
Kak Roy mendekati bunda dengan senyumnya yang begitu teduh.
"Bun,bagaimana kondisi bunda sekarang?apakah sudah merasa lebih baikkan Bun?,"tanya Kak Roy perhatian.
"Alhamdulillah nak Roy,bunda sudah merasa lebih baik.Terima kasih ya nak,untuk semua bantuan dan dukungannya kepada Rani,"ucap bunda.
Kak Roy tersenyum sambil mengenggam jemari bunda,"Apa yang bunda katakan.Bunda sudah Roy anggap seperti ibu Roy sendiri Bun.Jadi bunda tidak perlu berterima kasih kepada Roy ya Bun."
Bunda tersenyum dalam pandangan teduhnya menatap Kak Roy lalu meneruskan ucapannya kepada Wirda,"Bunda juga berterima kasih kepada nak Wirda yang juga selalu berada di samping Rani dan mendukungnya setiap saat."
"Aduh,bunda kenapa bilang seperti itu sih Bun.Rani itu sudah seperti saudari Wirda sendiri Bun.Kita kan sudah seperti keluarga Bun.Jadi bunda tidak perlu berkata demikian ya Bun,"ucap Wirda dengan sumringah.
"Maa'syaAllah.Rani sungguh beruntung memiliki sahabat seperti nak Roy dan nak Wirda,"tutur bunda pelan.
Aku pun tersenyum dan saling pandang antara Kak Roy dan Wirda.Namun tidak lama kemudian pintu pun terbuka memecah senyum kebahagian kami.Pandanganku dan lainnya menuju ke arah suara pintu yang terbuka.Tetapi aku sangat terkejut saat seluruh keluarga Pak Suprapto bersama Kak Reno datang bersamaan.Jantungku berdegup kencang dan aku merasa cemas.Namun bunda dengan cepat mengenggam tanganku.Sehingga aku sedikit terkejut dan menoleh ke arah bunda yang memberikan anggukan kepalanya padaku.Yah,aku tahu apa yang bunda inginkan yaitu untuk memaafkan mereka semua.Maka kutarik napas panjang untuk sekali lagi berusaha mengikhlaskan semua.
"Allahumma inni as-aluka shoros syakirina laka wa'amalal kho-ifina minka wa yaqinal'abidina laka.Artinya:Ya Allah,aku memohon kepadamu kesabaran orang-orang yang bersyukur pada-Mu,amal orang-orang takut pada-Mu,keyakinan orang-orang yang beribadah pada-Mu,"ucapku begitu lirih.
__ADS_1
Semua mata memandang ke arah seluruh keluarga Suprapto.Raut wajah mereka tampak sayu dan lemas.Sesekali pandangan mataku bertemu dengan Kak Reno.Ia ingin mencoba tersenyum padaku namun sekali lagi aku langsung berpaling darinya dan berpura-pura tidak melihatnya.Kakek langsung mendekat ke arah bunda dan memberi salam,"Assalamu'alaikum Bu Tari.Bagaiamana keadaannya sekarang?,"tanya kakek.
"Wa'alaikumussalam Pak Sukiman.Alhamdulillah sudah mulai berangsur-angsur membaik pak,semua berkat do'a kalian semua tentunya,"ucap bunda lembut.
Kakek tersenyum kecil mendengar ucapan bunda.Kak Roy yang berada di samping kakek lalu mempersilahkan kakek untuk duduk di kursi.Kakek tersenyum dan menepuk pelan pundak Kak Roy.Sementara Pak Sugeng,Bu Sri dan Mbak Riska berjalan mendekat ke arah ranjang tempat bunda berbaring.
"Apa kabar Ran?bagaimana kondisimu sekarang?,"tanya Kak Reno pelan.
Semua orang terkejut termasuk diriku mendengar Kak Reno berkata demikian.Dengan sedikit canggung dan agak berat aku menjawab Kak Reno,"Alhamdulillah baik,"ucapku pelan.Kak Reno tersenyum kecil dan memandangiku.Sesekali aku melirik ke arahnya meski hatiku enggan tetapi seolah mataku ingin melihatnya.Namun dengan cepat kembali aku berpaling darinya.
Tidak lama setelah itu Pak Sugeng membuka percakapan dengan bunda meskipun ia belum berani menatap bunda sepenuhnya.Yah,semua orang dapat melihat jelas ekspresi sangat bersalah dan perasaan malu yang tergambar jelas dari raut wajahnya.Begitu pula dengan ekspresi wajah Bu Sri.
Kemudian Bu Sri pun mengusap lembut bahu suaminya.Bu Sri ikut menangis melihat suaminya dan berusaha menghela napas untuk berkata,"Bu...Tari..,"ucapnya bergetar dan mencoba untuk merangkai kata,"Saya pun demikian Bu ingin meminta maaf yang sebesar-besarnya kepada Bu Tari dan Rani.Maafkan saya karena telah mengelabuhi Rani untuk menikah dengan putra kami Reno.Semua itu terpaksa saya dan suami lakukan karena rasa bersalah dan takut kami atas kesalahan yang telah papa Reno lakukan.Karena ketakutan itu pula kami berusaha memanfaatkan keadaan untuk mengikat Rani menjalani sebuah ikatan atas dasar kompromi.Supaya saat Bu Tari dan Rani mengetahui kebenarannya maka kalian tidak akan menuntut suami saya.Kami bermaksud membuat Rani berhutang Budi kepada keluarga kami karena telah membiayai pengobatan Bu Tari.Hikss.....hiksss....mohon maafkan kami Bu Tari.Karena kami begitu licik dan jahat dengan tega membohongi Bu Tari dan Rani.Sungguh maafkan kami.Tetapi rasa sayang yang kami miliki untuk Rani adalah benar-benar tulus Bu Tari.Kami sungguh menganggap Rani seperti putri kami sendiri.Kami sungguh merasa bahagia Rani menjadi keluarga besar kami.Akan tetapi diluar dugaan kami tidak mengetahui jika selama ini putra kami Reno sering berbuat kasar dan berperilaku tidak baik kepada Rani.Kami sangat menyesal Bu Tari dan mohon maafkan kami.Hiksssss.....,"ucap Bu Tari dengan terisak sambil memegang kaki bunda.
Namun dengan bersusah payah bunda mulai berusaha untuk duduk.Melihat hal itu aku dan Wirda membantu bunda.
Bunda memandang ke arah Pak Sugeng dan Bu Tari dan berusaha menolak Bu Sri untuk tidak menyentuh kakinya,"Mohon jangan lakukan itu Bu Sri.Atas izin dari Allah saya sudah memaafkan semua kesalahan Pak Sugeng dan Bu Sri juga Reno.Sungguh saya tidak menyimpan dendam ataupun ingin menuntut hukuman kepada Pak Sugeng.Semua sudah saya ikhlaskan Bu.Saya sudah ikhlas menganggap semua yang terjadi atas kehendak dari Sang Kuasa.Maka dari itu saya pribadi dari lubuk hati saya yang paling dalam telah memaafkan Pak Sugeng dan Bu Sri.Manusia tidak luput dari dosa dan kesalahan serta sudah sepantasnya kita saling memaafkan tanpa menyimpan dendam agar kehidupan kita damai dan penuh dengan keridhaan dari Allah Subhanahu wa ta'ala,"ucap bunda teduh dan tenang.
__ADS_1
Mendengar ucapan bunda Pak Sugeng dan Bu Sri semakin menangis tersedu-sedu.Sementara itu Kak Reno lalu menangis dan meminta maaf kepada bunda dan diriku,"Bun,maafkan Reno ya Bun atas sikap dan kata-kata kasar Reno terhadap bunda dan Rani.Reno sangat menyesal Bun,"ucap Kak Reno dengan menangis.
"Bunda sudah memaafkan Reno nak,"ucap bunda pelan.
Bu Sri menyeka air matanya dan berjalan menuju ke arah ku dan bunda,"Sungguh Bu Tari memiliki sifat yang sangat mulia.Saya sungguh malu bu."Lalu ia memandangiku dan mengenggam tanganku,"Maafkan mama Ran,"ucapnya sambil menangis.
Aku pun tidak kuasa melihat tangis Bu Sri.Perlahan kubalas genggaman tangannya dan menyeka air matanya perlahan,"Rani sudah memaafkan mama.Mama jangan menangis lagi ya mah,"ucapku dengan mata berkaca-kaca.
Mendengar ucapanku Bu Sri lalu memelukku erat dan menangis sejadi-jadinya,"Maafkan mama sayang.Terima kasih telah memaafkan mama,"ucapnya sambil menangis.
Suasana menjadi haru dan sedih.Semua orang menjadi larut dalam kesedihan.Bu Sri yang memelukku lalu mencium keningku pelan dan berganti memeluk bunda.Pak Sugeng pun menghampiriku dengan meminta maaf dan memelukku sambil menangis.
Kemudian Kak Reno mendekati bunda dan mencium tangan bunda serta meminta maaf.Tidak lama setelah itu ia menghampiriku dan menjulurkan tangannya untuk meminta maaf padaku.Pandangannya tertunduk dengan wajah sembabnya dan ucapannya lirih,"Ran.Sungguh aku telah banyak berbuat salah padamu.Jika bisa mohon maafkan aku Ran..maafkan aku..,"ucapnya pelan sambil terus menangis.
Aku menatapnya,raut wajah yang tidak pernah kulihat sebelumnya.Tangan Kak Reno masih menjulur menengadah meminta maaf.Kulihat tangannya bergetar dan aku masih menatapnya.Lalu entah jemariku bergerak mengenggam tangannya.Kak Reno terkejut menatapku.Aku pun menatapnya dengan tenang,"Rani,memaafkanmu kak,"ucapku lirih.
Pandanganku dan pandangan matanya bertemu.Semua orang menatap ke arahku dan Kak Reno.Hanya kakek yang tersenyum kecil.
__ADS_1
Semua terasa berhenti bergerak.Pelan dalam irama detak jantung dan hembusan napas yang mengalir.Kak Reno masih terpaku menatapku dalam genggaman jemari tangannya dan jemariku.