
Waktu terus berputar, Jhonny mendapatkan perawatan terbaik dari tim medis rumah sakit.
Setiap hari Aisyah datang untuk melihat perkembangan Jhonny.
Ruangan yang sangat bersih dan luas dilengkapi dengan semua perlengkapan yang dibutuhkan.
Satu ruangan perawatan sudah seperti sebuah rumah pribadi, dengan perabotan lengkap.
Aisyah duduk di kursi dekat dari Jhonny dan merebahkan kepalanya di atas tempat tidur.
Perlahan mata Jhonny terbuka, ia menatap langit-langit ruangan, melihat jendela yang terbuka mengizinkan angin dan cahaya Matahari untuk masuk ke dalam ruangan.
Tangan kiri masih di bungkus perban, dengan luka tembakan dan patah tulang.
Jhonny melakukan 3 kali operasi, operasi besar pada kepala yang dilakukan oleh Nisa, operasi kecil bekas tembakan yang meleset dan operasi pemasangan pin pada tulang lengan.
Jika pendarahan dan sisa pembekuan darah tidak berhasil dibersihkan, maka dipastikan Jhonny akan mengalami kebutaan.
Jhonny mengangkat tangan kanannya, ia dapat menyentuh kepala Aisyah yang tertutup jilbab.
Aisyah merasakan sentuhan lembut tangan Jhonny dan mengangkat kepalanya.
"Hai, Jhonny apa kabar?" Aisyah tersenyum.
"Apa yang kamu lakukan di sini?" tanya Jhonny menatap tajam pada Aisyah.
"Aku menjagamu, aku telah berjanji akan menjagamu jika kamu berhasil melewati semuanya" ucap Aisyah tersenyum, air mata bahagia mengalir dari sudut matanya.
Jhonny menatap Aisyah tanpa ekspresi masih dengan wajah datarnya.
"Pergilah" ucap Jhonny memalingkan wajahnya dari Aisyah.
"Kenapa? Apa kamu membenci ku?" tanya Aisyah bingung.
"Kamu hanya kasihan kepadaku, dan aku tidak perlu dikasihani" ucap Jhonny tanpa melihat Aisyah.
Aisyah tidak tidak tahu harus berkata apa, karena ia memang menyimpan rasa kasihan dan rasa lainnya kepada Jhonny.
Rasa yang masih belum bisa dimengerti, dengan kegalauan hatinya.
Aisyah masih ada tugas untuk menjelaskan kematian Jordan pada keluarga mereka.
"Kamu tidak ingin aku berada di sini?" tanya Aisyah.
"Pergilah, aku tidak mau melihat dirimu lagi!" ucap Jhonny.
Aisyah menarik nafas panjang dan membuangnya.
"Apa kesalahan ku kepadamu?" tanya Aisyah berusaha tegar.
"Tidak ada, aku hanya mau kamu pergi" ucap Jhonny.
"Aku akan pergi, jika itu yang kamu mau dan semoga kepergian ku adalah yang terbaik untuk dirimu" ucap Aisyah menahan sesak.
Aisyah adalah wanita yang keras, apa yang kamu minta itulah yang akan ia lakukan.
"Pergilah!" bentak Jhonny mengagetkan Aisyah hingga ia berlari keluar ruangan dan menangis sesegukan di kursi koridor.
Jhonny melihat kepergian Aisyah, ia merasakan sesak di dadanya tanpa sadar butiran bening mengalir melewati sudut matanya dan membasahi bantal berwarna putih.
"Aku mencintaimu Aisyah tapi aku tidak mau kamu bersama dengan pria cacat ini" ucap Jhonny sedih.
"Aku akan mencari dirimu, jika aku telah sembuh" ucap Jhonny memejamkan matanya.
Jhonny tahu ia akan cacat sementara dalam waktu yang cukup lama, ia tidak mau menjadi beban Aisyah.
Jhonny tidak mau membuat Aisyah susah karena dirinya yang cacat.
Aisyah menangis merasakan sakit di dalam hatinya, bentakan Jhonny terasa sangat menyakitkan, memberikan luka begitu dalam.
"Apa salahku? Apa aku terlalu banyak Dosa? kenapa Tuhan menyiksaku" Aisyah menutup wajahnya dengan telapak tangannya, ia merasa sangat rapuh.
"Kenapa Anda menangis di sini?" suara lembut dari seorang pria dengan pakaian Dokter berdiri di depan Aisyah.
Dokter Reynaldi, rekan satu tim Dokter Bedah dengan Nisa. Dokter muda dan tampan.
Aisyah mendongak ke atas, matanya sembab, air mata menghalangi pandangannya.
Dokter Reynaldi mengambil saputangan yang belum ia gunakan dari saku celananya dan mengeringkan air mata di wajah Aisyah.
"Ah Terimakasih, saya bisa sendiri" Aisyah mengambil saputangan dari tangan Reynaldi.
Sentuhan lembut jari tangan Aisyah dapat dirasakan oleh Dokter Reynaldy.
Dokter Reynaldi duduk di samping Aisyah, ia melihat wajah cantik Aisyah tanpa makeup.
"Apa yang terjadi, apakah keluarga kamu sakit?" tanya Dokter Reynaldi.
__ADS_1
Kata keluarga yang diucapkan Dokter Reynaldi terdengar seperti kalimat yang mengatakan, kamu harus pulang.
Dokter Aisyah terdiam, ia menggenggam erat saputangan milik Dokter Reynaldi.
"Kamu benar, aku harus pulang" ucap Aisyah dan pergi meninggalkan Dokter Reynaldi yang kebingungan.
Jawaban Dokter Aisyah tidak sesuai dengan pertanyaannya.
Dokter Aisyah menghubungi Valentino, ia akan kembali ke rumahnya.
Bertanggung jawab atas kematian Jordan, Dokter Aisyah akan menyerahkan diri kepada keluarga Jordan, ia bersedia menerima hukuman.
Aisyah tidak memiliki tempat untuk pulang kecuali keluarganya. Jhonny tidak menginginkan dirinya.
Ketika perasaan sedang kacau, tidak ada manusia yang bisa membuat keputusan yang benar karena adanya campur tangan dari perasaan dan emosi sehingga mengacaukan pikiran.
Aisyah kembali ke rumah Jhonny dengan mobilnya, ia mengambil semua surat penting miliknya.
Menarik semua uang yang ada di tabungnya, untuk keperluan perjalanan.
Air mata Aisyah terus mengalir membasahi wajahnya, ia kembali merasakan Kekacauan di dalam hatinya.
Valentino menunggu Aisyah di dalam mobil, yang tidak membawa barang apapun kecuali surat menyurat.
"Apa kamu yakin meninggalkan Jhonny dengan kondisi seperti ini?" tanya Valentino.
"Dia menginginkan diriku pergi" Aisyah mengusap air matanya dengan saputangan Dokter Renaldy.
"Pria akan sangat malu berada di depan wanita yang ia cintai ketika ia sedang terpuruk" jelas Jhonny.
"Dan wanita sangat sensitif di tertentu" jawab Aisyah.
Valentino terdiam, ia segera menjalankan mobilnya dan mengantarkan Dokter Aisyah ke Bandara untuk kembali ke kota kelahirannya.
"Aku tidak mengerti dengan hubungan mereka" gumam Valentino.
Mobil Valentino terus melaju membelah jalanan menuju Bandara Internasional.
Dokter Aisyah mengirimkan pesan kepada Nisa, ia pamit pulang ke Kota asal.
Memberikan alamat lengkap rumahnya kepada Nisa, mungkin suatu saat nanti Nisa berkesempatan pergi berkunjung.
***
Stevent mendengar nada pesan dari ponsel Nisa dan segera membukanya, ia terkejut.
"Ya" Jawab Nisa mengambil selembar jilbab berwarna magenta.
"Sayang, Dokter Aisyah pergi" Stevent memberikan ponsel kepada Nisa.
"Ya Allah apa yang terjadi?" Nisa terkejut, mereka baru saja akan mendiskusikan pernikahan Jhonny dan Aisyah.
Nisa telah menanyakan Aisyah tentang pernikahan dengan Jhonny dan ia setuju.
Hari ini Stevent dan Nisa akan membicarakan dengan Jhonny dan segera melangsungkan pernikahan di rumah Sakit.
Nisa segera menghubungi nomor ponsel Dokter Aisyah.
"Assalamualaikum, Dokter Aisyah" salam Nisa.
"Waalaikumsalam, ada apa Nisa?" Dokter Aisyah menjawab panggilan dengan pertanyaan.
"Dokter Aisyah dimana?" Tanya Nisa.
"Aku dalam perjalanan menuju bandara bersama Valentino" Jelas Dokter Aisyah.
"Kenapa tiba-tiba, aku dan Stevent akan kerumah sakit" ucap Nisa.
"Jhonny meminta ku untuk pergi" Dokter Aisyah menahan tangis.
"Kembalilah, itu hanya luapan emosi ketika seorang pria tidak bisa menerima kenyataan yang ia hadapi" jelas Nisa.
"Dia membentak ku" Dokter Aisyah menangis.
"Dokter Aisyah, jangan pergi ,Jhonny membutuhkan Anda, kepergian Anda akan memperparah keadaannya, yakinlah" jelas Nisa dan Dokter Aisyah terdiam.
"Berhentilah sebentar, kita akan lihat apa yang terjadi dengan Jhonny setelah anda meninggalkan rumah Sakit" Nisa menutup panggilan.
"Sayang, biasakan kamu kirimkan cctv kamar Jhonny" Nisa menyentuh lembut tangan Stevent.
"Ada apa?" tanya Stevent heran.
"Aku rasa Jhonny sedang menghancurkan barang - barang di dekatnya" Nisa tersenyum.
Stevent segera membuka laptopnya yang telah terhubung dengan cctv kamar Jhonny, agar Stevent bisa memantau kondisi Jhonny.
Apa yang dikatakan Nisa benar, setelah mendapatkan laporan dari pengawal di rumah Aisyah pamit pergi dari rumah Kepada semua pelayan.
__ADS_1
Dengan tangan kanannya, Jhonny menarik selang impuls dan mencabut semua peralatan medis yang ada di tubuhnya.
Jhonny frustasi, ia tidak ingin kehilangan Aisyah tapi rasa ego yang terlalu tinggi membuat ia membentak Aisyah.
Stevent Tertawa terbahak-bahak, melihat tingkah Jhonny dan membuat Nisa heran.
"Sayang, apa yang tertawakan? Kondisi Jhonny masih belum stabil, ia akan di suntik pemenang dan itu akan menghambat penyembuhan Jhonny, ia butuh seseorang yang selalu setia menemani dan memberikan support" jelas Nisa menatap tajam.
"Seperti dirimu" Goda Stevent yang langsung menikmati bibir Nisa.
"Ah, pria ini tidak perduli kondisi apapun, jika ia ingin berciuman" gumam Nisa dalam hati.
"Sayang, kirimkan rekaman video itu kepada Dokter Aisyah dan kita harus segera ke rumah sakit, aku harus memantau perkembangan kesehatan Jhonny" Nisa berjalan menuju cermin untuk memakai Jilbab.
"Aku harus ke Perusahaan" jawab Stevent pelan tetapi Terdengar oleh Nisa yang tersenyum.
"Kita punya dua mobil" Nisa tersenyum menggoda Stevent dari cermin.
Stevent mengusap wajahnya dengan kasar. Jhonny benar - benar membuat kekacauan.
"Sayang, aku akan mengantarkan dirimu" ucap Stevent mematikan komputer setelah mengirim video kepada Dokter Aisyah.
***
Valentino dan Dokter Aisyah berhenti di depan minimarket.
"Kenapa kita berhenti, apa Dokter Aisyah mau membeli sesuatu?" tanya Valentino.
"Nisa meminta kita berhenti sebentar" Jawab Dokter Aisyah melihat sekeliling.
Terdepan nada pesan chat dari ponsel Dokter Aisyah.
Sebuah video muncul di layar ponsel Dokter Aisyah.
"Pergi - Pergi, semuanya" Teriak Jhonny dalam rekaman video.
"Apa yang ia lakukan, itu sangat berbahaya" ucap Dokter Aisyah.
Valentino mengintip Video dan itu juga membuat Valentino tertawa.
"Hey, apa yang kamu tertawakan?" Dokter Aisyah kesal.
"Pria memang aneh, lain di mulut lain di hati" ucap Valentino tertawa dan menjalankan kembali mobilnya.
"Kita akan kemana?" tanya Dokter Aisyah.
"Bandara" jawab Valentino menahan tawa.
"Kembali ke Rumah Sakit!" perintah Dokter Aisyah.
Valentino segera memutar mobil dan Kembali ke rumah sakit tempat Jhonny di rawat.
"Aku akan memukul kepala Jhonny" kesal Dokter Aisyah.
"Itu akan membunuhnya" sambung Valentino.
"Ah baiklah, aku akan memukul mulutnya yang telah mengusir diriku" gerutu Dokter Aisyah.
"Lebih baik cium bibirnya" Ucap Valentino tertawa.
"Itu tidak boleh anak nakal" Dokter Aisyah menarik telinga Valentino.
"Aaaa, iya iya tidak boleh" ucap Valentino menahan Sakit.
Mobil terus melaju menuju rumah sakit, hati Dokter Aisyah sangat kacau, benar-benar mengkhawatirkan Jhonny.
Pria bodoh yang tidak tahu cara mengungkapkan isi hatinya.
***
**
*
Terimakasih telah membaca Karya Author
*
**
***
**Mohon dukungannya untuk selalu memberikan Like Komentar Vote dan Bintang 5 😘 Terimakasih.
Semoga Readers semua selalu dalam keadaan sehat dan mendapatkan rezeki yang berlimpah Aamiin 😇
Love You Readers 💓 Thanks for Reading 🤗**
__ADS_1