
Dini hari Stevent dan Nisa sampai di landasan pesawat, Mereka telah ditunggu oleh anak buah Jhonny dengan sebuah mobil Mewah.
Stevent memaksa untuk menggendong Nisa dan disuruh tidur lagi, Nisa yang memang masih sangat mengantuk dan lelah dengan senang hati Kembali memejamkan matanya dalam pelukan Stevent.
Beberapa anak buah membawa barang bawaan Nisa dan Stevent. Seorang pengawal membuka pintu untuk Tuan dan Nyonya.
Stevent masuk ke dalam mobil dengan perlahan, membaringkan tubuh Nisa di pangkuannya.
" Terserah dirimu " gumam Nisa dalam hati yang pasrah dengan perlakuan suaminya.
Tubuh kekar Stevent tidak kesulitan untuk menggendong Nisa.
Mobil terus melaju hingga sampai di pelabuhan nelayan.
Stevent kembali menggendong Nisa keluar dari mobil. Angin pantai yang kencang pada dini hari sangat dingin menusuk kulit.
Nisa mengeratkan pelukannya, merasakan angin laut yang dingin, gamis dan jilbabnya melambai-lambai.
" Sayang, apakah kamu kedinginan?" bisik Stevent di telinga Nisa yang menyembunyikan wajahnya dalam lekuk leher Stevent.
" Tuan, jika ingin ke pulau kembar dalam, Anda harus menggunakan helikopter " ucap pengawal kepada Stevent.
" Jadi sekarang bagaimana?" tanya Stevent mulai emosi, ia kasihan melihat Nisa yang kedinginan.
" Sebaiknya Tuan menunggu pagi di Villa milik Nelayan, tapi Villa yang sangat sederhana bahkan kamar mandi berada di luar" jelas pengawal khawatir.
" Pukul berapa helikopter datang?" tanya Stevent berjalan kembali ke mobil dan akan menuju Villa Desa Nelayan.
" Jam 9 pagi" jawab pengawal dan menutup pintu mobil.
Mobil kembali melaju selama 15 menit dan telah sampai pada Villa sederhana terbuat dari bambu, unik dan sangat indah.
Dua orang paruh baya pemilik Villa telah menunggu di depan pintu.
" Selamat datang Tuan, maaf atas kekurangan kami" sapa pasangan suami-istri
" Terimakasih" Stevent menaiki tangga bambu dan terus menggedong Nisa tanpa rasa lelah, namun tubuh Nisa yang terasa pegal-pegal.
Pintu bambu terbuka dan pengawal segera menutup kembali pintu.
"Bisakah kamu menurunkan diriku" Nisa memperhatikan wajah Stevent.
" Kita belum sampai di tempat tidur" Stevent berjalan mencari tempat tidur.
" Sayang,,, Punggung ku terasa sakit " Nisa tersenyum paksa.
" Baiklah sayangku " Stevent mencium bibir Nisa sekilas dan menurunkan dari gendongannya.
" Akhirnya " Nisa bergumam.
Mereka berdua memperhatikan Villa yang lebih mirip pondok kebun di mata Stevent.
Lampu remang-remang, seakan kekurangan daya listrik.
Nisa dan Stevent berjalan bersama dan melihat kasur sederhana di atas lantai bambu.
Mata Stevent melotot.
" Apakah itu tempat tidur?" tanya Stevent menatap Kasur tipis.
" Kamu tidak perlu tidur, sebentar lagi sudah pagi" Nisa berjalan mencari dapur.
" Sayang sebaiknya kita kembali ke kota, aku bisa mati tinggal di tempat seperti ini" Stevent duduk di kursi bambu.
Nisa tertawa melihat Stevent.
" Siapa yang mengajak aku bulan madu di sini?" tanya Nisa yang berkeliling ruangan sederhana.
"Pulau kembar dalam sudah siap ditinggali" Stevent memeluk Nisa dari belakang.
" Bukankah masih baru, berarti belum ada apa - apa di sana" Nisa memegang tangan Stevent yang melingkar di perutnya.
" Siapa bilang masih baru?" Stevent mencium pipi Nisa.
"Lalu?" tanya Nisa
" Aku sudah lama membeli pulau pribadi itu dan sudah di bangun tapi aku belum pernah pergi ke sana, Semuanya di atur oleh Jhonny" Stevent melepaskan pelukannya dan memutar tubuh Nisa menghadap dirinya.
" Apakah ada penghuninya?" tanya Nisa lagi
" Entah aku lupa menanyakan pada Jhonny" Stevent menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
" Semuanya Jhonny, apakah Jhonny yang memilihkan pakaian untuk ku ?" tanya Nisa menggoda.
__ADS_1
" Apa? tidak akan berani dia menyentuh pakaianmu, aku akan memotong tangan Jhonny " Stevent emosi dan Nisa tertawa.
" Duduklah di sini" Nisa mendorong tubuh Stevent hingga duduk kembali di kursi bambu dan Nisa duduk di samping Stevent.
" Apakah kamu mencintai aku?" tanya Nisa memandang Stevent.
" Tentu saja, karena mencintaimu aku mau menikah dan memiliki dirimu" Stevent baru akan beranjak dan mendekati Nisa.
" Duduklah dengan tenang di kursi!" perintah Nisa dengan senyuman.
" Mengapa kamu mencintaiku?" tanya Nisa, ia hanya ingin menghabiskan waktu dengan berbicara karena waktu akan cepat berlalu.
" Apakah aku harus bertanya kepada pria lain yang tergila-gila pada mu seperti diriku?" Stevent menata tajam pada Nisa.
" Hahaha" Nisa tertawa dan menutup mulutnya sangat menggemaskan.
" Mungkin saja, kamu bisa bertanya kepada mereka, kumpulkan dan gabungkan jawaban semuanya, lihat persamaan dan perbedaan jawaban, buatlah kesimpulan, hahaha" Nisa kembali tertawa membuat Stevent tidak bisa menahan rasa gemas melihat istrinya.
Stevent berjalan mendekat menekan kedua tanahnya pada tangan kursi.
" Apa kamu benar-benar ingin aku melakukannya?" tanya Stevent serius menatap tajam mata Nisa.
" Apa kamu akan melakukannya ?" tanya Nisa balik.
" Apapun yang kamu inginkan, bahkan jika kamu mau nyawaku akan aku berikan asalkan kamu terus bersama ku" Nisa terdiam ia menatap lekat mata Stevent yang telah mendekatkan wajahnya.
" Apa kamu marah padaku?" tanya Nisa.
" Hanya satu yang dapat membuat diriku marah" tegas Stevent dan terus menatap wajah Nisa.
" Apa?" Nisa penasaran, ia akan berusaha untuk menjaga agar Stevent tidak marah.
" Jangan pernah menyebutkan nama pria lain dari mulutmu" Stevent melumat bibir Nisa sebagai sarapan pagi ketika fajar dan Subuh telah menyapa.
Stevent menghentikan ciumannya terdengar adzan subuh dari ponselnya.
" Ayo kita membersihkan diri" Nisa mendorong tubuh Stevent dan beranjak dari kursi mengambil perlengkapan mandi.
" Sayang, Dimana kamar mandinya?" Stevent berjalan mengikuti Nisa Menuju pintu belakang.
Nisa membuka pintu dan angin pagi menyapu tubuh membuat rambut panjang Nisa yang tergerai melambai-lambai.
Sebuah tempat mandi dengan Diding bambu Tanpa atap, Guci penampung air, gayung dan air yang mengalir dari bambu yang bergerak turun naik mengisi Guci tanpa henti.
" Sayang jangan mandi, ini tempat apa ?" Stevent bergidik ngeri, ia tidak sanggup membayangkan mandi dari gayung, Tidak ada shower atau air hangat.
" Kamu mau mandi dimana? di kali?" tanya Nisa
" Aku tidak mau mandi di tempat seperti itu, kamu juga tidak boleh" Stevent menarik tangan Nisa kembali ke dalam dan menutup pintu.
" Sayang ku yang paling baik dan Tampan, aku harus mandi, tubuhku telah lengket gara - gara kamu!" Nisa tersenyum kecut.
"Sayang ku yang cantik kenapa jadi gara - gara aku " Stevent Mencium leher jenjang Nisa.
" Ini salah satu contohnya, siapa yang Mencium dan menjilati seluruh tubuhku?" Nisa mencubit hidung mancung Stevent.
" Aku cuma menjilati dan mencium, itu membuat tubuh kamu semakin bersih sayang" Stevent memeluk manja Nisa.
" Kamu mau mandi atau tidak?"tanya Nisa melepaskan pelukan Stevent.
" Aku tidak tahu bagaimana mandi di tempat seperti itu" Stevent menampakkan wajah memelas dan manja.
" Cepatlah buka pakaian, aku akan memandikan dirimu" Nisa membuka kembali pintu belakang.
Stevent segera melepaskan semua pakaian yang menempel di tubuhnya hingga bertelanjang. Ia tersenyum dan berjalan mendekati Nisa.
"Seorang muslim tidak boleh bertelanjang" tegas Nisa tanpa menoleh Stevent yang kembali memakai boxer miliknya.
Nisa menggunakan basahan menutupi tubuhnya.
Stevent duduk di atas batu, air mengalir dari bambu mengisi Guci penampungan.
Nisa menyiram tubuh Stevent dengan air dari kepalanya.
" Iih dingin" Stevent memeluk tubuh Nisa.
" Cepatlah, semakin lama beranda di luar semakin dingin " Nisa melepaskan pelukan Stevent.
Memberikan shampoo pada rambut hitam dan pekat milik Stevent, membilasnya dan membersihkan tubuh Stevent dengan spons yang telah diberikan sabun Cair.
Nisa menggosokkan setiap sudut tubuh Stevent dengan spons hingga sela - sela jari kaki Stevent. Membuat Junior di balik boxer bangun tapi kembali tertidur lagi ketika Nisa mengguyur air dingin ke tubuh Stevent. Air di daerah pegunungan benar-benar dingin.
Stevent hanya terdiam menahan hasrat dan kedinginan, ia terus memperhatikan Nisa yang sedang mengeringkan rambut Stevent.
__ADS_1
"Sudah selesai, masuk dan ganti baju agar kamu tidak kedinginan" ucap Nisa
Stevent berjalan ke pintu ia duduk di tangga memperhatikan setiap gerakan Nisa yang sedang mandi membersihkan diri.
Tubuh indah terlihat jelas dari balik basahan yang menempel di tubuh mulus Nisa.
Nisa selesai mandi segera berganti pakaian dan melaksanakan shalat subuh bersama.
Matahari mulai menampakkan cahayanya, mengusir dinginnya pagi, mengerikan sisa embun di malam hari.
Nisa dan Stevent keluar bersama menuruni tangga rumah bambu.
Nisa Menggunakan Stelan pakaian dan sepatu olahraga raga berwarna merah muda.
Stevent mengunakan kaos tanpa lengan dan celana sebatas lutut serta sepatu olahraga.
Sungguh pemandangan yang indah dan menggoda.
Nisa membentangkan kedua tangannya, memejamkan mata menghadap sang Surya, menghirup udara pagi yang menyegarkan.
Sepasang tangan kekar memeluk dari belakang dan membenamkan wajahnya di lekuk leher Nisa.
Nisa menarik nafas dari hidung dan mengembuskan dengan mulut.
" Ayo kita joging sampai ke pantai " Nisa menolehkan kepalanya dan mencium pipi Stevent.
Stevent memutar tubuh istrinya menghadap dirinya.
" Cium aku lagi tapi disini" Stevent menyentuh bibirnya menatap menggoda.
Nisa menarik nafas panjang, perlahan mendekati bibirnya, mengangkat kepala dan Stevent menunduk sedikit agar bisa menyeimbangkan tingginya dengan Nisa.
Nisa meletakkan kedua tangannya di leher Stevent dan tangan Stevent di pinggang ramping Nisa.
Menikmati ciuman di bawah sinar Matahari pagi, dan angin berhembus sepoi-sepoi memberikan kenyamanan luar biasa pada tubuh tanpa ada bisingnya kendaraan yang ada hanya nyanyian merdu burung menyambut pagi.
Nisa menggigit bibir Stevent agar ia berhenti. Namun bukannya berhenti, gigitan Nisa menambah nafsu Stevent untuk memakan habis bibir istrinya.
Hingga Nisa mengunci bibirnya.
" Baiklah, aku berhenti" Stevent kesal, ia benar-benar merasa candu dengan bibir Nisa bahkan tiada kepuasan ketika ia berciuman dengan istrinya.
" Ayo " Nisa menarik tangan Stevent dan mulai berlari bersama menuju pantai.
Sesekali Stevent akan menggangu istrinya dengan memeluknya dari belakang, mengangkat tubuh Nisa dan memutarnya di udara.
Sesampai di pantai mereka bisa melihat penduduk yang hanya beberapa kepala keluarga saja melakukan aktivitas di pagi hari.
Stevent kembali memeluk tubuh Nisa dari belakang, seakan tidak ingin melepaskan.
" Aku takut kehilangan dirimu" bisik Stevent di telinga Nisa.
" Manusia tidak ada yang abadi, semua akan kembali kepada Sang Pencipta" tangan Nisa mengusap lembut pipi Stevent.
" Hanya kematian yang bisa memisahkan kita, hanya kematian yang bisa merebut dirimu dariku" Stevent mengeratkan pelukannya.
" Tentu saja" Nisa memeluk tangan Stevent yang melingkar di perutnya.
" Sayang, jika kamu meninggalkan diriku, bukan hanya diriku yang hancur tapi Dunia ini juga akan aku hancurkan" Stevent berbicara dalam gumaman namun bisa di dengar Nisa karena dekat dari telinganya.
Nisa hanya terdiam.
" Untuk apa aku meninggalkan dirimu, kamu adalah Suamiku, namun jika Tuhan berkehendak kita manusia tidak akan bisa menolak" Nisa berbicara dalam hatinya.
Menikmati pemandangan indah alami pantai, dengan angin bertiup sepoi-sepoi, dan aroma laut yang khas menemani kemesraan dan kehangatan Cinta Seorang pria Sombong dan angguh yang telah di robohkan oleh seorang Dokter Cantik bernama Anisa Salsabila.
**
*
*
**Hallo Readers Terimakasih telah setia dan Suka membaca " Cinta Untuk Dokter Nisa"
Tinggalkan like dan Komentar yaa, Karena Like dan komentar kamu memberikan kepuasan dan kebahagiaan tersendiri di hati Author.
Readers menunggu Update dan Author selalu menunggu Like dan komentar kamu.
Jujur ya, Menunggu like dan komentar kamu bagaikan menunggu chat dari orang yang dicintai.
Dan Berharap ada yang rela dan ikhlas memberikan Vote juga.
♥️Love You Readers 💓**
__ADS_1