Cinta Untuk Dokter Nisa

Cinta Untuk Dokter Nisa
Pelampiasan Stevent


__ADS_3

Stevent melaju mobil sport hitam miliknya dengan kecepatan tinggi menuju penjara bawah tanah yang berada cukup jauh dari perkotaan.


Stevent membutuhkan beberapa jam untuk sampai ke sana, karena terburu-buru dan penasaran dengan orang yang telah di tangkap Jhonny, ia melupakan Janjinya Kepada Nisa bahkan ia lupa pamit sebelum berangkat atau Stevent lupa sudah punya istri.


Mobil berwarna hitam pekat membelah jalanan menuju jalur puncak tetapi beda persimpangan.


Stevent terus melaju mobilnya dengan fokus hingga sampai pada bangunan tua yang terlihat tidak terawat namun tetap berdiri kokoh di atas tanah penuh dengan semak belukar.


Stevent menyembunyikan mobilnya di balik gedung tua, parkiran menuju bawah gedung.


Terdengar hentakan sepatu bagaikan malaikat maut pencabut nyawa berjalan menuju penjara bawah tanah.


Langkah sepatu yang mengerikan berhenti tepat di depan pintu penjara, aroma darah dan tanah menyeruak menusuk hidung.


Stevent tersenyum melihat seorang pria yang terikat rantai di tangan dan kakinya.


Wajah pria seumur Stevent berlumuran darah yang hampir mengering.


"Jhonny, apakah kamu yang melakukan ini" Stevent menyentuh wajah pria yang ketakutan melihat kedatangan Stevent.


Ini pertama kalinya ia melihat Stevent Lu Alexander, pria sadis dan bengis. Ia benar-benar tidak tahu jika wanita yang ia tabrak atas perintah Nayla adalah istri Stevent.


Jhonny tanpa ekspresi, ia tahu Stevent tidak membutuhkan jawaban.


" Wah, ternyata orang kecil bermain di lubang besar, kamu akan tenggelam" Stevent mengusap wajah pria itu dengan tangannya hingga tangan Stevent berwarna merah.


Stevent menarik rambut pria yang menjadi supir kontainer.


"Apa yang kamu lakukan sehingga berakhir di sini?" tanya Stevent masih tersenyum, ia belum tahu bahwa pria itu adalah sopir mobil yang menyebabkan kecelakaan Nisa.


Pria itu masih terdiam, ia bingung dengan pertanyaan Stevent, ia pikir Stevent sudah tahu bahwa ia adalah sopir mobil kontainer.


"Jawab Aku" bisik Stevent di telinga pria itu, dan suara lembut itu bagaikan panggilan kematian.


"Aa Aku sopir Kontainer"Jawab pria itu gugup.


Mendengarkan jawaban pria itu membuat Stevent menjadi berang, pria itu telah melakukan dua kesalahan besar.


Pertama membuat celaka Nisa wanita yang paling ia cintai di Dunia ini melebihi cintanya kepada ibu dan adiknya dan yang kedua membuat Nathan menyentuh Nisa.


"Buk" Pukulan keras dan sangat menyakitkan mendarat di perut dan wajah pria itu.


" Lepaskan rantai!" perintah Stevent, Jhonny segera melepaskan rantai dari pria yang masih sangat kuat, karena Jhonny hanya memukuli wajahnya.


Dilepaskannya rantai bukanlah kebebasan yang di dapatkan tapi jalan menuju kematian.


Stevent membuka jas hitam miliknya dan memberikan kepada seorang pengawal yang telah menunggu di samping Stevent.


"Jika kamu dapat mengalahkan aku, akan aku berikan kebebasan untuk dirimu dan uang" Stevent tersenyum, ia melepaskan dasi, membuka beberapa kancing kemeja dan menggulung lengan hingga siku.


Jhonny tersenyum, hanya ada satu orang yang bisa mengalahkan dan menaklukkan Stevent yaitu Dokter Nisa.


Jika Stevent menginginkannya pria itu akan mati dengan satu pukulan, tetapi Stevent ingin bermain melampiaskan emosinya.


"Ah, siapa yang meminta kamu menabrak mobil istriku?" Stevent memutari pria yang sudah siap melawan Stevent, ia berharap bisa keluar dari lubang neraka yang ia buat sendiri.


"Jawablah!" Stevent tidak membentak tapi suara berat itu lebih menyakitkan dari bentakan.


"Nona Nayla" Jawab pria itu lantang, hidup atau mati setidaknya ia bisa lebih tenang setelah mengatakan penyebab ia harus berurusan dengan Stevent, pria yang paling di takuti.

__ADS_1


"Hahaha, wanita bodoh itu" Stevent menatap tajam kepada pria yang kini terlihat pasrah.


Tidak akan ada kesempatan untuk bisa keluar dari penjara bawah tanah, dan hanya ada satu orang yang berhasil keluar hidup - hidup yaitu Fathur , itu dilakukan demi mendapatkan Nisa.


Stevent mulai menghajar pria di depannya dengan tendangan dan pukulan, tidak ada kesempatan untuk pria itu melawan. Stevent tidak menggunakan senjata sama sekali.


Stevent seorang pria yang mendapatkan didikan keras oleh Papanya, sempurna dalam segala bidang.


Pria itu terkapar berlumuran darah di wajahnya, batang hitung, tangan dan kaki telah patah, bahkan tengkorak kepala telah pecah tetapi masih terbungkus kulit.


Darah segar mengalir dari hidung, mulut dan telinga. Tangan Stevent telah berwarna merah.


Stevent sangat puas meluapkan dua kekesalan sekaligus, sentuhan Nathan kepada Nisa adalah kekesalan yang paling menyakitkan.


"Apakah masih ada yang lain?" tanya Stevent kepada Jhonny.


"Tentu" Jhonny tersenyum mereka berjalan bersama meninggalkan tubuh terkapar yang tidak lagi bernyawa.


Jhonny Berhenti tepat di depan pintu penjara gelap, seorang pengawal segera membuka pintu.


Stevent masuk perlahan dan melihat seorang pria berpakaian rapi dengan jas lengkap dengan dasi duduk di atas kursi panas.


Stevent tersenyum pria paruh baya orang kepercayaan Stevent dan papanya.


"Wah, Tangkapan besar" ucap Stevent menyenderkan tubuhnya di dinding penjara.


Pria paruh baya yang sangat mengenal Stevent dari kecil menatap penuh penyesalan karena telah mengikuti perintah Papa Alexander untuk menghancurkan perusahaan cabang di Jepang.


"Om Robert, apa kabar?" Stevent tersenyum ia menarik kursi dan duduk di depan Om Robert.


"Maafkan Om Stev" suara Om Robert hampir tidak terdengar.


"Hahaha, Om melakukan kesalahan di saat yang tidak tepat" Stevent menatap tajam kepada Om Robert.


"Dan Om juga harus tahu di Dunia ini hanya ada satu wanita yang aku cintai, aku akan membunuh keluarga ku sendiri jika mereka menyakiti istriku, termasuk Papa Alexander yang telah mematikan rasa cintaku kepada dirinya dan Mama" jelas Stevent menahan Emosi.


Om Robert tahu Stevent di besarkan tanpa rasa cinta, ia dipisahkan dari ibunya dan tinggal di sebuah rumah sendirian hanya di temani para pengajar.


Stevent dituntut untuk selalu sempurna dan Papa Alexander berhasil, Stevent tumbuh menjadi pribadi yang dingin tanpa belas kasih dan cinta.


"Kenapa Om melakukan ini kepada diriku, disaat istriku membutuhkan ku" Stevent mengepalkan tangannya, orang pertama yang seharusnya mengetahui kehamilan Nisa adalah dirinya bukan Nathan.


Dua kejadian menyakitkan dan tidak bisa Stevent lupakan. Ia terus berusaha menahan kekecewaan yang telah ia lakukan di hari kecelakaan Nisa.


Untung Nisa dan kandungannya terselamatkan. Setidaknya itu dapat meredam kegilaan yang akan Stevent lakukan.


"Om benar-benar tidak tahu, Papa Alexander ingin menghancurkan kerja sama kamu dan Mark" jelas Om Robert tertunduk.


"Apa Om tahu siapa Mark?" tanya Stevent dan Om Robert menggelengkan kepalanya.


"Mark adalah Papa Nisa, ia sangat mencintai putrinya tidak seperti Alexander yang membenci semua orang" Stevent sangat kesal.


Stevent tidak tahu apa yang harus ia lakukan kepada Om Robert.


"Kenapa Om Melakukan ini? Sebenarnya kerugian ku tidak seberapa tapi kerugian atas istriku tidak bisa di ganti dengan apapun" Stevent beranjak dari kursi dan memukul perut Om Robert.


"Aku membenci semua orang yang membuat diriku terpisah dengan istriku walau hanya satu hati saja" teriak Stevent di telinga Om Robert.


"Bug" pukulan kedua,, Stevent menahan emosinya.

__ADS_1


"Aku sangat membenci 3 hari itu, karena istriku bersama dengan musuhku" Teriak Stevent.


Jika bukan karena ke Jepang, hari itu Stevent akan menemani Nisa ke Puncak, mereka tidak akan terpisahkan dan Nisa tidak mungkin bersama Nathan.


Stevent sangat ingin membunuh Nathan tetapi berkat Nathan Nisa dan calon bayinya terselamatkan dan itu adalah bayaran yang harus Stevent berikan. Tidak menyentuh Nathan.


Nathan telah menyelamatkan 3 nyawa milik Stevent, istrinya dan calon bayi kembarnya.


Stevent memukul Om Robert tanpa ampun hingga Om Robert tersungkur di lantai dan memuntahkan darah.


Tangan Stevent telah terluka karena memukul sopir mobil kontainer dan Om Robert, ia tidak bisa merasakan sakit pada punggung jari dan tangannya.


Stevent bahkan tidak merasakan kepuasan walaupun telah menghajar 2 orang dengan tangan kosongnya.


Kejadian itu tidak bisa berulang dan orang-orang yang ia pukul bukanlah pelaku utamanya.


Papa Alexander, Stevent harus berpikir cerdas untuk menghancurkan Papanya.


Dan Nayla, wanita itu sudah Stevent berikan kesempatan untuk pergi dan jangan muncul lagi di kehidupan Stevent tetapi Nayla masih kembali dan berulah


Stevent berjalan menaiki tangga menuju lantai atas, Ruangan bersih terawat yang tampak kuno dan jelek dari luar.


Ia duduk di kursi putar miliknya Jhonny berdiri di depan Stevent.


"Laporkan tentang Nayla!"perintah Stevent.


"Nayla mengalami kecelakaan bersama temannya Lola, mereka di rawat di rumah Sakit Nathan, Nayla mengalami patah tulang kaki dan Lola patah pada lengan kiri" jelas Jhonny.


"Bagus, penyebab kecelakaan?" tanya Stevent lagi.


"Seorang wanita yang membenci Nayla, tetapi pihak Nathan tidak bisa mencari pelaku karena di ketahui Nayla dan Lola dalam keadaan mabuk dan dianggap kecelakaan tunggal" jelas Jhonny tida terlewatkan.


"Pertemukan aku dengan wanita itu, aku akan memberikan ia hadiah" Stevent tersenyum.


"Baik" jawab Jhonny.


Seorang pengawal telah membawa pakaian ganti dan kotak obat untuk Stevent.


Stevent akan kembali memulai permainan dunia hitam yang telah ia tinggalkan demi Nisa, tetapi sepertinya para musuh kembali membangunkan singa yang sedang tidur manis dengan betinanya.


***


**


*


*Terimakasih


*


**


**


Thanks for Reading 🤗


Terimakasih atas Like dan Komentarnya.


Mohon dukungannya untuk selalu memberikan Vote untuk Dokter Nisa dan Stevent 😘

__ADS_1


Terimakasih banyak untuk Readers yang selalu memberikan Like, Komentar dan Vote, Semoga Readers selalu diberikan kesehatan dan Rezeki yang melimpah, Aamiin.


Love You Readers 💓 muuach ♥️**


__ADS_2