Cinta Untuk Dokter Nisa

Cinta Untuk Dokter Nisa
Dunia Begitu Sempit


__ADS_3

Malam semkin larut, Stevent berada di ruang kerja dan Nisa menggantikan gamisnya dengan pakaian tidur yang sangat cantik. Ponsel Stevent berdering, sebuah panggilan dari nomor tidak dikenal. Nisa segera menggeserkan icon berwarna hijau.


“Assalammualaikum.” Nisa menerima panggilan.


“Waalaikumsalam, Nisa apakah ada Stevent?” Suara yang sangat Nisa kenal.


“Nathan, apa kabar dirimu?” tanya Nisa pelan.


“Aku tidak baik, bisakah aku berbicara dengan Stevent?” tanya Nathan pelan.


“Ya, aku akan memberikan ponsel ini pada suamiku.” Nisa berjalan menuju ruang kerja.


“Nisa, apa kamu membenci diriku?” tanya Nathan.


“Tidak, aku telah melupakan semua itu.” Nisa tersenyum, ia melihat Stevent sedang merapikan berkas yang ada di atas meja.


“Sayang, kenapa kamu kemari?” Stevent menatap Nisa lembut.


“Nathan mau berbicara dengan dirimu.” Nisa menyerahkan ponsel pada Stevent.


“Untuk apa dia menghubungi diriku?” Stevent melihat layar ponselnya.


“Terimalah Sayang, mungkin ada sesuatu yang penting.” Nisa mengusap lembut pipi suaminya.


“Ada apa?” tanya Stevent ketus.


“Apakah kamu sedang balas dendam pada diriku?” tanya Nathan pelan.


“Apa maksud kamu, sudah aku katakan aku tidak mau lagi berurusan dengan dirimu.” Stevent menekankan suaranya.


“Kenapa kamu menyuruh orang menculik kekasihku?” Nathan berbicara pelan.


“Kekasih, apa kamu telah memiliki kekasih?” tanya Stevent tersenyum.


“Ya dan seseorang telah menculiknya seperti yang aku lakukan pada Nisa.” Nathan kesal, ia hanya ingin menyakinkan apakah penculikan itu berhubungan dengan Stevent.


“Aku sangat senang kamu telah mencintai wanita lain untuk apa memisahkan kalian, kesembuhan Nisa adalah bayaran untuk menghapus kesalahan dirimu dimasa lalu,” tegas Stevent.


“Katakan pada Nisa aku telah jatuh cinta pada wanita bernama Afifah.” Nathan mematikan ponselnya.


“Ada apa sayang? Kamu terlihat senang?” Nisa memeluk Stevent.


“Nathan berkata dia telah jatuh cinta pada wanita bernama Afifah tetapi ada yang menculik kekasihnya.” Stevent tersenyum.


“Kenapa kamu tersenyum sayang?” Nisa mencubit pipi Stevent.


“Nathan sedang mendapatkan karmanya.” Stevent mencium bibir Nisa.


“Tidak sayang, wanita yang diculik tidak bersalah dan dia tidak boleh menderita seperti diriku.” Wajah Nisa terlihat sedih.


“Sayang, bukan aku yang melakukannya.” Stevent menatap Nisa.


“Aku tidak menuduh suamiku tetapi kamu bisa membantu dirinya bersatu dengan kekasihnya.” Nisa memandang Stevent penuh kasih sayang.


“Kenapa aku harus membantu dirinya?” Stevent melepaskan pelukannya.


“Sayang, Nathan berhak bahagia, ia juga pasti pernah berbuat baik, salah satunya dia mengobati diriku.” Nisa mendekati Stevent.


“Apa yang harus aku lakukan?” tanya Stevent memeluk istrinya.


“Kamu tahu, apa yang harus kamu lakukan.” Nisa mencium bibir Stevent dengan lembut.


“Aku akan melakukannya besok, bolehkan aku menikmati malam romantis bersama istriku?” Stevent mencium leher Nisa.


“Disini?” Nisa tersenyum.


“Tidak, kita akan bercinta dikamar.” Stevent menggendong Nisa menuju kamar mereka dan mendudukkan istrinya di atas tempat tidur.


“Sayang, aku mohon, bantu Nathan secepatnya.” Nisa menyentuh pipi Stevent


“Kenapa kamu begitu memikirkan dia?” Stevent menatap Nisa dengan tajam.

__ADS_1


“Sayang, kamu dan dia punya banyak kesamaan, apa yang kamu rasakan ketika aku diculik?” Nisa tersenyum.


“Aku berbeda dengan dirinya.” Stevent cemberut.


“Sebutkan satu saja perbedaan kamu dengan Nathan.” Nisa mencubit hidung Stevent yang terdiam dan berusaha berpikir keras.


“Kalian sama-sama pria yang dingin dan keras kepala.” Nisa tersenyum.


“Nathan dan kamu tidak akan melihat wanita yang seksi, aku yakin wanita yang telah membuat pria itu jatuh cinta adalah wanita yang luar biasa.” Nisa tersenyum.


“Luar biasa seperti dirimu.” Stevent tersenyum dan mencium bibir istrinya.


“Sayang, cepatlah bantu Nathan.” Nisa menutup mulut Stevent.


“Aku cemburu kamu begitu peduli kepada Nathan.” Stevent memancungkan mulutnya.


“Sayang, aku lebih peduli pada Afifah.” Nisa mengecup bibir Stevent.


“Ayolah sayang, aku mau bercinta dengan istriku yang cantik dn seksi.” Stevent mengeratkan pelukannya.


“Kita punya banyak waktu untuk bercinta tetapi Afifah dan Nathan pasti tersiksa dalam rasa khawatir luar biasa.” Nisa mengusap kepala Stevent.


“Baiklah, aku akan menghubungi Nathan.” Stevent mengecup dahi Nisa dan beranjak dari tempat tidur. Pria itu segera menghubungi kembali nomor ponsel Nathan.


“Halo Nathan, dimana kamu sekarang?” tanya Stevent langsung.


“Aku ada di kota Musium Menara,” jawab Nathan heran.


“Itu adalah daerah kekuasaan diriku, apa yang bisa kamu lakukan?” tanya Stevent.


“Aku sedang berusaha, apa kamu sedang mengejek diriku?” Nathan menekankan suaranya.


“Aku akan membantu dirimu, kirimkan data tentang penculik yang kamu ketahui,” tegas Stevent.


“Kenapa, kamu mau membantu diriku?” tanya Nathan heran.


“Aku melakukan ini atas permintaan istriku, aku akan membuat kamu bersatu dengan kekasih kamu, supaya kamu tidak akan memikirkan lagi Nisa.” Stevent tersenyum puas.


“Tentu saja, Afifah telah menghapus Nisa dari hati dan pikiranku.” Nathan tersenyum karena bisa melupakan Nisa.


“Sayang, kamu membuat diriku bekerja tengah malam.” Stevent duduk di kursi samping tempat tidur.


“Aku akan menemani dirimu.” Nisa memeluk Stevent dari belakang.


Stevent menghubungi, orang kepercayaan yang ada dikota Musium Menara agar segera mengepung lokasi Afifah di sekap.


***


Fauzan terlihat tercemas mendapatkan kabar tentang penculikan Afifah, ia duduk di balkon kamar yang berhadapan dengan kamar Ayumi dan Viona menunggu kedatangan Asraf.


“Selamat malam Tuan.” Asraf berdiri di belakang Fauzan.


“Malam, duduklah!” Fauzan melihat Asraf.


“Ada apa Tuan, apa ada masalah?” tanya Asraf penasaran.


“Asraf, Afifah dalam bahaya.” Fauzan menepuk pundak Asraf.


“Apa maksud anda Tuan?” Asraf menatap Fauzan.


“Aku membayar seorang mata-mata mengikuti Nathan dan Afifah di pulau seberang untuk memastikan kakak kamu baik-baik saja.” Fauzan merasa bersalah pada Asraf.


“Apa yang terjadi pada kakakku?” tanya Asraf khawatir.


“Maafkan aku Asraf, sepertinya musuh-musuh Nathan telah bergerak dan mereka menculik Afifah.” Fauzan memandang Asraf penuh khawatir.


“Apa, kenapa mereka menculik Afifah dan kenapa Nathan punya musuh?” Asraf kebingungan.


“Sebaiknya kita kembali ke kota dan menyusul Afifah.” Fauzan menepuk pundak Asraf.


“Tidak Tuan, anda tetaplah disini, saya akan pergi sendiri jika anda izinkan.” Mata Asraf memerah.

__ADS_1


“Kita tidak bisa bergerak di kota itu.” Fauzan menatap Asraf.


“Apakah aku harus diam saja?” Asraf terlihat putus asa.


“Tenanglah, kota itu adalah daerah kekuasaan Stevent, aku akan menghubungi dirinya.” Fauzan mengambil layar ponselnya dan melihat waktu sudah sangat larut malam.


“Aku sangat tidak sopan mengganggu pria itu sedang beristirahat.” Fauzan melihat Asraf.


“Dia masih aktif.” Fauzan segera menghubungi nomor ponsel Stevent.


“Assalamualaikum, maaf aku mengganggu istirahat anda.” Fauzan membuka panggilan.


“Waalaikumsalam, tidak apa aku masih bekerja.” Stevent heran pria itu menghubungi dirinya di tengah malam.


“Aku mau minta bantuan untuk menolong kakak Asraf yang diculik.” Fauzan berbicara pelan.


“Kakak Asraf?” Stevent bingung.


“Ya, dia pergi bersama Nathan, sepertinya musuh pria itu sedang balas dendam.” Fauzan melirik Asraf.


“Apakah namanya Afifah?” Stevent melirik Nisa yang terus memandang dirinya.


“Bagaimana kamu bisa tahu?” tanya Fauzan heran.


Stevent tertawa terbahak-bahak, ia merasa dunia ini terlalu sempit dan lucu, ia harus bermain dengan Nathan dan Afifah dan saling berhubungan dengan Fauzan.


“Sayang, kamu kenapa?” tanya Nisa heran.


“Sshh.” Stevent menutup mulut Nisa dengan jarinya dan kembali berbicara dengan Fauzan.


“Tenanglah, aku akan melakukannya.” Stevent tersenyum.


“Terimakasih.” Fauzan merasa tenang dan memutuskan panggilan.


Stevent kembali tertawa terbahak-bahak, memeluk tubuh Nisa dan berbaring di atas tempat tidur, ia mencubit dan mencium pipi istrinya.


“Sayang, ada apa, kamu terlihat aneh.” Nisa berada di atas tubuh Stevent.


“Apa kamu tahu, siapa wanita yang Nathan cintai?” Stevent menatap wajah Nisa.


“Siapa?” tanya Nisa.


“Afifah itu adalah kakak Asraf.” Stevent tersenyum.


“Dunia ini sangat sempit.” Nisa mencium bibir Stevent.


“Apa kita bisa bercinta sekarang?” Stevent mengunci tangannya.


“Apa pekerjaan kamu telah selesai?” tanya Nisa.


“Tentu saja sayang, aku selalu bergerak cepat, aku rasa Nathan menjadi bodoh karena sedang jatuh cinta.” Stevent trsenyum.


“Apakah kamu juga sama?” Nisa mencubit hidung Stevent.


“Baiklah, pria menjadi bodoh ketika sedang jatuh cinta.” Stevent membalik tubuh Nisa hingga berada di bawah dirinya.


“Benarkah?” Nisa menggoda Stevent.


“Diamlah!” Stevent mencium bibir Nisa dengan lembut dan dalam tanpa melepaskan, melanjutkan dengan ritual bersama menjalankan ibadah dengan indah.


Membersihkan dan mensucikan diri dan melaksanakan sholat sunah dua rakaat. Bercinta tanpa suara, hanya desahan dan erangan yang lembut menikmati kenikmatan bercinta.


Semilir angin dalam nyanyian malam, memberikan kesempatan kepada hambaNya untuk beristirahat dalam kepenatan siang.


"Dan Kami jadikan malam dan siang sebagai dua tanda, lalu Kami hapuskan tanda malam dan Kami jadikan tanda siang itu terang, agar kamu mencari kurnia dari Tuhanmu, dan supaya kamu mengetahui bilangan tahun-tahun dan perhitungan. Dan segala sesuatu telah Kami terangkan dengan jelas"


***


Untuk yang Suka berikan like, Komentar, bintang 5, Tips, Vote serta bantu promosikan. Terimakasih.


Baca juga Novel Author berjudul “Arsitek Cantik” dan "Mengejar Cinta Ariel" dan " Tabib Cantik Bulan Purnama"

__ADS_1


Novel Kakakku “Nyanyian Takdir Aisyah dan Cinta Bersemi di Ujung Musim.” (Fitri Rahayu). Terimakasih.


Semoga kita semua dalam keadaan sehat dan selalu mendapatkan perlindunganNya, Aamiin.


__ADS_2