
Stevent begitu gelisah di dalam pesawat, rasanya pesawat tidak bergerak sama sekali, membosankan, ia bahkan tidak bisa tidur, bayangan kecelakaan mobil Nisa mengganggu pikirannya.
Pesawat mendarat dengan selamat, beberapa pengawal telah menunggu Stevent untuk membawa barang bawaan.
Mobil sport hitam telah di depan pintu keluar, Stevent tidak bisa menunggu lagi, ia tidak bisa hanya duduk jadi penumpang, Baginya tidak ada yang bisa mengalahkan kemampuannya mengendarai mobil balap.
Seorang pengawal segera melemparkan kunci mobil dengan sigap Stevent menangkapnya dan mengendarai mobil membelah jalanan yang belum ramai di pagi hari.
Kecepatan tinggi bagaikan di arena balapan, Stevent melaju mobilnya menuju rumah utama miliknya, rumah yang ia bangun sangat besar seperti istana.
Mobil telah memasuki perkarangan yang sangat luas, bahkan helikopter bisa mendarat di sana.
Stevent tergesa-gesa turun dari mobil, berlari masuk ke rumah, seorang pelayan keluarga segera menghentikan Stevent uang berteriak memanggil Nisa dari depan pintu.
" Ssshhh" pria tua meletakkan jari telunjuk di bibirnya.
" Ada apa?" Stevent ngos-ngosan.
" Nona Muda sedang tidur " ucap pelan pelayan tua.
" Dimana Dia, apa di baik - baik saja?" tanya Stevent tidak sabar mengunggu jawaban.
" Tenangkan diri anda Tuan, Nyonya terlihat kelelahan, di tidur di kamar Anda " jelas pelayan.
" Kenapa ia tidur di pagi hari?" pikir Stevent
Kamar Anda berarti kamar Stevent yang paling ujung, tempat ia pernah mengurung Nisa.
Stevent Berlari menaiki tangga, lelah dan mengantuk seakan tidak ia rasakan. Stevent menghentikan langkahnya tepat di depan pintu kamar, ia membuka pintu perlahan.
Stevent dapat melihat seorang wanita yang sangat ia rindukan tertidur cantik tanpa jilbabnya, tidak ada luka sama sekali di tubuhnya, hanya ada goresan kecil di dahi Nisa.
Stevent membuka jas miliknya dan melemparnya ke sembarangan, ia segera naik ke tempat tidur dan memeluk tubuh Indah Nisa.
" hmmm " suara kesal Nisa karena tidurnya terganggu.
" Sayang, aku sangat merindukan dirimu" bisikan Stevent membangunkan Nisa yang telah menghadap Stevent.
" Sayang kamu sudah pulang" Nisa memeluk tubuh Stevent dan membenamkan wajahnya pada dada Stevent, ia menikmati aroma tubuh yang sangat ia rindukan dan kembali tertidur.
" Apa, dia tidak menciumku? ia lebih mementingkan tidurnya?" suara hati Stevent yang kecewa dan kesal.
Kelelahan dan rasa kantuk karena tidak tidur sama sekali membuat Stevent ikut larut dalam mimpi yang indah bersama istrinya.
Nisa merasakan sesuatu yang mengganjal di punggungnya, tangan besar telah menyelinap dan memeluk erat tubuh Nisa.
Nisa tersenyum melihat wajah tidur Stevent, jari lembut Nisa memainkan hidung dan bibir Stevent.
Pria Nakal telah membuka matanya dan siap melahap istrinya.
Secepat kilat bibir Stevent telah melekat pada bibir istrinya, menikmati ciuman yang begitu ia rindukan begitu lembut, manis dan nikmat.
Tangan Stevent yang mulai bergerilya di tahan Nisa, Stevent menatap aneh pada istrinya.
Nisa tersenyum, ia ingin memberikan kabar bahagia untuk Stevent.
" Apakah kamu sedang datang bulan?" tanya Stevent menatap kecewa.
Nisa hanya tersenyum melihat Stevent, ia merasa wajah dan ekspresi Stevent sangat lucu.
Nisa beranjak dari tempat tidur dan menggunakan jilbabnya, Stevent terus memperhatikan Nisa dari atas hingga bawah.
" Sayang, jangan siksa aku seperti ini" Stevent beranjak dari kursi dan memeluk istrinya.
" Aku lapar" bisik Nisa di telinga Stevent.
" Apa, apakah lapar dapat mengalahkan rasa rindu dan hasrat bercinta?" pikir Stevent kesal.
Nisa menarik tangan Stevent dan turun ke lantai bawah menuju ruang makan.
__ADS_1
"krucuk-krucuk" Terdengar bunyi perut Stevent, ia belum makan apapun sejak semalam karena makan malam yang gagal bersama Papa Mark.
Ada banyak menu makanan di atas meja, obat yang di berikan Nathan kepada Nisa membuat Nisa berselera makan dan bersemangat.
Stevent menatap heran dengan meja makan yang penuh makanan.
" Sayang, duduklah" Nisa mengambilkan nasi, sayur mayur dan lauk yang banyak di piring Stevent dan piring dirinya.
Stevent memicingkan matanya merasa mual melihat piring yang terisi penuh.
Nisa telah memulai ritual makan besarnya, Stevent hanya memperhatikan Nisa yang terlihat rakus, tidak seperti biasanya walaupun elegan tapi makanan Nisa melebihi porsinya.
Tangan Stevent hanya memainkan makanannya, ia benar-benar mual melihat makanan yang penuh di atas piringnya.
Ingin sekali ia mengambil piring baru dan memilih menu yang hanya mau ia makan, tapi ia takut Nisa akan tersinggung dan marah.
" Tunggu dulu, Nisaku tidak pernah marah" Stevent tersenyum dan mengambil piring baru dengan menu yang berbeda dan nasi yang sedikit.
Stevent tidak menyadari ada sepasang mata yang memelototi dirinya dan menggenggam erat gelas kosong karena Nisa telah selesai dengan makanan dan minumannya.
Stevent membeku ketika menyadari sepasang mata menatap tajam dirinya.
" Sayang" Stevent meletakkan piring di atas meja, kini ada dua piring berisi makanan di depan Stevent.
Nisa tersenyum dan beranjak dari kursi mendekati Stevent.
" Sayang, kamu harus menghabiskan dua piring nasi ini" Nisa mencium pipi Stevent dan duduk di sampingnya.
" Aku akan menemani dirimu" lanjut Nisa dan tersenyum Cantik.
Tangan Stevent seakan gemetar, ia merasa seseorang di sampingnya bukanlah Nisa.
Stevent berusaha menghabiskan makanan yang ada di depannya hingga tidak tersisa, ia masih membeku di kursi menahan mual di perutnya.
" Suami hebat, cup " sebuah kecupan di pipi Stevent yang masih tanpa ekspresi, Nisa berjalan menaiki tangga meninggalkan Stevent.
Para pelayan merapikan dan membersihkan peralatan makan, mereka heran dengan tingkah Stevent.
Stevent baru merasa nyaman setelah perutnya Kembali kosong, ia membuka lemari pendingin dan mencari makanan yang bisa ia makan.
Satu piring Anggur hitam habis di lalap Stevent.
Ia segera berlari ke kamar, setelah merasa nyaman menghabiskan sepiring Anggur.
Ia melihat Nisa yang baru selesai mandi dengan rambut yang masih basah dan handuk yang melilit di tubuhnya.
"Ah Dia sangat menggoda, apa dia sedang mentruasi?" pikir Stevent.
Stevent membuka kemejanya dan meletakkan di keranjang kotor, berjalan mendekati Nisa, memeluk dari belakang.
" Sayang, apa kamu sedang mentruasi?" tanya Stevent mencium pundak Nisa.
" Tidak " jawab Nisa singkat.
" Ah Tuhan, Terimakasih" Stevent memutar tubuh Nisa dan melahap bibirnya.
Tangan nakal mulai berjalan kemana - mana. Stevent menggendong Nisa ke tempat tidur.
" Kita main ya" bisik Stevent di telinga Nisa.
" Tapi pelan-pelan, karena ada yang harus di jaga" Nisa balas berbisik di telinga Stevent.
Stevent melepaskan pelukannya, ia menatap heran kepada Nisa yang masih dalam balutan handuk.
Nisa tersenyum dan menarik tubuh Stevent kembali dalam pelukannya.
" Ada sepasang malaikat kecil di Rahimku" bisik Nisa di telinga Stevent.
Stevent segera melompat dari tempat tidur dan berdiri di lantai, menjauh dari tubuh Nisa.
__ADS_1
" Apa, apa kita punya bayi?" wajah Stevent sangat bahagia, ia kembali mendekati Nisa.
" Sayang, Terimakasih" Stevent memeluk erat tubuh Nisa.
" Sayang, aku kesulitan bernapas" ucap Nisa bercanda.
" Maafkan aku" Stevent melepaskan pelukannya dan meletakkan tangannya di atas perut Nisa yang masih rata.
" Sayang Papa" Stevent menyingkap handuk dan mencium perut Nisa.
" Sayang, tadi kamu katakan kita punya sepasang?" Stevent menatap wajah Nisa yang mengangguk dan tersenyum.
" Oh Terimakasih Tuhan" Stevent memeluk lagi tubuh Nisa.
" Sayang, bolehkah kita bercinta?" wajah Stevent memelas.
" Boleh Sayang, tapi pelan-pelan" Nisa tersenyum, mendengarkan jawaban Nisa, Stevent segera menikmati dua kebahagiaan sekaligus.
Mendapatkan calon bayi dan bercinta lembut dan mesra dengan istrinya.
Lelah bercinta, mereka kembali tertidur dalam pelukan dan terbangun di waktu Zuhur.
Sholat bersama dan bersyukur syukur bahagia, atas nikmat yang telah di berikan.
Stevent telah menghubungi Jhonny untuk menyelidiki kecelakaan Nisa, dan mencari tahu siapa yang telah menyelamatkan Nisa.
Ia tidak ingin menanyakan kepada Nisa, tidak mau membuat istrinya tidak tenang.
Stevent beranjak dari tempat tidur dan keluar dari kamar menuruni tangga menuju lemari pendingin, ia kembali mengambil Anggur memakannya dan membawa ke kamar.
Stevent menatap Nisa yang tersenyum Cantik,
" Sayang, kamu semakin cantik " Stevent meletakkan sepiring Anggur di atas meja dan memeluk Nisa.
Nisa mengambil Anggur dan memakannya.
" Mmm enak sekali" Nisa memasukkan Anggur di mulutnya begitu menggemaskan.
" Cup" Stevent merebut Anggur yang berada di mulut Nisa dengan mulutnya. Dan mengembalikan dengan lidahnya.
" mmmmm" Anggur berasa lebih nikmat di makan bersama.
Nisa telah berbaring di atas sofa panjang empuk, berciuman bersama memakan buah Anggur.
****
***
**
*
**Terimakasih
*
**
***
****
Thanks for Reading
Selalu Tinggalkan Like, komentar dan Vote yang banyak , Muach 😘
Terimakasih atas kunjungan dan Dukungan Readers ku tercinta, Semoga kita semua selalu dalam keadaan sehat dan mendapatkan rezeki yang berlimpah, Aamiin.
Love You Readers
__ADS_1