
Ruangan berwarna putih senada dengan tirai dan gorden.
Sepasang kekasih halal berbaring bersama di atas ranjang saling berpelukan.
Nisa membuka matanya dan tersenyum melihat wajah tampan Stevent yang terlelap dalam tidurnya.
Tempat tidur pasien yang tidak sama dengan kasur empuk di rumah terasa nyaman karena bersama orang tercinta.
Nisa menyentuh hidung Stevent dengan jarinya dan memainkan bibir tipis yang tertutup rapat.
"Jangan menggodaku." ucap Stevent mengeratkan pelukannya.
Nisa tersenyum menahan tawa dan mencubit dagu Stevent.
Stevent membuka matanya dan mendaratkan ciuman sekilas di bibir Nisa.
Menempelkan hidung mereka berdua dan saling pandang.
"Sayang, apa kamu tidak ke kantor?" ucap Nisa menyentuh pipi Stevent.
"Apa kamu mau aku pergi ke kantor?" Stevent balik bertanya dan Nisa menggelengkan kepalanya.
"Sayang, pastikan Aisyah dan Jhonny menikah."ucap Nisa.
"Kenapa?" tanya Stevent.
"Jhonny tidak punya siapa-siapa selain dirimu dan Aisyah, dia sendirian." ucap Nisa.
Stevent terdiam, ia memikirkan perkataan Nisa, Jhonny hanya perduli kepada Stevent bahkan menomor duakan urusan pribadinya.
"Apa yang harus aku lakukan?" Stevent membelai kepala Nisa yang tertutup hijab.
"Cari tahu orang tua Aisyah, jadikan Jhonny keluarga kamu, Papa Alexander dan Mama Veronika adalah orang tua Jhonny." ucap Nisa.
Stevent bingung, kenapa Jhonny harus menjadi keluarganya.
Nisa mengerti dengan kebingungan Stevent, sebagai pria yang hidup dalam kemewahan tentu saja Stevent tidak memusingkan status sosial.
Keluarga yang lengkap, keturunan yang jelas, tidak ada yang perlu dikhawatirkan tetapi bagaimana dengan Jhonny.
"Sayang, Jhonny butuh status sosial yang jelas untuk menikahi Aisyah." ucap Nisa lembut.
"Kenapa, Jhonny memiliki banyak uang sama aset, mereka tidak akan miskin." Ucap Stevent.
"Itu berlaku jika Aisyah dari keluarga biasa, tetapi akan berbeda seandainya Aisyah adalah keturunan keluarga terhormat yang mementingkan status sosial dan keturunan yang jelas untuk jodoh Aisyah." jelas Nisa lembut.
"Kamu hanya perlu menjadikan Jhonny saudara angkat kamu dan status keluarga Alexander, apa kamu bisa melakukannya Sayang?" tanya Nisa lembut.
"Aku bisa melakukannya, bagaimana dengan Papa?" Stevent menatap Nisa.
Nisa terdiam memikirkan cara untuk mendamaikan Stevent dan Papa Alexander.
"Tenanglah sayang, aku akan melakukannya untuk kamu." Stevent turun dari tempat tidur merenggangkan otot tubuhnya.
"Bisakah kita memesan tempat tidur yang lebih besar lagi." Stevent membantu Nisa turun dari tempat tidur.
"Sayang, ini rumah sakit dan bukan hotel." Nisa memeluk Stevent.
Nisa melepaskan pelukannya dan mencabut jarum infus dari pergelangan tangannya.
"Sayang, apa yang kamu lakukan?" Stevent khawatir.
"Aku tidak butuh itu, aku mau jalan-jalan ke taman." Nisa tersenyum manja.
"Baiklah, aku akan menggendong kamu supaya tidak lelah." Stevent bersiap menggendong Nisa.
"Sayang, aku harus berolahraga dan banyak bergerak, kemarilah kita akan melakukan senam ibu hamil." Nisa tersenyum dan menarik tangan Stevent.
"Kita?" Stevent bingung dan mengikuti langkah Nisa yang bersemangat.
Formula yang mereka ciptakan benar-benar berkhasiat untuk Nisa.
Memulihkan kondisi tubuh Nisa yang lemah menjadi bertenaga dan bersemangat.
Nisa lebih sehat wajahnya terlihat merah dan segar.
Dokter Nada telah menunggu Nisa bersama ibu - ibu hamil lainnya.
Mereka berteriak dalam hati melihat ketampanan Stevent.
Tatapan tajam mata Stevent membuat ibu - ibu Musa yang sedang hamil mencuri pandang ke arah Stevent.
"Selamat pagi Dokter Nisa." sapa Dokter Nada.
"Pagi, Assalamualaikum semuanya." Nisa tersenyum bersemangat.
"Waalaikumsalam." Jawab ibu - ibu muda.
"Silahkan." Dokter Nada mempersilahkan Nisa untuk menempati tempat yang telah di sediakan.
Nisa menarik tangan Stevent dan duduk di sampingnya.
Dokter Nada menahan senyum dengan tingkah Stevent yang harus menuruti kemauan Nisa.
Para ibu muda sangat senang bisa melihat bos besar yang tampan berada di antara mereka melakukan senam bersama.
Mereka berharap jika anak dalam kandungan adalah pria bisa setampan Stevent dan jika wanita bisa secantik Nisa.
Stevent benar-benar mengikuti gerakan senam ibu hamil bersama Nisa dan para ibu hamil lainnya.
Nisa sangat bahagia bisa menghabiskan waktunya bersama Stevent walaupun berada di rumah sakit.
Kandungan Nisa telah genap tujuh bulan dan tidak lama lagi ia akan melahirkan bayi kembar mereka.
Setelah mengikuti kegiatan senam hamil Stevent dan Nisa duduk di bawah pohon yang rindang dengan bunga berwarna merah.
Stevent meminum air mineral dari botol yang sama dengan Nisa.
__ADS_1
Nisa menyenderkan kepalanya di lengan kekar Stevent.
"Sayang, apakah kita akan menghabiskan hari-hari kita di rumah Sakit?" tanya Nisa menatap wajah Stevent.
"Selama kita bisa terus bersama, aku tidak perduli dimanapun kita berada." Stevent memeluk dan mencium dahi Nisa.
"ih, kamu mencium keringat ku." Nisa mengusap dahinya.
"Aku tidak perduli." Stevent mencium bibir Nisa.
"Sayang dilihat orang." Nisa melihat sekeliling.
"Kamu adalah istriku, tidak ada yang melarang." Stevent tersenyum.
"Anak Papa, sudah senam pasti semakin sehat." Stevent berbicara dengan perut Nisa.
"Sayang, ada yang bergerak." Stevent heboh, ia tidak pernah merasakan tendangan dari bayi yang ada dalam kandungan Nisa.
Nisa menahan tawa dan tersenyum mengusap kepala Stevent.
"Sayang, jika gamis kamu dibuka apa aku bisa melihat mereka bergerak dari balik perut kamu?" Stevent mengusap perut Nisa.
"Tentu saja." Nisa tersenyum.
"Sayang, apakah perut kamu sakit ketika mereka bergerak?" tanya Stevent khawatir.
"Apakah perut kamu berat?" Stevent memperhatikan perut Nisa yang semakin besar.
"Tidak sayang, aku baik-baik saja." Nisa menyentuh wajah Stevent yang terlihat khawatir.
Jhonny dan Aisyah memperhatikan Nisa dan Stevent dari koridor rumah sakit, mereka berdua tersenyum melihat kebersamaan Stevent dan Nisa.
Tanpa sengaja Jhonny dan Aisyah saling pandang dan salah tingkah.
Dihati yang paling dalam mereka berdua sangat menginginkan sebuah keluarga yang bahagia.
"Stevent dan Nisa terlihat bahagia." ucap Aisyah memecahkan keheningan.
"Hmm." Jhonny kembali melihat Stevent dan Nisa tetapi yang ada dalam pandangannya adalah dirinya dan Aisyah.
Jhonny tersenyum sendiri, melihat kebahagiaan dirinya dan Aisyah.
Keluarga bahagia yang ia dambakan, memiliki Istri dan anak-anak.
"Aisyah." sapa Jhonny menoleh kearah Aisyah.
"Ya." Aisyah melihat Jhonny dan tersenyum.
"Apakah orang tua kamu akan merestui pernikahan kita?" tanya Jhonny menatap pada Aisyah.
"Kenapa?" Aisyah balik bertanya, ia juga tidak yakin akan mendapatkan restu dari orang tuanya.
Apalagi kematian Jordan disebabkan perkelahian dengan Jhonny.
"Aku hanya pria sebatang kara yang diambil Tuan Stevent dari jalanan." Jhonny mengalihkan pandangan dari Aisyah.
Jhonny tidak punya keluarga, hidup sendirian dan hanya memiliki Stevent.
"Aku adalah pria rendahan yang tidak pantas untuk dirimu tetapi aku mencintaimu dan menginginkan dirimu." Jhonny berbicara tanpa melihat Aisyah.
Aisyah tersenyum melihat Jhonny yang baru saja mengungkapkan perasaannya kepada Aisyah.
"Ayo kita menikah." Aisyah tersenyum berjalan menuju Stevent dan Nisa.
"Aku akan menikah dengan Jhonny dan memberikan keluarga yang utuh untuk dirinya." Aisyah berbicara di dalam hatinya.
Jhonny mengikuti langkah kaki Aisyah berjalan mendekati Stevent dan Nisa.
"Dokter Aisyah." Nisa tersenyum bahagia.
Aisyah bisa melihat wajah bahagia Nisa sejak bersama Stevent.
"Kami akan menikah." ucap Aisyah.
"Alhamdulilah, kapan?" Nisa memeluk lengan Kokoh Stevent.
"Sekarang." jawab Aisyah.
Stevent menatap Jhonny yang hanya diam dan menunduk. Terlihat keraguan di wajah Jhonny.
"Ada apa dengan dirimu?" Stevent menatap tajam kearah Jhonny yang langsung mengangkat kepalanya.
Aisyah dan Nisa melihat kearah Stevent dan Jhonny bergantian.
"Kenapa sayang?" Nisa melihat kepada Stevent.
"Sepertinya Jhonny tidak yakin dengan pernikahan ini." tegas Stevent.
Mereka semua menatap Jhonny, meminta penjelasan. Jhonny kembali menunduk.
"Jhonny butuh status keluarga." ucap Nisa lembut dan tersenyum kepada Stevent.
Jhonny refleks melihat ke arah Nisa dan kembali menunduk.
Ia tidak menyangka Nisa akan tahu dengan apa yang ia pikirkan.
"Sayang, kamu harus membantu Jhonny dan Dokter Aisyah." Nisa tersenyum.
"Jhonny, hubungi pengacara keluarga?" perintah Stevent.
"Baik Tuan." Jhonny segera melaksanakan perintah Stevent.
Nisa menahan tawa, masih jugalah Jhonny yang harus mengurus semuanya.
"Apa yang harus saya katakan?" Jhonny bingung.
"Katakan untuk memasukkan nama Jhonny dalam keluarga Alexander dah secara hukum!" perintah Stevent.
__ADS_1
Jhonny terdiam, ia tidak percaya dengan apa yang ia dengarkan dari Stevent.
Sudah cukup lama ia menghabiskan waktunya bersama Stevent dan hari ini ia mendapatkan kehormatan luar biasa.
Aisyah terdiam menatap Jhonny, ia sama tidak percaya dengan yang ia dengar.
Nisa memeluk Stevent dengan mesra dan mencium pipi Stevent.
"Cium." Stevent memancung mulutnya dan mendapatkan ciuman mesra dari Nisa.
Stevent melihat Aisyah dan Jhonny yang masih membeku di depan mereka.
"Jhonny, apa kamu sudah menghubungi pengacara keluarga Alexander?" Stevent merubah posisi duduknya dan memeluk Nisa dari belakang.
"Saya tidak pantas Tuan." ucap Jhonny.
"Jika kamu tidak mau aku tidak akan memaksa." Stevent melekatkan dagunya di pundak Nisa dan tangannya mengusap perut Nisa.
"Lakukan saja." ucap Nisa merebahkan tubuhnya di dada Stevent.
Jhonny dan Aisyah saling pandang, situasi aneh dan membingungkan, belum lagi dua insan yang terus menampilkan kemesraan di hadapan mereka berdua.
"Sayang, lepaskan sebentar." Nisa membuka tangan Stevent yang melingkar di perutnya dan beranjak dari kursi panjang.
"Jhonny, pergilah mengantar berkas pernikahan, setelah itu segera hubungi pengacara." Nisa tersenyum.
"Dalam waktu satu Minggu semuanya akan selesai bersamaan." Nisa memegang pundak Aisyah.
"Jika kalian telah halal semuanya akan menjadi Indah, hadapi suka dan duka bersama." Nisa memeluk Dokter Aisyah.
Stevent memperhatikan Nisa, ia sangat bangga pada istrinya yang berhati bagaikan malaikat.
"Pergilah!" ucap Stevent beranjak dari kursi dan memeluk Nisa.
Stevent seakan tidak ingin melepaskan Nisa walaupun hanya sebentar saja.
Sudah berapa lama ia menahan diri berada di dalam ruangan perawatan dengan banyak kamera.
"Oh ya Dokter Aisyah, aku mau konsultasi dengan dirimu." Stevent tersenyum.
"Apa?" tanya Aisyah heran.
"Apa aku boleh Bercinta dengan Nisa?" tanya Stevent tanpa malu.
"Sayang." Nisa mencubit hidung dan perut Stevent.
"Tentu saja, selama kondisi Nisa sehat dan kuat." jawab Aisyah.
"Baiklah kalian boleh pergi!" Stevent tersenyum.
"Assalamualaikum." Aisyah dan Jhonny meninggalkan Nisa dan Stevent.
"Waalaikumsalam." jawab Nisa.
"Sayang." Stevent berbisik di telinga Nisa.
Nisa menahan tawa, suaminya benar-benar Sudja tidak sanggup lagi berpuasa.
"Aku akan bertanya kepada Dokter Nada." Nisa melingkarkan tangannya di leher Stevent.
"Aku bercanda, Kesehatan kamu lebih penting, aku hanya menggoda Jhonny." Stevent tertawa, walaupun di dalam hatinya ada hasrat yang ingin ia salurkan.
"Kamu nakal, tetapi akan aku tanyakan." ucap Nisa tersenyum.
"Benarkah?" Stevent menatap Nisa.
"Emm, aku hanya bercanda dan menggoda pria tampan di depan ku saja." Nisa tertawa.
"Jangan menggodaku, Aku akan memakan dirimu." bisik Stevent menggigit sedikit telinga Nisa.
"Aw." Nisa mengusap daun telinganya.
"Aku sendiri yang akan bertanya kepada Dokter Nada." bisik Stevent di telinga Nisa.
"Sayang, aku lapar." ucap Nisa manja.
"Kalian bertiga sangat kuat makan." Stevent mencubit pipi Nisa dan mengusap perut yang semakin membesar.
"Istriku pasti lelah." Stevent mengendong Nisa menuju kamarnya.
"Kenapa kembali ke kamar?" tanya Nisa.
"Membersihkan diri, mengganti pakaian dan makan." ucap Stevent.
"Salah, mandi, sholat dan makan." Nisa mencubit hidung Stevent.
"Baiklah Tuan Putri, pengawal akan menurut." ucap Stevent tersenyum.
Sebenarnya Nisa tahu, kondisi dirinya telah jauh lebih baik.
Laporan dari hasil USG menampilkan kandungan yang lebih cepat pulih dari perkiraan.
Formula bekerja sangat efektif dari yang mereka harapkan.
Dengan kuasa Tuhan tidak ada jawaban tidak mungkin.
Pengorbanan dan kesabaran Nisa atas ujian yang Tuhan berikan akan mendapatkan hadiah yang pantas ia terima.
Air mata kesedihan akan berganti dengan air mata kebahagiaan.
"Alhamdulilah ya Allah, atas nikmat yang telah Engkau berikan, suami yang begitu mencintai diriku." Nisa berbicara di dalam hatinya dan mengeratkan tangannya di leher Stevent.
****
Semoga Suka, Mohon Dukungan rekan semua dengan Like Komentar Vote dan Bintang 5 😘 Terimakasih.
Baca juga "Arsitek Cantik", Nyanyian Takdir Aisyah" dan " Cinta Bersemi di ujung Musim"
__ADS_1
Semoga Kita semua selalu dalam keadaan sehat dan mendapatkan rezeki yang berlimpah Aamiin 😇