
Pancaran sang surya mulai menerpa. Cahayanya yang menghangatkan mulai menembus dinginnya udara setelah hujan deras malam tadi.
Cit... Cit..Cit.. Cit....Cuit...
Kicauan burung pipit yang bernyanyi riang menyambut datangnya pagi. Secara riuh rendah membangunkan Kak Roy yang sedang tertidur sangat lelap.
Samar-samar dalam gelapnya ruangan kamar Kak Roy.
Seketika ia merasakan sesuatu yang aneh pada dirinya.Dadanya terasa tertekan oleh sesuatu.Bulu kuduknya mulai merinding merasakan dingin. Dengan rasa nyeri di kepalanya. Dia berusaha untuk membuka kedua matanya secara bertahap.
Perlahan jemari tangannya menekan sakelar lampu di dekat ranjang tempat tidurnya.
Cetekkkkk.....
Lampu pun menyala.
Kamarnya yang gelap kini pun telah menjadi terang.
Sambil menahan rasa sakit di kepalanya ia berusaha untuk duduk setengah tidur.
Dalam keadaan yang masih belum sepenuhnya sadar dari tidurnya .Dia sedikit memincingkan mata untuk melihat keadaan sekitar.
Dan betapa terkejutnya Kak Roy saat melihat Rere sedang tertidur dan meletakkan kepalanya di atas dada Kak Roy.
Sontak dengan seketika Kak Roy langsung berdiri menjauh dari Rere.
Rere yang tidur terlelap pun terusik dengan sikap refleks yang sedikit kasar oleh kak Roy kepada dirinya.
Dengan cepat pula Kak Roy langsung menutup seluruh tubuhnya.
"Apa yang kamu lakukan di sini?,"teriak Kak Roy kepada Rere.
Rere yang tadinya tertidur lelap sontak terbangun mendengar suara teriakkan dari Kak Roy.
Pandangan mata Kak Roy kosong .Hatinya terasa hancur dan dia berusaha mengingat kembali apa yang telah terjadi.
"Apa yang sudah kamu lakukan hingga aku tidak dapat mengingat semuanya?,"ucap Kak Roy dengan sangat marah kepada Rere.
Rere dengan penuh sandiwara Ia pun berpura-pura untuk tidak mengatakan apa yang telah ia lakukan kepada Kak Roy.
"Mengapa Kak Roy bertanya kepadaku? seharusnya aku yang menanyakan apa yang sebenarnya terjadi kepada Kak Roy, "ucap Rere dengan wajah pura-pura bingung dan tidak tahu.
"Kamu jangan coba-coba berbohong dan berusaha untuk menipuku !Aku tahu semua ini pasti adalah rencanamu bukan, "teriak Kak Roy dengan nada meninggi.
Mendengar bentakan dari Kak Roy .Rere pun berpura-pura menangis dan merasa sedih.
Huhuhuhuhu..... Huhuhuhuhu.....
"Setelah apa yang terjadi kamu begitu kasar dan mengacuhkan diriku seperti ini Kak Roy. Hiks... Hiks... Hiks, " ucap Rere seraya menangis.
"Arrghhhhhhhhhhhh...... , "teriak Kak Roy kecewa dan marah terhadap dirinya sendiri.
Tante Desi yang mendengar teriakan dari kamar Kak Roy lalu bergegas menuju kamar Kak Roy.
Tante Desi lalu mendorong pintu yang tidak terkunci dan langsung masuk ke dalamnya. "Mengapa kamu berteriak histeris seperti itu Roy ?,"tanya Tante Desi dengan wajah cemas melihat Kak Roy begitu terlihat pucat dan tidak seperti biasanya.
Kak Roy pun tidak menjawab pertanyaan mamanya. Dia hanya terus meraung dan berteriak seakan-akan ia begitu jijik dengan dirinya sendiri.
"Arrghhhhhhhhhhhh...... , "teriak Kak Roy sambil terduduk lemas di lantai.
"Roy ada apa nak?,"tanya Tante Desi dengan wajah panik mendekati Kak Roy sambil menepuk pipinya Kak Roy berulang kali supaya Kak Roy merespon pertanyaannya. Namun, sekali lagi Kak Roy tetap tidak menjawab ucapan dari Tante Desi .Sementara itu, Rere yang terduduk di atas ranjang tempat tidur Kak Roy Mulai mengambil satu persatu pakaiannya yang terlepas. Dengan senyumnya yang sinis ia tidak menghiraukan jeritan Kak Roy yang merintih penuh penyesalan.
Tante Desi yang melihat Kak Roy tidak merespon jawabannya segera mengalihkan pandangannya ke Rere. "Apa yang sebenarnya terjadi kepada Roy ?,"tanya Tante Desi kepada Rere. Rere yang sedang berusaha memakai semua pakaiannya sedikit terkejut mendengar pertanyaan dari Tante Desi. Lalu dengan wajahnya yang berpura-pura sedih ia mengatakan, " Kak Roy sepertinya tidak mau menerima tante. Jika kami telah menjadi satu dan kami telah begitu sangat dekat layaknya suami istri yang sesungguhnya,"ucap Rere dengan memasang wajahnya sok sedih.
Tante Desi yang mendengar perkataan Rere mulai memahami apa yang menjadi latar belakang Kak Roy begitu terpuruk seperti itu.
"Ya sudah Re kamu lekas berganti pakaian dan merapikan diri, " suruh Tante Desi kepada Rere.
Rere pun mengangguk dan segera mengambil sisa pakaiannya di atas tempat tidur dan segera menuju kamar mandi yang letaknya ada di dalam kamarnya Kak Roy.
Sementara itu, Tante Desi berusaha untuk menenangkan Kak Roy yang menangis begitu sangat terpukul atas kejadian yang tidak sama sekali ia pernah inginkan dan bahkan ia bayangkan sebelumnya.
""Arrghhhhhhhhhhhh...... huhuhuhu....huhuhuhuhuhh, "teriak Kak Roy sambil menangis tersedu-sedu.
Tante Desi membiarkan Kak Roy untuk meluapkan rasa kesedihannya. Dia menatap wajah Kak Roy yang tertunduk lesu dan terus menangis meraung hingga air matanya mengalir begitu deras.
Maka setelah tangisan Kak Roy sedikit mereda dengan perlahan Tante Desi mengusap lembut kepala Kak Roy dengan penuh kasih sayang.
"Nak sudah. Mengapa kamu harus membuang air matamu seperti ini ?,"ucap Tante Desi dengan pelan sambil terus mengusap kepala Kak Roy dan berusaha menenangkannya.
"Huhuhuhuhu..... Huhuhuhuhu.... Hiks... Hiks.
Roy kotor mah !Roy merasa jijik dengan diri Roy sendiri!,"ucap Kak Roy dengan penuh amarah dan kesal menjawab pertanyaan Tante Desi.
Tante Desi yang melihat Kak Roy terus menangis terisak-isak dan mulai meraung kembali. Membuat hatinya menjadi iba akan putra semata wayangnya itu. setelah itu Tante Desi mendekatkan kepala Kak Roy perlahan dalam dekapannya.
" Sudahlah nak, istighfar ...istighfar ingat...ingat Allah...astaghfirullahaladzim astaghfirullahaladzim ,"ucap Tante Desi berusaha untuk mengingatkan Kak Roy agar tidak larut dalam kesedihannya.
"Mah!, "panggil Kak Roy sambil sedikit berteriak kepada Tante Desi.
__ADS_1
" Iya Nak, mama disini bersamamu, "ucap Tante Desi kepada Kak Roy.
Kak Roy pun yang larut dalam kesedihannya. Lalu memeluk Tante Desi begitu erat untuk meluapkan semua rasa kepahitan dan rasa sesak yang menyelimuti dada dan pikirannya .Sungguh ia merasakan dirinya benar-benar hancur. Dia merasakan dirinya benar-benar hina dan kotor. Dia merasakan dirinya begitu berdosa dan ia begitu terlihat semakin terpuruk.
"Roy melakukan kesalahan mah....Roy melakukan kesalahan yang sangat besar... Hiks... Hiks... Hiks..., " tutur Kak Roy.
Tante Desi pun dengan sabar dan pelan mengusap air mata Kak Roy yang terus mengalir membasahi kedua pipi nya. "Kesalahan dan dosa apa yang kamu lakukan hingga anak mama menangis tersedu-sedu seperti ini ?,"tanya Tante Desi dengan lembut dan matanya yang berkaca-kaca.
Kak Roy perlahan mengangkat kepalanya dan menatap wajah Tante Desi. Bibirnya bergetar dan hatinya berkecamuk. Kak Roy sungguh benar-benar tidak kuasa dan tidak ingin menceritakan kejadian yang tidak pernah ia ingin lakukan dan bahkan membayangkannya pun dirinya tidak sudi.
Tante Desi yang mengerti apa yang ingin kak Roy sampaikan kepadanya .Lalu berusaha untuk menenangkan Kak Roy agar tidak semakin terpuruk dan menyesali apa yang telah terjadi kepada dirinya.
" Kamu tidak melakukan kesalahan dan dosa apapun. Bagaimanapun Rere itu sudah sah menjadi istrimu dan hubungan yang terjadi di antara kalian itu tidak ada kesalahan. Lalu untuk apa kamu menangisi akan semua hal yang sudah terjadi?,"ucap Tante Desi pelan sambil mengusap pipi Kak Roy.
"Tetapi Roy tidak menginginkannya mah, " bantah Kak Roy.
"Roy tidak mencintai Rere mah....huhuhuhuhu....Roy tidak menginginkan Rere....huhuhuhuhu....Roy hanya mencintai Rani ......huhuhuhuhu...Roy hanya mencintai Rani ......hanya mencintai Rani mah..... Huhuhu....., " ucap Kak Roy dengan sangat bersedih.
" Iya nak Mama tahu.
Mama tahu akan hal itu. Mama tahu bagaimana perasaanmu terhadap Rani. Mama paham bagaimana besarnya rasa cintamu kepada Rani tetapi kamu harus belajar menerima keadaan. Jika saat ini kamu sudah tidak pantas lagi untuk mencintai Rani .Karena Rani sudah menjadi istri orang lain dan kamu juga sudah menjadi suami orang lain nak. Dan mama berharap kamu ikhlas akan takdir yang Allah berikan kepadamu. Kamu harus menerimanya meskipun semuanya tidak akan mudah untukmu semuanya tidak sesuai dengan apa yang kamu harapkan semuanya tidak seperti apa yang kamu inginkan. Tetapi Percayalah Allah Subhanahu Wa Ta'ala pasti memiliki rencana yang baik dan indah untukmu dan juga Rani .Tetapi Mama mohon kamu jangan seperti ini nak. Kamu harus tegar ,kamu harus kuat dan yakin bahwa Allah Subhanahu Wa Ta'ala tidak akan membiarkan hamba-hambanya yang berada di jalan kebenaran akan terus terzalimi, akan terus disakiti dan Allah tidak akan membiarkan hamba-hambanya yang beriman akan terus lemah dan meragukan kebesarannya .Tidak nak, percayalah akan ada masa di mana semua kesedihan dan keterpurukan yang engkau alami Allah akan menggantinya dengan kebahagiaan yang tidak pernah engkau bayangkan sebelumnya. Dan selama itu belum terjadi Mama meminta kepadamu. Agar engkau menjadi anak mama yang tegar ,menjadi anak mama yang tangguh dan kuat serta tidak mudah menangis dan menyerah seperti ini, " ucap Tante Desi.
Setelah Kak Roy mendengar ucapan dari Tante Desi perlahan demi perlahan air matanya pun berhenti mengalir.
Meskipun di dalam hatinya penuh dengan rasa penyesalan dan kecewa tetapi ia berusaha untuk tegar seperti apa yang telah diminta Tante Desi kepadanya.
Tante Desi pun tersenyum kecil melihat Kak Roy yang sudah tidak menangis lagi. Lalu diusapnya kembali kepala Kak Roy dan mencium keningnya dengan penuh kasih sayang.
Dengan perlahan Tante Desi pun membantu Kak Roy untuk berdiri dan duduk di sofa di dekat Kak Roy terduduk di lantai.
Tidak berapa lama kemudian. Rere pun telah selesai berganti pakaian dengan rapi.Dia sudah keluar dari kamar mandi dengan wajahnya yang terlihat segar. Lalu berjalan perlahan mendekati Tante Desi dan Kak Roy.
" Tante, " ucap Rere pelan kepada Tante Desi.
Tante Desi pun menoleh kearah Rere, " Iya Re. Ada apa?, " tanya Tante Desi.
" Bagaimana Kak Roy?, "tanya Rere balik.
" Masih merasa sedih. Bukankah kamu dapat melihat sendiri bagaimana keadaannya, "jawab Tante Desi.
Rere pun secara perlahan berjalan .Dia ingin mendekati Kak Roy untuk duduk di sampingnya Kak Roy. Tetapi baru saja Rere hendak ingin duduk di dekat kak Roy. Tiba-tiba Kak Roy sudah berteriak melarang Rere untuk dekat dengan dirinya.
" Berhenti!,menjauhlah dariku!, "ucap Kak Roy sedikit berteriak keras dengan merentangkan lima jemari tangan kanannya ke arah Rere.
Rere yang tidak menyadari akan tindakan spontan Kak Roy tiba-tiba terkejut dan hampir terjatuh. Namun, ia dengan cepat segera berdiri sempurna di dekat Tante Desi.
" Aku bilang pergilah dari sini! dan kenapa kau masih tetap di sini .pergi !,"teriak Kak Roy yang tidak dapat mengontrol emosi nya saat melihat Rere.
" Pergi dari hadapanku! , " teriak Kak Roy kepada Rere.
Tetapi Rere tidak menggubris ucapan Kak Roy.
" Jika kamu tidak mau pergi dari hadapanku. Baiklah biarkan aku yang pergi, " gertak Kak Roy.
"Roy sudah Kenapa kamu berteriak-teriak seperti itu kepada Rere. Dia itu istrimu walau bagaimanapun keadaannya .Kamu tidak bisa memungkiri bahwa Rere adalah istrimu dan menjadi tanggung jawabmu," ucap Tante Desi pelan.
"Tetapi tetap saja mah Roy begitu sakit dan kesal melihat Rere dihadapan Roy, " ucap Kak Roy.
"Arghhhhh....... Pergilah dari hadapanku!, " teriak Kak Roy lagi.
"Sudahlah nak! ,Sudah hentikan!.Jangan semuanya engkau buat dalam keadaan emosi .Tenangkan dirimu, "ucap Tante Desi sambil menggenggam tangan Kak Roy dan berusaha untuk membuatnya teterdiam. Tante Desi pun segera menoleh ke arah Rere .
"Tante Mohon untuk sementara waktu kamu menjauh dulu dari Roy. Supaya dia jauh lebih tenang, " pinta Tante Desi kepada Rere.
Rere terdiam mendengarkan permintaan Tante Desi.
"Kamu tidak apa-apa kan? dan tidak merasa tersinggung kan Re, atas permintaan tante, " ucap Tante Desi kepada Rere yang masih berdiri dengan keadaan terdiam.
Dan tiba-tiba Rere berjalan maju mendekati Kak Roy yang semakin membuat Tante Desi terkejut dan Kak Roy menjadi semakin sangat kesal.
" Sebenarnya kenapa aku harus pergi dari hadapanmu Kak Roy. Apakah kamu tidak mengingat bagaimana dirimu itu menikmati kebersamaan dengan diriku?.Dan setelah itu engkau mengusirku begitu saja sekarang. Lalu di mana perasaan dan hatimu Kak Roy? Bukankah seharusnya aku yang menangis akan sikapmu yang begitu buruk terhadapku. Lalu kenapa di sini dirimu seolah-olah menjadi orang yang tersakiti. Padahal nyatanya kamu yang menginginkan diriku , "ucap Rere.
Tante Desi yang melihat sikap Rere juga sedikit terbakar amarah dan emosi perlahan bangkit berdiri dan mendekati Rere lalu mengusap lembut bahunya Rere .
"Sudah kamu juga jangan ikut-ikutan menjadi marah. Tolong dengarkan ucapan tante untuk hari ini kamu mengalah dan turunlah dulu ke bawah. Setidaknya kamu sarapan atau membuat minuman dulu di dapur .Dan biarkanlah Roy menjadi sedikit lebih tenang agar emosi dan kemarahannya tidak meledak-ledak seperti ini .Tante mohon kamu mau kan mengerti ucapan Tante, " ucap Tante Desi sambil memandang ke arah Rere.
Rere yang mendengar ucapan tante Desi yang sangat lembut dan begitu menyentuh hatinya.Membuat Rere pun menjadi luluh.Dia kemudian mengikuti apa yang diperintahkan oleh Tante Desi kepadanya.
"Baiklah tante. Rere akan turun ke bawah mengikuti saran dari tante. Namun Rere tidak ingin pergi dari rumah ini Tante ,"ucap Rere pelan lalu berjalan menuju pintu dan meninggalkan Tante Desi dan Kak Roy.
Tante Desi yang melihat Rere pergi berjalan meninggalkan kamar Kak Roy. Sekarang memandang ke arah Kak Roy. Perlahan Tante Desi mengusap rambut di kepala Kak Roy. "Kamu tunggu di sini sebentar ya nak. Mama buatkan minuman hangat untukmu. Setidaknya kamu cuci muka dan membersihkan badanmu terlebih dahulu. Agar kamu merasa lebih fresh dan baik, " ucap Tante Desi kepada Kak Roy.
"Baik mah, " jawab Kak Roy dengan spontan dan cepat.
Setelah Kak Roy mendengarkan permintaan Tante Desi. Kak Roy lalu mengusap air matanya yang masih membasahi kedua pipinya dan dengan cepat ia bangkit berdiri dan menuju ruangan lain untuk membersihkan tubuhnya.
Tante Desi pun melihat ke arah Kak Roy dan segera bangkit berdiri lalu mengikuti Kak Roy berjalan dari arah belakang.
"Kamu mau ke mana nak?,"tanya Tante Desi sedikit cemas melihat perilaku aneh Kak Roy.
__ADS_1
Kak Roy pun menoleh ke arah Tante Desi "Roy ingin mandi Mah, membersihkan tubuh Roy, "jawab Kak Roy pelan.
"Tetapi bukankah di dalam kamarmu juga terdapat kamar mandi lalu kenapa kamu harus mandi di ruangan lain?,"tanya Tante Desi.
"Sebab Roy tidak ingin menggunakan kamar mandi dan kamar Roy lagi Mah. Tempat itu sudah menjadi tempat yang Roy benci dan menjijikkan untuk Roy ingat ,"ucap Kak Roy sambil berjalan pergi meninggalkan Tante Desi.
Tante Desi hanya dapat terdiam mendengar ucapan dari Kak Roy.DIa hanya dapat menghela nafasnya melihat sikap yang ditunjukkan Kak Roy. Bagaimana pun Tante Desi menyadari kejadian ini memang sangat memukul hati putranya.
Tetapi untuk sesaat tante Desi sempat terlintas di dalam pikirannya. Bagaimana kejadian itu dapat terjadi kepada Roy dan Rere? padahal Roy sama sekali tidak mencintai Rere bahkan melihat kehadiran Rere saja Roy sudah tidak suka apalagi sampai terjadi kejadian seperti itu, pikir Tante Desi.
Lalu Tante Desi segera berjalan menuju dapur untuk menemui Rere.
Sesampainya di dapur Tante Desi langsung bertanya kepada Rere. " Apakah kamu melakukan sesuatu hal yang membuat Roy hilang kesadarannya?,"tanya Tante Desi kepada Rere yang sedang meminum susu hangat yang dibuatkan oleh asisten rumah tangga Kak Roy.
Rere langsung tersentak kaget mendengar pertanyaan Tante Desi, "Em... uhuk... uhuk.. uhuk.
Tante Desi terus memandangi gerak-gerik Rere. Dan Rere merasa tidak nyaman.
" Mengapa tiba-tiba tante berkata seperti itu kepada Rere. Apakah tante secara tidak langsung ingin menuduh Rere?,"tanya Rere kepada tante Desi dengan ekspresi wajahnya yang berpura-pura sedih.
"Bukan Re, bukan begitu masuk tante. Tante hanya mencoba untuk mengklarifikasi keadaan yang sebenarnya. Karena kamu tahu kan Roy itu tidak mungkin melakukan hal yang tidak ia sukai. Apalagi ini menyangkut dengan hubungan kalian berdua. Dan itu yang mengusik pikiran tante, "ucapterima tante Desi kepada Rere.
"Semua terjadi begitu cepat tante.Dan Rere tidak ingat jelas bagaimana semua bisa terjadi .Tetapi benar itu sudah terjadi tante. Apakah itu salah tante?,"tanya Rere dengan berpura-pura menampilkan matanya berkaca-kaca.
" Tidak nak.... tidak ada yang salah, " ucap Tante Desi sambil mengusap lembut kepala Rere.
Baguslah jika Tante Desi memihak diriku, batin Rere di dalam hatinya.
Tidak lama kemudian Kak Roy turun dari tangga. Dia sudah terlihat rapi dan lebih segar. Namun, tidak dengan raut wajahnya yang begitu sayu dan sembab.
"Kamu mau kemana nak?, " ucap Tante Desi yang melihat ke arah Kak Roy.
Kak Roy berjalan mendekati Tante Desi. Lalu memeluk Tante Desi sambil menyalami tangannya.
"Roy pergi dulu mah, " ucap Kak Roy.
"Kamu mau kemana nak?, " tanya Tante Desi cemas.
"Ke kantor pengacara keluarga kita mah. Roy sudah buat janji, " jawab Kak Roy,
Sementara Rere hanya dapat memnadangi wajah Kak Roy yang tidak memperdulikannya.
"Untuk apa kamu mau ke pengacara?, " tanya tante Desi sambil memegang pipi Kak Roy.
"Untuk mengugat cerai Rere mah, " ucap Kak Roy kepada tante Desi.
Tante Desi begitu syok dan terkejut mendengar ucapan Kak Roy.
"Nak bukankah pernikahanmu dan Rere adalah pernikahan Siri. Lalu untuk apa kamu memerlukan pengacara?, " tanya Tante Desi.
"Karena papanya Rere dan Pak Sugeng bekerjasama sudah melegalkan pernikahan Siri Roy dan Rere menjadi sah dan resmi diakui negara, " jawab Kak Roy.
"Bagaimana itu bisa terjadi tanpa sepengetahuan mu dan mam?, " tanya Tante Desi.
"Mama tanyakan saja sendiri kepada perempuan yang berdiri di samping mama?, " ucap Kak Roy ketus.
Tante Desi pun menoleh ke arah Rere.
"Apakah benar yang di ucapkan oleh Roy, Re?, " tanya tante Desi.
Rere terlihat gugup dan tegang.
"Sudah lah mah. Percuma Mama menanyakan hal tersebut kepada perempuan ini. Mana mungkin dia akan menjawabnya. Lagi pula jika ia menjawabnya semua perkataannya itu hanya ada kebohongan dan tipu muslihat saja ,"ucap Kak Roy dengan sinis.
Dan Kak Roy pun dengan perasaan kesal dan marahnya pergi berjalan menjauh dari Tante Desi dan Rere.
Sementara itu Tante Desi masih berusaha untuk mencari cara menyelidiki akan keraguannya kepada Rere dengan cara yang halus dan tidak disadari oleh Rere.
Rere pun masih diam terpaku memandangi Kak Roy yang berjalan pergi menjauh darinya tanpa berpamitan.
" Re, kenapa kamu melamun?, "tanya tante Desi.
" Akh, tidak tante, "jawab Rere.
"Re,tante harap kamu tidak memasukkan hati apa yang telah Roy ucapkan barusan .Saat ini ia sedang terbawa emosi dan kemarahan. Nanti jika emosinya sudah stabil dan reda tante akan berusaha membicarakan kepada Roy akan keputusannya untukmenceraikan dirimu, "ucap tante Desi kepada Rere.
Rere yang mendengar ucapan tante Desi pun langsung tersenyum bahagia ."Tante terima kasih ya karena Tante mau mendukung dan membantu Rere, " ucap Rere dengan wajah senang.
"Iya sama-sama nak, tetapi tante ingin menanyakan apakah benar yang diucapkan oleh Roy.j
Jika papamu dan papanya Reno bekerja sama atas pelegalan pernikahan kalian berdua, "tanya Tante Desi kepada Rere.
Rere terdiam sesaat sambil menganggukkan kepalanya, "Iya Tante itu benar ,tetapi bukankah itu baik tante untuk meresmikan pernikahan Rere dan Kak Roy agar sah di mata hukum, "jawab Rere kepada Tante Desi. "Iya tetapi seharusnya papamu mengkonfirmasinya dulu kepada tante maupun Roy agar tidak terjadi kesalahpahaman seperti ini.
Apalagi ini menyangkut tentang pernikahan kalian berdua, "ucap tante Desi kepada Rere. "Iya Tante .Maafkan Rere karena belum sempat memberitahukan informasi ini kepada tante, "balas Rere. Tante Desi pun menghela nafasnya sambil sekali melihat ke raut wajahnya Rere.
"Baiklah kalau begitu kita sarapan dulu ya Re, "ajak tante Desi kepada Rere.
"Iya Tante ," sahut Rere.
__ADS_1
Lalu Tante Desi dan Rere duduk di meja makan sambil menikmati sarapan pagi yang dibuatkan oleh asisten rumah tangganya Tante Desi.