Cinta Untuk Dokter Nisa

Cinta Untuk Dokter Nisa
Hadiah Pernikahan


__ADS_3

Ruang kerja


Stevent tertawa terbahak-bahak di ruang kerja hingga mengejutkan Nisa yang segera menghampiri suaminya, wanita itu mengucapkan salam dan membuka pintu dengan perlahan.


“Sayang, ada apa dengan dirimu?” Nisa melihat wajah Stevent memerah dan matanya berair.


“Sayang kemarilah, berikan aku pelukan.” Stevent berjalan mendekati Nisa dan memeluknya.


“Kenapa kamu terus tertawa? Itu membuat aku takut.” Nisa merasakan tubuh Stevent yang terus bergetar menahan tawanya.


“Sayang, aku tidak bisa menahan diri dengan takdir lucu yang mempermainkan Nathan.” Stevent melepaskan pelukannya dan menarik tangan Nisa duduk di sofa.


“Nathan, apa yang terjadi pada dirinya?” Nisa menatap Stevent.


“Apa kamu mengkhawatirkan pria itu?” Stevent menghentikan tawanya dan menatap tajam pada Nisa.


“Sayang, apa kamu tidak mau membagikan kebahagian yang membuat dirimu menangis dan tertawa?” Nisa tersenyum.


“Ah, aku akan menambahkan kebahagian ini.” Stevent mencium bibir Nisa.


“Malam ini Jhonny dan Nathan menghubungi diriku dalam waktu yang hampir bersamaan.” Stevent tersenyum.


“Lalu?” Nisa bingung, kenapa suaminya terlihat bahagia.


“Sayang, aku tidak tahu harus memberitahu kamu mulai dari mana, semuanya saling berhubungan, Tuhan sangat baik pada diriku.” Stevent memeluk Nisa.


“Baiklah siapa yang menghubungi dirimu pertama kali, Jhonny atau Nathan?” Nisa menyentuh pipi suaminya dengan lembut.


“Nathan.” Stevent menatap wajah Nisa.


“Mulailah bercerita tentang Nathan.” Nisa tersenyum.


“Hmm, kamu luar biasa.” Stevent mencium dahi Nisa.


“Nathan menagih janjiku yang akan mempersatukan dirinya dengan Afifah secepatnya.” Stevent tersenyum.


“Aku akan menepati janji itu untuk kepentingan diriku sendiri dan dirimu.” Stevent mencium bibir Nisa dengan lembut, ia tahu Nathan sangat berbahaya seperti dirinya, mereka memiliki sifat dan kepribadian yang sama. Jika Afifah bisa membuat Nathan jatuh cinta berarti wanita itu bisa melemahkan Nathan seperti Nisa pada dirinya tetapi juga bisa menjadi kekuatan yang menggila.


“Sayang kenapa kamu melamun?” Nisa menatap Stevent.


“Aku akan membuat Nathan menikah secepatnya dengan Afifah dengan sedikit kejutan dan hadiah kebahagian dari diriku.” Stevent tersenyum puas.


“Baiklah selesai dengan Nathan, selanjutnya Jhonny.” Nisa menyentuh hidung Stevent dengan hidungnya.


“Afifah adalah adik dokter Aisyah.” Stevent tersenyum lebar.


“Apa? Bagaimana bisa? Semuanya seakan kebetulan.” Nisa menatap Stevent seakan tidak percaya.


“Semuanya berkumpul di rumah Dokter Aisyah bahkan Fauzan dan Asraf ada di sana.” Stevent menyenderkan tubuhnya pada sofa, sama dengan dengan Nisa, dirinya juga berpikir semuanya begitu aneh dengan kebetulan yang luar biasa.


“Afifah adik kandung Dokter Aisyah dan kakak angkat Asraf.” Stevent tersenyum.


Afifah adalah gabungan kepribadian Nisa dan Aisyah, kekurangannya adalah tidak bisa bela diri, phobia gelap, buta arah dan mengalami memory pendek. Wanita itu sangat membutuhkan pendamping hidup yang kuat dan berkuasa untuk membantu dirinya pulih dari trauma masa lalu.


“Sayang, apa kamu mau pergi ke pernikahan Nathan?” tanya Stevent.


“Aku tidak bisa meninggalkan Azzam dan Azzura.” Nisa tersenyum.


“Baiklah, kita hanya perlu mengirimkan hadiah yang luar biasa, aku akan lembur untuk mengurus semuanya agar menjadi sempurna karena Nathan berada di daerah kekuasaan diriku, aku tidak mau mengecewakan sahabat lama istriku.” Nathan tersenyum dan beranjak dari sofa.


“Sayang, aku akan menemani dirimu.” Nisa berdiri di samping Stevent.


“Tidurlah sayang, aku tidak mau membuat dirimu lelah, apalagi kamu akan kembali bekerja.” Stevent mencium bibir Nisa menikmati kehangatan penuh cinta dan kasih sayang.


“Jangan paksakan dirimu, beristirahatlah segera.” Nisa memeluk suaminya.


“Ya.” Stevent mencium dahi Nisa. Wanita cantik itu tersenyum dan berjalan keluar kamar meninggalkan Stevent dengan sejuta rencana yang akan ia lakukan untuk kebahagian musuh dan dirinya.


“Kebahagian dirimu adalah kebahagiaanku.” Stevent tersenyum, ia segera menghubungi rekan bisnis dan orang kepercayaan yang ada di kota tempat tinggal orang tua Aisyah. Melaksanakan sebuah rencana besar dalam waktu semalam, dengan kekuasaanya tidak ada yang tidak bisa dilakukan.


Selesai dengan urusanya, pria itu segera mematikan lampu ruang kerja dan kembali ke kamar untuk tidur dengan memeluk tubuh wanita yang paling ia cintai di dunia ini. Nisa adalah wanita pertama yang mengenalkan cinta kepada pria dingin itu. Ia mematahkan kepercayaan Stevent bahwa tidak ada wanita yang bisa membuat dirinya jatuh cinta.


***


Rumah Keluarga Aisyah.


Semua berkumpul di ruang makan untuk menikmati sarapan bersama sebelum melakukan aktivitas masing-masing dan melakukan perjalanan pulang. Sarapan buatan Afifah dan Aisyah sangat enak dan disukai semua orang, dua bersaudari itu sangat pandai memasak. Selesai makan mereka berkumpul di ruang tengah, Fauzan dan Asraf akan pulang dengan mengunakan pesawat jet pribadi milik Jhonny.


“Kak, Aku akan pulang, semoga kakak bahagia bersama keluarga baru kakak.” Asraf menunduk, ia tidak bisa lagi memeluk wanita itu.


“Jaga dirimu, kunjungi aku jika kamu punya waktu luang.” Afifah tersenyum.


“Tidak ada yang akan pulang karena kami akan menikah hari ini.” Nathan menatap pada Afifah.


“Bagaimana itu bisa terjadi bahkan aku belum bertemu dengan keluarga kamu.” Afifah menatap Nathan.


“Kamu akan segera bertemu dengan mereka hari ini.” Nathan tersenyum.


“Nathan, apakah yang kamu katakan itu benar?” Aisyah melihat kearah Nathan.


“Tentu saja, aku sudah berbicara dengan kedua orangtua kalian.” Nathan melirik Papa dan Mama Aisyah.


“Ma, Pa, apa itu benar?” Aisyah memegang tangan Mama.


“Iya sayang, semua telah dipersiapkan Nathan.” Mama tersenyum.


“Apa yang kamu persiapkan?” Aisyah mendekati Nathan.


“Stevent membantu diriku mempersiapkan semuanya, apa Jhonny tidak tahu tentang semua ini?” Nathan tersenyum melihat kearah Jhonny.


“Jhonny, apa maksud perkataan Nathan.” Aisyah memegang tangan Jhonny.


“Aku tidak tahu detailnya tetapi Tuan Stevent hanya memberitahu bahwa ia akan mengirimkan hadiah istimewa untuk pernikahan Nathan dan Afifah.” Jhonny menatap Aisyah.


“Afifah, apa kamu benar-benar akan menikah dengan pria ini?” Aisyah memeluk Afifah, Asraf dan Fauzan hanya terdiam menjadi penonton.


“Apa aku ada pilihan?” Afifah berbisik di telinga Aisyah.


“Afifah, Aku sangat mengenal Nathan, dia pasti akan menjaga dirimu dengan berlebihan.” Aisyah berbicara pelan.


“Mungkin itu yang terbaik untuk diriku.” Afifah tersenyum.


“Asraf, Nathan sangat mencintai Afifah, pria itu akan melakukan segala cara untuk mendapatkannya, masih bagus ia melakukan dengan lembut.” Fauzan menepuk pundak Asraf.


“Karena, jika kamu memaksakan diri untuk memiliki Afifah aku yakin itu akan menyakiti kalian berdua.” Fauzan berbisik di telinga Asraf yang terdiam dan mematung.


Beberapa mobil mewah masuk ke dalam perkarangan dan berhenti tepat di depan pintu utama, papa dan mama Nathan keluar dari mobil paling depan. Semua keluar melihat kedatangan para tamu kecuali Afifah yang diam di ruang tengah.


“Kenapa sayang? Apa kamu berubah pikiran?” Nathan memegang dagu Afifah.

__ADS_1


“Apa aku tidak menggunakan gaun pengantin?” Afifah tersenyum.


“Apa kamu mau berdandan seperti seorang pengantin bersama dengan diriku?” Nathan menatap Afifah tidak percaya dengan yang ia dengar.


“Aku mau terlihat cantik dihari pernikahanku, ini adalah hari yang istrimewa.” Afifah tersenyum, ia tahu tidak ada yang bisa ia lakukan kecuali menikmati kehidupan baru bersama Nathan.


“Selamat pagai tuan Nathan, kami adalah perias pengantin yang Tuan Stevent kirim.” Seorang wanita memberi hormat.


“Ah, aku tidak menyangka ia mempersiapkan semuanya dalam satu malam.” Nathan tersenyum.


“Dandan Nona Afifah di kamarnya.” Nathan menatap Afifah.


“Anda juga harus berganti pakaian tuan Nathan, kita semua akan pergi ke aula pernikahan yang telah di siapkan sebuah hotel mewah.” Seorang pria berdiri di depan Nathan.


“Bukankah kami akan menikah di rumah ini?” Nathan menatap pria itu penuh penyelidikan.


“Tidak Tuan, anda tenang saja, pernikahan anda adalah kebahagiaan Tuan Stevent sehingga ia menjadikan semua ini sebagai hadiah.” Pria itu menunduk.


“Dia sangat bahagia karena aku telah mencintai wanita lain.” Nathan tersenyum.


Semua berkumpul di ruang tamu menunggu Afifah berdandan dan menggunakan pakaian pengantin. Nathan terlihat tampan dengan stelan jas putih, ia berjalan menuruni tangga dengan senyuman penuh kebahagiaan. Seorang wanita dengan gaun putih menutupi seluruh tubuhnya dan hiasan kepala berupa mutiara dank ain tipis menutupi wajah cantik Afifah.


“Kenapa wajahnya di tutup?” Aisyah berjalan mendekati Afifah.


“Agar tidak ada pria lain yang melihat kecantikan calon istriku.” Nathan tersenyum.


“Nathan sayang kemarilah, mama sangat merindukan dirimu.” Mama memeluk Nathan.


“Sebaiknya kita segera berangkat menuju aula pernikahan.” Papa Nathan menatap putranya dengan penuh kebahagiaan, ia tidak percaya anaknya akhirnya mau menikah.


Afifah satu mobil bersama keluarganya, Jhonny bersama Fauzan dan Asraf, Nathan dengan keluarganya, Naylan menunggu di dalam mobil, ia tidak tahu jika ada pangeran di dalam rumah Afifah, ia juga tidak memperhatikan ketika semua orang masuk ke dalam mobil masing-masing karena dia tidak suka dengan pernikahan Nathan.


Mobil melaju menuju aula pernikahan yang telah di siapkan oleh orang kepercayaan Steven, sebuah gedung mewah dan megah dengan perkarangan yang sangat luas telah di sulap menjadi tempat resepsi pernikahan Nathan dan Afifah. Keluarga Aisyah sangat terkejut dengan apa yang mereka lihat, semua tampak mendadak tetapi sangat sempurna.


Nathan berdiri di depan pintu dan melihat ke dalam ruangan yang dihiasi sangat indah dengan dekorasi bunga mawar warna putih.


“Sangat indah.” Suara lembut Afifah membuyarkan lamuna Nathan.


“Apa kamu menyukainya?” Nathan menghadap Afifah.


“Ya, terimakasih.” Afifah tersenyum.


“Ayo kita masuk, semua telah menunggu.” Nathan tersenyum, jantungnya berdetak kencang menyambut kebahagiaan.


Ruangan hening, ketika kedua mempelai memasuki Aula pernikahan dan pintu di tutup rapat, ada banyak penjagaan di luar yang Stevent siapkan untuk menjamin pernikahan Nathan berjalan dengan lancar.


Pernikahan berjalan dengan hidmat dan lancar, tidak ada kegugupan sedikitpun pada Nathan, pria cerdas itu melakukan dengan sempurna, tanpa celah. Semua berteriak sah dan mengucapkan syukur penuh kebahagiaan


Afifah yang ditemani Aisyah di ruangan sebelah tertunduk diam ketika mendengarkan riuh akta sah dari ruangan utama aula. Jantungnya terus berdegup kencang ada rasa takut dihatinya ketika harus bersama dengan pria itu seumur hidupnya. Ia tidak tahu apa yang ia rasakan, suaminya adalah pria yang sempurna dengan ketampanan dan kecerdasan luar biasa.


“Apa yang membuat kamu ragu?” Aisyah mengenggam tangan dingan Afifah.


“Tidak ada, Nathan sangat tampan dan cerdas pasti ada banyak waniya yang menginginkan dirinya, aku sangat beruntung.” Afifah tersenyum untuk menenangkan hatinya.


“Dia juga pria yang sangat kaya bergerak dalam bidang kesehatan dan farmasi.” Aisyah memeluk Affah.


“Bagaimana dengan Kak Jhonny?” Afifah mengalihkan pembicaraan.


“Permisi Nona, waktunya mempelai wanita keluar untuk menemui mempelai pria.” Seorang wanita yang jadi perias berdiri di pintu.


“Kita punya banyak waktu untuk bercerita karena kita akan tinggal di kota yang sama.” Aisyah memegang tangan Afifah untuk keluar bersama.


Asraf mengepalkan tangannya, ia tidak akan pernah bisa lagi berada disisi Afifah dengan tingkat kecemburuan Nathan yang berlebihan. Fauzan tersenyum dan menepuk pundak Asraf, ia dapat memahaminya apa yang dirasakan asistennya dengan usia yang masih sangat muda dan emosi yang masih labil.


“Doakan agar Afifah bahagia bersama Nathan karena mencintai artinya mengikhlaskan dia untuk bahagia.” Fauzan berbisik di telinga Asraf.


Aisyah mengantarkan Afifah duduk di samping Nathan saling berhadapan, gadis cantik itu mengulurkan tangannya kepada suaminya, ia mencium punggung tangan Nathan dan tetap menunduk.


“Silahkan buka penutup wajah istri anda dan cium dahinya,” ucap seorang pria.


“Aku tidak akan membukanya.” Nathan tersenyum.


“Kenapa?” Semua orang bingung.


“Hari ini istriku berdandan sangat cantik dan aku tidak mau orang lain melihat kecantikan istriku.” Nathan tersenyum. Perkataanya membuat semua orang tertawa.


“Baiklah, karena acara ijab qabul telah selesai, silahkan menikmati hidangan yang telah di sediakan.” Aisyah bersama beberapa pelayan mengarahkan semua orang untuk menikmati jamuan.


Nathan menarik tangan istrinya menuju ruangan yang tadi digunakan Afifah, Asraf dan Fauzan melihat dari kejauhan.


“Nathan, apa kamu tidak lapar?” Afifah ketakutan.


“Aku baru saja makan sarapan yang kamu buatkan.” Nathan mengunci pintu.


“Apa yang akan kamu lakukan?” Afifah duduk di tepi tempat tidur.


“Sayang, aku hanya ingin melihat wajah kamu.” Nathan mendekati Afifah, ia melihat tangan wanita itu gemetar.


“Apa aku menakutkan?” Nathan berbisik di telinga Afifah.


“Tidak.” Afifah menunduk.


“Aku tidak akan melakukannya di sini.” Nathan membuka penutup wajah Afifah dengan perlahan.


“Kamu sangat cantik.” Pria itu memegang dagu Afifah dan langsung mencium bibir berwarna merah merona, ada rasa manis yang berasal dari vitamin bibir begitu nikmat.


Mata Afifah melotot tubunya membeku, aliran darah berhenti seketika dan sengatan listrik menjalar dari bibir hingga seluruh tubuh. Ciuman pertama yang ia rasakan pada bibir mungilnya yang tidak ingin Nathan lepaskan begitu saja, gadis kecil kesulitan bernapas hingga ia memukul lengan kekar suaminya.


Nathan melepaskan ciumannya dan tertawa tertawa terbahak-bahak, ia sangat yakin itu adalah ciuman pertama Afifah, wanita itu sangat polos tidak memiliki pengalaman sama sekali. Walaupun Nathan tidak pernah berciuman setidaknya ia suka menonton film romantic.


“Sangat manis.” Nathan menatap Afifah yang menutupi bibir dengan telapak tangannya.


“Kenapa kamu melakukannya dengan tiba-tiba?” Affiah melotot, wajahnya memerah.


“Sayang, jika aku minta izin pasti kamu akan mengunci bibir ini.” Nathan menyentuh bibir Afifah dengan jari jempolnya.


“Bagaimana kamu tahu?” Afifah menyingkirkan tangan Nathan.


“Aku hanya menebak.” Nathan tersenyum.


“Kita pulang sekarang.” Nathan mencium bibir Afifah sekilas.


“Pulang kemana?” Afifah bingung.


“Rahasia.” Nathan menutup kembali wajah Afifah.


“Bagaimana dengan keluarga kamu?” tanya Afifah yang mengusap bibirnya dengan tangannya.


“Mereka akan menginap di hotel ini, karena Aula adalah bagian dari hotel.” Nathan menggendong tubuh mungil Afifah.

__ADS_1


“Aku bisa berjalan sendiri.” Afifah tetap berpegangan pada leher Nathan karena ia takut jatuh.


“Pakaian kamu akan memperlambat kita.” Nathan membawa Afifah jalan belakang menuju mobil miliknya yang telah di siapkan. Pria itu telah memberitahu kepergiaannya bersama Afifah kepada Aisyah.


“Kenapa kita tidak menginap di hotel saja?” Afifah menatap Nathan.


“Kita akan pergi bulan madu.” Nathan mendudukkan Afifah di kursi penumpang bagian belakang.


“Apa? Kenapa buru-buru? Dan kemana kita akan pergi?” Afifah membuka penutup wajahnya.


“Keluar negeri, ini adalah hadiah dari Stevent.” Nathan duduk di samping Afifah dan seroang sopir menjalankan mobil meninggalkan aula pernikahan.


“Siapa Stevent?” tanya Afifah heran.


“Musuhku yang sangat bahagia dengan pernikahan diriku.” Nathan menatap Afifah dengan lembut.


“Kenapa kamu harus memiliki musuh? Bisakah kalian berdamai?” Affiah membalas tatapan Nathan.


“Dengan menikahi dirimu adalah awal perdamaian kami.” Nathan mencium bibir Afifah.


“Apa yang kamu lakukan.” Afifah melihat sopir yang sangat fokus mengendarai mobil.


“Sayang, kenapa kamu terus bertanya dengan pertanyaan yang sama, tentu saja aku mencium istriku.” Nathan menatap Afifah yang duduk jauh dari dirinya.


“Maaf, aku belum terbiasa.” Afifah menoleh keluar jendela mobil.


“Tidak apa, aku suka dengan sikap malu dirimu.” Nathan mencium kepala Afifah.


Nayla yang dengan terpaksa hadir di pernikahan Nathan, duduk melamun seorang diri di sudut ruangan, ia tidak punya siapa-siapa bahkan kedua orang tuanya tidak memperdulikan dirinya. Selama ini hanya Nathan yang selalu ada untuk dirinya, kini pria itu telah melupakan dia untuk wanita lain.


“Aku akan membuat wanita itu menderita karena telah membuat Nathan jatuh cinta pada dirinya.” Nayla melihat sekeliling mencari Nathan dan Afifah tetapi yang ia temukan jauh lebih berharga, seorang pangeran Arab yang menjadi idola wanita di dunia sedang berbincang dengan Jhonny dan Aisyah.


“Oh God, aku tidak percaya akan bertemu dengan pria ini di sini, bagaimana ia bisa hadir di pernikahan Nathan, bukankah mereka adalah musuh?” Nayla berpikir keras.


“Hadirin semuanya, hotel telah disiapkan untuk semua orang yang akan menginap.” Seorang pria berbicara dari microphone.


“Asraf, bagaimana, kamu akan tetap tinggal atau kita langsung kembali?” Fauzan menatap Asraf.


“Aku tidak melihat Afifah, sebaiknya kita langsung kembali saja Tuan.” Asraf menunduk.


“Baiklah, Tuan Jhonny kami kembali sekarang , terimakasih untuk pesawat jetnya.” Fauzan berjabat tangan dengan Jhonny.


“Sama-sama, kami juga akan segera kembali.” Jhonny melirik Aisyah.


“Kenapa kalian terburu-buru?” Fauzan melihat heran pada Jhonny dan Aisyah.


“Apa yang kami tunggu, Nathan telah membawa pergi adikku keluar negeri, pria itu sangat tidak sabaran.” Aisyah memijit batang hidungnya karena kesal pada Nathan, ia baru saja bertemu dengan Afifah.


“Kita pulang bersama Tuan Fauzan.” Jhonny menggandeng tangan Aisyah keluar dari Aula.


“Baik Tuan Jhonny.” Fauzan dan Asraf mengikuti Jhonny dari belakang.


“Apa? Dia sudah mau kembali, aku akan mengajak papa dan mama pulang.” Nayla berjalan menuju kedua orang tuanya.


“Pa, Ma, aku mau kita segera pulang.” Nayla memegang tangan Mamanya.


“Apa kamu sudah bertemu dengan Nathan dan Afifah?” Mama tersenyum pada putrinya.


“Mereka telah pergi untuk bulan madu.” Nayla terdengar kesal.


“Ah, anak itu tidak sabaran.” Papa tertawa begitu juga dengan orang tua Afifah.


"Putra anda memang tidak sabaran, ia terus menggoda Afifah setiap waktu." Mama Afifah tersenyum puas karena sangat bahagia dengan pernikahan Nathan dan Afifah.


Nathan memiliki keluarga lengkap dan terhormat, bahkan pria itu sangat kaya dengan usahanya sendiri berbeda dengan Jhonny yang hanya seorang asisten pribadi.


"Tidak heran putraku tergila-gila pada putri anda, ia sangat cantik." Mama Nathan memegang tangan Mama Afifah.


"Bagaimana anda tahu Afifah cantik, bukankah kalian belum bertemu?" Mama Afifah heran.


"Nathan terus mengirimkan foto-foto Afifah kepada kami." Mama Nathan sangat bahagia.


Kedua keluarga itu sangat menyetujui pernikahan Nathan dan Afifah. Putra dan Putri kesayangan mereka bersatu dalam ikatan cinta yang halal.


Nayla semakin kesal dengan pembicaraan kedua orang tuanya, mereka terus membanggakan Nathan dan Afifah, seakan dirinya tidak berarti apa-apa.


"Braak." Gelas minuman di tangan Nayla jatuh ke lantai.


"Sayang, ada apa dengan dirimu?" Mama Nayla menarik tangan putrinya agar menjauh dari pecahan gelas.


"Ma, Nayla mau kita segera pulang." Nayla menatap Mamanya.


"Apa kalian tidak menginap, kita baru saja menjadi satu keluarga." Mama Afifah melihat kearah Mama Nayla.


"Iya sayang kita pulang besok saja." Mama Nayla mengusap kepala putrinya.


"Aku mau pulang sekarang." Nayla menekan suaranya.


"Beristirahatlah di kamar hotel." Papa Nayla menatap putrinya.


"Ya, kita akan pulang malam hari." Mama tersenyum, ia merasa tidak nyaman dengan perlakuan Nayla di depan keluarga besannya.


"Baiklah, aku akan menunggu di kamar hotel." Nayla pergi tanpa pamit. Wanita itu tidak memiliki sopan santun sama sekali.


Kebahagiaan yang bagaimana yang Nayla cari? Ia seakan tidak memiliki tujuan hidup dan tidak menyadari keberadaan pria yang sangat mencintai dirinya. Tidak pernah menghargai pengorbanan yang telah diberikan untuk dirinya.


Aisyah dan Jhonny mendekati kedua orang tuanya, mereka berdua pamit pulang. Tuan Nero melihat tajam pada Jhonny, ia sangat mengenal asisten Stevent.


"Kenapa anda bisa memiliki menantu seorang asisten?" Tuan Nero melihat kepergian Jhonny.


"Itu adalah kesalahan putri kami." Papa Aisyah merasa malu.


"Untunglah anda masih memiliki Putri lain yang lebih beruntung." Tuan Nero menepuk pundak Papa Aisyah.


"Anda benar Tuan, kami sangat beruntung memiliki menantu seperti Nathan yang akan membawakan kebahagiaan untuk Afifah." Papa Aisyah memeluk besannya.


Kebahagiaan atau kegembiraan adalah suatu keadaan pikiran atau perasaan yang ditandai dengan kecukupan hingga kesenangan, cinta, kepuasan, kenikmatan, atau kegembiraan yang intens.


Bahagia adalah pilihan, keputusan yang lahir dari hati setiap manusia. Dicari, diperjuangkan dan dinikmati dalam kehidupan kita. Arti kebahagiaan bagi setiap orang memang tak selalu sama karena kebahagiaan sering dipersepsikan sebagai ketercapaian atas sesuatu yang kita inginkan, kesuksesan atau kesempurnaan.


Sejatinya, tidak ada kesempurnaan yang bisa membuat kita bahagia, tetapi kebahagian membuat hidup kita terasa sempurna. Setiap harapan dan kenyataan sebenarnya bisa membuat kita bahagia karena diri kitalah yang bisa menentukan, menjadi sumber, dan merasakan kebahagiaan itu.


***Love You All***


Untuk yang Suka berikan like, Komentar, bintang 5, Tips, Vote serta bantu promosikan. Terimakasih.


Baca juga Novel Author berjudul “Arsitek Cantik” dan "Mengejar Cinta Ariel" dan "Tabib Cantik Bulan Purnama"


Novel Kakakku “Nyanyian Takdir Aisyah dan Cinta Bersemi di Ujung Musim.” (Fitri Rahayu). Terimakasih.

__ADS_1


Semoga kita semua dalam keadaan sehat dan selalu mendapatkan perlindunganNya, Aamiin.


__ADS_2