
Rumah Sakit
Stevent membukakan pintu untuk Nisa, menggenggam erat tangan istrinya melangkah bersama menuju laboratorium.
Banyak perawat pria dan wanita yang menyapa Nisa dan juga para pasien dan keluarga yang sangat mengenal Nisa.
Mereka menyambut kedatangan Nisa penuh dengan Cinta, bahkan beberapa orang mendatangi Nisa hanya untuk bersalaman.
Nisa tersenyum tulus, membalas sapaan dan menerima uluran tangan semua orang.
Stevent mulai risih, ia bahkan tidak bisa menyembunyikan wajah jutek dan cemburu berlebihan.
" Sayang, apakah setiap pagi kamu akan disambut seperti ini" Stevent berbisik di telinga Nisa dengan menekankan suaranya.
" Iya, bahkan ada yang memberikan bunga, buah dan banyak hadiah lainnya" Nisa tersenyum.
" Apa? itu semua pasti barang murahan " Stevent memandang ke arah orang-orang yang tadi menyapa dan bersalaman dengan Nisa.
" Ssstt, kamu tidak boleh berbicara seperti itu, tidak boleh merendahkan orang lain di mata Tuhan kita semua sama, lagian aku tidak pernah menggunakan barang-barang mahal dan mewah " Nisa menutup mulut Stevent dengan tangan lembutnya dan tersenyum.
Stevent hanya terdiam mendengarkan Omelan lembut dan penuh kasih sayang dari istrinya yang cantik.
Mereka terus berjalan melewati koridor hingga sampai ke laboratorium.
Nisa telah minta tolong Dini untuk pendaftaran agar ia bisa melakukan tes secepatnya.
Mark duduk seorang diri di kursi tunggu, ia melihat layar ponsel yang menyala, Membaca pesan dan laporan dari Assistennya di Jepang.
" Selama Pagi, Tuan Mark" sapa Stevent yang terus menggandeng tangan Nisa.
Nisa mengulurkan tangannya kepada Mark dan tersenyum manis, ia mencium punggung tangan Mark yang mengusap kepala Nisa.
" Kenapa kamu tidak bisa memanggil saya Papa?" ucap Mark kepada Stevent
"Setelah terbukti Anda adalah Papa dari istri saya, saya akan memanggil anda papa" Steven tersenyum.
" Apakah Papa telah selesai melakukan pemeriksaan?" tanya Nisa.
" Tentu saja Sayang, sekarang giliran kamu masuk lah! " ucap Mark kepada Nisa dengan senyum kebahagiaan mendengar Nisa memanggilnya papa.
Nisa berjalan memasuki laboratorium meninggalkan Mark dan Stevent di ruang tunggu.
" Aku telah membawakan kado pernikahan untuk kalian berdua" ucap Mark.
" Terima kasih" ucap Stevent.
" Aku membawanya langsung dari Jepang" Mark tersenyum puas.
" Benarkah, Apakah itu buatan anda sendiri?" Stevent menebak Itu adalah sebuah robot.
" Kau benar aku membuatkan khusus untuk putriku" Mark dan Stevent tertawa bersama.
Nisa telah keluar dari ruang laboratorium, Iya tersenyum bahagia melihat keakraban Stevent dengan Mark.
" Sayang, apakah sudah selesai ?" Stevent mendekati Nisa dan Nisa hanya mengangguk dengan senyuman paling manis.
" Sayang, bolehkah aku berbicara berdua dengan Papa Mark" Nisa menggenggam erat tangan Stevent.
" Tentu saja Sayang, apa yang tidak buat kamu?" Stevent mencubit pipi istrinya dengan gemas.
" Kita akan berbicara dimana putriku?" Mark berjalan mendekati Nisa dan Stevent.
" Ada kantin di lantai bawah rumah sakit, kita akan pergi ke sana" Nisa menggandeng tangan Stevent dan berjalan bersama menuju kantin, diikuti Papa Mark.
Nisa selalu memilih meja dekat dengan pintu di pinggir jalan, dan Steven memilih meja sedikit lebih jauh dari Nisa dan Mark, Namun ia tetap bisa melihat dan mengawasi Nisa.
Nisa dan Mark duduk saling berhadapan.
" Bisakah Papa bercerita tentang diriku?"tanya Nisa langsung pada pokok pembicaraan.
__ADS_1
" Papa harus mulai dari mana?" Mark balik bertanya.
" Kenapa aku bisa ditemukan di pesantren?" Nisa menguatkan hatinya untuk bertanya.
" Papa akan bercerita awal dari pernikahan Papa dan Mama Maria" ucap Mark.
Mark mulai bercerita tentang pertemuan awal dia dengan Maria.
Maria adalah cinta pertama Mark, dan Mark telah memaksa Maria untuk menikah dengan dirinya.
Mark juga menceritakan bahwa Maria adalah wanita yang bebas tidak ingin ada ikatan dan itulah mengapa Maria tidak menginginkan adanya seorang anak.
Nisa hanya tertunduk sedih mendengarkan cerita orang tuanya.
Iya tidak bisa menahan butiran bening yang melewati pipi mulus miliknya.
" Jika mama Maria tidak menginginkan Nisa untuk apa Nisa mencari Mamanya" terbesit pertanyaan seperti itu di dalam pikiran Nisa.
Dia adalah putri yang tidak diinginkan, namun Nisa masih bersyukur karena ia dibuang di depan Pesantren sehingga ia terbentuk menjadi wanita sholehah.
Nisa sangat bahagia mendapatkan cinta dan kasih sayang dari Abi Ramadhan dan Umi Fathimah dan juga cinta dari saudara-saudaranya di pesantren.
" Sayang, tapi papa menginginkan dirimu dan Papa sangat mencintai Mama kamu" tegas Mark.
" Apakah Papa mau bertemu dengan orang tua yang mengasuh dan membesarkan Nisa?" tanya Nisa kepada papa Mark.
" Tentu saja sayang " ucap Mark tersenyum bahagia.
Ponsel Nisa berdering ia dapat melihat panggilan dari perawat yang bekerja di ruang laboratorium.
" Nisa menerima panggilan dulu pa" Nisa menggeser icon hijau.
" Assalamualaikum" Nisa menjawab panggilan dengan lembut.
" waalaikumsalam, Dokter Nisa kita telah mendapatkan hasil tes yang dilakukan pada hari ini" ucap Seorang perawat dari seberang telepon.
" Anda dan Tuan Mark adalah ayah dan anak" ucap perawat.
" Alhamdulilah, Terima kasih" Nisa memutuskan panggilan telepon.
" Pa, Aku adalah anak kandung Papa Mark" Nisa tersenyum.
" Benarkah , Syukurlah " Mark beranjak dari kursinya dan memeluk Nisa dengan penuh rasa kebahagiaan yang luar biasa dan Nisa membalas pelukan Papanya.
Tanpa sadar air mata anak dan bapak Terus mengalir membasahi pipi mereka.
Melihat Mark yang secara tiba-tiba memeluk Nisa membuat Stevent kaget dan langsung berlari kearah mereka.
Stevent memisahkan pelukan antara anak dan bapak.
Cemburu berlebihan dari Stevent benar-benar tidak bisa ia tahan.
Nisa tertawa melihat tingkah Stevent yang berlebihan begitu juga dengan Mark.
" Apakah kamu akan mengurung putriku dalam sebuah menara ?" Mark menahan tawanya.
" Apa yang terjadi Sayang, kenapa kamu menangis?" Steven tidak memperdulikan Mark ia sibuk menghapus air mata di wajah Nisa yang menahan tawanya.
" Sayang, aku hanya bahagia Papa Mark adalah Papa kandungku, terima kasih semuanya berkat dirimu " Nisa memeluk Stevent
Dan Mark ikut memeluk Putri dan menantunya, mereka berpelukan dengan rasa penuh kebahagiaan.
" Sayang, papa telah menyiapkan hadiah untuk kamu hasil perbuatan papa sendiri" ucap Mark
Sebenarnya Stevent tidak suka ada orang lain yang memanggil Nisa dengan sebutan sayang. Namun ia tidak bisa berbuat apa-apa Karena orang itu adalah Papa Nisa.
Mereka berjalan bersama menuju mobil Mark di parkiran.
Mark mengeluarkan sebuah kotak besar dari bagasi mobilnya. Stevent menerima kotak dari Mark, ia tidak mau membuat Nisa kesulitan membawa hadiah yang cukup besar dan berat.
__ADS_1
"Terima kasih Papa Nisa sangat bahagia bisa bertemu dengan Papa" Nisa memeluk Papa Mark.
" Datanglah ke rumah Papa Jika kamu punya waktu luang" Mark dan Nisa melepaskan pelukan mereka.
Mereka berpisah dengan papa Mak di depan rumah sakit.
Stevent dan Nisa melanjutkan perjalanan menuju rumah Jhonny untuk bertemu dengan Dokter Aisyah.
Mobil melaju dengan kecepatan sedang hingga sampai pada perkarangan rumah Jhonny.
Dokter Aisyah sangat senang melihat kedatangan Stevent dan Nisa.
Nisa dan dokter Aisyah saling berpelukan melepaskan rindu setelah lama tidak bertemu.
Steven tersenyum melihat Jhonny dan menepuk pundak Jhonny berbisik
" Apakah kamu sudah berhasil menaklukkan hati Dokter Aisyah ?"
Jhonny hanya terdiam Ia berpikir
" Jangankan menaklukkan hati Dokter Aisyah yang ada kami setiap hari bertengkar " guman Jhonny yang tidak terdengar oleh orang lain.
Dokter Aisyah menggandeng tangan Nisa menuju ruang tengah, ia telah menyiapkan beberapa makanan untuk cemilan, Dokter Aisyah sangat senang ketika mendengar bahwa Nisa dan Stevent akan mengunjungi dirinya.
Mereka berempat telah berada di ruang tengah rumah Jhonny.
" Jhonny Bagaimana perkembangan pembangunan laboratorium?" tanya Stevent memulai pembicaraan.
Nisa dan dokter Aisyah saling berpandangan kebingungan.
" Hampir selesai Tuan untuk sementara Dokter Nisa dan Dokter Aisyah bisa menggunakan kamar kosong di lantai paling bawah untuk mereka belajar meracik ramuan " Jelas Jhonny.
" Di mana kamu membangun Laboratorium?" tanya Dokter Aisyah kepada Jhonny.
" Itu masih rahasia" jawab Jhonny datar membuat Dokter Aisyah geregetan dan menyesal telah bertanya kepada Robot.
" Kita membutuhkan Valentino Untuk mengantarkan bahan-bahan obat dari desa" lanjut Dokter Aisyah
" Tidak apa dokter Aisyah Kita bisa belajar nama-nama dan jenis-jenis tumbuhan yang bisa kita gunakan terlebih dahulu" Nisa tersenyum.
" Saya juga telah mempersiapkan sebuah lahan yang bisa di tanami tumbuhan obat" jelas Jhonny.
" Aku akan menghubungi Valentino" ucap Dokter Aisyah menatap tajam kearah Jhonny.
" Mari saya antar ke kamar bawah, Saya telah mempersiapkan beberapa peralatan yang dapat digunakan untuk belajar meracik ramuan " ucap Jhonny dan beranjak dari kursi diikuti Steven Nisa dan dokter Aisyah.
Dokter Aisyah dan Nisa sangat kagum dengan isi kamar kosong yang telah dipenuhi dengan perlengkapan khusus laboratorium.
Dokter Aisyah sudah lupa akan keinginannya keluar dari rumah Jhonny dan kembali ke desa terpencil.
Jhonny mencuri - curi pandang melihat Dokter Aisyah yang bisa tersenyum manis dan lepas bersama dengan Nisa.
" Kenapa Sikapnya kepadaku berbeda" Jhonny berbicara dalam hatinya melirik Aisyah.
Merasa Jhonny memperhatikan dirinya Dokter Aisyah memelototi matanya ke arah Jhonny, membuat Jhonny membuang muka, Stevent dan Nisa menahan tawa melihat tingkah Jhonny dan Dokter Aisyah.
*
***
*
******************************************
**Thanks for Reading
Terimakasih atas Like, Komentar dan Vote dari Readers ku tercinta 🤗 Yang selalu Setia menunggu Up dan Membaca Novel Author. 🤗
♥️ Love You Readers 💓****
__ADS_1