
Nisa kembali sendiri di ruangannya, ia turun dari tempat tidur, melihat kamera yang berada di setiap sudut ruangan, hanya kamar mandi yang tidak ada kameranya.
Berjalan menuju dinding pintu kaca dengan membawa tiang botol impus.
"Kemana Stevent? Aku sangat merindukan dirinya." Nisa menyederkan tubuhnya di dinding.
Nisa membuka pintu dan berjalan keluar dari ruangan.
"Aku akan jalan-jalan, aku butuh cahaya Matahari." Nisa melihat sekeliling, ia ingin menemukan taman rumah Sakit.
Ruangan Nisa seperti rumah mewah dengan ruang tunggu lebih mirip ruang tamu, hanya ruang perawatan Nisa yang berdinding kaca.
Berjalan menyusuri ruang yang sepi, sendirian dengan pakaian rumah sakit.
"Aku lelah sekali, kenapa koridor ini tidak ada habisnya?" Nisa duduk di kursi tunggu.
"Sayang, kalian kangen Papa kan?" Nisa berbicara dengan perutnya dan mengusap lembut.
Seorang pria berdiri di depan Nisa dengan pakaian jas putih lengkap dan celana hitam panjang.
Nisa mengangkat kepalanya dan melihat wajah pria yang ada di depannya.
"Oppa Min." Nisa terkejut.
"Apa kabar my Angel?" senyuman manis Oppa Korea kekasih seribu wanita.
"Aku baik, Apa yang kamu lakukan di sini?" tanya Anna heran.
"Aku mengunjungi dirimu, apa kamu tahu, aku bekerja di rumah Sakit yang sama dengan dirimu." Kim Min Jook duduk di samping Nisa.
Nisa hanya diam dan kembali menunduk, ia berharap Stevent yang datang menemui dirinya.
Rasa kecewa terlihat jelas di wajah Nisa, ia sedih.
"Apa kamu menunggu seseorang?" tanya Min Jook.
"Ya, bolehkah aku meminjam ponsel kamu?" Nisa tersenyum bahagia, ide yang tiba-tiba muncul di otaknya.
"Kamu ingin menghubungi siapa?" Min Jook mengeluarkan ponsel dari saku jas miliknya.
"Stevent." ucap Nisa tersenyum bahagia.
"Baiklah, senyuman yang tidak bisa di tolak." Min Jook memberikan ponselnya kepada Nisa.
"Terimakasih, bolehkah kamu meninggalkan diriku sendiri." Nisa tersenyum dan menerima ponsel dari Min Jook.
"Kamu benar-benar banyak mintanya." Min Jook beranjak dari kursi dan berjalan menuju kursi yang sedikit lebih jauh, tetapi ia tetap bisa melihat Nisa.
Nisa hapal Nomor ponsel Stevent, Umi, Abi, Dini dan Kenzo.
Nisa menekan nomor ponsel di layar, ia yakin Stevent akan langsung menerima panggilannya, karena hanya Nisa yang memiliki nomor Stevent khusus dirinya.
***
Stevent sedang berada di ruangan meeting bersama Jhonny, pangeran Fauzan Arsyad dan Putri Ayesha.
Ponsel dengan nada khusus untuk Nisa berdering.
Stevent terkejut, ia melihat sebuah nomor yang tidak di kenal muncul di layar ponselnya.
"Nisa." Stevent segera keluar ruangan tanpa izin, membuat Ayesha dan Fauzan heran.
"Mohon maaf atas tindakan Tuan Stevent, istrinya sedang hamil dan dirawat di Rumah Sakit." Jhonny meminta maaf untuk Stevent.
"Kenapa ia meninggalkan istrinya yang sedang hamil dan sakit?" Fauzan melirik Ayesha.
Fauzan sangat menghargai dan menghormati wanita, itu adalah salah satu alasan Fauzan tidak pernah melirik wanita karena ia tidak mau memberikan harapan kepada wanita yang ia jumpai.
Tidak ingin melukai dan menyakiti kaum hawa yang telah Allah muliakan dengan keistimewaan mereka.
"Tuan Stevent mengormati dan menghargai Anda." ucap Jhonny.
"Ayesha, bagaimana jika kita mengunjungi istri Tuan Stevent?" Fauzan menatap adik kesayangannya.
Ayesha mengangguk dan tersenyum dari balik cadarnya, ia sangat senang mengunjungi rumah sakit, memberikan kebahagiaan kepada pasien.
"Tuan Jhonny, Saya dan Ayesha akan ikut bersama Tuan Stevent jika ia mau kembali ke rumah sakit." Fauzan tersenyum sangat tampan.
"Baik Tuan, Saya akan menemui Tuan Stevent." Jhonny permisi dan meninggalkan ruangan.
Ayesha beranjak dari kursinya, melihat ke luar jendela kaca, Fauzan bermain dengan ponselnya untuk urusan bisnis, mereka berdua dengan sabar menunggu Stevent.
Fauzan hanya bisa menerima alasan yang masuk akal, dan yang paling ia utamakan adalah wanita.
Kehadiran dirinya di Dunia ini adalah perjuangan dari cinta kasih seorang wanita, hingga ia tumbuh menjadi pria yang sempurna.
***
Stevent segera menerima panggilan dari nomor yang tidak ia kenal.
"Sayang." Stevent menjawab panggilan.
"Assalamualaikum suamiku." Suara lembut Nisa menggetarkan hati Stevent, ia terduduk lemas di lantai.
__ADS_1
"Aku merindukan dirimu sayang, bagaimana keadaan kamu, maafkan aku, aku tidak di sana, aku harus menemui rekan bisnis, aku akan segera menemui dirimu." Stevent berbicara tiada henti dan tidak memberikan kesempatan untuk Nisa menjawabnya.
Dia terlalu bahagia bercampur sedih, suara yang sangat ia rindukan.
"Sayang, tenanglah, Aku juga sangat merindukan dirimu, Aku baik." Air mata Nisa menetes.
Min Jook memperhatikan Nisa, dan berpikir dengan penuh pertanyaan.
"Berapa lama mereka tidak bertemu? Apa yang terjadi?" gumam Min Jook.
Seorang pria dengan tubuh tinggi tegap berjalan mendekati Nisa dan merebut ponselnya.
Min Jook terkejut, ia tidak mengenali Pria yang membelakangi dirinya.
"Apa yang kamu lakukan di luar ini?" Nathan mematikan ponsel.
Nisa terkejut ia melihat Nathan dengan wajah emosinya.
"Dengar Nathan, aku bukan tawanan kamu, aku adalah pasien rumah sakit." Nisa kesal.
Min Jook berjalan mendekati Nathan dan mengambil ponselnya.
Ia tidak mengenal Nathan kerena Min Jook pindah ke kampus Nisa ketika Nathan telah keluar.
"Kenapa kamu membentak My Angel." Min Jook mendorong tubuh Nathan menjauhi Nisa.
Nisa duduk diam memperhatikan Nathan dan Min Jook, ia tidak mau menguras tenaganya.
"Siapa kamu?" Nathan menatap tajam kepada Min Jook.
"Aku sahabatnya." ucap Min Jook membalas tatapan tajam Nathan.
"Aku tidak perduli, untuk saat ini Nisa adalah milikku." ucap Nathan tersenyum.
"Ooh, ternyata kamu pria gila yang ingin memiliki Istri orang." bentak Min Jook.
"Itu bukan urusan mu." Nathan memukul wajah tampan putih bersih Min Jook.
Nisa berjalan kembali ke kamar, ia tidak memperdulikan Nathan yang akan baku hantam dengan Min Jook.
Min Jook balas memukul balik Nathan pada perut Nathan.
"Dengar Tuan, Mencintai artinya membiarkan dia bahagia, bukan menyiksanya." Teriak Min Jook.
"Kamu mencintainya." Nathan menatap tajam kepada Min Jook.
"Tentu saja dan aku bahagia melihat ia bahagia bersama suaminya." Min Jook memegang kerah jas dan memukul wajah Nathan.
Nathan tersungkur di lantai, pikirannya kacau dengan perkataan Min Jook.
Obsesi memiliki, rasa cinta atau kebencian karena Nisa menolaknya.
"Sadarlah, Nisa sudah menikah, jangan mengganggu kehidupan dirinya, ia sedang hamil, itu sangat berpengaruh untuk diri." bentak Min Jook.
Nisa berjalan sendirian menuju kamarnya yang telah jauh dari lokasi dirinya.
Stevent berlari dan memeluk Nisa dengan erat.
Fauzan melihat heran dengan perlakuan Stevent, mereka seperti telah terpisah begitu lama.
"Tuan Jhonny, apa mereka sudah lama tidak bertemu?" Fauzan menghentikan langkahnya dan menggenggam tangan Ayesha.
"Tiga hari Tuan." jawab Jhonny.
"Kenapa?" tanya Fauzan heran.
"Kebijakan Tuan Nathan yang merawat istri Tuan Stevent." jawab Jhonny.
"Tidak ada kebijakan seperti itu." Tegas Fauzan.
"Wanita hamil selalu ingin bersama suaminya." lanjut Fauzan melihat Stevent dan Nisa yang masih berpelukan, ia melihat air mata Nisa mengalir.
"Istrinya terlihat tertekan." ucap Ayesha, Jhonny terkejut mendengar suara lembut Ayesha yang hampir sama dengan Nisa ia menatap Ayesha.
Jhonny sangat penasaran wajah yang tertutup kain itu, hanya mata indah yang memancarkan cahaya kebaikan dan ketulusan yang bisa ia lihat.
Fauzan menggandeng tangan Ayesha mendekati Stevent yang telah melepaskan pelukannya.
"Sayang, kenapa kamu keluar dari kamar?" Stevent mencium dahi Nisa.
"Aku merindukan dirimu." Nisa kembali memeluk Stevent.
"Dengar, kamu harus kembali ke kamar, aku tidak mau terjadi sesuatu kepada dirimu dan bayi kita." Stevent mengusap perut Nisa.
Stevent melepaskan impus dari tiang, memberikan kepada Nisa dan mengendong Nisa.
Jhonny segera membawa tiang impuls mengikuti Stevent kembali ke kamar Nisa.
Fauzan dan Ayesha mengikuti mereka dari belakang.
"Mereka pasti saling mencintai." Fauzan tersenyum dan melirik Ayesha yang tersenyum manis dari balik cadarnya.
Stevent membaringkan Nisa di tempat tidurnya.
__ADS_1
Jhonny mengantarkan tiang dan segera keluar, ia mengerti pasti Stevent butuh waktu berdua dengan Nisa.
Stevent memasangkan botol impuls di tiangnya.
Nisa menarik tangan Stevent dan tersenyum, ia sangat bahagia bisa melihat Stevent.
Stevent mendekatkan wajahnya dan mencium lembut bibir Nisa.
"Aku mencintaimu." bisik Stevent di telinga Nisa.
"Aku mencintaimu." Nisa melingkarkan tangannya di leher Stevent.
***
Nathan berlari menuju kamar Nisa diikuti Min Jook.
Ketika Nathan akan masuk tangannya di tahan oleh Fauzan.
"Apakah kamu Dokter yang merawat Nyonya Stevent?" tanya Fauzan menatap tajam kepada Nathan dan melihat papan nama yang menempel di jas putih.
"Iya dan ini adalah rumah sakit milikku." Nathan membalas tatapan tajam Fauzan.
"Ooh Tuan Nathan Ahli kimia dan seorang pengusaha sukses berkedok rumah sakit dengan bisnis ilegalnya." Fauzan tersenyum manis.
Nathan terkejut, bagaimana bisa pria asing di depannya bisa mengetahui tentang bisnisnya.
"Menjual organ tubuh manusia, sangat mengerikan dan formula rahasia yang tidak dipasarkan." bisik Fauzan di telinga Nathan
Ayesha tersenyum, ia juga telah mengetahui semua Dunia bisnis dari Fauzan, tidak ada yang terlewatkan.
Kerajaan Arab telah mencatat semua pengusaha sukses Dunia dan menyelidiki latar belakang mereka.
Selama Fauzan yang memegang kendali perusahaan kerajaan terus mengepakkan sayapnya.
Fauzan bermain halus dan sempurna tanpa celah, berbeda dengan Raja yang hanya mempertahankan Bisnis awal, Fauzan merambah semua bisnis yang menguntungkan untuk mengembangkan kekuasaannya di seluruh dunia.
"Aku akan memperkenalkan diriku, Fauzan Arsyad." Fauzan mengulurkan tangannya.
Nathan hanya terdiam, ia berpikir apakah pria di depannya adalah pangeran yang sedang berkeliling Dunia menebarkan bibit perusahaan yang akan ia panen suatu saat nanti.
Nathan menerima uluran tangan Fauzan, setelah ia yakin pria di depannya adalah pangeran Fauzan.
"Itu adikku, tetapi kamu tidak usah berkenalan dengan dirinya, karena kamu tidak pantas." Jhonny dan Min Jook melirik Ayesha yang telah menundukkan kepalanya dan bermain dengan ponselnya.
Nathan mengepalkan tangannya, melirik Ayesha, ia benar-benar dihina oleh Fauzan.
Ayesha berdiri dan mendekati kakaknya, ia berbisik di telinga Fauzan dan kembali ke kursinya.
"Adikku meminta kamu tidak memisahkan wanita hamil dari suaminya dan aku setuju itu." Fauzan tersenyum.
"Sebagai seorang Dokter pasti kamu tahu wanita hamil sangat membutuhkan kasih sayang suaminya dan ia harus terus merasa bahagia bukan terkurung dan tertekan." Fauzan menatap tajam kepada Nathan.
Nathan hanya bisa terdiam, ia melirik Ayesha, mata yang indah terlihat jelas dengan bulu mata yang panjang dan lentik.
Fauzan menggandeng Ayesha dan kembali duduk di Sofa, Jhonny dan Min Jook berdiri dan hanya menjadi penonton.
"Tuan Nathan, mungkin kita bisa berbicara tentang bisnis." Fauzan langsung pada pokok bahasan utama, Dunia bisnis.
Fauzan telah memegang semua kelemahan Nathan, dan ia tidak berminat dengan bisnis ilegal yang haram.
"Aku harus membersihkan diri, permisi." Nathan keluar dari ruangan Nisa.
"Terimakasih Tuan Fauzan." Jhonny membungkukkan badannya memberi hormat.
"Anda tidak perlu melakukan itu." Ucap Fauzan tersenyum dan melihat ke arah Min Jook.
"Anda siapa, sepertinya anda yang berkelahi dengan Nathan?" tanya Fauzan santai.
"Ya, Saya Min Jook." Min Jook mengulurkan tangannya.
"Sebaiknya kita kembali ke Villa penginapan." Fauzan beranjak dari kursi dan menarik tangan Ayesha.
"Kenapa Anda tidak menginap di hotel?" tanya Jhonny heran.
"Kami tidak suka dengan hotel, terlalu sering bertemu orang, jika di Villa bagaikan di rumah sendiri, lebih nyaman dan tenang." tegas Fauzan.
"Kirimkan saja data perusahaan yang akan bekerjasama dengan kami!" ucap Fauzan.
"Oh ya, Jika Tuan Nathan menanyakan saya berikan saja nomor ponsel saya." ucap Fauzan.
"Baik Tuan." ucap Jhonny.
Ayesha dan Fauzan meninggalkan ruangan Nisa.
"Tuan Min Jook, sebaiknya Anna mengobati luka di wajah anda." ucap Jhonny.
"Tidak apa, setelah di kompres memar dan bengkak akan segera hilang." Min Jook menyentuh pipinya.
****
Semoga Suka, Mohon Dukungan rekan semua dengan Like Komentar Vote dan Bintang 5 😘 Terimakasih.
Baca juga "Arsitek Cantik" dan Nyanyian Takdir Aisyah"
__ADS_1
Semoga Kita semua selalu dalam keadaan sehat dan mendapatkan rezeki yang berlimpah Aamiin 😇
Love You All 💓 Thanks for Reading ♥️