Jodoh Pilihan Tuhan

Jodoh Pilihan Tuhan
penglihatan baruku.


__ADS_3

Cahaya matahari mulai naik meninggi, radiasinya terasa terik dan mulai menyengat meski sang angin bertiup menghembuskan kesejukan kami semua tetap memutuskan untuk meninggalkan tempat ini dan beranjak pulang. Pohon-pohon sengon yang berjajar menjulang tinggi berkombinasi antara tanaman albasia dan vetiver, menari-nari menggerakkan dedaunannya yang bergoyang mengucapkan salam perpisahannya. MasyaAllah pujiku di dalam hati mematri akan keindahan alam ciptaanNya yang terus mengusik pandangan mataku untuk tetap terpaku.


"Ran, ayo kita pulang nak, " ucap Ummah pelan sambil mengusap bahuku.


Hatiku terkejut sedikit mendengar suara lirih Ummah memecah heningku dalam metaddaburi penciptaanNya yang luar biasa. Bibirku terangkat kedua sisi hingga membuat lekukkan indah yang menghias kedua pipiku. "Baik Ummah," jawabku pelan. Berat rasanya kaki melangkah, namun waktu terus bergulir untuk mengingatkan diriku agar tidak terbuai dalam mubadziran waktu yang berharga.


Sesekali ku arahkan pandanganku ke arah sekitar melihat semua orang yang tersenyum bahagi,a khususnya Kak Rafa dan Wirda yang saling mencuri-curi pandang di dalam setiap kesempatan untuk melepas sesuatu perasaan yang mengganjal di hati mereka masing-masing. Yah kerinduan atas nama cinta yang sebentar lagi akan membuat mereka menyatu dalam sebuah hubungan yang legal dan halal di hadapan Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Pak Budi ,Enjid dan Abi pun saling tersenyum dan berbicara ringan dalam melangkahkan kakinya menuju mobil.


Lalu pandangan ku tertuju kepada Ustad Fariz yang terlihat seperti banyak berpikir dengan guratan-guratan garis-garis panjang di dahinya, ia begitu tampak berbeda dari biasanya. Mataku seolah tidak ingin berhenti untuk melihatnya, bukan karena aku terpaku akan ketampanan wajahnya. Tetapi lebih untuk mengoptimalkan rasa ingin tahuku tentang apa yang sebenarnya terjadi kepada Ustad Fariz yang terlihat seperti banyak memikirkan sesuatu dan lebih terkesan sangat serius akhir-akhir ini. Karena aku takut Ummah dan yang lainnya memergokiku memandangi Ustad Fariz, dimana nanti akan menimbulkan salah tafsir dalam pikiran mereka. Maka dengan cepat kualihkan pandanganku dari Ustad Fariz sambil bergumam di dalam hatiku.


Apa yang membuat sikap Ustad Fariz seperti itu? apakah ini hanya perasaanku saja atau mungkin memang wajahnya dan sikapnya memang seperti itu, batinku.


Tetapi hati dan pikiranku seakan tidak dapat tersinkronisasi dengan baik. Pikiranku terus berpikir apakah Ustad Fariz memang bersikap seperti itu sejak awal atau hanya perasaanku saja, karena setelah penglihatanku kembali mungkin aku melupakan bagaimana mimik raut muka dan tabiat Ustad Fariz,sehingga saat penglihatanku kembali aku sedikit terkejut melihat ekspresi maupun sikap Ustad Fariz yang berbeda, demikian pikirku yang terus berusaha menenangkan hatiku.


"Nak Rani memikirkan apa?, " tanya Bik Siti sambil memandang wajahku.


"Akh, tidak Bik, " jawabku sambil tersenyum menyipitkan kedua mata.


"Benarkah itu?, " tanya Bik Siti yang penuh arti ketidakpercayaan.


"Hmm, Iya Bik Siti. Ayo Bik Siti jangan mulai untuk bercanda dan menggoda Rani lagi yah, " kataku sambil tersenyum.


"Hehehehe, " suara Bik Siti meringgis.


Aku pun hanya memandangi wajah Bik Siti sambil melirik melihat Ustad Fariz yang berada tidak jauh dari Bik Siti.


DeG...


Aku tersentak kaget, kali ini Ustad Fariz melihat ke arahku dan dengan seketika pandangan mata kami beradu. Aku merasa canggung begitu pun Ustad Fariz yang seperti biasa lalu menundukkan pandangannya dariku.


Hufh..


Aku masih merasakan debar-debar yang menguasai irama detak jantungku, dan ini membuat diriku merasa tidak nyaman.


Kami semua pun sampai ditempat mobil terparkir dan masuk ke dalam mobil yang terbagi menjadi dua. Kak Rafa bergantian mobil dengan Pak Budi.


Pak Budi, Ummah, Abi, Enjid, dan Ustad Fariz berada dalam satu mobil. Mereka hendak pergi menyelesaikan urusan.


Sementara Kak Rafa, Wirda, Bik Siti dan diriku berada pada satu mobil yang kedua, dengan Wirda duduk di depan dekat Kak Rafa yang menyetir mobil.


Mobil yang kami tumpangi pun melaju dengan arah rute yang berbeda, dan saat mobil kami masing -masing melaju. Pandangan mataku yang menatap keluar jendela beradu kembali dengan pandangan Ustad Fariz yang menatap keluar jendela.Untuk beberapa saat kami terenyuh dalam tatapan yang penuh tanya menelisik rasa gundah dihati masing-masing, hingga laju mobil memisahkan pandangan kami.


Kulihat dari kejauhan Ustad Fariz terus menatap laju mobil yang dibawa oleh Kak Rafa, dan lebih dahulu melaju mendahului mobil yang dinaiiki Ustad Fariz.


Aku membisu berusaha memahami perasaanku.

__ADS_1


***


Tidak membutuhkan waktu yang lama untuk Kak Rafa membawa kami semua kembali ke rumah kediamannya. Di sepanjang jalan aku hanya terdiam tanpa banyak berkata-kata, karena pikiranku masih menelisik sikap aneh Ustad Fariz kepadaku. Dan saat mobil yang dikendarai oleh Kak Rafa sudah terhenti di depan pintu gerbang besar di depan rumahnya. MasyaAllah, mataku begitu takjub melihat kemegahan kediaman keluarga Ustad Fariz yang seperti istana. Apalagi saat Pak satpam membuka pintu pagar, dan Kak Rafa membawa mobil masuk ke halaman depan rumahnya untuk memarkirkan mobil yang ia kendarai. Sekali lagi mataku seakan terhipnotis melihat keindahan dan kemegahan kediaman Ustad Fariz yang baru pertama kalinya dapat kulihat langsung dengan indra penglihatanku yang telah kembali.


Bik Siti dan Wirda memanggil ku untuk turun, aku masih seakan berada di dalam mimpi menyaksikan semua yang kulihat.


Dengan perlahan aku pun turun dari mobil. Suwingggg....


Angin kembali berhembus pelan menyambut kedatangan ku di kediaman Imandar. Mataku memandang ke sekitar, melihat pohon-pohon yang hijau nan rindang berpadu indahnya beraneka bunga-bunga yang indah di setiap sisi halaman depan rumah yang begitu luas. Membuatku seolah terpaku menyaksikan penataan taman dengan aneka tanaman yang tersusun rapi penuh estetika. Pasti semua ini Ummah yang mengaturnya, batinku.


"Dek Rani ayo masuk kok malah melamun disitu!, " panggil Kak Rafa.


'Akh iya Kak Rafa sebentar, kalian masuk saja dulu. Rani masih ingin disini, "ucapku kepada Kak Rafa.


" Tidak bisa Dek Rani, di dalam Pak Gondrong dan Pak Hadi sedang menunggu Dek Rani, "kata Kak Rafa.


Wirda lalu memegang tanganku dan menarikku untuk masuk, aku sedikit kecewa karena masih ingin berada di halaman menikmati keindahan dan keasrian tanaman dan bunga-bunga yang tumbuh dengan indah dan begitu subur memukau pandangan mataku.


Dengan langkah sedikit pelan aku pun terpaksa masuk ke dalam rumah untuk menemui Pak Gondrong dan Pak Hadi.


Dan lagi pandangan mataku terus dibuat terpukau dan kagum akan keindahan penataan,hiasan,furniture material premium yang digunakan di kediaman Ummah.


Di ruang tamu Pak Gondrong dan Pak Hadi sedang duduk dan menyambut kedatangan kami. Kak Rafa pun menyalami mereka dan melemparkan senyuman hangatnya. Begitu pula denganku dan Wirda dan Bik Siti menuju dapur untuk mengambil makanan tambahan dan minuman untuk Kak Rafa, Wirda dan diriku.


Di ruang tamu kedua ini banyak terdapat sirkulasi udara seperti ventilasi dan jendela dengan bukaan yang cukup besar. Terasa sekali disini lebih sejuk dan banyak masuknya cahaya alami ke dalam ruangan ini. Rasanya begitu tenang dan damai disini.


Aku terus mengamati sekitarku dia area ruang tamu yang lebih banyak menonjolkan interior khas Jepang. Karena banyak terdapat ornamen kayu berwarna terang pada dinding ruangan, ditambah lagi lantai ruang tamu ini mengadaptasikan lantai tatami pada ruangan dengan hiasan perabot modern dari elemen kaca sehingga terkesan mewah tetapi tetap nyaman. Pada dinding-dindingnya di aplikasikan warna-warna netral yang mengarah ke earthy tones, seperti putih, coklat, dan beige. Dan di atas sofa panjang tempat kami duduk di tengahnya tergantung lampu gantung Jepang yaitu light bulb colour berwarna putih.


Pak Gondrong dan Pak Hadi lalu menyapa diriku yang terlihat asyik mengamati keadaan ruang tamu keluarga Ummah. Aku pun tersentak dan segera memberikan senyumanku kepada mereka.


" Alhamdulillah Pak Gondrong ikut senang mendengar dan melihat secara langsung penglihatan Nak Rani sekarang sudah kembali seperti sedia kala, "ucap Pak Gondrong berkata kepada diriku.


Aku Pun memandangi Pak Gondrong sambil tersenyum," Iya Pak Gondrong. Alhamdulillah Ini semua berkat doa-doa semua orang yang baik dan tulus kepada Rani, sehingga Allah Subhanahu wa Ta'ala mempermudah dan mengangkat sakit yang Rani derita, dan mengembalikan lagi penglihatan Rani, "ucapku dengan santun dan lembut. Lalu Pak Hadi yang dari tadi tersenyum dan melihat ke arahku juga ikut bertutur kepadaku.


"Tentu saja Allah Subhanahu wa Ta'ala tidak akan membiarkan orang yang baik seperti Nak Rani selamanya tertindas, karena ini sudah saatnya Nak Rani juga menjalani kehidupannya dari awal dengan tatanan hidup yang baru. Setelah sekian lama harus menderita karena keluarga Suprapto," ujar Pak Hari dengan senyum kecilnya.


Kemudian Bik Siti datang membawakan nampan berisi tambahan makanan ringan dan minuman, lalu mempersilahkan kami semua untuk menikmatinya. Bik Siti pun izin kembaki ke dapur untuk membantu asisten rumah tangga Ummah untuk menyiapkan menu makan siang. Setelah itu, Pak Hadi pun melanjutkan perkataannya kembali.


" Kedatangan saya kemari bersama Pakde saya yaitu Pak Gondrong adalah untuk menyerahkan semua aset kekayaan baik barang bergerak dan barang tidak bergerak peninggalan dari almarhum kakeknya Nak Rani ,untuk kami serahkan kepada Nak Rani selalu pemilik tunggal dan sah akan semua aset kekayaan yang berlimpah tersebut yang selama ini telah dirampas secara paksa dan nikmati secara cuma-cuma oleh Pak Suprapto dan seluruh anggota keluarga nya. Dan untuk itu, semoga Nak Rani dapat menggunakan semua aset peninggalan dari almarhum Pak Widiyanto selaku kakeknya Nak Rani dengan baik ,bijak dan berfaedah untuk kebaikan Nak Rani maupun semua orang, "tutur Pak Hadi sambil menyerahkan berkas-berkas dokumen berisi limpahan hal waris kepadaku.


Aku pun menerima dan mengambil dokumen tersebut dan membacanya. Lalu mewakafkan sebagian harta kekayaan peninggalan almarhum kakek untuk dibuat masjid, sekolah, rumah anak-anak yatim piatu, dan lain -lain. Mendengar niatku itu semua orang yang berada disitu takjub tidak bergeming.


" Benarkah apa yang Nak Rani putuskan ini?, "tanya Pak Hadi ragu.


" InsyaAllah iya Pak, nanti bangunan- bangunan seperti kediaman rumahnya keluarga Suprapto lebih baik dijual saja dan sisanya uangnya akan disimpan untuk memenuhi kebutuhan seperti rumah yayasan yatim piatu yang akan memerlukan uang di setiap bulannya. Kemungkinan perusahaan yang masih bisa dijalankan akan tetap dijalankan dengan Rani meminta bantuan Abi, Enjid maupun Ustad Fariz agar dapat terus berguna bagi kebaikan semua orang Pak. Krena jika Rani menjualnya atau menutupnya akan terlalu banyak orang yang mendapatkan PHK dan kehilangan pekerjaan yang akan sangat berdampak pada kehidupan banyak orang. Sehingga pabrik-pabrik dan perusahaan akan tetap beroperasi seperti biasa, tetapi hanya akan berganti nama saja Pak, "jelasku.

__ADS_1


Pak Hadi mengangguk.


" Oh ya nak Rani, Pak Sucipto mengatakan kepada saya jika Nak Rani akan keluar dari rumah ini dan hendak tinggal di kediaman rumah Nak Rani. Apakah Nak Rani sudah mendapatkan hunian yang akan Nak Rani tempati?, "tanya Pak Gondrong.


" Saat ini belum Pak, saya ingin memiliki hunian yang sederhana saja Pak. Pokoknya sesuai fungsi tempat tinggal pada umumnya untuk berteduh dari panas dan hujan serta nyaman, sekaligus saya ingin membuat rumah makan sederhana dan membuat toko roti juga kue tradisional meneruskan usaha almarhumah bunda saya yang nanti dapat dibantu dikelola oleh Bik Siti dan Pak Budi. Sambil meneruskan keinginan saya untuk melanjutkan pendidikan saya yang terputus Pak, " jawabku.


"Wah bagus itu Nak Rani. Apakah bapak perlu membantu merekomendasikan rumah untuk Nak Rani?, " tanya Pak Gondrong.


" Boleh saja Pak, nanti akan Rani pertimbangkan dan lihat sebelum memutuskan hunian mana yang tepat untuk Rani tinggali, " kataku.


Pak Gondrong dan Pak Hadi pun menggangguk dan terkesima mendengar penjelasan dan pengaturan kehidupanku selanjutnya setelah ini. Kami pun berbincang-bincang dalam banyak hal. Hingga Pak Gondrong memberitahukan diriku jika kakek sudah keluar dari rumah sakit dan sekarang sudah menjalani masa persidangan atas kasusnya. Miris rasanya hatiku mendengar kabar kakek, dimana hari-hari tuanya harus ia habiskan dalam sel tahanan. Namun, semua itu adalah akibat dan ulahnya sendiri yang harus ia pertanggungjawabkan dan nikmati hasilnya. Saat aku larut memikirkan tentang kakek. Pak Gondrong bertanya kepada ku, "Apakah Nak Rani tidak membesuk Nak Reno lagi setelah kalian resmi bercerai. "


Aku terdiam seketika dan terasa berat menjawab pertanyaan dari Pak Gondrong kepada ku, sehingga aku pun hanya menggelengkan kepalaku saja.


Pertanyaan dari Pak Gondrong seakan menelisik hatiku kembali tentang keadaan Kak Reno yang berusaha untuk kau abaikan dan kulupakan dalam kehidupanku.


Wirda mengenggam jemariku pelan, ia seakan tahu apa yang sedang kurasakan saat ini. Tidak lama setelah itu Ummah, Enjid, Abi, Ustad Fariz dan Pak Budi telah kembali dan bergabung bersama kami. Mereka semua asyik berbincang-bincang. Pak Hadi memberitahukan akan niatku tadi kepada yang lainnya.


Aku memandang ke sekitar mencari keberadaan Ustad Fariz yang tidak tampak. Dengan segera aku permisi meminta izin untuk ke toilet membuat alasan sambil mencari keberadaan Ustad Fariz.


Dan tiba-tiba pandanganku terhenti pada sosok Ustad Fariz yang sedang duduk dengan punggunnya membelakangiku. Aku bermaksud berjalan untuk mendekatinya dan menanyakan akan sikap anehnya padaku. Namun, belum sempat aku memanggil dirinya.


Wanita dengan hijab syar'i besar tersenyum memanggil diriku dan sedang duduk berhadapan dengan Ustad Fariz.


"MasyaAllah Dek Rani lama tidak bertemu, apa kabar Dek?, " tanya wanita itu ramah sambil menghampiriku.


"Alhamdulillah baik Kak Aisyah, " jawabku kaku dan canggung.


Lalu Kak Aisyah menarik pergelangan tanganku untuk bergabung dengan mereka. Awalnya aku enggan dan menolak secara halus ajakan dari Kak Aisyah, tetapi Kak Aisyah terus memaksaku dan dengan berat hati dipenuhi rasa tidak enak serta canggung, aku pun berjalan mengikuti langkah kaki Kak Aisyah dan duduk di sampingnya. Sesekali aku melirik ke arah Ustad Fariz yang seolah tidak bergeming dengan kedatanganku.


Ada apa sebenarnya dengan Ustad Fariz, batinku di dalam hati. Ustad Fariz pun seolah tidak bergeming dan bereaksi terhadap kedatanganku. Ia tetap fokus pada layar laptop yang berada di hadapannya dan seolah-olah sibuk sedang mengerjakan sesuatu.Berbeda dengan Kak Aisyah yang terus bertanya tentang keadaanku dan menanyakan banyak hal tentang diriku. Aku pun menjawab pertanyaannya satu persatu dengan pelan dan lembut kepada Kak Aisyah. Namun, pikiranku terus tertuju kepada Ustad Fariz yang tetap diam tanpa menyapa diriku. Sekali lagi aku berusaha untuk melihat ke arahnya untuk menyelidiki akan sikap nya yang dingin dan terkesan menghindariku,dan lagi pandangan kami bertemu dalam tatapan yang penuh tanya dan juga perasaan aneh yang menyergap. Seperti biasa Ustad Fariz menundukkan lagi tatapannya dan aku pun juga segera memalingkan wajahku menatap Kak Aisyah.


Ustad Fariz berbicara dengan Kak Aisyah seperti biasa dan seperti tidak ada rasa sungkan , berbeda halnya dengan diriku yang membuat dirinya begitu tidak nyaman berada di dekatku. Karena merasa canggung dan takut mengganggu aktivitas Ustad Fariz dan Kak Aisyah ,aku pun meminta izin untuk kembali ke ruang tamu. Meskipun Kak Aisyah melarang kepergianku, tetapi Ustad Fariz tetap diam tidak menyapa sama sekali diriku, bahkan untuk menyuruhku agar tetap duduk bersama mereka pun tidak ia katakan. Dia seperti terganggu dengan kedatanganku, yang akhirnya membuatku memutuskan untuk segera pergi meninggalkan mereka berdua. Dalam langkah kakiku yang perlahan dan diliputi rasa kegelisahan di hatiku, dari kejauhan aku mengamati dari balik dinding Ustad Fariz dan Kak Aisyah yang sedang berbicara.Mereka begitu dekat sekali dan kulihat terkadang senyum mengembang dari wajah Ustad Fariz.Begitu tidak ada rasa canggung ataupun sikap aneh yang ditunjukkan Ustad Fariz kepada Kak Aisyah. Hal itu sangat jauh berbeda jika Ustad Fariz berada di dekatku.


Ukh, hatiku terasa aneh melihat kedekatan mereka berdua, Seperti ada perasaan tidak nyaman menyaksikan pemandangan yang membuatku begitu sangat terusik.


"Ada apa dengan Ustad Fariz sebenarnya kepada diriku, "ucapku pelan sambil terus memandangi Ustad Fariz dan Kak Aisyah yang terus berbicara.


Dan disaat aku terus mengamati mereka berdua .Mendadak Wirda datang mengagetkanku dengan menepuk bahuku. "Ayo sedang mengintip Kak Fariz ya ,"ucap Wirda.


Aku pun tersentak kaget merasa tidak enak karena Wirda memergokiku memandangi Ustad Fariz dan Kak Aisyah, dengan segera aku pun menundukkan kepalaku dan menarik tangan Wirda agar segera berlalu dari sana. Tetapi Wirda tetap saja menggodaku dan membuat pipiku menjadi tersipu malu dan tidak dapat menjawab semua pertanyaan yang ia ajukan kepadaku.


Pikiranku masih tertuju akan sikap aneh Ustad Fariz yang ia tujukan padaku. Namun sesekali hatiku terasa nyeri melihat kedekatan Ustad Fariz dan Kak Aisyah yang baru saja kulihat dan terus terlintas dalam pikiranku. Hatiku terasa sangat terusik memikirkannya. Berulang kali aku beristighfar untuk tidak mengingatnya, tetapi semuanya seakan terus muncul tanpa pernah kuminta.


Wirda hanya tersenyum memandangi diriku sambil terus menggoda diriku tiada henti.

__ADS_1


__ADS_2