
Stevent menatap wajah cantik Nisa yang sedang tertidur nyenyak, ia mencium dahi Nisa dan berjalan keluar dari ruangan, menghubungi Jhonny yang berada di ruang bayi.
Jhonny mendekati Stevent yang duduk di kursi tunggu di depan pintu ruangan Nisa.
"Ada apa Tuan?" tanya Jhonny menunduk.
"Bagaimana kabar rumah yang aku inginkan?" Stevent membuka layar ponselnya.
"Nona Fanny tidak menghubungi saya." Jhonny menatap stevent.
"Hubungi nomor ponsel Tuan Budiman, beri waktu satu jam untuk keluar rumah!" Stevent menatap tajam kepada Jhonny.
"Baik Tuan." Jhonny segera menghubungi nomor ponsel Budiman.
"Tuan Budiman sudah keluar dari rumah tetapi Nona Fanny masih bertahan." Jhonny memutarkan rekaman pembicaraan.
"Temui Tuan Budiman dan lakukan pembayaran, secepatnya!" Stevent kembali ke ruangan Nisa.
"Baik Tuan." Jhonny kembali ke ruangan bayi.
"Ada apa Jhonny?" Aisyah memperhatikan Jhonny yang bersiap untuk pergi.
"Aku harus melakukan meeting di restoran terdekat." Jhonny mengambil jas dan tasnya.
Aisyah berjalan mendekati Jhonny yang telah berada di depan pintu.
"Apa kamu tidak mencium diriku?" Aisyah menarik dasi Jhonny.
Jhonny memegang kepala Aisyah dan mencium bibir Aisyah begitu bersemangat hingga mereka kehabisan napas.
Aisyah tersenyum, Jhonny tidak pernah menolak dirinya.
Jhonny keluar dari ruangan untuk bertemu dengan Tuan Budiman.
Berjalan menuju parkiran dan melajukan mobil dengan kecepatan sedang dan hanya lima belas menit ia telah sampai di restoran Abi.
Jhonny menunggu Tuan Budiman di dalam ruangan meeting restoran Abi yg telah dipesan lebih awal.
Seorang pria paruh baya terlihat tergopoh-gopoh masuk keruangan meeting.
Tatapan tajam Jhonny membuat Tuan Budiman merasa ciut, ia tidak menyangka aura Jhonny sama mengerikan dengan Stevent.
"Selamat pagi Tuan Jhonny." Tuan Budiman mengulurkan tangannya.
"Selamat pagi, silahkan duduk." Jhonny berjabat tangan dengan Tuan Budiman.
"Maaf atas keterlambatan saya." Tuan Budiman duduk di depan Jhonny.
"Tidak apa, saya baru saja sampai." Jhonny memperhatikan Tuan Budiman.
"Bagaimana Tuan Budiman, berapa harga rumah anda, Tuan Stevent tidak mau penolakan." Jari tangan Jhonny mengetuk meja dengan pelan.
"Saya setuju dengan harga yang anda tawarkan." Tuan Budiman tersenyum gugup.
"Saya akan segera mentransfer uangnya setelah tanda tangan berkas ini." Jhonny menyerahkan berkas jual beli.
Tuan Budiman langsung menandatangani berkas jual beli, berita acara dan menyerahkan surat-surat kepemilikan rumah.
"Tunggu sebentar saya mengirimkan uang anda." Jhonny mentransfer uang dengan ponselnya.
"Terimakasih Tuan Jhonny, uang telah masuk." Tuan Budiman berdiri.
"Sama-sama." Jhonny berjabat tangan dengan Tuan Budiman.
"Anda diberi waktu pindah sampai sore hari." Jhonny menatap tajam kepada Tuan Budiman.
"Kami sudah berkemas, Tuan." Tuan Budiman menunduk.
"Terimakasih, saya permisi." Jhonny meninggalkan ruang meeting.
Tuan Budiman kembali duduk dan terdiam, ia merasa kakinya sangat lemas.
"Aku harus segera mengajak Fanny keluar rumah." Tuan Budiman bergegas meninggalkan ruang meeting dan kembali ke rumah.
Mobil melaju memasuki halaman rumah yang asri, di penuhi dengan pepohonan dan taman bunga yang indah.
Stevent langsung suka dengan rumah Tuan Budiman karena taman bunga terawat.
__ADS_1
Semua dilakukan demi Nisa yang menyukai lingkungan indah dan asri.
Tuan Budiman keluar dari mobil ia melihat Fanny yang sedang merawat tanaman.
"Fanny, maafkan papa." Tuan Budiman mendekati putrinya.
"Kenapa papa minta maaf?" Fanny tersenyum cantik, ia sedang menyiram pohon anggur yang melilit di ayunan.
"Kita harus segera keluar dari rumah ini." Tuan Budiman menatap sedih pada putrinya.
"Tidak Pa, Fanny tidak mau meninggalkan rumah kita." Air mata Fanny mengalir.
"Dari kecil Fanny merawat semua tanaman dan rumah ini" Fanny duduk di ayunan.
"Sayang, kita tidak bisa melawan Stevent." Tuan Budiman mengusap rambut pirang Fanny.
"Kenapa, apa dia pria yang sangat berkuasa?" Fanny menatap tajam kepada Tuan Budiman.
"Dia sangat berkuasa dan kejam, berkemas lah!" Tuan Budiman meninggalkan Fanny yang terduduk diam.
"Aku akan melihat seberapa berkuasa dan kejamnya dirimu Tuan Stevent." Fanny mengepalkan tangannya.
Rumah beserta isinya telah menjadi milik Stevent, Tuan Budiman dan istrinya telah bersiap untuk meninggalkan rumah dengan membawa barang penting dan seperlunya.
Fanny melihat kedua orang tuanya berjalan bersama menuju mobil.
"Sayang, kita diberi waktu sampai sore untuk meninggalkan rumah." Mama Fanny mengusap rambut Fanny.
"Untuk sementara kita menginap di hotel milik Papa sebelum mendapatkan rumah baru." Tuan Budiman memasukkan barang di dalam bagasi.
"Fanny akan menyusul." Fanny tersenyum.
Papa dan Mama memeluk dan mencium putri mereka, meninggalkan perkarangan rumah.
Fanny sendirian di rumah, ia menunggu kedatangan Stevent dan Jhonny hingga waktu yang telah di tentukan.
Menikmati hari-hari di rumah masa kecilnya, ia sangat mencintai dan menyayangi rumah itu.
Fanny telah selesai menyiapkan makan malam untuk dirinya sendiri.
Ponselnya terus berdering panggilan dari papa dan mamanya karena ia belum juga tiba di hotel.
Pintu utama terbuka lebar, Fanny menunggu kedatangan Stevent dengan baju handuk berwarna putih.
Mobil sport hitam telah memasuki halaman rumah yang baru Stevent beli secara paksa.
Stevent tersenyum puas, ia yakin Nisa pasti menyukai rumah yang teduh dan terlebih lagi dekat dengan pesantren.
Stevent melangkah kakinya masuk ke dalam rumah yang terbuka lebar. Ia mau memeriksa isi rumah.
"Aku harus membuat semuanya sempurna sebelum istri dan anak-anak ku pindah ke rumah baru ini." Stevent melihat seorang wanita duduk di ruang tamu dengan menyilangkan kakinya.
"Kenapa kamu belum keluar dari rumah ku?" Stevent menatap tajam dan tidak suka kepada Fanny.
"Kami telah membeli rumah kami, kamu juga bisa membeli diriku." Fanny tersenyum mengusap paha putih mulus miliknya.
"Aku tidak tertarik dengan wanita murahan." Stevent tersenyum kecut.
"Aku tidak mau keluar dari rumah ini, jadi aku boleh kamu jadikan apa saja sesuka hatimu." Fanny berjalan mendekati Stevent.
"Keluarlah dari rumahku, sebelum aku bersikap kasar." Stevent menatap tajam kearah Fanny.
"Aku akan menyerahkan rumah dan diriku kepada dirimu." Fanny membuka baju handuknya, memperlihatkan tubuh seksi tanpa sehelai benang.
Stevent tertawa terbahak-bahak ia mencengkram dagu Fanny dengan kasar.
"Apa kamu berpikir, aku akan tergoda kepada dirimu?" Stevent menyeringai.
"Jika kamu normal, kamu pasti tergoda pada tubuh seksi seorang wanita." Fanny tersenyum dan menyentuh dada Stevent.
"Aku memiliki istri yang sangat cantik dan seksi tetapi keseksiannya hanya untuk diriku, ia selalu menutupi seluruh tubuhnya dengan pakaian muslimah, tidak seperti kamu wanita murahan!" Stevent mendorong tubuh Fanny ke sofa.
"Benarkah?" Fanny meraba-raba bagian tubuhnya untuk menggoda Stevent.
"Sebaiknya kamu segera berpakaian dan keluar dari rumah ini!" Bentak Stevent.
"Aku tidak akan keluar dari rumahku." Fanny balas membentak.
__ADS_1
"Aku telah membayar mahal untuk rumah ini." Stevent mengikat tali baju handuk Fanny, ia tidak mau melihat tubuh menggoda dan seksi menggoda.
Fanny memeluk Stevent dengan erat, ia berpikir tidak akan rugi menyerahkan keperawanannya kepada Stevent yang tampan sempurna dan kaya.
"Jangan memancing saya untuk berbuat kasar!" Suara Stevent tertekan.
Fanny mencium bibir Stevent dengan mengunci tangannya di leher Stevent.
Stevent terkejut, ia berusaha melepaskan tangan Fanny.
"Wanita gila." Stevent mendorong tubuh Fanny dengan kasar, mengambil tisu dan membersihkan bibirnya.
"Kamu berani mencium bibirku yang hanya aku berikan untuk istriku." Stevent mencekik leher Fanny.
"Aku akan menghancurkan hidup kamu." Stevent menjambak rambut Fanny.
"Aargg." Fanny berteriak kesakitan.
Sebuah tamparan keras mendarat di bibir Fanny, darah segar mengalir deras dari mulut Fanny.
Fanny ketakutan, ia tidak percaya pria tampan di depannya berubah menjadi iblis pembunuh.
"Tidak ada satu pun wanita yang berani menyentuh diriku kecuali istriku." Mata Stevent memerah, tatapan penuh kebencian dan siap membunuh Fanny.
Wanita seksi itu tersungkur di lantai keramik, tidak berani berkata-kata lagi.
"Aku tidak akan melepaskan dirimu." Stevent tersenyum dengan seringai mengerikan.
Mencekik leher Fanny hingga wanita itu tidak bisa bernapas dan memberikan berkas merah di tubuhnya.
Air mata Fanny mengalir membasahi wajah cantiknya.
Stevent mengambil ponsel dan menghubungi beberapa orang kepercayaan dan ahli elektronik untuk memeriksa isi rumah.
Tidak berapa lama dua buah mobil hitam telah berada di halaman rumah Fanny.
"Selamat Sore Tuan." Beberapa pria kekar dan seorang ahli komputer memberi hormat kepada Stevent.
"Periksa rumah ini, jangan ada yang terlewatkan!" Stevent menatap tajam kepada Fanny dengan wajah yang berantakan.
Anak buah Stevent segera bergerak, seorang ahli komputer duduk di ruang tengah, ia mulai bekerja dengan komputer miliknya untuk mendeteksi kamera dan sejenisnya.
"Rumah ini telah di pasang banyak kamera tanpa suara Tuan." pria muda seorang ahli komputer mendekati Fauzan.
"Cari ruangan yang tersambung langsung dengan kamera!" Stevent tersenyum.
"Baik Tuan." Pria Ahli komputer kembali bekerja.
Fanny semakin ketakutan, ia berpikir akan menggunakan rekaman untuk mengancam dan menekan Stevent.
"Nona Fanny, sepertinya anda belum mengenal saya." Stevent tersenyum, ia mencengkram wajah Fanny dengan tangan kekarnya.
"Lapor Tuan, kami telah membersihkan seisi rumah dan menghancurkan semua kamera." Seorang pria kekar berdiri di depan Stevent.
"Bagus." Stevent tersenyum.
"Bagaimana dengan dirimu, apakah kamu menemukan sesuatu yang mencurigakan." tanya Stevent kepada ahli komputer.
"Bersih Tuan." Pria itu menutup komputernya.
"Bawa wanita ini ke penjara." Stevent menatap tajam kearah Fanny yang tidak bisa berbicara lagi karena rasa sakit pada mulutnya akibat pukulan Stevent.
Fanny hanya bisa menggelengkan kepalanya dan meneteskan air mata, memohon ampunan Stevent.
Para pengawal telah membawa Fanny dan meninggalkan Stevent sendirian di rumah.
Stevent menghubungi ahli desain dan dekorasi rumah, ia akan merubah bentuk dalam rumah agar lebih nyaman sesuai keinginan dirinya.
Setelah dua Nisa dan putra putri mereka akan pindah ke rumah baru.
Stevent juga memanggil tukang kebun yang akan menata kembali taman dan halaman rumah.
***
Mohon dukungnnya berikan like, Komentar, bintang 5 dan Vote. Terimakasih.
Baca juga Novel Author berjudul “Arsitek Cantik” dan "Mengejar Cinta Ariel"
__ADS_1
Novel Kakakku “Nyanyian Takdir Aisyah dan Cinta Bersemi di Ujung Musim.” (Fitri Rahayu). Terimakasih.
Semoga kita semua dalam keadaan sehat dan selalu mendapatkan perlindunganNya, Aamiin.