Jodoh Pilihan Tuhan

Jodoh Pilihan Tuhan
Permintaan kakek


__ADS_3

Dokter dan perawat pun masuk ke ruangan bunda untuk mengecek kondisi bunda.Aku,Kak Roy dan Wirda dipersilahkan untuk keluar.Akan tetapi entah kenapa hatiku begitu berat untuk pergi meninggalkan bunda.Jemariku kuat mengenggam tangan bunda seolah-olah tidak ingin melepaskan genggamanku.Aku terus menatap bunda dalam dan lama.Sungguh pandanganku tidak ingin lepas dari menatapnya meskipun hanya sekejap.Akh,perasaan yang sungguh aneh menjalar dalam sanubariku.Namun mungkin saja aku benar-benar merindukan kebersamaan ku dengan bunda.Bunda menatapku dan memberikan senyumannya yang begitu meneduhkan hatiku.Indah dan tenang dalam gambaran ayu paras bundaku.


Suara dokter memecah lamunanku,"Dek bisa menunggu diluar sebentar.Biar kami melakukan pemeriksaan terhadap bundanya adik?,"ucap dokter pelan.


"Sebentar ya dok,dua menit saja saya ingin memeluk bunda saya.Saya benar-benar merindukan bunda saya dok,"ucapku memohon.


Dokter pun tersenyum dan mengangguk.Dan tanpa disuruh aku langsung memeluk bunda begitu erat.Tanpa kusadari air mataku mengalir perlahan,"Rani sayang sekali dengan bunda.Bunda cepat sembuh ya Bun.Supaya kita bisa bersama lagi.Rani ingin selalu dekat dengan bunda,"ucapku terisak.


Bunda mengusap air mataku perlahan,"Loh,kok putri bunda malah menangis.Bunda baik-baik saja nak.In syaAllah bunda akan selalu bersama Rani dan bunda akan selalu mendukung semua keputusan Rani selama pilihan Rani berada pada jalan kebenaran untuk mengharap ridho dari Allah ta'ala semata sayang.Jangan menangis lagi ya nak.Bunda juga sangat menyayangi Rani.Rani harus kuat dan tumbuh menjadi putri bunda yang sholihah,"ucap bunda sambil mengecup keningku dengan penuh kasih sayang.


Mendengar ucapan bunda tangisku perlahan memudar namun gejolak rasa khawatir dan cemas akan ketakutan terus bergelayut dalam sanubariku.Wirda memegang pundakku lembut,"Ran,ayo kita keluar sebentar dan nggak lama kok nanti setelah bunda diperiksa kita masuk lagi,"bujuk Wirda.


"Iya Rani.Betul kata Wirda,"sahut Kak Roy menimpali.


Akhirnya dengan perasaan yang sangat berat aku pun keluar dari ruangan bunda bersama Kak Roy dan Wirda.Namun pandanganku terus tidak ingin lepas menatap bunda.Wirda yang melihatku berusaha untuk menenangkanku,"Ran,udah jangan terlalu cemas.Bunda akan baik-baik saja,yakinkan semuanya kepada Allah,"ucap Wirda sambil tersenyum.


Aku pun mengangguk dan keluar dari ruangan bunda.Rasanya begitu lama sekali aku menunggu dokter dan perawat keluar.Aku terus mondar-mandir dan merasa gelisah.Hingga tidak lama dokter dan perawat pun keluar dari ruangan bunda.Aku pun bergegas mendekat dan segera menanyakan kondisi bunda pada dokter,"Dok,bagaimana keadaan bunda saya?,"tanyaku cemas.


Dokter yang melihat kegelisahanku berusaha menenangkan diriku,"Bundanya adik saat ini sedang tertidur setelah mendapat suntikan dan minum obat.Saat ini kondisinya masih terus dalam pantauan kita.Adik yang tenang dan do'akan untuk kesembuhan bundanya saja.Dan satu hal lagi mohon saat ini biarkan bunda adik untuk tidur dan beristirahat serta jangan diganggu dulu sebab bunda adik belum sepenuhnya pulih.Namun adik jangan terlalu khawatir ya.Tetap banyak berdo'a kepada Allah karena hanya Dialah yang dapat memberikan kesembuhan untuk bunda adik.Baiklah saya tinggal dulu ya dik,"ucap dokter tersenyum dan berlalu pergi.


Kak Roy mendekatiku,"Ran,duduk saja dulu ya,"bujuknya.


Aku pun mengangguk dan berjalan mendekati Wirda yang sedang duduk menatapku.


"Yang tenang ya Ran,"ucap Wirda.


"Oh ya kakak belikan minuman ya?mau hangat atau dingin kira-kira?,"tanya Kak Roy.


Wirda lalu spontan menjawab,"Wirda yang dingin aja kak."


"Oh iya Wir siap.Dan Rani mau hangat atau dingin Ran?,"tanya Kak Roy memandangku.

__ADS_1


"Rani nggak usah aja kak,"ucapku lesu.


"Hmmmmm jangan gitu dong Ran.Kakak belikan minuman hangat saja ya Ran dan nggak boleh menolak.Ok!,"ucapnya dengan sumringah.


Aku pun yang melihat senyumnya tidak kuasa menolak,"Baiklah kak.Terima kasih banyak ya kak,"ucapku pelan.


"Santai saja Ran.Sekarang Rani jangan berpikiran yang macam-macam ya.Please,demi bunda,"ucap Kak Roy sambil memberikan senyumnya yang begitu teduh.


Aku mengangguk pelan mendengar ucapan Kak Roy dan ia pun terlihat senang.Lalu Kak Roy pergi menuju kantin.Sementara aku dan Wirda menunggu di kursi di depan ruangan bunda.Saat aku dan Wirda sedang asyik berbicara tiba-tiba samar suara seseorang berteriak memanggil namaku.Aku dan Wirda menoleh ke arah sumber suara yang memanggilku.Dan betapa kagetnya aku saat melihat Mbak Riska sedang berlari tergopoh-gopoh menuju arahku.Napasnya tersengal,wajahnya pucat pasi penuh kekhawatiran.Aku dan Wirda yang melihat kondisi Mbak Riska seperti itu segera bangkit dari duduk dan mendekatinya.


"Mbak,Mbak Riska kenapa?,"tanyaku khawatir.


Mbak Riska memegangiku dan berusaha untuk berbicara padaku,"Ughhhh....aghhhhhhh..ughhh..Ran...Raniiii..bi...sa..i..kut..Mmmbakk..se..ka..ruang,"ucapnya dengan napas tersengal-sengal.


Aku menjadi sangat khawatir melihat kondisi Mbak Riska,"Iya mbak,tetapi ada apa mbak?,"tanyaku penasaran sambil memegang tangan Mbak Riska.


"Kakek..Ran..Kakek...,"ucap Mbak Riska sambil menangis.


Aku yang melihat Mbak Riska menjadi semakin khawatir.


"Kakek terkena serangan jantung Ran.Sekarang kakek ada di ruang ICU dan memanggil nama Rani terus,"ucap Mbak Riska menangis.


"Ya Allah,"ucapku kaget.


"Ayo Ran,ikut mbak sebentar,"ucap Mbak Riska sambil menarikku.


Aku bingung untuk pergi dengan Mbak Riska tetapi aku juga cemas dengan keadaan kakek.Akan tetapi bunda tidak ada yang menungguinya.Hatiku bimbang,hingga akhirnya Wirda berinisiatif untuk tetap menunggui bunda dan sementara aku ikut dahulu dengan Mbak Riska.Lalu tanpa berlama-lama lagi aku dan Mbak Riska segera menuju ke tempat kakek.


Sesampainya di depan ruang ICU sudah ada Pak Sugeng,Bu Sri,Kak Reno serta beberapa ajudan keluarga mereka.Bu Sri lalu menghampiriku dan memelukku sambil menangis.Aku juga tidak kuasa melihat kesedihannya.Tidak lama kemudian dokter yang memeriksa kakek keluar.Ia menjelaskan bahwa kondisi kakek saat ini mulai membaik tetapi tidak sepenuhnya.Dokter meminta kami semua untuk tidak memberikan tekanan ataupun membuatnya sedih karena dapat berakibat fatal pada kesehatan kakek.Setelah itu aku ditemani Pak Sugeng,Bu Sri dan Kak Reno masuk ke ruangan kakek.


Didalam kakek terlihat sangat lemah namun beliau tetap menyadari kedatangan kami semua.Hingga suaranya lirih memanggil namaku agar mendekatinya.Melihat kondisinya seperti itu aku sungguh tidak kuasa dan sedih.Lalu aku genggam jemarinya.Kakek menatapku dalam dan lekat.Suaranya begitu lirih dan pelan,"Ran..Rani cucuku."

__ADS_1


"Iya kek.Rani disini,"ucapku pelan menahan tangis.


"Berjanjilah pada kakek Rani.Kakek mohon,berjanjilah,"pintanya pelan padaku."


"Janji apa kek,"tanyaku sambil menatapnya.


Lalu kakek memanggil Kak Reno untuk mendekat di sampingku.


"Iya kek.Reno disini,"ucap Kak Reno dengan matanya yang berkaca-kaca.


Perlahan kakek meletakkan tanganku dan Kak Reno bertumpuk bersamaan dengan genggaman kakek.Aku menoleh ke arah Kak Reno dan sebaliknya Kak Reno melihat ke arahku.


"Berjanjilah pada Kakek bahwa apapun yang terjadi kalian berdua akan tetap bersama sebagai suami istri serta tidak akan berpisah mengakhiri pernikahan kalian.Berjanjilah!,"suara kakek begitu lirih.


Aku yang mendengar ucapan kakek begitu terkejut dan langsung menatap ke arah Kak Reno,Pak Sugeng dan Bu Sri.


Kakek kembali meminta padaku,"Rani,kakek mohon berjanjilah pada kakek."Lalu kakek meminta Kak Reno untuk berjanji pula,"Reno,kamu juga harus berjanji pada kakek untuk tidak meninggalkan dan melepaskan Rani serta akan selalu menjaganya.Berjanjilah,"pinta kakek.


Pak Sugeng dan Bu Sri semakin menangis melihat kondisi kakek.Napas kakek semakin tersengal melihat kondisinya akhirnya Kak Reno berkata,"Iya kek.Reno berjanji untuk tidak melepaskan Rani apapun yang terjadi.Reno akan selalu menjaganya kek,"ucap Kak Reno sambil menangis.


"Rani,kakek ingin mendengar janjimu nak,"ucap kakek lirih.


Aku sungguh bingung.Di satu sisi aku ingin terbebas dari pernikahan siri ini.Namun di sisi lain aku tidak ingin membuat kondisi kakek semakin memburuk.Aku benar-benar berada dalam dilema besar.


Pak Sugeng dan Bu Sri seperti memberikan isyarat kepadaku agar aku memenuhi permintaan kakek begitu pula Kak Reno yang terus menatapku sambil menunggu jawabanku.


Aku begitu ketakutan akan keputusan yang akan kuambil.Hatiku semakin khawatir dan gelisah.Akan tetapi kondisi kakek semakin memburuk.Dengan menyebut asma Allah bibirku pun mengiyakan permintaan kakek.


"In syaAllah Allah iya kek.Rani akan tetap bersama Kak Reno,"ucapku pelan dengan gemetar.


Kakek yang mendengar ucapanku tersenyum pelan.Beliau mengenggam tanganku dan tangan Kak Reno erat.

__ADS_1


Sekali lagi aku dan Kak Reno beradu pandangan.Wajahnya yang takut dan cemas terlihat lega begitu pula Pak Sugeng dan Bu Sri.


Namun aku masih diam membisu dalam keputusan yang aku ambil.Semua terasa berbeda dalam sketsa skenario Sang Pencipta.Rasanya hambar aku tidak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya atas keputusan yang telah aku buat.Sebuah janji yang mengikatku untuk mengarungi kehidupan bersama seorang pria yang tidak kucintai saat ini.Kuatkan aku Ya Allah,pintaku dalam hati.


__ADS_2