
(favorit, Like, Komentar, Vote, Bintang 5)
Om Robert telah sampai di perusahaan Stevent, berjalan dengan tergesa-gesa, ia paham benar Stevent tidak suka dengan orang terlambat.
Rebecca menemani papanya, ia sudah lama tidak melihat Stevent, ada rasa rindu Ketika ia masih berteman dengan Viona.
Om Robert mengetuk dan membuka pintu, Stevent melihat ke arah pintu.
"Masuklah." ucap Stevent beranjak dari kursinya dan berjalan menuju sofa.
"Terimakasih." ucap Om Robert.
Stevent melihat seorang wanita muda cantik dan seksi mengikuti Robert.
"Siapa dia? dan wanita tidak boleh masuk ke ruangan ku." tegas Stevent.
Robert melirik Rebecca yang terlihat sedih karena Stevent tidak mengenali dirinya.
"Stevent, dia Rebecca Putri Om, kalian pernah bersama waktu kecil." jelas Robert.
"Terserah, kamu tunggu di ruangan tunggu." Stevent duduk di sofa diikuti Robert.
Rebecca keluar dari ruangan Stevent, ia merasakan sakit di dalam hatinya.
Stevent tidak mengenali dirinya dan bahkan tidak mengizinkan ia masuk ke dalam ruangan Stevent.
Stevent mendiskusikan tentang pekerjaan yang akan di lakukan Om Robert,
Sebuah surat perjanjian telah Stevent siapkan, agar Robert tidak berani menghianati Stevent.
Bukan kematian tetapi kehancuran yang mengerikan menunggu keluarga Robert.
Stevent berjabat tangan dengan om Robert untuk kesepakatan yang telah di mereka rencanakan.
Nisa keluar dari kamar dan tersenyum kearah Stevent.
"Sayang, ada tamu?" Nisa tersenyum dan menundukkan kepalanya memberi hormat, pria di depan Stevent terlihat jauh lebih tua.
Stevent beranjak dari Sofa dan memeluk Nisa, mencium keningnya.
"Tuan Robert, ada bisa mulai bekerja dan gunakan ruangan anda yang dulu." ucap Stevent.
"Baik Tuan saya permisi." Robert meninggalkan ruangan Stevent.
"Sayang, apa tidur kamu nyenyak?" Stevent melingkarkan tangannya di pinggang Nisa.
"Aku lapar." suara manja Nisa dan memeluk Stevent.
Stevent melihat jam di tangannya, hampir waktu Zuhur.
"Sayang, kita sholat atau makan dulu?" tanya Stevent mencubit hidung Nisa.
"Sholat." Nisa menggigit dagu keras Stevent.
"OMG." Stevent balas mengigit hidung Nisa.
"Iih , sakit." Nisa mengusap hidungnya.
"Benarkah." Stevent mencium bibir Nisa dengan lembut, mereka tidak tahu pintu tidak tertutup rapat.
Seorang wanita menahan sedih dan sesak melihat kemesraan Stevent dari celah pintu.
"Aku menghabiskan waktu ku untuk mencintai dirimu, dari kecil hingga detik ini, aku hanya bisa melihat dirimu dari jauh." suara hati Rebecca.
"Wanita itu, bagaimana ia menaklukkan dan melembutkan hatimu yang keras?" air mata Rebecca mengalir.
Nisa melihat sekilas seorang wanita dengan pakaian seksi menatap kearah mereka, Ketika mata Nisa bertemu dengan Rebecca, ia segera pergi dari balik pintu.
"Siapa di sana?" gumam Nisa.
__ADS_1
"Ada apa sayang?" tanya Stevent melihat ke arah pintu yang sedikit terbuka.
"Ah, aku rasa seseorang sedang mengintip." Stevent kembali mencium bibir Nisa.
"Sudah Sayang, aku mau mandi." Nisa menutup mulut Stevent dengan telapak tangannya yang lembut.
"Mandi bersama?" bisik Stevent.
"Jangan bercinta." Nisa menyentuh pipi Stevent dengan kedua tangannya.
"Tentu saja, aku tidak mau bercinta jika cuma sebentar, tidak memuaskan." Stevent tersenyum dan menggendong Nisa kembali ke kamar untuk mandi bersama.
Walaupun tidak bercinta, ciuman akan tetap Stevent lakukan dengan sangat ia nikmati, dimanapun dan kapanpun.
Selesai mandi Stevent dan Nisa melaksanakan shalat Zuhur bersama dan berjalan menuju kantin kantor untuk makan siang.
Rebecca duduk di sudut kantin bersama Papanya.
Ia melihat Stevent mengandeng mesra Nisa berjalan bersama menuju kantin.
Stevent dan Nisa menuju ruangan khusus untuk mereka berdua makan.
Sebuah ruangan berdinding kaca transparan, hanya ada satu meja dan dua kursi dengan perlengkapan lainnya seperti sebuah rumah mini.
Robert memerhatikan Rebecca yang tidak mengalihkan pandangan dari Stevent dan Nisa.
"Lupakan Stevent, kamu tidak akan pernah bisa menggapainya." ucap Robert.
"Siapa sebenarnya wanita itu? bagaimana ia bisa mencarikan kutub es Stevent." tangan Rebecca memainkan makannya dengan mata terus melihat kemesraan dan senyuman Stevent yang tidak pernah ia lihat sebelumnya.
"Stevent sangat mencintai istrinya, menghancurkan Nisa berarti menghancurkan Stevent dan Dunia ini." tegas Tuan Robert.
"Siapa wanita itu?" Rebecca mengulangi pertanyaannya.
"Annisa Salsabila, seorang dokter bedah yang telah menyelamatkan Stevent dari kematian." jelas Tuan Robert.
"Stevent Jatuh Cinta Kepada istrinya sejak ia melihat untuk pertama sekalinya." lanjut Robert yang memandang ke arah Stevent dan Nisa.
"Mereka pasangan sempurna dan keduanya beruntung, Stevent beruntung mendapatkan dokter Nisa dan dokter Nisa beruntung mendapatkan Stevent." Tuan Robert tersenyum.
Sejak menikah dengan Nisa Stevent lebih lembut, jika bukan karena Nisa pasti dia telah dibunuh dan dihancurkan oleh Stevent.
Stevent dan Nisa menikmati makan siang mereka dengan menu vegetarian.
Stevent masih mual muntah dengan aroma dari seafood.
Di atas meja hanya ada sayuran dan buah-buahan.
Just buah segar tanpa es batu, salad buah dan sayuran.
Ketika Nisa mau makan seafood, Stevent hanya akan menunggu di meja yang berbeda, memandang istrinya dari kejauhan.
Restoran akan sepi satu hari hanya untuk memuaskan keinginan Nisa menikmati seafood.
Mereka telah selesai menikmati makan siang dan kembali ke ruangan Stevent, membawa Anggur hitam yang telah dibungkus rapi.
"Sayang, kamu kerja aku duduk di sini ya." Nisa melingkarkan tangannya di leher Stevent.
Stevent menarik Nisa ke kursi kerjanya.
"Kamu duduk di sini bersama diriku." Stevent duduk di kursinya dan memangku Nisa di atas pahanya.
"Sayang, aku tidak mau kamu kecapean, nanti paha kamu sakit." Nisa mau turun dari pangkuan Stevent.
Stevent memeluk pinggang Nisa.
"Diamlah, beri aku ciuman setiap 30 menit." Stevent tersenyum dan memancungkan bibirnya.
"Cup." Nisa mencium bibir Stevent.
__ADS_1
"Baiklah kita mulai." Stevent bersemangat, ia menurunkan Nisa dan pindah ke kamar.
"Kemana lagi?" suara Nisa lembut mengikuti langkah Stevent.
Stevent membawa laptop dan beberapa berkas. Meletakkan di atas tempat tidur.
"Kemarilah, aku akan bekerja di atas tempat tidur, kamu menyenderlah di dadaku." Stevent tersenyum.
Stevent naik ke tempat tidur, meletakkan laptop di atas pahanya. Nisa berbaring di samping Stevent memeluk lengan kekar.
"Berikan ciuman setiap 30 menit!" Stevent mengingatkan Nisa.
Nisa hanya tersenyum, ia menyuapi Stevent dengan anggur.
Stevent fokus dengan layar laptopnya, ia meminta Nisa menciumnya setiap 30 menit agar ia tidak lupa bahwa ada Nisa di sisinya.
Nisa menyuapkan Anggur dan mencium sekilas bibir Stevent setiap 30 menit.
Dan setiap 30 menit berikutnya, Stevent akan mencium mesra bibir Nisa penuh hasrat dan kenikmatan.
Stevent menikmati pekerjaan tanpa Jhonny, ia benar-benar bahagia bekerja dengan selingan ciuman dan pelukan dari istrinya.
Ciuman setiap 30 bagaikan minuman energi untuk Stevent.
"Sayang, aku bisa gila." Stevent melepaskan laptop dari pangkuannya dan menikmati bibir lembut dan manis Nisa.
Tangan Stevent mulai menjelajahi tubuh Nisa, sentuhan yang menggetarkan. Bibir yang tidak ingin dipisahkan.
Terdengar ketukan pintu, dari luar ruangan.
"Oh No." gerutu Stevent dan melihat Nisa tersenyum.
"Aku harus dapat hadiah, pekerjaan ku telah selesai." Stevent keluar meninggalkan Nisa yang tersenyum lembut melihat suaminya.
Stevent membuka pintu dan melihat Rebecca berdiri di depannya.
"Ada apa?" tanya Stevent menatap tajam dan pandangan tidak suka ke arah Rebecca..
"Maaf kak, apakah aku bisa bekerja di sini?" suara lembut Rebecca.
"Kamu masih kuliah, perusahaan akan membiayai kuliah kamu." tegas Stevent dan menutup kembali pintu.
"Ada apa sayang." Nisa berjalan mendekati Stevent.
"Rebecca, putri Tuan Robert." Stevent kembali mencium bibir Nisa dengan mesra.
"Sayang, apakah kamu masih punya pekerjaan?" tanya Nisa melingkarkan tangannya di leher Stevent dan memainkan daun telinga Stevent.
"Aaah, jangan lakukan itu." Stevent menarik tangan Nisa.
"Apakah kamu mau bermain di rumah?" Stevent menatap Nisa begitu menggoda.
"Sayang, jika pekerjaan kamu sudah selesai, kita bisa pulang dan sholat ashar di rumah." Nisa mencubit hidung Stevent.
"Baiklah Cintaku,kamu duduk di sini, Aku akan merapikan pekerjaanku." Stevent kembali ke kamar untuk membereskan berkas yang berserakan dan mematikan laptopnya.
Berjalan bersama meninggalkan perusahaan dan kembali ke rumah mereka.
Istana bagaikan syurga milik mereka berdua.
*** ****** ****************************
Terimakasih telah membaca Karya Author.
baca juga Karya Adikku " Mafia in Love" oleh Sisca Nasty.
Novel Author " Arsitek Cantik" juga yaa.
Mohon dukungannya untuk selalu memberikan Like Komentar Vote dan Bintang 5 😘 Terimakasih
__ADS_1
Semoga Readers semua selalu dalam keadaan sehat dan mendapatkan rezeki yang berlimpah Aamiin 😇
Love You Readers 💓 Thanks for Reading 😊