
Malam telah tiba, dengan terpaksa Viona ikut makan malam bersama dengan Papa dan Mama.
Viona telah menolak, kemarahan Papa yang ia dapatkan.
Wajah cantik Viona terlihat cemberut, ia duduk di kursi belakang.
Mobil Alexander telah memasuki perkarangan yang luas.
Rumah mewah tidak jauh berbeda dengan milik Stevent.
Papa dan Mama keluar dari mobil, tidak dengan Viona yang masih duduk diam
"Keluarlah Viona!" Papa membuka pintu mobil Viona.
"Pa, ini adalah makan malam bisnis kenapa Viona harus ikut?" tanya Viona kesal.
"Karena papa mau mengenalkan putri cantik papa kepada keluarga Zayan" Alexander menarik tangan Viona.
"Sayang, jangan buat Papa marah." Mama Veronika menyentuh lembut tangan Viona.
"Tersenyumlah, Papa tidak mau melihat wajah cemberut itu atau papa akan menghukum kamu di rumah." Alexander melangkahkan kakinya menuju pintu utama rumah keluarga Zayan.
Mama menggandeng tangan Viona, agar ia segera menyusul papa Alexander.
Viona hanya menunduk, mengikuti langkah kaki Mamanya.
"Selamat datang Tuan Alexander." Tuan Zayan menyambut keluarga Alexander.
"Terimakasih." Meraka saling berjabat tangan dan berpelukan.
"Halo Nyonya Veronika, saya Nyonya Lavina." Istri Tuan Zayan memperkenalkan diri dan berpelukan dengan Mama Veronika.
"Perkenalkan putri kami, Veronika." Mama memperkenalkan Viona.
"Malam Tante." Viona tersenyum dan mengangkat wajahnya.
"Kamu sangat cantik." Nyonya Lavina menyentuh pipi merah Viona.
"Terimakasih Tante." Viona tersenyum.
Seorang pria tampan tersenyum menatap gadis cantik dari tangga kamarnya.
"Kamu sangat cantik, walaupun mungkin tidak bisa melebihi kecantikan Ayesha yang tersebar di Dunia berdasarkan penelitian wajah." Zayn berjalan menuruni tangga.
Mereka langsung menuju ruang makan, karena waktu terus berputar.
"Perkenalkan putra kami, Azhar Zayn Zayan." Tuan Zayan memperkenalkan Zayn yang terus menatap Viona.
Viona tidak melihat kearah Zayn, ia juga tidak berpikir pria itu adalah dosennya, karena hanya menunduk, ia tidak melihat wajah Zayn, sehingga ia tidak tahu pria di sampingnya adalah Dosennya di kampus.
Zayn hanya tersenyum melihat gadis cantik yang hanya dia, ia bisa menebak Viona terpaksa datang pada acara makan malam.
Makan malam selesai, orang tua mereka masih berbincang-bincang di ruang keluarga.
Viona berjalan keluar rumah, ia tidak mau berada di dalam rumah.
Sebuah Ayunan rotan dengan sofa lembut tergantung di tengah taman, Viona tersenyum ia berlari menaiki ayunan.
Zayn mengikuti dan memerhatikan Viona yang terlihat lincah dan bersemangat ketika ia sendirian.
Viona mulai berayun-ayun pelan, karena kecepatan ayunan rotan terbatas.
Senyuman manis dan cantik terlihat jelas di wajah Viona, menikmati terpaan angin malam.
"Kamu tidak menyapa diriku." Sebuah suara yang familiar dan tangan kekar menghentikan ayunan Viona.
"Prof." Viona terkejut Zayn berada di depannya dengan memegang ayunan rotan.
"Kamu luar biasa, tidak menyadari keberadaan diriku di samping kamu atau kamu sengaja?" Zayn tersenyum wajah mereka sangat dekat.
"Maafkan saya prof, saya tidak tahu." Viona menunduk.
"Kamu sangat cantik." Zayn mengangkat dagu Viona.
"Terimakasih." Viona memundurkan tubuhnya dan kembali menunduk.
"Aku mohon jangan menundukkan kepalamu, apa aku harus memegangnya untuk melihat wajah kamu?" Zayn menatap tajam kepada Viona.
"Anda terlalu dekat." Viona mengangkat wajahnya.
__ADS_1
Zayn tersenyum dan melepaskan tangannya dari ayunan.
"Kemarilah." Zayn melambaikan tangannya mengajak Viona duduk di taman.
Viona turun dari ayunan dan mengikuti langkah kaki Zayn.
"Apa kabar kamu Viona?" Zayn memandang Viona menikmati kecantikan yang alami.
"Aku baik." Viona tersenyum.
"Aku menyukai dirimu." tegas Zayn.
"Menyukai sebagai mahasiswi." Viona tersenyum.
"Menyukai dirimu sebagai seorang wanita dewasa, maukah kamu jadi kekasihku?" Zayn mengeluarkan sebuah cincin berlian.
"Apa?" Viona gugup, ia kebingungan.
"Prof, apa yang anda lakukan? saya adalah mahasisiwi anda." Suara Viona gemetar, ia sangat terkejut.
Tidak pernah terpikirkan oleh Viona, ada pria dewasa yang akan menyatakan cinta kepada dirinya.
"Aku menyukai kamu dan aku mau kamu menjadi kekasihku, apakah aku tidak pantas untuk dirimu?" Zayn menatap tajam kepada Viona.
"Sepertinya semua ini telah direncanakan." Viona berbicara di dalam hatinya.
"Tetapi prof, kita baru saja bertemu dan aku belum mengenal Anda." Viona menggenggam tangannya.
"Kita bisa menjadi sepasang kekasih terlebih dahulu." Zayn mengambil tangan Viona dan memasukkan cincin berlian di jari manis Viona, sangat pas.
"Tapi prof." Viona berusaha menarik tangannya yang di pegang Zayn.
Sebuah cincin berlian telah melingkar di jari manis Viona.
Tangan Viona gemetar, ia tidak tahu apa yang ia rasakan.
"Maafkan saya." Viona berusaha membuka cincin tetapi tidak bisa.
"Apa kamu sudah punya seorang kekasih?" tanya Zayn.
"Ah, belum." Viona terus berusaha membuka cincin.
"Kenapa kamu gemetaran?" tanya Zayn.
"Aku." Viona kesal ia bahkan tidak tahu harus berbicara apa.
Zayn adalah dosennya dan rekan bisnis papanya, ia benar-benar takut.
"Mulai hari ini kamu adalah kekasihku." Zayn tersenyum dan akan mencium dahi Viona.
Viona menggeser kan tubuhnya menjauh dari Zayn.
"Apa ini Tuhan?" Viona menunduk melihat cincin berlian yang tidak bisa ia lepaskan lagi.
"Maafkan aku." Viona menunduk.
"Aku tidak butuh jawaban, kamu adalah kekasihku." bisik Zayn di telinga Viona.
"Tapi prof, aku." Kalimat Viona terputus, jari Zayn menutupi mulut Viona.
"Jika kamu terus menolak, bukan jari ini yang akan menutupi mulut kamu, tetapi bibirku." Zayn tersenyum.
Mata Viona melotot, ia segera beranjak dari kursi dan berlari kembali ke rumah.
"Menarik dan lucu, masih sangat lugu." Zayn tersenyum berjalan mengikuti Viona.
"Viona sayang, kenapa kamu berlari." Mama melihat Viona berdiri di pintu.
"Aku merasa tidak enak badan, apa kita bisa pulang?" tanya Viona gugup, ia khawatir Zayn kembali.
"Baiklah, ayo Pa, Viona terlihat pucat tangannya dingin." Mama menyentuh pipi dan tangan Viona.
"Tuan Zayan, kami permisi." papa Alexander berjabat tangan dengan Tuan Zayan dan Nyonya Lavina.
"Sudah mau pulang." Zayn tersenyum melihat wajah pucat Viona.
"Ya, sepertinya Viona kurang sehat." Papa Alexander melihat Viona yang menunduk.
"Aku akan mengantarkan Viona dengan mobilku." Zayn tersenyum.
__ADS_1
"Apa?" Viona terkejut, ia tidak mau diantar Zayn.
"Pergilah Viona, ikut mobil Zayn, agar kalian semakin dekat." Papa Alexander tersenyum.
"Ma." Viona menggenggam erat tangan mamanya.
"Apa kamu mau ke dokter?" tanya Zayn berdiri di samping Viona.
"Aku mau pulang." Viona pamit pada Tuan Zayan dan istrinya.
Berjalan perlahan dengan rasa khawatir mengikuti langkah kaki Zayn.
Zayn membukakan pintu mobil untuk Viona, dan tersenyum.
"Masuklah, aku tidak akan menyentuh dirimu." Zayn tersenyum.
"Jika kamu menurut." Bisik Zayn di telinga Viona membuat Viona begidig.
Viona duduk di samping kursi pengemudi dan membuang wajahnya ke luar kaca jendela mobil.
Mobil Zayn melaju meninggalkan perkarangan rumahnya.
Sepi sunyi tanpa ada yang berbicara, perasaan Viona kacau, tidak ada yang bisa membantu dirinya menolak Zayn.
"Aku akan menceritakan kepada Kak Stevent dan Kak Nisa." Viona berbicara di dalam hatinya.
Zayn menghentikan mobilnya di tempat sebuah taman kota.
"Kenapa berhenti di sini?" Viona gugup.
"Aku mau menyelesaikan pembicaraan kita tadi." Zayn menatap serius pada Viona.
"Apalagi?" Viona berusaha menjauh dari Andreas Zayn.
"Pertama sejak malam ini kamu adalah kekasihku, kedua kamu mau hubungan kita dirahasiakan atau diketahui banyak orang?" Zayn tersenyum.
"Apa maksud Prof?" Viona khawatir.
"Kamu mau hubungan kita diketahui oleh kampus atau hanya ada diantara kita?" Zayn tersenyum.
"Kita tidak ada hubungan apa-apa Prof." Viona menenangkan dirinya untuk menolak Zayn.
"Berapa kali aku harus mengulanginya Viona?" Zayn mendekatkan wajahnya.
"Mulai malam ini kamu adalah kekasihku, apakah masih kurang jelas?" Zayn menatap lekat pada mata indah Viona.
Viona terdiam, tubuhnya seakan membeku, tidak ada yang bisa ia lakukan, sedikit saja gerakan maka wajahnya akan bersentuhan dengan Zayn.
"Antarkan aku pulang." Viona memejamkan matanya.
"Baiklah." Zayn tersenyum, ia kembali menjalankan mobilnya menuju rumah Stevent.
Mobil Zayn memasuki perkarangan rumah Stevent Lu Alexander.
Viona tergesa-gesa keluar dari mobil, Zayn segera menyusul Viona.
"Viona tunggu." Zayn menghalangi langkah Viona.
"Kamu mau hubungan ini dirahasiakan atau diumumkan?" Zayn menatap tajam pada Viona.
"Rahasiakan." Viona bergegas.
"Jika mau dirahasiakan jauhi Jade!" Zayn tersenyum.
"Baiklah." Viona berlari masuk ke rumah, ia terus berlari menaiki tangga menuju kamarnya.
Perasaan kacau campur aduk yang tidak ia pahami, terkejut menjadi satu.
***
Baca juga Novel baru Author
(Cari : AnnaLee di aplikasi Joy lada)
Mohon dukungnnya berikan like, Komentar, bintang 5 dan Vote. Terimakasih
Baca juga Novelku “Arsitek Cantik”
Novel Kakakku “Nyanyian Takdir Aisyah dan Cinta Bersemi di Ujung Musim.” (Fitri Rahayu), Terimakasih.
__ADS_1
Semoga kita semua dalam keadaan sehat dan selalu mendapatkan perlindunganNya, Aamiin.