
Nisa berada di dapur, ia melihat ada banyak makanan di lemari penyimpanan. Ia mengingat Stevent yang pilih - pilih makanan.
" Jadi suamiku tidak boleh pilih - pilih makanan, kecuali alergi" Nisa tersenyum
Jari - jari lentiknya mulai menari dengan lincah memasak makanan khusus untuk suaminya yang masih menikmati empuknya kasur di siang hari.
***
Dengan mata masih terpejam tangan Stevent meraba - raba tempat tidur mencari istrinya.
Merasa Nisa tidak ada di sampingnya, Stevent segera membuka matanya, ia mulai khawatir, takut Nisa di culik Nathan Ketika ia tidur.
Secepat kilat ia membuka mata dan beranjak dari tempat tidur.
" Oh, no " Stevent masih bertelanjang, entah berapa ronde mereka bermain, seakan tidak ingin keluar dari kamar.
Stevent mencari pakaian yang berserakan di lantai, namun tidak ada lagi yang ada adalah pakaian ganti dan handuk yang terlipat rapi di atas meja.
" Nathan tidak akan menemukan istriku " Stevent tersenyum, ia segera mengambil handuk dan berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan diri dan berganti pakaian.
Stevent mengambil ponselnya dan menghubungi nomor Jhonny.
" hallo Tuan, bagaimana bulan madu Anda?" tanya Jhonny membuka panggilan.
"Luar biasa, rasanya aku tidak ingin pulang ke rumah" Stevent tersenyum puas membayangkan nikmatnya bercinta dengan orang yang dicintai.
" Tapi, Anda tetap harus pulang Tuan" Jhonny khawatir, bisa gila dia mengurus banyaknya perusahaan Stevent.
" *Apakah kamu sudah berhasil membawa Dokter Aisyah ke kota?"
" Sudah Tuan, meskipun dia marah, sekarang Dokter Aisyah tunggal di rumah saya "* Jelas Jhonny.
" *Bagaimana pembangunan laboratorium khusus untuk Dokter Aisyah?"
" Dalam proses "
" Bagus, laporkan perkembangan Nathan!"* perintah Stevent.
" Gagal bertemu dengan Nyonya Muda, Tuan Nathan pergi ke luar negeri " Jelas Jhonny.
" Apakah kamu sudah menemukan laboratorium rahasia Nathan?" Stevent mengepalkan tangannya setiap menyebutkan nama Nathan.
*" Sudah Tuan"
" Hancurkan segera tanpa sisa!"
" Siap* "
" Ingat, jaga Dokter Aisyah, Nisa akan belajar meracik ramuan dengannya, buat laboratorium sebaik dan seaman mungkin!" perintah Stevent
" Baik Tuan"
Panggilan berakhir, Stevent berjalan perlahan menuruni tangga, berkeliling mencari istri, ia bisa mencium aroma makanan yang menggoda dari dapur.
Stevent berjalan menuju dapur, ia melihat Nisa sedang sibuk memasak makanan, Rambut panjang di Gelung ke atas menampilkan leher jenjang putih bersih dihiasi sebuah liontin biru, mini dress hanya sebatas lutut.
" Pagi Istriku Cantik" Stevent memeluk dari belakang dan mencium leher bagian belakang istrinya di antara rambut - rambut halus , aroma maskulin menyegarkan masih ke dalam hidung Nisa.
" Haha, Ini Siang sayang " Nisa menepuk Lembut pipi suaminya.
" Oh benarkah, aku masih mau bermain di kamar, atau kita bermain di dapur?" tangan Stevent bermain di paha lembut istrinya.
" Hentikan, duduk yang manis, kita telah melewati sarapan dan sekarang waktunya makan siang" Nisa menarik kedua tangan suaminya, mengantarkan pada kursi makan.
" Cup " kecupan sekilas Nisa berikan di bibir Stevent.
__ADS_1
"Lagi" suara manja Stevent menahan tangan istrinya.
" Jika lagi, kamu akan minta lagi dan lagi tapi aku sudah kelaparan" Nisa melepaskan tangan suaminya dengan lembut dan bergegas menyiapkan dan menata makanan di atas meja.
Stevent memerhatikan Nisa dan meneguk ludahnya, ia melihat istrinya sangat seksi dan menggoda, keringat yang mengalir di leher Nisa seakan menyapa untuk di teguk menghilangkan dahaga.
" Sayang, apa kamu tidak lapar?" Nisa melihat suaminya yang masih melamun memandang dirinya.
" Melihat dirimu membuat aku kelaparan" Ucap Stevent.
" Makanlah, jangan lupa berdoa " Nisa mengambilkan nasi untuk Stevent.
" Tapi aku mau makan dirimu" wajah menggoda Stevent menggemaskan, Nisa mencubit hidung mancung suaminya.
" Cobalah masakan ku " Nisa kembali duduk ke kursinya.
Stevent memperhatikan masakan yang tertata di meja dan hanya cukup untuk berdua bahkan mungkin kurang.
" Sayang, kenapa kamu masak sedikit sekali?" Stevent masih memperhatikan setiap masakan yang ada di atas meja.
" Supaya tidak mubazir" Jawab Nisa singkat dan mulai membaca doa sebelum makan, Jika Nisa telah membaca doa, tidak akan ada lagi yang berbicara.
" Kenapa Dia sangat menggemaskan" Gumam Stevent, segera membaca doa dan menikmati makan siang bersama.
" Makanan ini sangat lezat, kenapa ia membuatnya hanya sedikit?" Stevent berbicara dalam hatinya dan kadang melirik Nisa yang tenang menikmati makanannya.
Mereka selesai makan, Nisa segera merapikan dan membersihkan peralatan makan di temani Stevent.
" Sayang, tanganmu akan menjadi kasar, aku akan meminta Jhonny untuk mengirimkan pembantu untuk kita" Stevent membantu mengeringkan piring.
" Aku hanya mau kita berdua saja berada di pulau ini" Nisa mengeringkan tangannya.
Mendengar ucapan istrinya Stevent segera melumat bibir Nisa, melingkarkan tangannya di pinggang Nisa dan tangan Nisa di leher Stevent.
" Kau benar sayang, kita bisa bercinta di mana saja" Stevent kembali melumat bibir Nisa.
" Sayang, sekalian kita bermain di atas meja Operasi" Nisa melepaskan tangan suaminya dan berjalan menuju kamar, ia harus merapikan tempat tidur.
" Sayang, apa kamu mau bermain lagi" Stevent berjalan mengikuti Nisa.
" Aku mau merapikan tempat tidur" Nisa mempercepat langkahnya.
" Aku sudah merapikannya" Stevent berdiri tepat di depan Nisa.
" Benarkah, Terimakasih" Nisa mencium sekilas bibir Stevent dan memutar tubuhnya meninggalkan Stevent berdiri di atas tangga.
Nisa berjalan menuju pintu utama dan membukanya.
" Kenapa ia sangat menggoda dan menggemaskan?" Stevent menyusul Nisa ke luar dari rumah.
Angin laut menerpa tubuh Nisa, membuat mini dress yang ia gunakan melambai-lambai, memperlihatkan tubuh seksi dan menggoda.
Nisa membentangkan tangannya memejamkan mata dan menikmati udara segar yang masih alami.
Stevent memeluk Nisa dari belakang, mencium pundak istrinya dan tangannya bermain dengan paha mulus Nisa.
" Sayang pulang ini sangat luas, akan lelah jika kita berjalan ke tepian " Nisa membuka pembicaraan.
Stevent tidak menjawab, ia menikmati harumnya aroma tubuh Nisa yang sangat menggoda, dengan tangan telah berada di perut Nisa.
" Sayang, mau lagi" suara manja Stevent.
" Apa kamu mau menyiksaku?" Nisa menarik hidung Stevent.
" Tidak, Aku hanya ingin menikmati Kemewahan surga dunia melebihi harta yang Aku miliki saat ini " Stevent menggigit pundak Nisa.
__ADS_1
" Aw, kamu selalu menggigit leher dan pundak ku" Nisa mengusap lehernya dengan jari - jari lentiknya dan tidak luput dari mulut Stevent.
Stevent menghisap jari Nisa.
" Hentikan" Nisa melepaskan diri dari Stevent dan berlari menjauh, rambut Nisa tergerai menutupi wajahnya karena jepitan di buka Stevent.
Nisa berlari dengan sepatu kets, Menuju arah pantai, kulit halus lembut yang selalu tertutup kini bersentuhan langsung dengan alam, rambut hitam pekat berkilau terkena cahayanya matahari.
Bagaikan seorang bidadari yang sedang bermain di tepi pantai dengan selendang yang hilang di curi dan disembunyikan Stevent.
" Wanita ku yang menggoda, bagaimana cara aku menjaga dirimu dari pria di luar sana?" Stevent menggaruk kepalanya yang tidak gatal dan berlari mengejar Nisa dengan bertelanjang dada, ia telah membuka dan membuang bajunya.
Memperlihatkan otot-otot keras menggoda dibasahi keringat dan berkilau terkena cahaya matahari.
"Aku ingin terus Bahagia seperti ini bersama dirimu, kamu hanya milikku " Stevent memandang istrinya yang terus berlari seakan tidak lelah.
" Pria itu, akan aku hancurkan dengan tanganku sendiri " Stevent terus berbicara sendiri tanpa di ketahui Nisa yang telah menghadap dirinya dan tersenyum Cantik.
" Ooh, bibir dari senyuman itu selalu menyapa bibirku" Stevent mempercepat larinya dan menangkap mangsa yang terus menggoda dirinya.
Stevent merebahkan tubuh Nisa di atas rumput di tepian pantai, nafas mereka tersengal-sengal karena lelah berlari, keringat membasahi wajah dan tubuh. Nisa melihat keringat mengalir dari tubuh seksi dan kekar milik Stevent.
" Apa kamu suka" Stevent melakukan gerakan push up di atas Nisa, ketika gerakan turun ia akankan mencium wajah Nisa.
Dari Dahi, mata, hidung, pipi, bibir dan dagu tanpa ada yang terlewatkan Nisa hanya bisa memejamkan matanya ketika gerakan turun dan membuka matanya ketika gerakan naik.
Wajah Nisa semakin basah bahkan keringat Stevent menetes di wajah dan tubuh Nisa.
Kadang Stevent melakukan gerakan dengan mengangkat satu tangan dan berbaring di samping Nisa.
" Apa kamu bahagia menjadi Istriku?" Stevent bertanya.
" Tentu saja, kamu adalah pria yang dikirimkan Tuhan untuk diriku, menyadarkan aku tentang keangkuhan" Nisa tersenyum.
" Maksud kamu" tanya Stevent penasaran.
" Apakah kamu pernah berpikir untuk menikah dengan seorang wanita?" tanya Nisa membaringkan kepalanya di atas lengan Stevent.
" Tidak, bahkan aku berpikir tidak akan pernah jatuh cinta, namun seorang bidadari bersayap putih menyelamatkan diri ku dan membuatku terpesona dan tergila-gila kepadanya" Stevent memiringkan tubuhnya menghadap Nisa dan tersenyum.
" Aku juga tidak pernah berpikir akan menjadi istrimu, dari awal kita berjumpa aku sudah tidak suka dengan sikapmu yang kasar, suka memaksa dan berlaku seperti Bos besar " Nisa tersenyum.
" Lalu ?" Stevent tersenyum.
" Semua adalah kehendak Tuhan, tidak ada yang bisa mengalahkan TakdirNya, Ini adalah cara Tuhan menegur hambaNya yang lalai dan angguh, seperti dirimu" Nisa menarik hidung Stevent.
" Baiklah Istriku tercinta, ayo kita kembali ke rumah Matahari telah sangat terik,aku tidak mau kulit cantik mu akan hangus terbakar " Stevent beranjak dari rumput dan menggendong istrinya.
" Aku bisa berjalan sendiri, kamu akan lelah, kita sudah sangat jauh dari rumah " Nisa berusaha untuk turun.
Stevent menurunkan istrinya dan berjongkok.
" Naiklah, aku akan membawa dirimu berlari " perintah Stevent, Nisa tersenyum dan naik di punggung Stevent.
Stevent menggendong Nisa di belakang berlari dan kadang berjalan, Mereka tertawa bersama serasa dunia hanya milik berdua hingga sampai kerumah dan mandi bersama dalam kemesraan, butuh waktu yang lama untuk menyelesaikan mandi.
**
*
" Thanks for Reading"
"Terimakasih Readers ku tercinta yang selalu memberikan Like, komentar dan Vote di setiap episode, Semoga Tuhan melipatgandakan rezeki kita semua"
__ADS_1
" Love You Readers"**