
Stevent mondar-mandir di depan pintu kamar Viona, kunci duplikat tidak akan berfungsi karena ada kunci ganda di bagian dalam pintu kamar.
Salah satu cara adalah dengan merobohkan daun pintu ukuran raksasa itu.
Stevent khawatir Nisa berada dekat dengan pintu dan akan melukainya.
"Sayang, buka pintunya" Stevent berteriak di luar kamar.
Nisa tidak mendengarkan suara Stevent, ia duduk di atas tempat tidur dan membaca Alquran di temani linangan air mata.
Stevent menghubungi Ahli kayu yang akan membuat lubang tanpa harus menghancurkan pintu.
Stevent tidak perduli pintu besar dan mahal itu hancur tapi ia peduli dengan keselamatan Nisa.
Beberapa orang telah berada di depan pintu, dengan peralatan canggih mereka telah siap membuat lubang untuk membuka kunci ganda bagian dalam pintu.
Setelah melobangi Pintu, Stevent telah meminta para ahli kayu berurusan dengan kepala pelayan dan segera turun dari lantai atas. Stevent tidak mau pria lain melihat istrinya.
Stevent membuka pintu dengan perlahan dan melihat Nisa yang pura - pura tidur. Nisa menyembunyikan kesedihan dan kekecewaan yang telah Stevent berikan dalam satu hari.
Stevent menggendong Nisa, memindahkan ke kamar mereka. Stevent merasakan perih pada punggung jarinya, Luka pada jari - jari Stevent akan segera infeksi bila tidak segera diobati.
Stevent meletakkan tubuh Nisa perlahan di atas kasur empuk berukuran king. Stevent memperhatikan wajah cantik, pucat dan sembab.
Stevent segera menuju kamar mandi untuk membersihkan diri dan menggantikan pakaiannya. Ia melihat jari - jarinya yang hampir hancur dengan kulit yang telah pecah.
Stevent merasakan ngilu dan perih, tetapi tidak ia perdulikan. Stevent naik ke tempat tidur dan memeluk tubuh Nisa dari belakang.
"Sayang, Aku mencintaimu, tidak akan pernah ada wanita lain yang bisa mengisi hidupku selain dirimu" Stevent berbisik di telinga Nisa.
Air mata kembali mengalir, Nisa benar-benar lelah menangis sepanjang hari, ia tidak menyangka jika pernikahan dirinya akan di bimbuhi dengan air mata.
Nisa kembali tertidur dalam pelukan Stevent, ia telah melewati makan malam, begitu juga dengan Stevent.
Nisa terbangun pada sepertiga malam waktu sholat tahajud, Nisa turun perlahan dari tempat tidur dan mengambil Wudhu, ia melaksanakan shalat tahajud.
Nisa menatap sedih pada wajah Stevent yang sedang tertidur dengan tenang dan pulasnya.
Nisa melihat luka pada jari - jari tangan Stevent yang masih basah. Nisa merasakan sakit ketika ia melihat tangan Stevent.
Nisa berjalan menuju lemari berisi perlengkapan medis yang selalu Nisa siapkan.
Dengan lembut Nisa membersihkan jari Stevent satu persatu, memberikan obat dan membungkusnya dengan kain kasa.
Nisa mencium dahi Stevent dan berjalan meninggalkan kamar, ia menuruni tangga dan menuju ke perkarangan belakang.
Nisa berbaring di ayunan besi yang di lengkapi kasur dan bantal, ia membawa selimut.
Tidur di dalam ayunan hingga terdengar adzan subuh, Nisa Tidak kembali ke kamar, ia sholat di villa samping kolam renang dan kembali lagi melanjutkan tidurnya.
Stevent membuka matanya perlahan mencari Nisa. Ia melihat jari - jari tangannya yang telah di obati dan terbungkus rapi.
"Sayang, kamu di mana?" Stevent beranjak dari tempat tidur menuju kamar mandi dan menuruni tangga.
Stevent berkeliling setiap sudut ruangan tapi ia tidak menemukan Nisa, beberapa pelayan sibuk menyiapkan sarapan.
"Dimana Nyonya?" tanya Stevent khawatir.
Semua menggelengkan kepala mereka, tidak ada yang berani menjawab.
"Cari Nyonya sampai dapat!" perintah Stevent, semua pelayan menghentikan aktivitas mereka dan segera mencari Nisa.
Stevent memanggil penjaga gerbang dan menanyakan apakah Nisa pergi keluar. Namun penjaga gerbang belum membuka gerbang sama sekali.
Stevent pergi ke ruangan cctv untuk memantau rekaman kamera yang terpasang di setiap ruangan kecuali kamar.
Stevent melihat seorang wanita berjalan menuruni tangga dan menuju ke taman belakang dan tidak kembali lagi.
Stevent segera berlari menuju taman belakang dan melihat Nisa duduk termenung dalam ayunan yang bergoyang dengan jilbab langsung pakai.
__ADS_1
"Sayang" Stevent menghentikan ayunan dan memeluk Nisa.
Tubuh Nisa sangat panas, bibirnya pucat, mata bengkak dan wajah sembab karena terus menangis.
"Sayang" Stevent menyentuh dahi Nisa, ia benar-benar Demam.
Nisa pingsan tidak sadarkan diri.
"Sayang, bangun" Stevent mengendong Nisa kembali ke kamar.
Stevent segera menghubungi Dokter pribadinya Lukas, untuk membawa Dokter atau Perawat wanita.
"Jika kamu terlambat, aku akan membunuh kamu dan menghancurkan klinik pribadi yang telah aku bangun untuk dirimu!" Ancam Stevent serius.
Lucas paham benar dengan kepribadian Stevent, tanpa jawaban dan alasan Lukas segera mengajak Stella menuju rumah Stevent dan membawa peralatan medis.
Stevent juga menghubungi Jhonny untuk membawa Dokter Aisyah kerumahnya.
Stevent benar-benar panik, ia kebingungan.
"Sayang, bangun" Stevent mengusap wajah pucat Nisa.
Tubuh yang hangat kini menjadi dingin dan semakin lemah.
" Aaaarrghh, Dimana mereka semua?" Stevent berteriak, ia mengacak rambutnya.
"Sayang, aku mohon bangunlah" Stevent mengusap tangan Nisa yang semakin dingin.
Dokter Aisyah dan Jhonny lebih duluan datang dari Lukas.
Dokter Aisyah segera memeriksa Tubuh Nisa yang hampir sedingin es.
"Nisa harus di bawa ke Rumah Sakit, ia harus segera berada di ruangan penghangat" jelas Dokter Aisyah yang terlihat khawatir.
"Cepatlah Jhonny, gunakan mobil besar!" perintah Stevent dan segera menggendong Nisa menuruni tangga menuju parkiran.
Dokter Aisyah segera membuka pintu mobil untuk Nisa dan Stevent. Jhonny segera mengendarai mobil dengan kecepatan tinggi menuju rumah sakit tempat Nisa bekerja, karena itu adalah rumah sakit terdekat.
Dinda segera menghubungi Dokter Nada dan memberitahukan keadaan Dokter Nisa.
Dokter Nada Berlari ke arah Nisa dan meminta Stevent membawa ke ruang perawatan intensif khusus ibu hamil.
Nisa di letakkan di dalam ruangan kaca dengan penghangat ruangan.
Hanya Dokter Nada dan seorang perawat berada di dalam ruangan bersama Nisa.
Peralatan medis telah melekat di tubuh Nisa.
Dokter Nada keluar dari ruangan Nisa dan menutup rapat Pintu.
"Bagaimana keadaan Istri saya?" tanya Stevent khawatir.
"Mari ke ruangan saya" Dokter Nada berjalan menuju ruangannya diikuti Stevent, Jhonny dan Dokter Aisyah.
"Silahkan duduk Tuan Stevent" ucap Dokter Nada.
Stevent terlihat tidak sabar mendengarkan penjelasan Dokter Nada.
"Apa yang Anda lakukan kepada Istri Anda?" pertanyaan Dokter Nada membuat terkejut Dokter Aisyah, Jhonny dan Stevent.
"Apa maksud pertanyaan Anda Dokter?" Stevent mulai Emosi.
"Baiklah, Kemarin Dokter Nisa baru saja memeriksa kandungan sendirian tanpa di temani suaminya, tetapi Nisa dan kandungnya baik - baik saja " tegas Dokter Nada.
Stevent terlihat gusar penuh penyesalan, ia benar-benar melupakan janjinya kepada Nisa karena emosi ingin belas dendam telah menguasai dirinya.
"Berdasarkan hasil pemeriksaan, Dokter Nisa dalam kondisi tertekan, dan banyak pikiran, mata yang menangis berlebihan, serta kedinginan" jelas Dokter Nada membuat Stevent tidak berdaya.
Semua adalah salah dirinya, jika terjadi apa-apa pada Nisa, ia tidak akan memaafkan dirinya.
__ADS_1
Dokter Aisyah menatap tajam ke arah Stevent, dan Jhonny yang merasa ngeri dengan tatapan Dokter Aisyah.
"Satu lagi Tuan Stevent, perut Nisa kosong, sepertinya ia tidak makan malam dan tidak makan pagi, dan itu menambah drop tubuh Nisa" tegas Dokter Nada menatap tajam kepada Stevent.
Ada banyak pria yang ingin menikahi Nisa, tapi kenapa seorang Stevent dengan Dunia hitamnya yang berhasil memiliki Nisa.
"Bagaimana keadaan Istri saya?" Suara Stevent lemah hampir tidak terdengar, ia benar-benar frustasi.
Jhonny dapat melihat Stevent kembali dalam kehancuran ketika melihat Nisa sakit.
"Kita tunggu saja perkembangan, selama Dokter Nisa di dalam ruang perawatan" jelas Dokter Nada.
"Seharusnya Anda harus lebih menjaga istri Anda, Asal Anda tahu ada banyak pria yang siap menunggu Nisa ketika Anda campakkan!" Tegas Dokter Nada.
"Apa maksud Anda?" Stevent terlihat Emosi, tetapi Jhonny segera menarik Stevent keluar dari ruangan Dokter Nada.
Jhonny setuju dengan ucapan Dokter Nada, ada banyak pria yang siap menerima Nisa, dan salah satunya adalah Kenzo yang masih setia menunggu Nisa tanpa memperdulikan banyak wanita yang menginginkan dirinya.
Dokter Nada tentu sangat kesal dengan Stevent, Nisa tidak mungkin tiba-tiba jatuh sakit jika bukan karena banyak pikiran.
Dokter Nada juga sangat menyayangkan pernikahan Stevent dan Nisa, karena Kakaknya Nadi juga mencintai Nisa.
Stevent menatap Nisa dari balik dinding kaca, ia tidak bisa berada di dalam ruangan bersama Nisa.
Ia tidak bisa menggenggam erat tangan Nisa, mencium dahinya dan memeluk Nisa untuk memberikan kehangatan.
"Sayang, buka mata kamu" Stevent berbicara dengan dirinya sendiri.
Dokter Aisyah menarik tangan Jhonny menjauh dari Stevent.
"Apa yang terjadi?" tanya Dokter Aisyah menatap tajam ke arah Jhonny.
Jhonny kebingungan, ia menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Aku tidak tahu, aku tidak satu rumah denga. mereka " Jawab Jhonny.
"Aku yakin kamu menyembunyikan sesuatu" Dokter Aisyah menatap Jhonny penuh penyelidikan.
"Ayo kita cari makanan, aku rasa belum ada yang sarapan" ucap Jhonny menarik tali gamis Aisyah.
Mereka berjalan menuju kantin Rumah Sakit dan memilih menu makanan untuk mereka berdua dan Stevent.
"Aisyah, kamu Aisyah kan?" seorang pria tampan menarik tangan Aisyah dan mendapat tatapan tajam dari Jhonny.
Aisyah hanya terdiam, ia tidak percaya akan bertemu dengan pria masa lalunya, Aisyah telah pergi jauh dari kota untuk menghindari pria itu.
Aisyah bahkan telah merubah cara berpakaiannya, untuk melupakan masa lalu dan memulai kehidupan yang baru.
"Who is he?"
***
**
*
*Terimakasih
***
**
Thanks for Reading
Baca juga "Perfect Woman"
Selalu Dukung Author dengan tinggalkan Like, komentar dan Vote, Terima kasih.
__ADS_1
Love You Readers 💓**