Cinta Untuk Dokter Nisa

Cinta Untuk Dokter Nisa
Kelahiran Kembar


__ADS_3

Terdengar adzan subuh di pagi yang Fitri, Nisa membuka matanya menatap wajah Stevent yang masih lelap dalam tidurnya.


"Sayang, bangunlah." Nisa menyentuh lembut pipi Stevent.


"Hm." Stevent mengeratkan pelukannya membuat wajah Nisa kembali terbenam dalam dadanya.


"Sayang." Nisa menggigit otot dada Stevent.


"Oh my God, apa sayangku mau bercinta di pagi hari." Stevent membuka matanya memelototi Nisa yang tersenyum manja.


"Bangunlah Sayangku." Nisa mengusap bekas gigitannya.


"Baiklah." Stevent beranjak dari tempat tidur, membantu Nisa untuk turun dan berjalan bersama menuju kamar mandi.


"Mandi bersama." Nisa menyentuh pipi Stevent.


"Kita selalu mandi bersama Sayang." Stevent mencium dahi Nisa.


Rutinitas setiap pagi dan sore hari, Stevent selalu memandikan Nisa dengan telaten dengan tatapan penuh rasa cinta kasih dan sayang.


"Aku sangat bahagia menjadi istri kamu." Nisa tersenyum memandang lekat pada wajah Stevent.


"Benarkah, padahal kamu terus menolak diriku sehingga aku harus memaksa kamu menjadi istriku." Stevent mencium bibir Nisa yang cemberut dengan lembut.


Mereka melaksanakan sholat berjamaah dan membaca Alquran bersama.


Nisa merasakan sakit di perutnya yang semakin lama semakin menyakitkan.


"Sayang, bisakah kamu ambilkan sarapan untuk diriku." Nisa tersenyum menahan sakit, ia berpikir mungkin sudah waktunya untuk melahirkan dan ia butuh makan sesuatu untuk memberikan tenaga pada dirinya.


"Tunggulah sebentar." Stevent berjalan ke dapur untuk membuat makanan khusus ibu hamil yang telah ia siapkan.


Nisa memerhatikan Stevent dengan terus membacakan doa di dalam hatinya.


Tidak butuh waktu lama satu piring makanan telah selesai dan siap di santap.


"Sayang, habiskan makanan ini agar kamu memiliki kekuatan untuk melahirkan anak kita." Stevent menyentuh wajah Nisa dengan lembut dan mulai menyuapkan makanan ke mulut Nisa.


Nisa tidak membantah, ia berusaha menahan sakit di perutnya dan menghabiskan makanannya.


"Sayang, panggilkan Dokter Nada." Nisa mulai meringis.


"Sayang, kamu akan melahirkan." Stevent segera menekan tombol panggilan, ia terlihat panik.


"Aku akan memindahkan kamu ke tempat tidur." Stevent segera menggendong Nisa.


Nisa terus membaca doa dan melafalkan ayat-ayat Allah serta mengusap perutnya.


Stevent semakin gugup, ia melihat wajah Nisa semakin pucat.


"Dimana Dokter dan perawat?" Stevent segera berlari ke ruangan Dokter Nada dan ruangan tampak kosong.


"Kemana mereka semua?" Stevent semakin kesal, ia segera menghubungi Dini dan Dokter Nada dengan ponselnya.


Stevent juga menghubungi Jhonny dan Aisyah, ia benar-benar kebingungan.


"Sayang bertahanlah." Stevent mengusap pipi Nisa yang berusaha tetap kuat dan tersenyum dihadapan Stevent.


Pintu terbuka, dokter Nada dan beberapa perawat segera mendekati Nisa.


"Pindahkan Nisa ke ruangan operasi!" perintah Dokter Nada.


"Kenapa Nisa harus di bawa ke ruangan operasi?" Stevent menatap tajam kepada Dokter Nada.


"Tuan, kita akan berusaha normal tetapi sebagai antisipasi saja, anda tahu kondisi Nisa berbeda dengan orang lain, walaupun dinyatakan telah sembuh dengan bantuan obat." Dokter Nada dapat melihat kekhawatiran Stevent.


Perawat telah mendorong tempat tidur menuju ruang operasi khusus ibu hamil dan akan melahirkan.


"Sayang bertahanlah." Stevent menggenggam tangan Nisa.


Nisa dapat merasakan dinginnya tangan Stevent yang terlalu khawatir melebihi Nisa.


"Aku sanggup menghadapi apapun tetapi bagaimana dengan suamiku?" Nisa tersenyum melihat wajah Stevent.


"Sayang, kami akan baik-baik saja." Nisa mengusap tangan Stevent.


"Tentu saja, kalian harus baik dan selamat." Stevent menatap tajam kepada Nisa, tidak ada senyuman di wajahnya, tulang rahang Stevent terlihat mengeras.


"Ya Allah, suamiku jauh lebih khawatir dan takut." Nisa berbicara di dalam tersenyum.


Mereka telah sampai di ruangan operasi, darah telah membasahi gamis Nisa.


"Tuan, anda tunggu di luar." Seorang perawat menahan Stevent.


"Aku akan berada di sisi Istriku." Stevent menatap tajam kepada perawat yang langsung gemetaran.


"Biarkan suaminya masuk." Dokter Nada dan tim Dokter lainnya telah siap membantu Nisa melahirkan.


Semuanya telah siap tidak ada kurang satu apapun.


Semua orang yang di hubungi Stevent telah berkumpul di depan ruangan operasi.


Jhonny telah menambah personil keamanan untuk menjaga Nisa dan semua Anggi keluarga terutama ketika bayi lahir dan akan di pindahkan.


Stevent tidak mau sampai ada kejadian bayinya di culik atau ditukar dengan bayi lain.


Kekhwatiran Stevent berkurang ketika ia tahu, ruangan itu telah dilengkapi kamar bayi, jadi bayi yang baru di lahirkan tidak berada jauh dari ibunya.


Namun, ruangan khusus tetap memiliki pintu lain untuk keluar, sehingga Stevent tetap membutuhkan banyak pengawal untuk menjaga pintu.


Stevent menggenggam tangan Nisa dan mencium dahinya.


Wajah Nisa benar-benar telah pucat karena menahan sakit di perutnya, dua bayi kembar ingin segera keluar dari dalam kandungan mama mereka.


Nisa mengikuti aba - aba Dokter Nada, ia benar-benar kesakitan dan berusaha bisa melahirkan dengan mudah dan normal.


Stevent semakin sedih dan khawatir melihat perjuangan Nisa untuk melahirkan anaknya.


Keringat membasahi wajah dan tubuh Nisa yang terus membacakan doa dan ayat-ayat Allah.


Terdengar sedikit tangisan dan hanya sebentar bayi berjenis kelamin laki-laki yang sangat tampan dengan hidung mancung, tangan Nisa gemetar dan tetap tersenyum.


Bayi pertama telah di bawa oleh seorang perawat, Stevent dan Nisa melihat sekilas karena mereka masih harus menunggu bayi satu lagi.

__ADS_1


"Adzan kan Putra Anda!" Seorang Dokter membawa bayi laki-laki mendekati Stevent dan Nisa.


Stevent segera melapazkan azan di telinga putranya.


Dokter membawa bayi laki-laki yang tertidur pulas kembali ke ruangannya.


"Lagi Nisa!" perintah Dokter Nada.


Nisa kembali berusaha mengumpulkan semua tenaganya dan meminta pertolongan Allah, agar ia bisa melahirkan anak keduanya.


Tangisan yang sangat nyaring dan manja terdengar dari bayi kecil berjenis kelamin perempuan begitu cantik.


Nisa menarik napas lega, mengucapkan Alhamdulillah dan rasa syukur luar biasa.


Stevent menatap mata sayu Nisa dengan lembut, Nisa tersenyum dan memejamkan matanya.


"Tuan silahkan ikut dokter dan Iqomat pada telinga Putri Anda," perintah Dokter Nada.


"Tunggu sebentar sayang, aku akan melihat putri kita," bisik Stevent di telinga Nisa.


Stevent ikut dengan Dokter melihat putra dan putri mereka dan kembali kepada Nisa.


"Sayang, apa kamu lelah? Kita memiliki putra yang Tampan dan Putri yang sangat cantik" Stevent menyentuh pipi Nisa yang dingin.


"Sayang, kenapa kamu tidur? Sayang buka mata kamu." Stevent menepuk pipi Nisa dengan lembut.


"Dokter apa yang terjadi kepada Nisa?" Stevent sangat khawatir.


"Pendarahan dan pasien pingsan." Teriak Dokter Nada.


"Sayang bangunlah!" Stevent menyentuh pipi Nisa yang semakin dingin.


"Tuan, sebaiknya anda menunggu di luar." Dokter Nada terlihat khawatir.


"Apa yang kalian lakukan pada istriku?" Stevent berteriak.


Stevent semakin khawatir ketika ia melihat dokter dan para perawat yang sibuk memasang selang pada tubuh Nisa.


"Tidak, jangan sakiti Nisa!" Stevent berteriak.


"Tuan, tolong tunggu di luar." Dokter Nada kebingungan menenangkan Stevent karena ia tahu hanya Nisa yang bisa melembutkan hati Stevent.


Jhonny masuk ke dalam ruangan dan menarik tubuh Stevent yang bertenaga lagi.


"Jhonny, apa yang kamu lakukan, biarkan aku menemani Nisa." Stevent menatap tajam kepada Jhonny.


"Sabarlah!" Abi menekan tubuh Stevent agar duduk di kursi.


"Apa yang terjadi?" bisik Aisyah di telinga Jhonny.


" Nyonya Nisa tidak sadarkan diri dan terjadi perdarahan," jelas Jhonny pelan.


Aisyah segera berlari ke ruangan Nisa menemui Dini untuk meminjam pakaian operasi Nisa.


Dini segera memberikan kepada Aisyah dan bersama Dini masuk ke dalam ruangan Nisa.


"Anda tidak boleh masuk," ucap seorang Dokter.


"Tidak apa, dia dokter yang merawat Dokter Nisa bersama saya." Dokter Nada menarik tangan Aisyah.


"Anak mereka sehat dan selamat, tetapi kondisi Nisa sangat lemah." Dokter Nada melihat beberapa Tim Dokter yang berusaha membantu Nisa menaikan tekanan darah dan detak jantung.


"Kondisi Nisa seperti sedang tidur dalam senyuman." Aisyah mengusap kepala Nisa.


Para perawat membersihkan tubuh Nisa yang telah terpasang banyak selang ditubuhnya.


"Biarkan Stevent berada di sisi Nisa, jika dia jauh sama saja kalian membuat Stevent gila dan akan menghancurkan rumah sakit ini, jika terjadi sesuatu." Aisyah keluar dari ruangan dan melihat Stevent.


"Dokter Aisyah, biarkan saya masuk." Mata Stevent terlihat merah.


Jhonny dan Abi memegang tangan Stevent dengan kuat.


"Jika kamu bisa tenang, masuk dan temani Nisa, kami akan menjaga Putra dan Putri kalian." Aisyah menarik tangan Jhonny dengan lembut.


Stevent masuk ke dalam ruangan Nisa yang telah berpindah ke samping dinding dengan peralatan medis lengkap.


Seorang Dokter sedang memompa dada Nisa dengan kejutan listrik.


"Apa yang kalian lakukan, Kamu menyakiti Nisa." Stevent mendorong tubuh Dokter.


"Nisa bangunlah, aku mohon jangan tinggalkan aku." Stevent terus menepuk pipi Nisa yang pucat.


"Dokter denyut nadi dan detak jantung semakin lemah." seorang Dokter menambah tegangan listrik pada alat pacu jantung.


"Hentikan." Stevent berteriak.


"Kalian menyakiti istriku." Mata Stevent memerah.


Denyut jantung Nisa kembali tetapi masih terlihat lemah.


Dokter Nada memberikan isyarat kepada perawat dan Dokter lainnya untuk menjauh.


"Nisa, bangun." Stevent berbisik di telinga Nisa, ia frustasi.


"Aku mohon jangan tinggalkan aku, Nisa." Stevent berteriak di telinga Nisa.


Dokter Nada memperhatikan layar komputer, mereka semua sangat khawatir, kondisi Nisa semakin melemah.


Stevent melarang memberikan alat kejut jantung.


"Tuuuuuut." Garis lurus terlihat di layar monitor.


"Tidaaaak." Stevent berteriak, dua orang perawat memegang Stevent.


"Kejut!" perintah Dokter Nada kepada seorang Dokter yang masih memegang alat kejut jantung.


"Kejut!" perintah Dokter Nada lagi.


"Lepaskan." Stevent menghajar dua orang perawat hingga terjatuh ke lantai.


"Nisa bangun, jika kamu tidak bangun, aku akan menghancurkan dunia ini, aku tidak akan perdulikan semua orang." Tangan Stevent mencengkram lengan Nisa.


"Aku akan menyusul dirimu meninggalkan dunia ini." Mata Stevent merah dan air mata telah membasahi wajahnya.

__ADS_1


"Aku akan meninggalkan anak kita berdua dan ikut dengan dirimu, sebelumnya akan aku hancurkan semua perusahaan ku." Suara Stevent serak tubuhnya bergetar.


"Aku tidak izinkan dirimu meninggalkanku." Stevent berteriak.


"Kejut!" perintah Dokter Nada untuk yang ketiga kalinya.


Layar monitor kembali berbunyi, detak jantung dan denyut nadi terlihat naik turun.


"Alhamdulilah," ucap tim Dokter dan perawat.


"Sayang, jangan lakukan ini padaku, aku sangat takut." Stevent mencium seluruh wajah Nisa.


"Tenanglah, Nisa telah melewati masa kritisnya." Dokter Nada menatap Stevent yang terlihat hancur.


Stevent merebahkan kepalanya di samping Nisa yang masih belum sadarkan diri.


"Kapan ia akan sadar?" Stevent menatap tajam kepada Dokter Nada.


"Berdoalah semoga Nisa segera sadarkan diri." Dokter Nada merapikan peralatan medis.


"Sayang, jangan pernah berpikir untuk meninggalkan diriku." Air mata Stevent telah membasahi wajahnya.


"Kemana pun kamu pergi aku akan ikut." Stevent mengusap wajah Nisa dengan tangannya yang masih gemetar.


Ruangan telah sepi, hanya Adan Stevent dan Nisa, Jhonny, Aisyah dan Viona berada di ruangan bayi.


Abi dan Umi berada di ruang tunggu bersama Papa Mark dan Mama Maria.


Semua berlebaran di rumah sakit menemani Nisa dan Stevent.


Mereka bergantian melihat putri dan putri kembar Nisa dan Stevent.


Bayi yang sangat tampan dan cantik, bayi laki-laki terlihat tenang dalam tidur berbeda dengan yang perempuan, lebih banyak merengek.


Nisa membuka matanya perlahan, ia menyentuh kepala Stevent yang tertidur di samping kepalanya.


"Astaghfirullah ya Allah." Air mata Nisa menetes ia mengingatkan kejadian ketika tidak sadarkan diri.


Seakan sedang bermimpi, Nisa berjalan meninggalkan Stevent dan sepasang bayi kembarnya.


Stevent yang terus berteriak memanggil Nisa dan mengancam akan bunuh diri dan membawa anak mereka bersama.


"Astaghfirullah ya, ampuni dosa suamiku." Nisa mengusap wajah Stevent.


"Sayang, kamu sudah bangun." Stevent terus mencium wajah Nisa yang masih pucat.


"Jangan lakukan ini kepadaku." Mata Stevent memerah.


"Jika kamu berani meninggalkan diriku ada banyak kehidupan yang akan hancur." Stevent memeluk Nisa.


"Sayang, dimana anak kita, apa mereka baik-baik saja?" Nisa menyentuh wajah Stevent.


"Tentu saja, semua menjaga anak kita, tidak akan ada yang berani mengganggu mereka." Stevent tersenyum dan mencium Nisa.


"Sayang, katakan apa yang kamu butuhkan?" Stevent menggenggam tangan Nisa yang masih dingin.


Nisa dapat merasakan tangan Stevent gemetar.


"Sayang, apa kamu sudah makan?" Nisa mengusap pipi Stevent.


"Tidak, aku tidak lapar." Stevent mencium tangan Nisa, ia tidak makan apapun dari pagi hingga hari telah malam.


"Bagaimana dengan sholat mu?" Nisa menatap Stevent yang menunduk dan terdiam.


"Kenapa?" tanya Nisa.


"Aku tidak mau jauh dirimu, aku takut kamu akan meninggalkan diriku." Stevent merebahkan kepalanya di samping kepala Nisa.


"Pukul berapa sekarang?" Nisa mengusap kepala Stevent.


"Setengah tujuh sore." Stevent mencium tangan Nisa.


"Mandi, sholat dan makan." Nisa tersenyum.


"Siapa yang akan menjaga dirimu?" Suara manja Stevent.


"Sayang, aku bisa melihat kamar mandi dari sini." Nisa mencubit pipi Stevent.


"Baiklah." Stevent beranjak dari kursi.


"Aku tidak mau meninggalkan dirimu." Stevent kembali duduk dan memeluk Nisa dengan manja.


"Sayang." Nisa mencubit hidung Stevent lagi dan lagi.


"Mmm." Stevent beranjak dari kursi dan menghubungi Jhonny untuk mengantarkan pakaian ganti.


Stevent duduk di samping Nisa menatap wajah Nisa yang masih pucat dengan mata sayu.


"Kenapa?" Suara Nisa lembut.


"Aku ketakutan." Stevent membelai kepala Nisa.


"Jangan takut, percayalah kepada Allah." Nisa tersenyum.


"Aku bahkan hampir tidak percaya adanya Tuhan, jika ia mengambil dirimu dariku" Stevent berbicara di dalam hatinya dan tersenyum kepada Nisa.


"Sayang, jangan pernah hilang harapan, percayalah Allah selalu bersama kita." Nisa menggenggam tangan Stevent.


"Selama kamu bersama diriku." Stevent tersenyum beranjak dari kursi dan menuju pintu, menunggu Jhonny.


Nisa menarik napas panjang menatap Stevent dengan tatapan lembut.


"Semoga Allah selalu menjaga iman mu suamiku." Doa Nisa di dalam hatinya.


"Aku belum melihat putra dan putri ku." Nisa memejamkan matanya.


"Alhamdulilah ya Allah, masih Engkau izinkan hamba mendampingi Stevent." Air mata Nisa mengalir membasahi wajahnya.


***Baca Novel Baru Author***


(Cari : AnnaLee di aplikasi Joy lada)


Mohon dukungnnya berikan like, Komentar, bintang 5 dan Vote. Terimakasih. Baca juga “Arsitek Cantik”

__ADS_1


Novel Kakakku “Nyanyian Takdir Aisyah dan Cinta Bersemi di Ujung Musim.” (Fitri Rahayu), Putih Abu – abu ( Sohibul Iksan) Terimakasih.


Semoga kita semua dalam keadaan sehat dan selalu mendapatkan perlindunganNya, Aamiin.


__ADS_2