
Stevent sampai di rumah Jhonny, ia menghentikan mobilnya tepat di depan pintu rumah Jhonny.
Stevent segera berlari menuju laboratorium, ia tidak perduli lagi para pelayan yang ketakutan.
Stevent sampai depan pintu laboratorium, ia melihat Nisa sedang meracik obat bersama Valentino, Aisyah berada di kebun sedang menyiram tanaman.
Stevent mengepalkan jari tangannya menahan emosi dan cemburu, ia melangkah kakinya perlahan mendekati Nisa.
" Sayang, aku kangen" Stevent memeluk Nisa dari belakang dan mencium pipi istrinya.
" Ya Allah, kamu mengejutkan dirimu" Nisa memegang tangan Stevent yang melingkar di perutnya.
" Halo Valen" Stevent melirik Valentino, ia sengaja memperlihatkan kemesraan di hadapan Valentino.
" Halo Tuan Stevent" Valentino mengulurkan tangannya. Stevent segera melepaskan pelukannya dan menerima uluran tangan Valentino.
Stevent kembali memeluk Nisa, meletakkan dagunya di atas pundak Nisa dan melihat tangan istrinya yang sibuk meracik ramuan herbal.
" Sayang, jangan menggangguku belajar" Nisa menepuk pipi Stevent lembut.
" Tidak aku hanya ingin melihat dirimu, aku sangat rindu pada Istriku yang cantik ini" Stevent tidak memperdulikan Valentino yang pura-pura tidak melihat karena ia sangat tersiksa dengan naluri Jomblo.
" Dokter Nisa, saya akan membantu Dokter Aisyah" ucap Valentino berlalu meninggalkan Stevent yang cemburuan.
" Iya, Terimakasih" ucap Nisa yang kembali fokus pada ilmu yang ia dapatkan hari ini.
" Sayang, apakah masih lama?" tanya Stevent manja yang terus memeluk Nisa.
" Aku sudah selesai" Nisa memutar tubuhnya menghadap Stevent.
" Kenapa kamu menghadap diriku?" Stevent menatap bibir seksi istrinya.
" Kenapa?" tanya Nisa yang mengangkat sedikit dagunya.
" Karena itu menggoda " Stevent baru saja akan menikmati bibir Nisa namun Selembar Daun tanaman obat telah menempel di bibir Stevent.
" Pria yang tidak tahu tempat" Nisa menahan tawa.
" Kita pinjam kamar Jhonny" Stevent berbisik di telinga Nisa.
" Hmm, apa masih kurang di pagi dan malam hari?" tanya Nisa mencubit hidung Stevent.
" Kurang sekali" Stevent mengeratkan pelukannya membuat Nisa menahan tawa.
Jhonny berlari ke laboratorium ia melihat Aisyah bersama Valentino.
" Brondong ini suka sama Nona Nisa atau Dokter Aisyah?" Jhonny menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
" Halo Tuan Jhonny" Valentino mendekati Jhonny yang masih mematung, Aisyah melihat sekilas ke arah Jhonny, ia kembali dengan aktivitasnya.
" Apa Anda masih ingat saya " lanjut Valentino mengulurkan tangannya kepada Jhonny.
" Tentu saja" Jhonny tersenyum dan menerima uluran tanganku Valentino.
" Anda luar biasa" puji Valentino dan melihat sekeliling laboratorium dan taman.
" Ini semua milik Tuan Stevent" Jhonny berjalan bersama Valentino mendekati Aisyah yang tidak perduli dengan Jhonny.
" Kenapa kamu pulang lebih awal?" tanya Dokter Aisyah tanpa melihat Jhonny.
" Tuan Stevent kangen istrinya" jawab Jhonny datar dan melirik Aisyah.
" Bukan karena kamu kangen dengan diriku kan?" Dokter Aisyah bercanda Tanpa melihat Jhonny, namun membuat Jhonny terbatuk-batuk tersedak air ludah hingga matanya memerah karena kesulitan untuk berhenti.
" Hei, kamu kenapa?" Dokter Aisyah beranjak dari tanah, mencuci tangan, mengambil botol minuman miliknya berisi air mineral dan memberikannya kepada Jhonny.
" Sepertinya seseorang sedang mengumpat dirimu" Dokter Aisyah dan Valentino tertawa bersama.
Jhonny berusaha menenangkan dirinya.
Stevent menggandeng Nisa Melewati Dokter Aisyah, Valentino dan Jhonny.
" Dokter Aisyah, hari ini aku sudah selesai belajar, aku akan menemani Suamiku kembali ke kantor dan makan siang" Nisa tersenyum, Stevent seakan tidak ingin melepaskan pelukannya.
__ADS_1
" Valen , terimakasih untuk hari ini" lanjut Nisa.
" Ayo Sayang kita berangkat sekarang " Stevent menggendong Nisa.
" Ya Ampun" Nisa kaget
" Jhonny, segera kembali ke kantor!" perintah Stevent menatap tajam kepada Jhonny.
Stevent benar-benar membuat 3 jomblo tersiksa melihat kemesraan yang sengaja ia perlihatkan.
" Sayang, kamu benar-benar tidak punya perasaan" Nisa tersenyum melingkari tangannya di leher Stevent.
" Biar para jomblo jelek itu segera mencari pasangan" tegas Stevent, ia sangat tidak tenang bila Nisa berada dekat-dekat dengan pria lain yang tidak jelas di matanya.
Stevent menggendong istrinya sampai ke dalam mobil, ia memasang sabuk pengaman, tidak lupa selalu mencium dahi istrinya dan segera mengendarai mobil menuju restoran terkenal dekat dari perusahaannya.
Mobil sport hitam berhenti di depan pintu restoran, seorang petugas parkir segera mengambil alih mobil dan membawanya ke tempat parkiran.
Stevent menggenggam erat tangan Nisa berjalan menuju sebuah meja dekat dengan jendela dan taman restoran. Semua mata memandang pada Bos besar Perusahaan.
" Aku yang akan memesan makanan" Stevent memanggil pelayan restoran, ia tahu Nisa bukanlah pemilih.
" Ingat pesan secukupnya jangan berlebihan" tegas Nisa.
" Aku mengerti sayang" Stevent mengedipkan matanya menggoda Nisa.
Nisa dan Stevent duduk bersebelahan, saling berdekatan.
Pasangan pengantin tahun ini yang membuat iri semua orang yang melihat mereka.
Tidak berapa lama menu makanan serba sedikit telah tertata rapi di atas meja, pelayan dan pengunjung heran Stevent dan Nisa.
Tidak ada yang tidak mengenal Stevent, bos besar pemilik banyak perusahaan Dunia dan ia sangat pilih - pilih makanan sesuai dengan moodnya.
Biasanya, Ia akan pesan banyak makanan dari semua menu, dan membuat Bingung para chef, ia akan mencoba dan memakan sedikit saja dari makanan yang disediakan, sisanya akan di buang begitu saja.
Sejak menikah dengan Nisa, ia suka semua yang Nisa suka.
Para pengunjung dan pelayan menatap aneh kepada pasangan yang begitu sempurna, namun makan tanpa sendok dan garpu, tidak ada yang berani menyapa, tersenyum apalagi tertawa.
Nisa dapat merasakan pandangan aneh dari orang sekitar mereka, Nisa segera mendekatkan tangannya kemulut Stevent, dan Stevent tersenyum manis, ia membuka lebar mulutnya dan memasukan 5 jari lentik Nisa yang menahan tawa.
Stevent melakukan hal yang sama, ia memasukkan makanan ke mulut Nisa dengan tangannya.
Para pengunjung berdecak kagum menahan senyum dan ada rasa iri di hati, " Wah" terdengar sedikit suara dari pengunjung.
Nisa dan Stevent telah menghabiskan makan siang mereka yang serba secukupnya. Makanan di piring terlihat bersih tidak tersisa.
Nisa dan Stevent berjalan menuju musholla restoran untuk melaksanakan shalat Zuhur bersama.
Stevent menggandeng Nisa kembali ke mobil dan menuju Perusahaan yang tidak jauh dari restoran.
Stevent berjalan bersama Nyonya Muda cantik dengan terus menggenggam tangan Nisa, semua karyawan menunduk, tidak ada yang berani melihat apalagi menyapa.
Nisa berjalan dengan senyuman manis dan tulus, ia heran tidak ada yang merespon dirinya semua menundukkan kepala bagaikan patung.
Nisa menatap Stevent penuh tanda tanya, ia merasa perlakuan para karyawan berbeda dari terakhir Nisa ikut Stevent ke kantor.
" Kenapa Sayang?" Stevent tersenyum membalas tatapan istrinya, ia mencium dahi Nisa.
Ketika Stevent dan Nisa telah masuk ke dalam lift barulah para karyawan menarik nafas lega dan mengusap dada.
Stevent membuka pintu untuk Nisa dan duduk di Sofa.
" Sayang, kamu libur hari apa ?" Stevent berbaring di pangkuan Nisa dan memainkan ujung jilbab segiempat ukuran jumbo.
" Jika tidak ada jadwal Operasi, aku bisa libur" Nisa mengusap rambut Stevent dengan lembut.
" Aku ingin selalu bersama dengan dirimu" Stevent menarik jari - jari Nisa dan menciumnya.
" Sayang, kita sudah di kantor, apa kamu tidak bekerja?" Nisa mencium dahi Stevent.
" Jhonny belum datang" ucap Stevent kesal.
__ADS_1
Jhonny kembali tersedak, ia melihat mobil Stevent telah terparkir di tempatnya, ia segera berlari.
Jhonny makan siang di rumah karena Dokter Aisyah sendiri yang memasak, ia hampir lupa perintah Stevent untuk kembali ke kantor secepatnya.
Jhonny merasa lift bergerak sangat lambat. Ia sangat terburu-buru sehingga lupa mengetuk pintu, ketika pintu terbuka Jhonny hanya bisa mematung di depan pintu melihat kemesraan Stevent dan Nisa.
Stevent beranjak dari kursi dan menatap tajam ke arah Jhonny yang perlahan mundur untuk menutup pintu.
" Berhenti" Teriak Stevent mengejutkan Nisa.
" Sayang, kamu tidak boleh marah - marah" Nisa menutup mulut dan mata Stevent yang terlihat merah dan melotot ke arah Jhonny yang kembali membeku di tengah-tengah Pintu.
Stevent segera menarik tangan Nisa dari wajahnya dengan lembut dan mencium bibir seksi yang begitu menggoda.
Jhonny segera keluar dari ruangan dan menutup pintu, jantungnya berdegup kencang kaki dan tangannya terasa lemas , ia tidak tahu apa yang menyebabkan ia merasa tidak nyaman, karena bentakan Stevent telah biasa ia dengarkan atau karena melihat adegan mesra yang dilakukan Bos-nya.
Jhonny terduduk di lantai tepat di depan pintu ruangan Stevent. Dua orang Sekretaris menatap Bingung kepada Jhonny, mereka tidak berani menegur Jhonny, karena mereka bisa mendengarkan teriakan Stevent.
" Sayang, masih ada Jhonny" Nisa menutup mulut dengan tangannya. Stevent melirik pintu yang telah tertutup dan Jhonny telah menghilang.
" Dia sudah pergi " Ucap Stevent yang kembali melakukan serangan kepada Nisa.
Stevent menggedong Nisa menuju sebuah pintu di samping meja kerja Stevent.
Sebuah kamar khusus milik Stevent yang ia gunakan ketika lembur dan tidak ingin pulang.
Kamar yang di desain khusus oleh Stevent agar bisa membuat ia merasa nyaman dan betah berada di dalam kamar ketika ia merasa lelah.
Sangat cantik dan elegan, bergaya kuno dengan warna yang teduh membuat ruangan terasa dingin.
Sebuah tempat tidur, lemari pakaian, meja dan kursi kerja, kamar mandi dan dapur, kulkas, kamar yang lengkap bagaikan sebuah rumah minimalis mewah.
Nisa sangat kagum, Stevent adalah pria cerdas luar biasa, Desain yang ia buat memiliki ciri khas begitu mewah dan berbeda.
" Kita akan bercinta di kantor ku" Stevent membaringkan tubuh Nisa di atas tempat tidur.
Ia segera melepaskan jas, dasi dan pakaiannya, terlihat tubuh seksi menggoda.
Nisa hanya bisa tersenyum melihat tingkah suaminya.
Pintu telah di kunci permainan telah di mulai, adegan panas dan mesra yang hanya boleh di lakukan pasangan halal.
Desahan dan erangan hanya mereka berdua yang bisa mendengarkan dan merasakan nikmatnya menjadi pasangan suami istri.
***
Jhonny beranjak perlahan dari lantai, tenaganya terkuras habis, yang terbayang di otaknya saat ini adalah adegan ciuman Stevent dan Nisa.
Dan Adegan itu seakan berubah menjadi dirinya dan Dokter Aisyah.
Jhonny duduk di sofa ruang tunggu, ia mengusap kasar wajahnya, untuk menghapus bayang Dokter Aisyah ketika ia marah, tersenyum, menjulurkan lidah hingga mata yang melotot, dan bibir seksi menggoda.
" Aaaarrghh, aku sudah gila " Jhonny berteriak mengagetkan dua sekretaris yang berada di luar ruangan tunggu.
*
*
*
*
******************************************
**Thanks for Reading 🤗
Terimakasih kepada Readers ku yang telah berkenan memberikan Like dan komentar pada setiap episode 🤗
Terimakasih yang sebesar-besarnya atas VOTE yang telah diberikan 😍
Semoga Readers semua sehat selalu dan mendapatkan limpahan rezeki, Aamiin 😇
♥️Love You Readers 💓**
__ADS_1