Cinta Untuk Dokter Nisa

Cinta Untuk Dokter Nisa
Godaan Cinta


__ADS_3

Rumah Keluarga Afifah


Sepertiga malam wanita cantik telah beranjak dari tempat tidurnya, membersihkan diri dan melaksanakan sholat tahajut, dilanjutkan dengan lantunan ayat suci Alquran dengan suara lembut dan merdu hingga azan subuh berkumandang. Seorang pria tampan menyenderkan tubuhnya dipintu kamar Afifah menikmati indahnya suara dari seorang wanita yang sangat ia cintai.


Afifah menyelesaikan sholat, merapikan dan membersihkan kamar, membuka semua jendela sehingga udara pagi yang menyegarkan dapat masuk, wanita itu keluar dari kamar menuruni anak tangga dengan semangat, ia berjalan menuju dapur dan melihat para pelayan dan koki yang sedang sibuk memasak sarapan dengan menu istimewa ala chef internasional.


“Selamat pagi Nona muda.” Para pelayan memberi salam dengan menundukkan kepalanya.


“Pagi.” Afifah tersenyum dan berjalan keluar dari rumah, menuju taman bunga, tidak ada yang bisa ia lakukan karena semua orang telah memiliki tugas masing-masing.


“Ah, biasanya aku menyiram bunga.” Afifah meregangkan tubuhnya menikmati udara pagi yang menyejukkan. Pria tampan terus tersenyum melihat tingkah kekasihnya, wanita itu selalu bisa menjadi diri sendiri dimanapun dia berada.


“Kewaspadaan kamu sangat rendah sayang.” Nathan menarik pinggang Afifah.


“Nathan, lepaskan aku!” Afifah melotot.


“Bisakah kamu mempercepat pernikahan kita, aku tidak bisa menahan diri lagi.” Nathan menatap lembut pada Afifah.


“Jika kamu terus seperti ini, aku akan membatalkan pernikahan kita.” Afifah menatap tajam pada Nathan.


“Ah, kamu mengancam diriku.” Nathan tersenyum dan melepaskan tubuh Afifah.


“Aku bisa gila berada didekat pria ini.” Afifah memijit batang hidungnya.


“Afifah, kamu tidak boleh lagi berpelukan dengan Asraf karena dia bukan saudara kamu.” Nathan menatap tajam pada Afifah.


“Aku tahu begitu juga dengan dirimu.” Afifah duduk di bawah pohon mengunggu cahaya matahari menyinari bumi.


“Ya, aku akan memeluk dirimu ketika kita sudah menikah.” Nathan tersenyum menggoda.


“Apakah hanya itu yang kamu pikirkan?” Afifah melirik Nathan.


“Dengar sayang, pemikiran itu hanya ada pada dirimu karena aku mencintai kamu.” Nathan mendekatkan wajahnya pada Afifah.


“Baiklah, jangan terlalu dekat.” Afifah bergeser.


“Apa yang kamu lakukan di luar sepagi ini?” Nathan menatap Afifah.


“Menunggu cahaya Matahari yang akan mengeringkan embun dan memekarkan kuntum dari bunga.” Afifah tersenyum.


“Dirimu secantik dan selembut bunga.” Nathan terus memandang Afifah.


“Sehangat Matahari pagi.” Afifah tersenyum dan menoleh kearah Nathan sehingga mata mereka saling beradu.


Senyuman cantik begitu menggoda dan menggetarkan hati setiap orang yang melihatnya, ketulusan dan kelembutan yang tanpa sadar menjadi daya tarik seorang Afifah yang tumbuh dan besar di desa sehingga membentuk dirinya menjadi pribadi yang mandiri dan ramah.


“Kamu tidak boleh tersenyum seperti itu kepada pria lain.” Nathan menekan tangan kekarnya pada pipi Afifah yang sangat halus.


“Nathan, senyum itu ibadah.” Afifah memindahkan tangan kekar Nathan.


Pria itu mencium tangannya yang menyentuh pipi kekasihnya, ia tersenyum pada Afifah dan memandang wajah cantik wanita di depannya, pikirannya melayang jauh berfantasi ria dengan khayalan liar.


“Hentikan pikiran kotor kamu.” Afifah melempari wajah Nathan dengan setangkai melati dengan aroma khas dan berjalan mendekati taman bunga.


“Ah, apa kamu bisa membaca pikiranku.” Nathan mengejar Afifah.


“Dari senyuman nakal itu aku bisa menebak apa yang kamu pikirkan.” Afifah memicingkan matanya.


“Hey, jangan mengodaku dengan tatapan itu?” Nathan tersenyum.


“Apa kamu sudah gila? Semua yang aku lakukan selalu menggoda dirimu.” Afifah terus berjalan.


“Karena kamu memang menggoda.” Nathan memeringkan kepalanya agar ia bisa melihat wajah Afifah dengan jelas.


“Menjauhlah dariku agar kamu tidak tergoda.” Afifah mempercepat langkahnya.


“Tapi aku suka dengan godaan darimu.” Nathan terus mengikuti Afifah.


“Terserah.” Afifah kesal.


“Apa kamu yakin dengan kata terserah?” Nathan kembali menggoda Afifah mendekatkan wajahnya sehingga hidung mancung mereka hampir bertabrakan.


“Kita benar-benar harus segera menikah.” Afifah menatap tajam pada Nathan.


“Benar sekali sayang.” Nathan segera menjauhkan wajahnya dan menyentuh hidung Afifah dengan jari.


“Hmm, Matahari sudah terbit.” Afifah memejamkan mata dan membentang kedua tanganya, menikmati hangatnya Mentari pagi, sedangkan Nathan menikmati cantiknya wajah dengan mata terpejam secantik bunga yang bermekaran.


“Lihatlah, bunga sudah bermekaran, kumbang dan kupu-kupu berdatangan.” Afifah tersenyum cantik.


“Kamu bunganya, kumbang dan kupu-kupu adalah pria yang siap menggoda untuk memiliki dirimu.” Nathan tersenyum.


Afifah hanya melirik Nathan dan berjalan menjauh, ia malas berdebat dengan pria yang terlalu cerdas di depannya, tidak ada yang bisa mengalahkan Nathan.


“Afifah, kenapa kamu selalu menjauhi diriku?” Nathan terus mengikuti Afifah bagaikan bayangan.


“Nathan, jika kita telah menikah, apa kamu akan mengikuti diriku atau menjauh setelah mendapaykan aku?” Afifah menghentikan langkahnya dan menatap Nathan.


“Kenapa kamu bertanya seperti itu?” Nathan memandang Afifah dengan serius.


“Semua pria seperti itu, mereka mati-matian untuk mendapatkan sesuatu tetapi setelah berhasil akan disia-siakan dan bahkan terlupakan.” Afifah menatap tajam.


“Aku tidak akan seperti itu, kau kan terus menjaga dan mencintai dirimu.” Nathan mendekatkan diriny apada Afifah.


“Itu adalah perkataan kamu saat ini.” Afifah tersenyum.


“Afifah, apakah kamu tidak punya rasa kepercayaan sedikitpun pada diriku?” Nathan mencengram tangan Afifah.


“Kamu hanya berusaha menolak diriku.” Nathan menatap tajam pada Afifah.


“Nathan, kamu menyakiti diriku.” Afifah meringis.


“Dengar Afifah, aku mencintai dirimu, ingin memilikimu dan tidak akan membiarkan kamu pergi meninggalkan diriku.” Mata Nathan memerah.


“Aku akan melakukan yang lebih jahat dari sebelumnya, aku tidak mau kehilangan orang yang aku cintai untuk kedua kalinya, aku tidak segan membunuh pria yang berani merebut dirimu dariku.” Wajah Nathan terlihat mengeras karena marah.


“Kamu menyakitinya.” Jordan menarik tangan Afifah.


“Jangan menyentuh kekasihku!” Nathan kembali menarik tangan Afifah membuat wanita itu berada di tengah-tengah pria tampan yang memegang kedua tangannya.


“Bisakah kalian melepas tanganku?” Afifah berusaha untuk tenang dan menahan sakit dilengannya.

__ADS_1


“Tidak!” Jordan dan Nathan menjawab serempak.


“Kalian menyakiti pergelanganku” Afifah melihat Nathan dengan tatapan lembut.


"Maafkan aku.” Nathan melepaskan genggamannya.


“Tolong lepaskan pegangan kamu.” Afifah melihat kearah Jordan.


“Baiklah.” Jordan menarik tangannya.


“Terimakasih.” Afifah melihat dan menyentuh pergelangannya yang merah dan pergi meninggalkan dua pria yang masih bersitegang.


“Kamu mau kemana?” Nathan menarik ujung hijab Afifah.


“Kembali kerumah.” Afifah melirik Nathan.


“Aku akan ikut bersama dengan dirimu.” Nathan menoleh pada Jordan dan berjalan bersama Afifah.


“Sayang, apa kamu marah?” Nathan melembutkan suaranya.


“Kamu berlebihan.” Afifah berjalan semakin cepat mengindari Nathan.


“Sayang, maafkan aku.” Nathan memeluk Afifah dari belakang.


“Nathan, lepaskan! Kamu tidak boleh melakukan itu.” Afifah membuka tangan Nathan yang melingkar dipingangnya.


“Aku akan melakukan lebih dari ini jika kamu terus menghindari diriku.” Nathan tersenyum.


“Atau aku akan kembali memasang borgol di tangan kamu.” Nathan berbisik di telinga Afifah.


“Aku bisa gila.” Afifah memijit kepalanya.


“Kamu tidak akan gila Sayang, karena aku adalah dewa obat.” Nathan mengigit telinga Afifah dari balik hijabnya.


“Aw, Nathan kamu yang gila.” Afifah mengusap telinganya dan berlari menaiki tangga kamar.


“Kamu yang membuat aku gila dan tidak ada obat untuk gila karena cinta.” Nathan tersenyum puas, ia bisa melihat wajah Afifah yang memerah.


“Kamu sangat tidak sabaran anak muda.” Mama Afifah tersenyum melihat kenakalan Nathan.


“Tentu saja Nyonya, putri anda begitu menggoda dan menggemaskan.” Nathan duduk di sofa ruang tamu.


“Apakah kamu sangat mencintai Afifah?” Mama Afifah duduk di depan Nathan.


“Aku melakukan semua ini karena aku mencintai dirinya.” Nathan duduk dengan elegan.


“Afifah sangat beruntung tidak seperti Aisyah yang hanya memilih menikahi seroang assiten rendahan.” Mama Afifah tersenyum sinis.


“Cinta bisa mengalahkan segalanya, aku juga tidak mengira jika Afifah terlahir dari keluarga terhomat, andaikan dia anak seorang pembantu aku tetap akan menikahi dirinya.” Nathan tersenyum.


“Cinta lebih berharga dari pada harta dan tahta Nyoya.” Nathan melirik Papa Afifah yang baru datang.


“Maafkan sikap istriku Tuan muda Nathan.” Papa melirik pada Mama.


“Tidak apa, setiap orang tua pasti menginginkan kebahagian anak mereka.” Nathan tersenyum tampan.


***


Aisyah telah selesai mempersiapkan sarapan bersama para pelayan dan menyusul Jhonny ke kamar tetapi pria itu tidak berasa di sana.


“Kemana suamiku tercinta?” Aisyah tersenyum dn melihat pintu ruang kerja yang sedikit terbuka.


“Ah, pria gila kerja, masih sepagi ini dia sudah berada di ruang kerja.” Aisyah masuk perlahan dan melihat wajah tampan yang tertidur pulas di atas Sofa. Semalam Jhonny tidak tidur dengan cukup karena ia harus menyelesaikan pekerjaan sebelum pergi bersama istrinya keluar provinsi.


“Sayang, ayo sarapan.” Aisyah mengembuskan napas hangat aroma mint pada hidung Jhonny.


Perlahan mata pria itu terbuka dan melihat wajah cantik istrinya yang sangat dekat dengan cepat bibir mereka bertautan menikmati ciuman pagi yang hangat dan romantic.


“Sarapan pertama.” Aisyah tersenyum berada di atas tubuh kekar yang menatap dirinya dengan lembut.


“Ya.” Jhonny menarik leher Aisyah hingga kembali menempelkan bibir mereka begitu dalam dan sangat lama, bermain dengan lidah dan sedikit gigitan ringan.


“Apa kamu sudah memberitahuakan kepada Stevent?” Aisyah menjilati bibir basah Jhonny dan semakin basah.


“Aku sudah menyelesaikan pekerjaanku dari semalam hingga pagi ini.” Jhonny menatap Aisyah.


“Maafkan diriku.” Wanita itu kembali mencium bibir Jhonny dan menggigit leher hingga meninggalkan bekas.


“Aah.” Jhonny merasakan sakit yang menggoda dari gigitan istrinya.


“Aku mau lagi.” Jhonny membuka hijab dan menurunkan zipper gamis Aisyah yang masih berada di atas tubuhnya.


“Tunggulah.” Aisyah beranjak dari atas tubuh Jhonny dan mengunci pintu ruang kerja, ia kembali menaiki tubuh pasrah yang terbaring di atas sofa menunggu wanita agresif itu menunggangi dirinya dengan penuh gairah.


Mereka sering bercinta di pagi hari sebelum sarapan, pria itu merasa sangat berhasrat dan bernafsu ditambah lagi istrinya yang selalu menggoda dirinya. Pakaian yang berserakan di atas lantai, nafas yang terengah-engah, detakan jantung dan darah yang memompa lebih cepat dari biasanya bergelora dalam ruangan kerja.


“Sayang kamu selalu bisa membuat diriku kecanduan.” Aisyah mencium bibir Jhonny yang terus menikmati keagresifan istrinya. Ia tidak bisa mengungkapkan perasaan puas yang telah wanita itu ciptakan ketika bercinta.


“Aku mandi duluan.” Aisyah tersenyum turun perlahan dari tubuh seksi dan berotot.


“Tetaplah di sini.” Jhonny menarik tubuh tanpa penutup itu kembali terhempas memberikan kehangatan yang basah.


“Sayang, aku tidak sanggup lagi.” Aisyah mencubit hidung suaminya.


“Aku hanya mau pelukan dan ciuman.” Jhonny memakan bibir seksi Aisyah yang telah bengkak dan basah.


Terdengar ketukan pintu ruang kerja, suara kepala pelayan mengingatkan waktu sarapan dan makanan akan segera dingin.


“Tuan dan Nona, apakah saya harus kan memanaskan makanan?” Tanya pelayan dari balik pintu.


“Tidak usah , kami akan segera keluar.” Aisyah tersenyum dan beranjak dari tubuh manja pria yang tidak ingin melepaskan dirinya. Jhonny mengikuti langkah kaki istrinya dan mandi bersama.


***


Rumah Stevent


Ayumi duduk berhadapan dengan Viona, Nisa berada di samping Stevent, mereka sarapan bersama dengan tenang tanpa ada yang bersuara.


“Ayumi, tunggu saya di ruang kerja!” Stevent melirik Ayumi yang baru bernajak dari kursi setelah selesai sarapan.


“Baik Tuan.” Ayumi menunduk dan segera berjalan menuju ruang kerja.

__ADS_1


“Kak, aku akan ke kampus bersama Ayumi.” Viona berjalan menuju kamarnya.


“Ya, aku perlu berbicara dengan Ayumi sebentar.” Stevent melirik Nisa.


“Sayang, aku ke ruangan kerja.” Stevent mencium dahi Nisa dan berjalan menuju ruang kerja yang terbuka. Ia melihat Ayumi berdiri dan menunduk memberi hormat.


“Apa yang terjadi di kantor cabang?” Tanya Stevent duduk di kursi kerjanya.


“Saya telah mengirimkan laporan pada Tuan Jhonny.” Ayumi tetap menunduk tanpa melihat wajah Stevent.


“Katakan saja dan angkat kepala kamu!” Stevent menatap tajam pada wajah yang terus menunduk.


“Baik Tuan.” Ayumi melihat kearah Stevent dan menceritakan semua kejadian tanpa ada yang terlewatkan, tersusun rapi di memori Ayumi bagaikan chip computer.


Stevent sangat terkejut dengan kemampuan mengingat yang dimiliki Ayumi, wanita itu sungguh luar biasa, ia kembali membuka data Ayumi yang tergeletak di atas meja.


“Ketika Nisa kembali bekerja aku mau kamu berada di samping dirinya.” Stevent menatap Ayumi.


“Bagaimana dengan nona Viona Tuan?” Tatapan Ayumi lurus kedepan.


“Dia memiliki pengawal tersembunyi.” Stevent menatap Ayumi penuh penyelidikan.


“Baik Tuan.” Ayumi tetap tenang.


“Aku sangat penasaran dengan wanita ini, dia terlalu sempurna sebagai seorang bodyguard.” Stevent berbicara dalam hatinya.


“Pergilah bersama Viona ke kampus!” Stevent keluar dari ruang kerja.


“Baik Tuan.” Ayumi menunduk.


“Tentu saja Tuan, saya kemari untuk melindungi Nisa.” Ayumi tersenyum dan berjalan mengikuti langkah kaki Stevent dari belakang.


“Ayumi, ayo kita ke kampus.” Viona menggandeng tangan Ayumi.


“Saya akan mengambil ransel di kamar.” Ayumi tersenyum dan berjalan menaiki tangga menuju kamar dirinya.


“Vona, jika Nisa kembali bekerja, Ayumi akan menjadi pengawalnya.” Stevent berjalan menuju kamranya.


“Kenapa? Aku mau Ayumi bersama dengan diriku.” Viona mengejar Stevent.


“Nisa lebih membutuhkan Ayumi.” Stevent melirik Viona dengan tatapan tajam.


“Bailah, padahal aku merasa nyaman dengan dirinya.” Viona menunduk.


“Viona, ayo berangkat.” Ayumi tersenyum cantik.


“Ayo.” Viona menggandeng tangan Ayumi dan berjalan bersama menuju garasi mobil.


“Aku yang akan mengemudi.” Viona berlari menuju kursi pengemudi tetapi tetap kalah cepat dari Ayumi.


“Saya yang akan mengemudi nona.” Ayumi tersenyum.


“Aku mohon.” Viona memelas.


“Baiklah.” Ayumi pindak kek kursi penumpang.


“Terimakasih Ayumi cantik.” Viona sangat bersemangat.


Mobil keluar dari perkarangan rumah Stevent melaju dengan kecepatan sedang menuju belokan yang sedikit sulit, Viona tidak terbiasa berkendara karena selalu dihalangi oleh Stevent.


“Brak.” Mobil Viona menabrak bagian belakang mobil berwarna hitam yang berhenti di depan mini market.


“Ayumi.” Viona gugup.


“Tidak apa, yang penting anda tidak terluka dan tetaplah di dalam mobil.” Ayumi keluar dari mobil.


“Ayumi.” Asraf menatap wajah cantik yang tidak ditutupi masker.


“Tuan Asraf, maafkan nona Viona.” Ayumi menunduk.


“Kenapa kamu membiarkan dia mengendarai mobil, ia tidak terbiasa.” Fauzan keluar dari mobil melirik Viona dan menatap tajam pada Ayumi.


“Bisa karena terbiasa, semakin ia tidak mencoba akan membuat Nona Vioan semakan tidak mahir mengendarai mobil.” Ayumi melirik Viona yang merona.


“Tuan Fauzan, maafkan aku.” Viona keluar dari mobil dan menunduk.


“Aku akan mengganti rugi kerusakan mobil.” Viona melihat sedikit goresan di bagian belakang mobil Fauzan.


“Apakah aku kekurangan uang? khawatirkan keselamatan dirimu agar tidak terluka dan berusahalah untuk menjaga diri sendiri, kurangi kecerobohan pada dirimu.” Fauzan menatap Viona.


“Baiklah, aku akan berusaha agar tidak membuat anda khawatir.” Viona tersenyum cantik.


“Kenapa dia tersenyum, aku memarahi dirinya.” Fauzan segera masuk ke dalam mobil.


“Nona Ayumi dan Nona Viona, saya permisi.” Asraf melirik Ayumi dan masuk ke dalam mobil.


“Apa anda telah paham dengan perhatian tuan Fauzan?” Ayumi tersenyum.


“Ya, aku akan berusaha menjadi wanita yang ia inginkan.” Viona tersenyum dan masuk ke dalam mobil.


“Apa anda masih ingin mengemudi?” Ayumi memandang Viona.


“Tentu saja, aku harus menjadi wanita mandiri.” Viona bersemangat.


“Baguslah.” Ayumi tersenyum dan duduk di kursi penumpang. Mobil kembali melaju dengan kecepatan sedang menuju kampus Viona.


Cinta mengalahkan segalanya, karena Cinta lebih berharga dari harta dan tahta.


Manusia bisa berubah karena cinta, dan melupakan jati diri mereka.


Hiduplah dengan cinta kasih dan sayang sekedarnya, tidak melebihi cintamu kepada Sang pemilik Alam Semesta.


***


Untuk yang Suka berikan like, Komentar, bintang 5, Tips, Vote serta bantu promosikan. Terimakasih.


Baca juga Novel Author berjudul “Arsitek Cantik” dan "Mengejar Cinta Ariel" dan "Tabib Cantik Bulan Purnama"


Novel Kakakku “Nyanyian Takdir Aisyah dan Cinta Bersemi di Ujung Musim.” (Fitri Rahayu). Terimakasih.


Semoga kita semua dalam keadaan sehat dan selalu mendapatkan perlindunganNya, Aamiin.

__ADS_1


__ADS_2