Cinta Untuk Dokter Nisa

Cinta Untuk Dokter Nisa
Air Terjun


__ADS_3

Stevent menggenggam tangan Nisa, ia merasakan kebahagiaan yang luar biasa, tubuh yang sehat dan ditemani seorang bidadari di sampingnya.


Mereka berjalan bersama menuju bukit belakang klinik, mengikuti Dokter Aisyah dan Valentino.


Nisa mengajak Stevent melakukan pendakian yang gagal ia lakukan bersama Valentino.


" Kenapa kamu mau mendaki?" Stevent memandang istrinya.


" Aku hanya ingin menikmati udara segar di hutan, ciptaan Tuhan yang sangat sempurna, Coba kamu lihat banyak tumbuhan obat disini" Nisa menarik tangan Stevent agar bisa berjalan dengan cepat.


Valentino mencuri pandang melihat senyum manis Nisa. Mereka mendaki bukit bersama.


" Dokter Aisyah di seberang bukit ada air terjun yang sangat indah " Ucap Valentino melirik Nisa.


" Benarkah , Ayo kita kesana" Nisa bersemangat dan terus menggenggam tangan Stevent, Ia merasakan kenyamanan dan keamanan dari genggaman tangan Stevent.


Mereka telah berada di puncak bukit, dan beristirahat sebentar sebelum menuruni ke sebrang bukit untuk mencapai air terjun alami.


Stevent melihat Nisa dan Dokter Aisyah kelelahan, keringat membasahi wajah Nisa bahkan jilbab pink yang ia gunakan terlihat basah.


Mereka beristirahat duduk di bagian puncak bukit yang biasa dijadikan tempat pemberhentian pendakian, Namun tidak untuk Valentino, ia terus berkeliling.


" Anak muda itu tidak ada lelahnya" Stevent memperhatikan Valentino.


Nisa meneguk air sari buah dari botolnya. Stevent mendekati Nisa mengusap wajah Nisa dengan saputangan mengeringkan keringat yang mengalir membasahi wajah Nisa.


Nisa tersenyum melihat wajah tampan dan rupawan suaminya.


" Dia sangat tampan" bisik Nisa dalam hati


" Apa aku sangat tampan?" Stevent mendekatkan wajahnya ke wajah Nisa yang memejamkan matanya dan mengangguk.


Stevent menyentuhkan hidungnya dengan hidung Nisa sekilas.


" Ayolah, kita sudah dekat dengan air terjun " Valentino berteriak.


Stevent membantu Nisa beranjak dari rerumputan dan segera menyusul Valentino.


Terdengar suara air terjun memecahkan batuan di dalam hutan. Air terjun mengalir melewati celah-celah batu dihiasi rumput dan bunga hutan berwarna terang yang sangat indah dan langka. Sungguh Ciptaan Tuhan yang sempurna.


" Masya Allah , Indah sekali" Nisa sangat kagum, ia tidak pernah melihat pemandangan alam yang sangat Indah.


Valentino memperhatikan wajah bahagia Nisa, Tidak susah membuat Nisa bahagia tidak perlu barang mewah dan mahal karena bagi Nisa ciptaan Tuhan lebih berharga dari buatan manusia.


" Nisa, aku dan Valentino akan masuk ke dalam hutan sebelah bukit untuk mencari bahan obat-obatan " Dokter Aisyah menyentuh pundak Nisa.


" Kami akan pulang lewat samping bukit sebelah, apa kalian bisa kembali melewati jalan yang sama?" tanya Valentino melihat Stevent dan Nisa bergantian.


" Tentu saja anak muda, terimakasih atas bantuan dirimu " Stevent menepuk pundak Valentino dan tersenyum.


" Hati-hati " Nisa melambaikan tangannya ke arah Dokter Aisyah dan Valentino.


Dokter Aisyah dan Valentino meninggalkan Nisa dan Stevent berdua dekat air terjun, mereka mencari bahan-bahan obat. Valentino dan Dokter Aisyah akan pulang melewati jalan lain. Sedangkan Nisa dan Stevent akan pulang melewati jalan yang sama.


Nisa dan Stevent menikmati keindahan air terjun. Mereka telah membuka sepatu agar tidak basah. Nisa dan Stevent duduk di atas batu memainkan air dengan kakinya.


" Sayang, rasanya aku ingin mandi disini?" Nisa tersenyum dan Stevent melotot.


" Tidak boleh !" tegas Stevent, Nisa memercikkan air ke muka jutek Stevent, ia tertawa membuat Stevent gemas, dan membalas menyiram Nisa dengan air.


" Ih basah " Nisa berteriak, Stevent memeluk tubuh Nisa dari belakang mengangkat dengan mudah dan memutar Nisa di atas air.


Nisa berteriak dan tertawa hingga mereka berdua jatuh ke air.


" Aaah hahaha " Tubuh Nisa dan Stevent basah, Stevent menggendong Nisa .


" Airnya dingin sekali " ucap Nisa


" Benarkah " Stevent memeluk tubuh basah Nisa mendekat wajah mereka berdua. Bibir basah sungguh menggoda.


Stevent segera melumat bibir seksi milik Nisa begitu bergairah. Tangannya mulai menjelajahi tubuh basah yang berada di dalam air. Nisa mendorong tubuh Stevent


" Kenapa?" Stevent memandang Nisa

__ADS_1


" Geli " Nisa tersenyum ia berenang ke tengah air terjun dengan sangat lincah,


" Menggemaskan " Stevent tersenyum ia menggigit bibirnya dan menyusul Nisa.


" Aku akan menyiksa diri mu " Gumam Stevent berenang, menangkap dan menggelitik setiap sudut tubuh Nisa membuat Nisa berteriak dan menggelepar di dalam Air.


Stevent melumat bibir Nisa di dalam air, ia menikmati dinginnya air dalam hangatnya pelukan penuh cinta.


Tangan Stevent bergerilya dalam tubuh mulus Nisa. Ia menggigit daun telinga dan bibir Nisa.


Nisa kesulitan bernapas.


" Apakah kita akan bercinta di dalam air?" bisik Stevent di telinga Nisa.


" Nanti ada yang melihat" tangan Nisa menyentuh pipi Stevent mereka berdua berada di bawah guyuran air terjun.


" Kamu adalah milikku" Stevent mengeratkan tangannya di pinggang Nisa.


" Iya , tentu saja karena aku adalah istrimu" Nisa tersenyum memandang wajah Stevent.


" Bagaimana jika kita pergi berbulan madu?" Stevent menggigit dagu lancip Nisa.


" Kemana?" Nisa mencubit hidung mancung Stevent.


" Kemanapun dirimu mau" Stevent kembali melumat bibir Nisa, tidak ingin melepaskan.


Menikmati setiap ciuman dan sentuhan, di antara pasangan halal.


" Kita akan bercinta di hotel termahal dan terbaik Dunia bukan di atas batu dan guyuran air terjun" Stevent berbisik di telinga Nisa menikmati setiap sudut tubuh Nisa dengan bibir dan lidahnya memberikan tanda kepemilikan, Kiss Mark terlihat jelas pada tubuh putih mulus Nisa.


Nisa menahan nafas karena menahan geli setiap sentuhan Stevent. Jantungnya Berdetak kencang, rasa dingin guyuran air terjun terasa hangat karena tubuh yang terus menempel.


" Sayang, sebenarnya aku sudah membelikan sebuah pulau kecil untuk dirimu sebagai hadiah pernikahan kita " Stevent menatap wajah Nisa yang berbaring di bawahnya.


" Benarkah, apakah pulang tanpa penghuni? " tanya Nisa, ia meletakan kedua tangannya di pipi keras Stevent.


" Tidak di sana telah tinggal beberapa kepala keluarga " Stevent mengangkat tubuh Nisa duduk di pangkuannya, memeluk Nisa dari belakang meletakkan dagunya di pundak Nisa.


" Bagaimana kamu membeli pulang berpenghuni?" tanya Nisa bingung.


" Kita bulan madu di pulau saja " Nisa menoleh kepalanya ke samping untuk melihat wajah Stevent namun yang ia dapatkan adalah ciuman bibir dari Stevent.


" Aku benar-benar tidak ingin berhenti" bisik Stevent di telinga Nisa dan memberikan gigitan kecil dari balik Jilbab.


" Apakah kita akan pulang dengan pakaian basah?" Nisa merebahkan tubuhnya menyender pada dada telanjang Stevent.


" Tidak, aku Sudja menyiapkan semuanya" Stevent tersenyum dan kembali mencium Nisa.


" Maksudmu?" tanya Nisa heran


" Valentino telah mengatakan kepadaku bahwa ada air terjun disini" Stevent tersenyum.


" Ih curang" Nisa menggigit jari Stevent yang memainkan bibir Nisa.


" Aw, Sayang apa kamu mau bercinta disini?" tangan Stevent kembali bergerilya di tubuh Nisa, membuat Nisa berteriak karena geli dan terjun ke air.


" Bagaimana jika kita bercinta di dalam air?" Stevent terjun menyusul Nisa berenang ke tepian.


" Tidak boleh sayang" Nisa tersenyum, ia membuka ransel yang di bawakan Stevent.


Handuk dan pakaian telah Stevent siapkan, Nisa tersenyum, ia tidak percaya Stevent bisa membereskan pakaian ganti.


" Kenapa?" Stevent memeluk Nisa dari belakang.


" Jangan mendekat, nanti pakaian ganti ikut basah" ucap Nisa, membawa tas ransel masuk ke salah hutan yang lebih rimbun agar ia bisa mengganti pakaian.


Stevent mengikuti Nisa.


" kenapa kamu mengikuti ku?" tanya Nisa heran.


" Aku kedinginan sayang " Stevent memeluk tubuhnya sendiri.


" Kita gantian" ucap Nisa.

__ADS_1


" Barengan " tegas Stevent menatap Nisa.


Nisa terdiam,


" Kenapa, apa kamu malu, kau adalah Istriku, sudah satu Minggu menikah bahkan aku belum pernah melihat tubuh istriku" Stevent memasang wajah jutek.


" Baiklah, lihatlah sepuas dirimu" Nisa membuka jilbabnya dan menutupi seluruh tubuhnya dengan handuk.


" Apa ia tidak bertelanjang di depanku" Stevent menggerutu. Nisa hanya tersenyum menahan tawa.


" Apa kamu mengharapkan aku bertelanjang di dalam hutan?" Nisa memberikan handuk kepada Stevent, ia telah selesai mengganti pakaiannya.


" Menyebalkan" Stevent membuang handuk dan melepaskan Semua pakaian yang menempel pada tubuhnya tanpa ada sehelai benang dan sengaja berdiri di dekat Nisa.


" Apa yang kamu lakukan?" Nisa menutup matanya.


" Ini caranya mengganti pakaian Sayang" Stevent berbisik di telinga Nisa dan mengambil pakaiannya dari ransel.


Nisa memasukkan pakaian basah ke dalam kantong kresek dan merapikan dalam ransel.


Stevent meletakkan ransel di punggungnya, menggenggam tangan Nisa dan berjalan bersama mendaki dan menuruni bukit kembali ke klinik Dokter Aisyah.


***


Nathan sampai di Klinik Dokter Aisyah, pintu klinik tertutup rapat, tidak ada siapa-siapa di dalam klinik. Mobil di sembunyikan di rumah Valentino.


" Kemana Nisa ?" Nathan mengepalkan tangannya dan meninju tiang teras klinik hingga punggung jarinya mengeluarkan darah.


" Mereka belum meninggal Desa Tuan? ucap Roy khawatir, Sejak kehilangan Nisa Nathan seakan tidak bisa lagi mengendalikan emosi dan sikap buruknya.


" Andai Dokter Nisa bersama Nathan pasti Tuan Nathan dapat hidup lebih baik " pikir Roy.


Sikap Nathan berubah tidak berhati lagi sejak pernikahan Stevent dan Nisa.


Meskipun ia jual beli organ tubuh namun Nathan tidak pernah turun langsung dan mengotori tangannya.


Roy menatap sedih Nathan, yang terlihat benar-benar hancur. Ada banyak wanita yang rela menyerahkan diri kepada Nathan tapi ia tetap setia menunggu dan mencintai Nisa.


" Aaaarrghh" Nathan berteriak mengacak rambutnya terduduk di kursi teras.


" Nisaaaaaa" Nathan kembali berteriak.


"Roy, Apa yang harus aku lakukan untuk memiliki Nisa ?" Nathan memegang kerah baju Roy, terlihat begitu frustasi, matanya merah.


Roy hanya terdiam dan menunduk ia benar-benar kasihan melihat Nathan, hanya karena cinta pertama yang gagal, Nathan harus menjadi orang yang sangat kejam.


Mengotori tangannya dengan darah preman, dan menggunakan kecerdasan dalam kekeliruan.


" Roy, sampai mana ujung jalan ini?" tanya Nathan.


" Lautan Tuan, tapi masih sangat jauh " jelas Roy.


" Bagaimana Tuan, Kita akan kemana?" tanya Roy berharap Nathan dapat menenangkan dirinya.


" Pulang" jawab Nathan singkat yang segera masuk ke dalam mobil, ia memandang foto Nisa dari layar ponselnya.


Roy segera menginjak pedal gas mobil melaju kencang meninggalkan klinik Dokter Aisyah menuju kota.


Nathan tertidur di dalam mobil, ia terlihat sangat lelah, mencari dan memikirkan Nisa. Nathan benar-benar sangat merindukan Nisa.


Roy melirik sedih pada Nathan, ia melihat luka pada punggung jari tangan Nathan.


Mereka sampai kembali di Villa tengah malam, Nathan menuju kamar rahasia, memerhatikan koleksi miliknya yang semuanya tentang Nisa.


***


*


*


💓 Thanks for Reading 🤗


💓 Terimakasih atas dukungan Readers yang selalu memberikan Like dan Komentar pada setiap episode 💓

__ADS_1


😘 Terimakasih yang setulus-tulusnya kepada Readers yang Selalu memberikan Vote pada Cinta Untuk Dokter Nisa 💓


💓 Love You Readers 💓**


__ADS_2