
Tubuh Viona gemetar, air mata terus membasahi wajahnya, ia ketakutan melihat darah dan menahan perih pada telapak tangannya.
"Ada apa dengan dirimu?" Fauzan melihat Viona yang berantakan.
"Nona Viona terluka Tuan." Asraf membuka bungkusan tangan Viona.
Darah kembali mengalir dan menetes pada lantai keramik.
Viona merasakan kepala pusing, pandangan semakin gelap, tubuh Viona lemah, ia hampir terjatuh dari kursi dengan sigap Fauzan menangkap tubuh Viona.
"Kita bawa ke Rumah Sakit." Fauzan mengendong tubuh Viona yang tidak sadarkan diri.
Beberapa pelayan berteriak histeris melihat Viona berada dalam pelukan pria paling tampan dan populer abad ini.
Abi dan Ummi, ikut di belakang Fauzan dan Asraf.
Asraf membuka pintu untuk Fauzan dan Viona, Umi segera masuk mobil menemani Viona di belakang.
"Abi tetap di restoran saja, kami akan membawa Viona ke rumah sakit." Fauzan menyalami tangan Abi.
"Fauzan, Abi harus memarahi kamu karena tidak mampir ke rumah Abi." Abi menepuk pundak Fauzan.
"Aku akan membayarnya." Fauzan tersenyum, ia segera duduk di samping Asraf yang mengemudi mobil.
Mobil melaju menuju ke rumah sakit terdekat, dimana Nisa di rawat dan berhenti tepat di depan ruang IGD.
Fauzan selalu terlihat tenang begitu juga dengan Asraf yang mengagumi tuannya.
Fauzan keluar dari mobil dan menuju ruang pendaftaran, sedangkan Asraf memanggil perawat agar segera membawa tempat tidur brangkas.
Pintu mobil di buka beberapa perawat membantu memindahkan tubuh Viona ke atas brangkas.
Asraf dan Umi menemani Viona di dalam ruang IGD sedangkan Fauzan berada di meja administrasi.
"Selamat Siang." Petugas wanita terkejut ketika melihat seorang pria tampan di depannya.
"Selamat siang." Fauzan melihat sekilas ke arah petugas.
Petugas terdiam menatap wajah tampan yang terasa tidak asing tetapi ia lupa.
"Nona, saya membawa pasien terluka atas nama Viona Alexander." Fauzan menatap petugas yang terdiam memandang dirinya tanpa berkedip.
"Halo Nona." Fauzan melambaikan tangannya di depan wajah petugas.
"Ah, maaf Tuan." Petugas mengambil dengan gugup.
"Silakan di isi." Petugas menyerahkan lembaran kertas kepada Fauzan.
"Terimakasih." Fauzan menerima kertas formulir dari petugas dan duduk di kursi tunggu untuk mengisi data.
Beberapa petugas berbisik dan memandang Fauzan yang fokus menulis di atas meja.
Pria tampan itu terus menarik perhatian kaum hawa, dengan wajah tampan yang selalu berada di beranda Instagram dan Facebook.
"Saya sudah selesai." Fauzan menyerahkan kembali formulir.
"Terimakasih Tuan." Petugas duduk dan mereka berteriak ketika membaca nama yang tertulis di bawah tanda tangan.
"Fauzan Arsyad." Petugas membaca nama bersamaan.
"Dia adalah Pangeran Arab." Seorang melirik Fauzan yang menunggu lembar formulir.
Melihat para wanita yang mulai tidak fokus bekerja membuat Fauzan meninggalkan ruangan administrasi.
Fauzan berjalan menuju ruangan IGD, ia melihat Viona yang masih belum sadarkan diri.
Umi mengusap kepala Viona yang tertutup hijab berwarna merah muda.
"Kenapa dia belum sadarkan diri?" Fauzan menatap ke arah dokter wanita.
__ADS_1
"Sepertinya dia terlalu terkejut, sehingga syok berlebihan." Dokter wanita tersenyum.
Asraf berdiri di samping Fauzan, melihat para perawat dan dokter yang sedang membersihkan luka di telapak tangan Viona.
"Bagaimana, ia bisa melukai telapak tangannya?" tanya Dokter wanita kepada Fauzan.
"Sepertinya gadis itu tidak tahu cara membersihkan pecahan kaca." Fauzan tersenyum.
"Putri Ayesha saja bisa melakukan segalanya sendiri, bagaimana mungkin ia tidak bisa?" Asraf menatap wajah Viona.
"Ayesha adalah wanita yang mandiri dan berani." Fauzan tersenyum, ia merasakan rindu kepada adiknya.
Asraf sangat ingin bertanya tentang Ayesha tetapi ia tidak berani. Ia mengagumi Ayesha dan Fauzan. Pasangan saudara yang sempurna dan serba bisa.
"Temani mereka, aku akan menghubungi Stevent." Fauzan berjalan ke luar dari ruang IGD.
"Bagaimana Tuan?" Asraf melihat Fauzan kembali ke dalam ruangan IGD.
"Dia tidak mengangkat panggilan ku." Fauzan duduk di kursi tunggu.
"Umi." Suara Viona lembut dan bergetar.
"Viona sayang, tenanglah." Umi tersenyum.
"Aku takut, tanganku sakit." Air mata Viona mengalir.
"Tidak apa-apa." Umi mengusap air mata Viona.
"Luka telah dibersihkan dan ditutup, tidak boleh terkena air." Dokter wanita tersenyum kepada Viona.
"Apa luka ini akan meninggalkan bekas pada tangan ku?" tanya Viona khawatir.
"Selama dirawat dan diobati pasti akan sembuh." Dokter keluar dari ruangan perawatan Viona
"Bagaimana Dokter?" tanya Fauzan ketika Dokter keluar menemui Fauzan.
"Dia baik-baik saja, saya akan menuliskan resep." Dokter duduk di meja di kerjanya.
"Terimakasih." Fauzan mengambil resep dari Dokter.
"Lunasi dan bayar semuanya!" Fauzan menyerahkan resep kepada Asraf.
"Baik Tuan." Asraf segera melaksanakan tugas yang telah diberikan oleh Fauzan.
"Tuan." Dokter menarik tangan Fauzan.
Fauzan menatap tajam kearah Dokter dan melihat tangan Dokter yang menegang tangannya.
"Maaf." Dokter melepaskan tangan Fauzan.
"Apakah kamu Pangeran Fauzan dari Arab?" tanya Dokter menatap wajah tampan Fauzan.
"Ya." Fauzan berjalan menuju ruangan Viona.
"Pangeran Fauzan." Viona gugup melihat Fauzan berjalan mendekati dirinya.
"Apa yang kamu lakukan kepada tangan kamu?" Fauzan melihat tangan Viona.
"Aku memecahkan peralatan makan di dapur Restoran." Viona menunduk.
"Kamu harus banyak belajar untuk menjadi wanita dewasa." Fauzan menatap Viona.
"Aku akan berusaha." Viona menunduk dan menggenggam tangganya.
"Jangan lakukan itu!" Fauzan menahan tangan Viona.
"Itu akan membuat luka kamu terbuka." Fauzan melepaskan tangan Viona.
Viona terkejut, ia menatap mata Fauzan, tangannya gemetar, jantung berdetak kencang dan kembali menggenggam tangannya untuk menahan gugup.
__ADS_1
"Kenapa kamu selalu ceroboh." Fauzan melihat tangan Viona berdarah.
"Maaf, Maafkan aku." Viona menunduk, ia takut Fauzan dapat mendengar detak jantungnya yang berdegup kencang.
"Dokter, ganti lagi perban tangannya, ia seperti anak kecil." Fauzan keluar dari ruangan Viona.
"Baiklah." Dokter tersenyum manis.
"Viona sayang, ada apa dengan dirimu, kamu tidak perlu takut dengan piring yang pecah atau luka di tangan kamu." Umi memeluk Viona.
"Aku gugup berada di dekat Fauzan." Viona berbicara di dalam hatinya.
"Ya Tuhan, aku rela terluka lagi asalkan bisa bersama dengan Fauzan, mendapatkan perhatian dan mendengarkan ocehannya bagaikan puisi cinta yang indah." Viona tersenyum dalam pelukan Umi.
Dokter kembali membuka kain kasa dan mengganti dengan yang baru.
Asraf telah kembali, ia melihat Fauzan duduk sendirian dan memainkan ponselnya.
"Tuan, ini obat untuk Nona Viona." Asraf menyerahkan bungkusan plastik.
"Terimakasih, duduklah!" Fauzan menerima bungkusan dari Asraf.
"Apakah masih belum sadar?" Asraf duduk di samping Fauzan.
"Sudah tetapi kecerobohan Viona membuat tangannya kembali berdarah." Fauzan meletakkan obat di atas kursi.
"Mungkin dia adalah gadis yang manja." Asraf melihat ke arah ruangan Viona.
"Mungkin saja, Em Asraf, bagaimana hasil penyelidikan kamu?" Fauzan menatap Asraf.
"Tuan Zayn sekarang sedang di rawat di rumah sakit karena dipukul Tuan Stevent." Asraf berbisik di telinga Fauzan.
"Kenapa Stevent memukul Zayn?" Fauzan heran.
"Tuan Zayn hampir menodai Nona Viona." Asraf memberikan ponselnya kepada Fauzan.
"Jika aku yang jadi Stevent, aku akan hancurkan Zayn tidak bersisa. karena berani menganggu adikku" Fauzan tersenyum menyeringai.
"Tuan putri Ayesha tidak akan ada yang berani mengganggunya." Asraf tersenyum.
"Tentu saja, Ayesha selalu bisa menjaga dirinya." Fauzan tersenyum.
Viona berjalan bersama dengan Ini keluar dari ruangan perawatan.
"Tuan, Nona Viona sudah bisa pulang, jangan lupa untuk memberikan obat pada luka dan menggantikan perban setiap hari," jelas Dokter.
"Terimakasih Dokter." Fauzan dan Asraf berjalan bersama menuju mobil diikuti Viona dan Umi.
"Umi bagaimana kita mengunjungi kak Nisa dan keponakan diriku." Viona menyentuh tangan Umi dengan lembut.
"Kamu benar." Umi tersenyum.
"Nak Fauzan, bagaimana jika kita melihat Nisa dan Bayinya." Umi melihat Fauzan.
"Apakah istri Stevent sudah melahirkan?" tanya Fauzan.
"Sudah Kak Nisa dan Kak Stevent memiliki sepasang Bayu kembar." Viona bersemangat.
"Alhamdulillah, mari kita mengunjungi mereka." Stevent mempersilahkan Umi dan Viona berjalan lebih dulu.
Asraf berjalan di belakang Fauzan, mengikuti langkah Umi dan Viona.
Viona terus mencuri-curi pandang untuk melihat wajah tampan Fauzan.
***
Mohon dukungnnya berikan like, Komentar, bintang 5 dan Vote. Terimakasih.
Baca juga Novel Author berjudul “Arsitek Cantik” dan "Mengejar Cinta Ariel"
__ADS_1
Novel Kakakku “Nyanyian Takdir Aisyah dan Cinta Bersemi di Ujung Musim.” (Fitri Rahayu). Terimakasih.
Semoga kita semua dalam keadaan sehat dan selalu mendapatkan perlindunganNya, Aamiin.