
Rumah Samuel
Seorang gadis kecil berkulit seputih salju dan rambut pirang duduk di taman ditemani seorang Ayah yang sangat tampan dan keren.
Papa muda tanpa menikah tapi memiliki seorang putri yang cantik.
"Pa, Angel kangen Mama Nisa" Ucap Angel memeluk Samuel.
"Ah, anak ini, aku berusaha melupakan pandangan pertama pada wanita itu tapi ia kembali menyebutkan namanya" Gerutu Samuel dalam hati.
"Pa, Bisakah Papa mempertemukan Aku dengan Mama Nisa?" Angel memelas.
"Mama Nisa punya sebuah sekolah di rumahnya" Samuel tersenyum.
"Benarkah, tapi hari Minggu berarti sekolah libur" ucap Angel.
"Tidak Sayang, Mereka tinggal dan sekolah bersama teman - teman di asrama" jelas Samuel mencium pipi Putrinya.
"Bolehkah kita berkunjung?" tanya Angel bersemangat.
"Tentu saja Sayang, Ayo kita bersiap" Samuel menggandeng tangan Putrinya kembali ke rumah untuk bersiap.
"Ajak Oma juga Papa" Angel bersemangat, dan Samuel mengangguk.
Mereka bertiga berangkat menuju pesantren Abi Ramadhan, sebelum sampai Samuel menghentikan mobilnya di depan sebuah minimarket.
"Kenapa kita berhenti di sini?" tanya Angel.
"Kita harus membawa hadiah untuk teman-teman baru Angel" Oma mengusap rambut Angel.
"Yea" Angel sangat bersemangat,Nia keluar bersama Papa Samuel.
Mereka membeli banyak makanan, mainan dan perlengkapan sekolah yang akan diantar oleh pihak minimarket.
Setelah merasa cukup, Samuel kembali menjalankan mobilnya menuju pesantren dan berhenti tepat di depan perkarangan pesantren.
Mereka di sambut dengan pemandangan yang Asri dan hijau begitu menyejukkan, dengan taman bunga dan pohon-pohon yang rindang.
Samuel membuka pintu untuk Oma dan Angel dan berjalan bersama menuju rumah Abi.
Samuel mengetuk daun pintu yang terbuka, Angel melihat anak - anak pesantren yang bermain bersama di halaman.
Oma memperhatikan sekeliling, rumah yang begitu nyaman dan sejuk menyenangkan.
Umi keluar dari pintu dan melihat tamu yang datang, Umi telah lupa dengan Samuel karena mereka cuma bertemu satu kali.
"Selamat Siang Nyonya, Saya Samuel pemilik rumah Sakit tempat Dokter Nisa bekerja" Samuel memperkenalkan diri, ia tahu dari tatapan Umi yang tidak mengenali dirinya.
"Oh iya, maafkan saya, silahkan masuk" ucap Umi mempersilahkan tamunya untuk masuk.
Mereka berjalan bersama menuju ruang tamu minimalis dan sederhana.
Umi mempersilahkan tamu untuk Duduk.
"Nyonya perkenalan, Mama dan Putri saya" ucap Samuel.
"Halo Nyonya, saya Nyonya Davina, Nenek dari Angel" Nyonya Davina mengulurkan tangannya dan berjabatan dengan Umi.
"Halo Nenek, nama saya Angel" Angel memberi salam dengan sopan, ia melirik ruang tengah.
"Nenek, apakah aku boleh melihat ruang tengah?" tanya Angel uang penasaran.
"Tentu saja" Umi tersenyum.
"Terimakasih Nenek" ucap Angel yang segera berjalan menuju ruang tengah.
Umi pamit ke dapur untuk membuat minuman dan mengambil Cemilan.
Abi dan Kenzo berada di restoran depan pesantren.
__ADS_1
Oma ikut menemani Angel masuk ke ruang tengah dan melihat foto, sertifikat, piagam dan tropi penghargaan.
"Mama Nisa sudah cantik dari kecil" ucap Angel memandang foto gadis kecil yang telah menggunakan jilbab.
"Dia Juga anak yang cerdas" ucap Oma memerhatikan piagam penghargaan yang begitu banyak.
Oma kembali duduk ke ruang tamu bersama Samuel dan Umi.
Samuel menjelaskan kedatangan mereka ke pesantren, untuk memberi bantuan dan berkunjung agar Angel bisa belajar untuk berbagi.
Umi menemani para tamu berkunjung di pesantren, dan mengumpulkan anak-anak di Aula agar bisa mendapatkan hadiah secara adil.
Setelah membagikan hadiah, Angel bermain bersama anak-anak seusia dengan dirinya.
Angel terlihat bahagia, ia menanyakan tentang Nisa pada teman-teman barunya.
Semua memuji dan mencintai Nisa, mereka juga mengatakan setiap hari Minggu Nisa pasti datang ke pesantren.
Kenzo dan Abi kembali dari restoran, Mereka untuk mengajak Umi makan siang di restoran.
Samuel menyapa Abi dan Kenzo, mereka saling memperkenalkan diri begitu juga dengan Oma.
Semua pergi ke restoran milik Abi untuk menikmati makan siang bersama.
Selesai makan mereka berbincang di Aula Pesantren.
Kenzo, Abi dan Samuel berbincang sesama Pria, mereka berbicara tentang bisnis, sedangkan Oma dan Umi bercerita tentang Nisa dan pesantren.
Kenzo mengajak Samuel untuk bermain bola bersama anak-anak di lapangan.
Dua pria tampan dan keren telah membuka pakaian mereka, hanya menggunakan kaos dalam Tanpa lengan, memperlihatkan otot-otot kekar.
Mereka bermain bola bersama anak-anak di lapangan.
Angel kembali bermain bersama teman-temannya. Ia tidak mengira anak - anak pesantren sangat baik dan mau menerima Angel yang baru pertama kali berkunjung.
Nisa adalah bidadari cantik yang turun ke jalanan untuk menyelamatkan anak-anak terlantar.
Sepulang kerja Nisa akan berkeliling dengan mobilnya untuk mencari anak jalanan, ketika ia melakukan bakti sosial di tempat - tempat umum, Nisa selalu berusaha mencari anak-anak yang membutuhkan bantuan.
Angel sedih, ia ingat pesan Nisa, bahwa dirinya jauh lebih beruntung dari anak jalanan yang tidak punya tempat tinggal.
Sebuah Mobil sport hitam telah memasuki perkarangan pesantren, Stevent memperhatikan sebuah mobil yang telah terparkir lebih dulu.
"Sayang, ada tamu" ucap Stevent.
"Mungkin Donatur" Jawab Nisa.
"Sayang, jangan dekat-dekat Kenzo" Stevent menahan tangan Nisa.
"Sayang, Mau ngapain aku dekat - dekat Kenzo?" manja Nisa dan Stevent tersenyum.
Ia segera keluar dari mobil dan membuka pintu untuk Nisa.
Stevent mengandeng Nisa menuju ke rumah, pintu tertutup, Nisa mengucapkan salam dan membuka pintu, rumah tampak kosong.
"Mungkin di Pesantren" ucap Nisa melihat Stevent yang terus menatap mobil Biru di samping mobil Kenzo.
"Sayang, kita langsung ke pesantren saja" Nisa menarik tangan Stevent.
"Kamu jangan bermain dengan anak-anak" larang Stevent.
"Kenapa?" tanya Nisa heran.
"Aku tidak mau kamu kelelahan" tegas Stevent.
"Siap, Sayang ku" Nisa memeluk tangan kekar Stevent.
Mereka berdua berjalan bersama menuju anak-anak yang sedang bermain di perkarangan.
__ADS_1
"Assalamualaikum" Sapa Nisa kepada anak-anak.
"Waalaikumsalam Kaaak Nisa" Anak-anak berteriak dan Berlari untuk memeluk Nisa tapi.
"No,no, no " Stevent menghalangi anak-anak di depan Nisa yang menahan tawa.
"Kenapa?" Anak-anak kecewa.
"Karena di perut Kak Nisa ada Dedek bayi" ucap Stevent.
"Oooooh" Anak-anak kompak.
"Sini, Kak Nisa peluk satu - satu" Ucap Nisa.
"Wah, ada Angel juga" lanjut Nisa.
"Apa?" Stevent kaget. Jika ada Angel berarti ada Samuel.
Nisa berjongkok dan memeluk anak-anak satu persatu.
"Angel siapa yang menemani kamu kemari?"tanya Stevent.
"Papa dan Oma" jawab Angel polos.
"Dimana Papa kamu?" tanya Stevent lagi.
"Bermain bola di lapangan bola" jawab Angel tersenyum.
"Sayang, aku bermain bersama anak-anak, kamu jangan sampai lelah" bisik Stevent dan mencium pipi Nisa.
Stevent berjalan menuju lapangan bola belakang Asrama.
Nisa hanya tersenyum melihat Stevent yang telah membuka jasnya dan menggantungkan di pohon.
Stevent telah sampai di lapangan bola, ia menatap tajam pada dua pria yang sedang berebut bola.
"Halo Nino" Sapa Stevent menghentikan permainan Kenzo dan Samuel.
"Halo Stevent, kemarilah kamu mau masuk tim mana?" tanya Kenzo tersenyum.
"Aku hanya ingin merebut bola dari kalian berdua" jawab Stevent tersenyum sinis.
Stevent benar-benar jadi pengacau permainan, ia hanya ingin melakukan tendangan gawang dan merebut bola dari Kenzo dan Samuel.
Anak-anak segera menyingkir dari lapangan, mereka melihat bingung pada permainan bola tiga pria dewasa dengan tubuh kekar berotot.
Permainan tanpa aturan, mereka bertiga berebut Bola, hingga tarik - tarikan tangan dan baju, berguling - guling dan kadang bergulat di atas rumput.
Anak-anak bersorak bergembira, bertepuk tangan dan memilih Dukungan masing-masing.
Tiga pria berebut Bola akhirnya kelelahan, mereka bertiga berbaring di atas rumput dengan tubuh penuh debu dan keringat.
***
**
*
*Terimakasih telah membaca Karya Author
*
**
**
Mohon dukungannya untuk selalu memberikan Like, komentar dan Vote, yang udah Author ucapkan banyak terima kasih.
Love You Readers, muuach 😘**
__ADS_1