi dan Umi.
Kenzo meminta doa restu Abi dan Umi untuk melamar Ayesha langsung kepada raja dan ratu kerajaan Arab.
Sebuah mobil telah menunggu di depan pesantren yang akan mengantarkan mereka bertiga ke bandara.
Ayesha melambaikan tangannya kepada semua anak pesantren.
Mereka bertiga masuk ke dalam mobil, Kenzo duduk di samping sopir, Ayesha dan Fauzan duduk di belakang.
Mobil melaju membelah jalanan kota menuju bandara internasional.
Cukup lama perjalanan menuju ke bandara sehingga Ayesha tertidur di pundak Fauzan.
Kenzo melirik kekasih hatinya yang tidur di pundak kakaknya, suatu hari nanti wanita itu akan tidur di sisinya.
Ketika mobil berhenti di depan pintu masuk, Ayesha langsung terbangun, ia adalah wanita yang siaga, tertidur hanya ketika bersama orang yang ia percayai bisa menjaganya.
Mereka bertiga berjalan bersama menuju pesawat jet yang telah siap melakukan penerbangan.
Pesawat telah terbang meninggalkan landasan dan berada di udara cukup lama untuk bisa sampai di bandara Arab Saudi.
Semua tertidur dalam lelahnya perjalanan dan penebangan.
__ADS_1
Mobil mewah milik kerajaan telah menunggu di depan pesawat Jet pribadi.
Beberapa mobil pengawal tersusun rapi menunggu kedatangan tuan putri dan pangeran.
"Aku rasa papa terlalu berlebihan." bisik Ayesha di telinga Fauzan.
"Ini semua karena dirimu." Fauzan tersenyum dengan elegan.
Kenzo tidak heran dengan penjagaan yang ketat untuk seorang putri.
"Apa papa berpikir aku akan melarikan diri." Ayesha tersenyum.
"Mungkin saja, pangeran Azim takut dirimu menolak dirinya." Fauzan melirik Kenzo dan tersenyum.
Mobil dengan iringan pengawal telah memasuki halaman kerajaan.
Pintu mobil di buka karpet merah terbentang dari depan pintu mobil hingga menaiki tangga.
Raja dan berdiri di tangga tertinggi, Ayesha menoleh Kenzo yang berdiri seorang diri di samping mobil.
"Ikutlah bersama kami naik ke atas." Suara lembut Ayesha menyejukkan hati Kenzo yang mulai khawatir.
"Apa aku boleh?" tanya Kenzo tidak yakin.
"Tentu saja, aku akan memperkenalkan dirimu sebagai calon suamiku." Ayesha tersenyum dari balik cadarnya.
Ayesha bisa melihat kekhawatiran Kenzo dengan status dirinya.
Fauzan tersenyum memperhatikan tindakan berani Ayesha mengajak Kenzo naik ke atas bersama.
Tidak ada yang bisa Fauzan lakukan selain mendukung Ayesha, ia menggenggam tangan Ayesha dan tangan Kenzo.
Menaiki tangga dengan karpet merah bersama menemui Raja dan Ratu.
Seorang pria tampan melihat gadis pujaannya dari jendela gedung teratas, kamar tamu.
"Putriku, kamu akan menjadi milikku seutuhnya, aku mencintaimu dirimu sejak kita bertemu." Pengeran Azim Al Malik tersenyum sangat tampan.
Raja menatap tajam kepada Kenzo, ia tidak mengenali pria di samping Fauzan.
"Jangan biarkan pria di samping Fauzan itu masuk!" perintah Raja kepada beberapa pengawal yang ada di depan pintu.
"Baik yang mulia." seorang pengawal menunduk.
Raja menarik tangan Ratu agar segera masuk ke dalam istana dan duduk di kursi kebesaran menunggu putra dan putri mereka.
"Aku merindukan putriku." Ibu Ratu menegang tangan Raja.
"Bersabarlah Ayesha akan segera tiba." Raja terus menatap pintu istana.
Mereka bertiga sampai di tangga paling atas dan akan masuk ke dalam Istana.
"Maaf Tuan putri dan pangeran, pria ini tidak diperbolehkan boleh masuk oleh Raja." Seorang pengawal menghadang pintu.
"Antarkan Kenzo ke istanaku!" perintah Fauzan kepada pengawal miliknya.
"Kenzo beristirahat dengan tenang di istanaku, ini pertemuan keluarga." Fauzan menepuk pundak Kenzo.
"Terimakasih." Kenzo menundukkan kepalanya dan melirik Ayesha sehingga pandangan mereka bertemu walaupun hanya sekilas.
Fauzan dan Ayesha melanjutkan langkah kaki mereka memasuki istana kerajaan.
Setelah memberi hormat, Ayesha dan Fauzan masih duduk di depan Raja dan Ratu.
Ratu segera turun dari singgasana dan memeluk Ayesha.
"Sayang, mama sangat merindukan dirimu." Ratu mengeratkan pelukannya melepaskan kerinduan kepada putranya.
"Mama, apa Mama tidak merindukan diriku?" Fauzan menatap Mamanya penuh kasih sayang.
"Beristirahatlah, malam ini kita akan adakan pertemuan." Raja berjalan mendekati Ayesha dan memeluknya.
"Putriku yang nakal." Raja sangat merindukan Putri kecilnya.
Setelah memberi hormat Ayesha dan Fauzan meninggalkan istana kerajaan Raja dan Ratu.
"Aku masih mau memeluk putriku." Ratu mengejar Ayesha dan kembali memeluknya.
"Maafkan Ayesha Mama." Ayesha memeluk erat Ibu Ratu.
"Beristirahatlah, kamu pasti lelah." Ibu Ratu melepaskan pelukannya.
Fauzan menggandeng tangan Ayesha berjalan bersama menuju istana dirinya sebelum sampai di istana Ayesha.
"Kenapa kamu duduk di sini?" tanya Fauzan pada Kenzo yang duduk di depan pintu istana Fauzan.
"Aku bingung harus melakukan apa di dalam istana ini." Kenzo tersenyum.
"Beristirahatlah, aku akan kembali ke istana ku." Ayesha berjalan meninggalkan Kenzo dan Fauzan.
Ayesha duduk di depan di pinggir kolam ikan dengan taman buah dan bunga di depan istananya.
Angin bertiup lembut membuat hijab dan cadar Ayesha melambai-lambai.
"Ayesha." Suara lembut mengejutkan Ayesha.
"Azim." Ayesha menoleh ke arah sumber suara dan berdiri.
"Apa kabar dirimu? lama tidak berjumpa." Azim tersenyum.
"Alhamdulilah sehat, bagaimana dengan dirimu?" Ayesha menunduk.
"Aku sangat merindukan dirimu Ayesha." Azim mendekati Ayesha yang hanya terdiam.
"Kenapa kamu tidak membalas pesanku?" Azim menatap Ayesha.
"Maafkan aku." Ayesha menunduk.
Kenzo memerhatikan pria yang bersama dengan Ayesha dan kejauhan.
"Ayesha aku telah melamar dirimu kepada raja dan ratu, bagaimana dengan dirimu?" tanya Azim.
"Malam ini akan di putuskan di ruangan pertemuan." Suara Ayesha lembut dan terus menunduk tanpa melihat Azim.
"Baiklah, aku berharap kabar gembira yang akan aku dengar." Azim tersenyum tampan, ia tidak mengalihkan pandangannya dari Ayesha.
Kenzo menahan cemburu, si tidak berani melangkah kakinya menuju istana Ayesha, ia dapat menebak pria itu adalah putra Sultan Brunei.
Kenzo menyenderkan tubuhnya di pilar raksasa istana Fauzan yang tidak jauh dari istana Ayesha.
Angin membawakan percakapan Ayesha dan Azim sampai ke telinga Kenzo.
Satu kalimat yang terdengar jelas di telinga Kenzo dari mulut Azim.
"Ayesha, aku jatuh cinta kepada dirimu sejak pertama kali kita berjumpa."
Itu adalah kalimat yang sama Kenzo ucapkan kepada Ayesha.
"Maafkan aku pangeran Azim, aku pamit untuk beristirahat." Ayesha menunduk dan berjalan masuk ke dalam istana meninggalkan Azim yang mengharapkan cinta Ayesha.
Kenzo terus memperhatikan Azim, pria yang menjadi saingannya dalam mendapatkan cinta Ayesha.
Azim berjalan melewati Kenzo, mereka saling bertatapan, tidak saling kenal tetapi ada kilatan pertempuran di antara kedua bola mata pria tampan itu.
__ADS_1
Saling menebak bahwa mereka adalah rival dalam urusan cinta seorang Ayesha.
Acara makan malam keluarga, semua hadir duduk di kursi masing-masing termasuk Kenzo dan Azim serta Sultan Brunei dan istrinya.
Kenzo merasa canggung dan tidak pantas hadir pada acara makan malam keluarga, ia telah menolak tetapi Fauzan memaksanya.
Ayesha berjalan Menuju ruang makan, menggunakan gamis, hijab dan cadar mahal, terlihat cantik dan lembut.
Ayesha memberi salam kepada semua orang dan duduk di samping Ratu.
Selesai makan malam mereka berkumpul di ruang keluarga.
Raja memperhatikan Kenzo yang diam diam terus berada di samping Fauzan.
Ayesha yang kadang - kadang melirik Kenzo yang tidak pernah ia lakukan sebelumnya, karena ada rasa khawatir dengan situasi yang canggung untuk Kenzo.
Pertemuan di mulai, Raja dan Ratu duduk berdampingan, Ayesha di samping Ratu.
Fauzan dan Kenzo di duduk kursi tamu sebelah kanan Raja, pangeran Azim dan Sultan Brunei di sebelah kiri Ratu.
"Fauzan, siapa pria di samping dirimu?" tanya Raja yang sudah penasaran dengan Kenzo.
"Izinkan pria ini memperkenalkan diri, Raja." Fauzan berdiri dan memberi hormat.
"Silahkan!" Perintah Raja.
Kenzo beranjak dari kursi berdiri di tengah-tengah Pi, memberi hormat kepada semua orang dan mengucapkan salam.
"Assalamualaikum, perkenalan saya Kenzo Almenzo dari Indonesia datang kemari untuk melamar kekasih saya, Ayesha Arsyad." Suara Kenzo terdengar lantang dan penuh percaya diri.
Fauzan dan Ayesha tersenyum, tetapi Azim dan Sultan Brunei terkejut begitu juga dengan Raja dan Ratu.
Kata kekasih memiliki arti yang luar biasa bagi Raja dan Ratu.
Putri mereka sudah dewasa dan berani membawa kekasihnya ke Istana.
"Apa maksud Anda kekasih?" tanya Raja.
"Saya telah melamar Ayesha sebagai kekasih saya dan hari ini saya melamar Ayesha sebagai istri saya kepada Raja dan Ratu." Kenzo menegakkan tubuhnya.
Raja melihat ke arah Ayesha yang selalu terlihat tenang dalam tunduknya.
"Ayesha, putriku, apakah yang dikatakan pria ini adalah benar?" Raja berdiri.
"Tentu saja Ayahanda." Ayesha menunduk kepalanya memberi hormat.
"Apa maksud kamu Ayesha?" Azim berdiri menatap tajam kepada Ayesha.
Sultan menarik tangan Azim agar kembali duduk.
Ayesha beranjak dari kursinya memberi hormat, berjalan dan berdiri hadapan Azim.
"Maafkan saya pangeran Azim, sesuatu yang tidak terduga mempertemukan saya dengan Kenzo dan kami terus bertemu tanpa di sengaja, mungkin kami telah di takdirkan untuk berjodoh." Ayesha menunduk.
"Tidak Ayesha, aku akan tetap menikahi dirimu!" Azim menatap tajam kepada Kenzo.
"Pangeran Azim, tolong maafkan saya." Ayesha membalikkan tubuhnya dan akan kembali ke kursinya.
Pangeran Azim menarik tangan Ayesha dengan cepat Kenzo menahannya.
"Jangan pernah menyentuh calon istriku." Kenzo mencengkram tangan Azim.
Semua berdiri melihat ketegangan yang terjadi, hanya Fauzan yang tetap tenang di kursinya.
"Siapa dirimu berani melamar Ayesha di depan Raja?" Azim menarik tangannya dari cengkeraman Kenzo.
"Aku bukan siapa-siapa, hanya hamba Allah yang beruntung dan dipertemukan dengan Ayesha." Kenzo membalas tatapan tajam Azim.
"Pangeran Azim, Tuan putri Ayesha telah menentukan pilihannya, keputusan ada di tangan Raja." Sultan Brunei menarik tangan Azim untuk duduk.
"Kamu tidak pantas untuk Ayesha." Azim menunjukkan jarinya meremehkan Kenzo.
"Saya akan berusaha memantaskan diri untuk tuan putri Ayesha." Kenzo melirik Ayesha.
"Silahkan kembali ke kursi kalian!" perintah Raja.
Kenzo memberi hormat dan kembali duduk di kursinya.
"Ayesha, apa kamu yakin dengan pilihan kamu?" Raju menatap tajam pada Ayesha.
"Insya Allah, iya Ayahanda." Ayesha menunduk.
Ketika mengadakan pertemuan formal, Ayesha menyapa Raja dan Ratu dengan panggilan ayahanda dan Ibunda, dan di luar itu Ayesha akan menyapa dengan sebutan Papa dan Mama.
"Sultan Brunei dan pangeran Azim, saya selaku Raja mohon maaf atas kejadian ini, mohon maaf kita belum bisa menjadi keluarga." Raja berjalan mendekati Sultan Brunei dan berjabat tangan.
"Tidak apa, Raja mungkin Azim dan Ayesha belum berjodoh, saya juga minta maaf." Sultan Brunei memeluk Raja.
Tatapan penuh kebencian dari Azim kepada Kenzo, pria yang tidak tahu malu yang telah merebut wanita cinta pertama Azim.
Pertemuan selesai dengan damai semua kembali ke kamar masing-masing.
Azim tidak menyerah ia mengejar dan menarik tangan Ayesha menekan di pilar raksasa.
"Azim, apa yang kamu lakukan?" Ayesha berusaha melepaskan diri.
"Aku akan menikahi dirimu dengan cara menyentuh dan melihat wajah kamu." Azim tersenyum.
"Itu tidak akan pernah terjadi." Kenzo menarik kerah baju Azim dan memberikan pukulan di wajah tampan Azim sehingga Azim tersungkur di lantai.
"Ah, pria rendahan yang beruntung, apa yang kamu lakukan pada Ayesha sehingga ia memilih dirimu?" Azim beranjak dari lantai.
"Tidak ada yang aku lakukan." Kenzo melirik Ayesha.
Fauzan tersenyum melihat pemandangan indah dari atas balkon istananya.
Ia sengaja meminta Kenzo mengikuti Azim, Fauzan yakin Azim tidak akan menyerah begitu saja.
Seorang pangeran akan sangat terhina di kalahkan oleh pemuda biasa dalam urusan cinta.
"Azim, kita tidak berjodoh jadi lupakanlah diriku!" tegas Ayesha.
"Kembalilah ke kamar Kalian!" perintah Ayesha berjalan meninggalkan Kenzo dan Azim, ia masuk ke dalam istana.
"Ayesha." Azim berteriak tetapi Ayesha tidak bergeming.
Kenzo kembali ke istana Fauzan, ia sudah tenang melihat Ayesha telah masuk ke dalam istana.
Azim kesal, ia menyimpan rasa benci dan dendam kepada Kenzo dan Ayesha yang telah menolak dirinya.
"Apa pun caranya kamu harus menjadi milikku, walaupun menjadi tahanan dalam istanaku." Azim tersenyum dan meninggalkan istana Ayesha kembali ke kamarnya.
***
baca juga Novel baru Author
(Cari : AnnaLee di aplikasi Joy lada)
Mohon dukungnnya berikan like, Komentar, bintang 5 dan Vote. Terimakasih
Baca juga Novelku “Arsitek Cantik”
Novel Kakakku “Nyanyian Takdir Aisyah dan Cinta Bersemi di Ujung Musim.” (Fitri Rahayu), Terimakasih.
__ADS_1
Semoga kita semua dalam keadaan sehat dan selalu mendapatkan perlindunganNya, Aamiin.