Jodoh Pilihan Tuhan

Jodoh Pilihan Tuhan
Ikhtiar Sang Penolong.


__ADS_3

Malam semakin bertambah larut.


Udara malam yang dingin seakan membuat bulu kuduk merinding.


Tidak ada lolongan suara anjing, ataupun suara burung hantu yang beraktivitas di malam hari.


Langit pun terlihat gelap dan suram, tanpa ada lukisan rasi bintang yang memberi warna pada selimut malam.


Sepi dan sunyinya dunia,


Keadaan terasa kosong dan hampa.


Sesekali hanya terdengar langkah kaki kecil yang suaranya menggema di tengah tenangnya malam ini.


Sang Bayu malam entah pergi ke mana, ia pergi tanpa menghembuskan dirinya.


Tetapi mengapa udara terasa beku meski sang bayu tiada.


Pandangan terasa samar lalu buram dan menghitam.


Ada rasa nyeri dan perih yang menjalar pelan.


Namun, bertahap memenuhi setiap rongga sel yang mengisi tubuh kaku ini.


Sekilas dalam ketidakmampuan jangkauan indra penglihatan, samar-samar bayangan hitam tampak mendekat dalam pantulan kilauan putih yang menyilaukan.


Rasanya masih berat dan kaku, tetapi hatiku mencoba untuk berikhtiar melawan kepasrahan diri.


Aku berusaha mencoba lagi, lagi dan lagi tetapi hasilnya masih nihil.


Apakah aku harus berpangku tangan atau berpura-pura menyerah?


Untuk mendapatkan rasa iba atau uluran tangan yang dapat membantuku menopang tubuh lemah ini.


Namun ,pikirku sampai kapan aku bergantung kepada orang lain.


Bukankah Allah bersamaku, maka itu sudah lebih dari cukup bagiku.


Lisan ku bergetar menawaittukan ragaku untuk bangkit.


Tidak ada kata menyerah, aku harus kuat gejolak batinku berkata demikian.


Bismillah ya Allah, bantulah aku untuk menggerakkan ragaku yang lemah ini ucapku dalam hati.


Mataku terbuka dan memandang sekitar.


Seluruhnya putih, putih dan putih.


Apakah aku sudah tiada? tanyaku pada diri sendiri.


Hatiku berdebar kencang seketika, semakin lama semakin kuat tidak menentu.


Lalu nafasku terasa sesak dan tersengal-sengal.


Aku mulai merasakan ketakutan.


Tuhan bagaimana bisa aku pergi secepat ini.


Di mana semua masalah yang kuhadapi belum terselesaikan dengan baik.


Ucapku mempertanyakan keadaan diri ini.


Hingga jemariku bergerak perlahan menyentuh sesuatu yang mengejutkanku.


"Dek Rani sudah bangun?,"tanya suara seorang perempuan memanggilku.


Perlahan dalam kekaburan mataku yang masih belum stabil. Aku memandangnya lekat dan dalam untuk berusaha mengenali siapa gerangan sosok dirinya yang ada di sampingku saat ini.


Perempuan dengan hijab syar'i batinku dalam hati.


Oh, Tuhan terima kasih aku bersyukur.


Ternyata aku masih hidup dan belum tiada.

__ADS_1


Bibirku tersenyum kecil seketika.


"Dek Rani apakah baik-baik saja?,"tanya perempuan yang ada di sampingku lagi.


Namun, lidahku terasa keluh untuk menjawab pertanyaannya.


Dan dengan sekuat tenaga aku mencoba membuka kedua mataku selebar-lebarnya.


Untuk menjangkau dan melihat dengan jelas perempuan yang memanggil namaku.


Samar dan samar dalam pandanganku dan masih buram.


"Apa yang Dek Rani rasakan?,"tanya perempuan yang di dekatku itu kembali.


Oh Tuhan, kenapa lidahku terasa sangat berat untuk berbicara dan pandanganku masih saja tetap kabur untuk melihat di sekitar, ucapku di dalam hati.


Tidak berapa lama perempuan yang ada di dekatku berjalan menjauh dariku. Terdengar dari suaranya ia memanggil perawat dan dokter jaga untuk melihat kondisiku.


"Dok,tolong coba lihat kondisi dan keadaan Dek Rani .Saya sudah tiga kali memanggilnya tetapi belum ada respon dari Dek Rani. Meskipun matanya sudah melihat tapi dia masih saja tetap diam. Apakah ada sesuatu hal yang terjadi dengan Dek Rani dok?,"tanya perempuan yang tadi berdiri di dekatku.


"Sebentar Mbak saya cek dulu keadaan pasien,"ucap dokter kepada perempuan yang memanggilku.


Dokter dan perawat melihat kondisiku.


Dokter segera melakukan pemeriksaan dan penanganan terhadapku.


"Sepertinya besar kemungkinan pandangan kabur dari pasien akibat getaran hantaman benda atau sesuatu yang keras dan sampai ke kepala pasien sehingga menyebabkan trauma yang secara tidak langsung berpengaruh pada otak untuk itu selanjutnya setelah ini akan dilakukan CT scan untuk melihat di kepala pasien apakah ada pendarahan otak atau tidak. Dan untuk mata pasien yang kabur atau belum dapat merespon nanti akan kita rujuk dengan melakukan pemeriksaan khusus pada mata dengan menggunakan oftalmoskop atau slitlamp. Nanti akan kita lihat apakah pasien mengalami pergeseran karena trauma benda tumpul atau tidak tetapi jika ada indikasi yang berbahaya .Kemungkinan kami selaku paramedis akan menyarankan tindakan operasi berdasarkan penyakit yang diderita oleh pasien,"ucap dokter jaga yang memeriksa keadaanku.


Mendengar apa yang dokter sampaikan kepada perempuan yang ada di sampingku hatiku merasa sedikit kacau dan takut. Ya Allah, semoga tidak terjadi sesuatu hal yang buruk padaku, ucapku dalam hati.


"Baik dok terima kasih atas analisanya. Jadi untuk sekarang bagaimana keadaan Dek Rani dok?,"tanya perempuan yang memanggil namaku kembali.


"Untuk sekarang saya belum bisa memastikan. Sebab dalam beberapa jam ke depan hingga esok hari pasien masih dalam pemantauan dan dalam masa observasi kami. Jadi untuk sementara kita biarkan dulu pasien beristirahat .Dan jika terjadi indikasi yang berbahaya atau sakit yang berlanjut Mbak nanti bisa langsung ke dokter penjaga atau perawat yang akan segera mengevaluasi dan memberikan tindakan kepada pasien. Sementara ini pasien sudah kami berikan obat, jadi kita tunggu bagaimana pengaruh dari reaksi obat tersebut bekerja atau tidak kepada pasien,"ucap dokter jaga menerapkan kepada perempuan yang ada di sampingku.


"Baik dok terima kasih, atas penjelasannya,"ucap perempuan yang ada di sampingku kepada dokter.


Setelah memeriksa keadaan dan kondisiku dokter dan perawat meninggalkanku dan perempuan yang ada di samping.


Suaranya seperti tidak asing bagiku dan aku pernah mendengar suaranya.Tetapi di mana aku lupa.


Namun,kehadirannya sangat membuatku merasa tenang dan nyaman.


Andai saja lidahku tidak sekeluh ini tentu aku dapat menanyakan siapa dirinya.


Namun, sudahlah aku tidak ingin terlalu banyak berpikir.


Karena yang ku pikirkan sekarang adalah bagaimana penglihatanku bisa pulih kembali dan aku dapat berbicara seperti sedia kala.


Dan sungguh aku tidak mampu membayangkannya jika penglihatanku tidak bisa pulih kembali dan aku tidak dapat berbicara. Bagaimana aku dapat bertahan?


Tetapi, sekali lagi aku percaya akan keputusan Allah Subhanahu Wa ta'ala terhadap diriku.


Sesaat sebelum aku memejamkan mata dan ingin tertidur karena pengaruh obat yang diberikan dokter padaku.


Kudengar suara lirih nan merdu dari perempuan yang ada di sampingku.


Ia melantunkan ayat suci Al-Quran yang membuatku semakin tenang dan merasa sangat beruntung.


Ya Allah terima kasih karena dibalik setiap kesulitanku.Engkau selalu menolongku dengan menghadirkan orang-orang baik yang sholeh dan sholehah , dimana kehadiran mereka selalu mengingatkanku akan kebesaranMu. Supaya aku selalu bersyukur tanpa pernah meragukanMu.


Aku menyimak dengan khidmat perempuan disampingku melantunkan Al-Qur'an.


"Kullu nafsin za'iqatul-maut, wa nablukum bisy-syarri wal-khairi fitnah, wa ilaina turja’un.


(Artinya:Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya). Dan hanya kepada Kamilah kamu dikembalikan)".


"Al-Qur'an Surat Al-Anbiya ayat 35,"ucapnya lirih.


Hatiku damai dan merasakan ketenangan.


Mataku terasa sangat berat dan lekat.


Aku begitu mengantuk dan tertidur terlelap.

__ADS_1


 


Melihatku yang sudah tertidur pulas perempuan yang ada di sampingku segera menyelesaikan membaca Al-Quran.


Dia berdiri dengan perlahan agar tidak membangunkan diriku.


Lalu ia berjalan ke arah perawat dan dokter jaga yang sedang berjaga.


"Mbak saya titip pasien yang bernama Rani sebentar ya. Saya ingin keluar sebentar,"ucap perempuan yang ada di sampingku kepada perawat.


"Iya mbak,"Jawab perawat kepada perempuan itu.


Tidak lama setelah itu, perempuan yang menungguiku itu keluar dari ruang UGD.


Matanya memandang sekitar seolah mencari sesuatu yang ingin Ia temui.


Hingga senyumnya sedikit mengembang saat ia sudah menemukan apa yang ia cari.


Kemudian ia berjalan mendekati ke arah pandangannya yang menjadi tujuannya.


"Afwan, saya mengganggu ustad,"ucap perempuan itu.


Ustad Fariz yang sedang duduk dengan Pak Budi sedikit terkejut dengan kehadiran perempuan itu.


"Astagfirullah .Iya ada apa ukhti Aisyah?,"tanya ustaz Faris kepada perempuan yang bernama Aisyah.


"Begini ustad, saya ingin menyampaikan bahwa tadi di dalam Dek Rani sempat terbangun dan sadar. Matanya memang terbuka dan melihat tetapi ia tampak seperti kaku dan masih lemah. Saya mencoba memanggilnya tiga kali dan bertanya tentang keadaannya, tetapi Dek Rani tidak merespon dan hanya tetap diam dengan pandangan mata terbuka tetapi tidak fokus melihat ke arah saya,"ucap perempuan yang bernama Aisyah.


"Lalu apakah ukhti sudah memanggil dokter atau perawat untuk memeriksa keadaan Dek Rani?,"tanya ustad Fariz kepada Ukhti Aisyah.


"Alhamdulillah sudah saya lakukan ustad,"jawab Ukhti Aisyah.


"Lalu apa yang dokter katakan Nak Aisyah?," sahut Pak Budi yang menyela pembicaraan antara ustad Faris dan Ukhti Aisyah.


Ukhti Aisyah terdiam sesaat ia berusaha kembali mengingat apa yang telah dokter sampaikan kepadanya dan mencoba untuk mengcopy paste apa yang telah dikatakan dokter kepada ustad Fariz dan Pak Budi.


"Bismillah, seingat dan berdasarkan kemampuan daya ingat saya jika tidak salah dokter mengatakan seperti ini:


"Sepertinya besar kemungkinan pandangan kabur dari pasien akibat getaran hantaman benda atau sesuatu yang keras dan sampai ke kepala pasien sehingga menyebabkan trauma yang secara tidak langsung berpengaruh pada otak untuk itu selanjutnya setelah ini akan dilakukan CT scan untuk melihat di kepala pasien apakah ada pendarahan otak atau tidak. Dan untuk mata pasien yang kabur atau belum dapat merespon nanti akan kita rujuk dengan melakukan pemeriksaan khusus pada mata dengan menggunakan oftalmoskop atau slitlamp. Nanti akan kita lihat apakah pasien mengalami pergeseran karena trauma benda tumpul atau tidak tetapi jika ada indikasi yang berbahaya .Kemungkinan kami selaku paramedis akan menyarankan tindakan operasi berdasarkan penyakit yang diderita oleh pasien".


Ukhti Aisyah mengucapkan kembali apa yang dikatakan dokter kepadanya, lalu menyampaikannya kembali kepada ustad Fariz dan Pak Budi.


"Semoga keadaan nak Rani tidak sampai parah. Bapak benar-benar mengkhawatirkan keadaan nak Rani,"ucap pak Budi dengan wajah sedih.


"Kita banyak-banyak berdoa kepada Allah Subhanahu Wa ta'ala ya pak.Semoga Dek Rani segera diangkat penyakitnya dan segera sehat seperti sedia kala,"tutur ustad Fariz yang mencoba membuat Pak Budi merasa tenang.


"Lalu sekarang bagaimana keadaan nak Rani,"tanya Pak Budi pada ukhti Aisyah.


Saat ini dek Rani sedang tertidur pulas Pak, setelah dokter memberikan obat. Sepertinya obat yang diberikan dokter ada efek kantuknya Pak.


Tadi setelah dokter memeriksa dan menganalisa keadaan serta kondisi Dek Rani. Untuk sementara waktu dokter mengatakan belum bisa menyimpulkan keadaan Dek Rani sepenuhnya. Sebab Dek Rani masih dalam masa observasi dan dalam pemantauan dokter. Kita disuruh menunggu hingga esok hari jika ada keluhan atau sakit yang diderita oleh daerah ini bertambah parah atau nyeri maka akan segera dilakukan tindakan kepada Dek Rani. Jadi intinya sekarang Dek Rani harus lebih banyak beristirahat dulu Pak,"ucap ukhti Aisyah yang menjelaskan dengan panjang lebar kepada Pak Budi yang terlihat sangat khawatir.


"Jadi sekarang nak Rani belum bisa dilihat keadaannya nak Aisyah?,"tanya Pak Budi kepada Ukhti Aisyah.


"Untuk sementara ini Dek Rani biarkan beristirahat dulu Pak, supaya proses penyembuhannya cepat. sehingga Dek Rani tidak perlu melakukan tindakan yang besar seperti operasi.Apalagi ini kan sudah malam pak, sekaligus Bapak dan ustad Fariz juga beristirahat. Dan saya juga permisi masuk ke dalam lagi untuk menemani Dek Rani,"ucap Ukhti Aisyah.


"Benar Pak Budi apa yang dikatakan ukhti Aisyah. Sekarang lebih baik kita juga beristirahat. Supaya esok hari kita juga lebih baik dan fresh menyiapkan langkah dan tindakan selanjutnya yang akan kita ambil dan tempuh untuk kesembuhan Dek Rani,"ucap ustad Fariz kepada Pak Budi.


"Iya nak Fariz dan terima kasih juga nak Aisyah karena sudah mau menjaga dan menemani nak Rani,"ucap pak Budi kepada ustad Fariz dan Ukhti Aisyah.


"Baiklah Pak Budi kalau begitu kita juga masuk ke dalam menemani Roy temannya Dek Rani. Oh iya, apakah Pak Budi tidak mempunyai nomor telepon keluarganya Dek Roy yang dapat dihubungi untuk memberitahukan keadaan dan kondisi Dek Roy sekarang?,"tanya ustad Fariz kepada Pak Budi.


"Bapak tidak mempunyai nomor telepon keluarganya nak Roy, nak Fariz,"jawab Pak Budi singkat.


"Oh ya Sudah Pak kalau begitu. Kita tunggu saja sampai besok Dek Roy bangun. Sekarang mari kita masuk ke dalam untuk menemani Dek Roy,"ajak ustad Fariz kepada Pak Budi.


Pak Budi pun mengangguk tanda bahwa Ia setuju dengan saran yang disampaikan oleh ustad Fariz kepadanya.


Lalu mereka bertiga pun masuk ke dalam rumah UGD.


Di mana Ukhti Aisyah menemani dan menjaga diriku.


Sementara ustad Fariz dan Pak Budi di sebelah ruanganku berada, mereka menemani dan menjaga Kak Roy yang juga sedang tertidur akibat pengaruh obat yang diberikan dokter kepadanya.

__ADS_1


__ADS_2