
Sudah tiga hari Kak Roy tidak membalas pesan dariku, semenjak putrinya menangis. Tidak hanya Kak Roy ,bahkan Tante Desi dan Om Surya pun juga tidak membalas pesan dariku. Aku semakin khawatir akan keadaan Rani. Dan dengan tidak mengetahui keadaannya, sungguh membuatku sangat gelisah. Aku pun mengajak Pak Budi dan Ummah untuk menemui putri Kak Roy di rumahnya. Tetapi, Pak satpam di kediaman rumah mereka mengatakan jika Kak Roy dan keluarganya sedang ke luar kota, sudah tiga hari belum kembali ke rumah.
Aku bertanya kepada Pak satpam, akan lokasi keberadaan Kak Roy dan keluarganya. Namun, Pak satpam menjawab tidak tahu. Sebab ia tidak diberitahu.
Aku kecewa dan semakin mengkhawatirkan kondisi Rani saat ini.Ummah yang melihat kegelisahan dan raut wajah kesedihanku, lalu mengusap punggungku dan mengajakku untuk segera masuk lagi ke dalam mobil. Aku pun pasrah dan menuruti kemauan Ummah.
Sesampainya di dalam mobil Ummah mengatakan kepadaku. Supaya diriku tidak terlalu mencemaskan keadaan putri Kak Roy. Aku pun hanya diam dan terus termenung memikirkan keadaan Rani. Meskipun aku ingin berusaha untuk tidak memikirkannya ,tetapi tetap saja saat terakhir kali melihatnya menangis tersedu-sedu seperti itu, selalu membuat hatiku menjadi tidak tenang jika memikirkannya, dan terus gelisah akan keadaan dirinya saat ini. Aku lalu memandang keluar kaca jendela mobil ,sembari menghela napas panjang dan dalam, untuk menenangkan perasaanku yang berkecamuk penuh rasa kekhawatiran.Ummah yang tahu akan perasaanku yang tidak tenang ,dengan segera mengusap punggungku lagi berulang kali dengan penuh kelembutan. "Sudahlah sayang, kamu jangan seperti ini. Insyaallah putrinya Roy ,akan baik-baik saja. Lagi pula ada Roy dan seluruh anggota keluarganya yang menjaga Rani ,dan yang terpenting ada Allah subhanahu wa ta'ala yang akan menjaga dan melindungi Rani dari hal -hal buruk dan tidak kita inginkan. Jadi, Ummah minta kamu tidak perlu khawatir berlebihan seperti ini ya , sayang. "
Aku memandang ke wajah Ummah dan mengangguk. Ummah merangkulkan tangannya pada pundakku, dan itu membuat ku jauh lebih tenang.
Pak Budi terus melajukan mobil yang ia kemudikan, meninggalkan kediaman rumah keluarga Kak Roy dan sudah semakin jauh pergi.
Setelah kejadian itu, Ummah bersama Abi, Enjid dan Wirda sepakat untuk mengajakku berlibur. Supaya diriku tidak terus tenggelam dalam perasaan khawatir dan bersalah pada putri Kak Roy.
Pak Budi dan Bik Inah ikut bersama kami, dan ada beberapa asisten rumah tangga lainnya yang menjaga rumah.
Tidak hanya Ummah. Abu, Enjid dan Wirda memintaku untuk tidak terus memikirkan keadaan Rani.
"Kalau mereka memang ingin menjauhkan Rani darimu, tidak apa-apa nak. Lagi pula, kamu tidak bersalah. Enjid, malah tidak ingin hanya karena rasa sayangmu yang besar terhadap putrinya Roy. Membuat keluarga Roy, memanfaatkan kebaikan dirimu, sehingga kamu mengorbankan kebahagianmu. Enjid, tidak mau itu sampai terjadi, " ucap Enjid dengan serius padaku.
Abi pun yang tidak banyak berbicara, juga turut berkomentar atas kegelisahan ku.
"Apa yang Enjid katakan benar nak. Abi juga tidak ingin melihatmu bersedih. Sekarang lupakan semuanya dan jalani liburan ini. Abi hanya ingin melihat kebahagiaan di raut wajah putri Abi. "
Wirda dan Ummah memelukku, dan berusaha membuatku melupakan akan sikap keluarga Kak Roy yang mengabaikan diriku. Aku diam dan mengangguk, mendengarkan semua perkataan keluarga ku.Sebisa mungkin aku menikmati liburan besama mereka dan melupakan semua hal yang membuat ku merasa gundah.
***
__ADS_1
Rupanya Kak Roy dan keluarganya tidak pergi ke luar kota. Mereka sengaja meminta pak satpam untuk berbohong padaku.
Bude Ayu yang memiliki andil besar, dalam meracuni pikiran Rani agar terus memikirkan perkataannya, sehingga Rani berani meminta diriku untuk menikah dengan Kak Roy. Bude Ayu, telah menanamkan ketakutan dan rasa kegelisahan di dalam hati putri Kak Roy, supaya terus mendesak diriku untuk memenuhi hasrat Bude Ayu, agar diriku dapat menikah dengan Kak Roy.
Rasa kasih sayangnya yang besar pada Kak Roy, melupakan perasaan Rani yang terluka.Sebuah rasa akan perasaan ketakutan yang berlebihan,jika kehilangan dan berjauhan dengan diriku.
"Mbak, apa benar yang kita lakukan ini?, " tanya Tante Desi memandang wajah Bude Ayu.
"Sudah Desi, kamu turuti saja apa yang menjadi rencanaku. Hanya dengan cara seperti ini, Rani akan merasa bersalah dan terus kepikiran dan khawatir pada cucumu. Kita dapat memanfaatkan sifat sensitif nya, untuk menekan dirinya. Sehingga Rani mau menikah dengan Roy, " jelas Bude Ayu.
Tante Desi terlihat cemas dan sangat khawatir, "Tetapi bagaimana dengan cucuku Mbak. Jika ia terus bersedih seperti saat ini, karena berjauhan dengan Rani. Bisa-bisa cucuku jatuh sakit, Mbak. "
Bude Ayu tersenyum.
"Justru jika cucumu sampai jatuh sakit, itu akan semakin baik untuk menarik simpati, dan menekan Rani dengan rasa bersalah. Sebab, dia akan berpikir sakitnya putri Roy adalah akibat kesalahannya. "
Namun, Bude Ayu tidak peduli dan meminta Tante Desi untuk diam dan mematuhi permintaannya. Tante Desi tidak dapat membantah perkataan Bude Ayu, meskipun di dalam hatinya ia sangat keberatan dan tidak setuju, atas apa yang dilakukannya terhadap Rani dan diriku.
Bude Ayu lalu pergi meninggalkan Tante Desi yang masih termenung memikirkan diriku dan cucunya.
"Semoga saja apa yang direncanakan Mbak Ayu, tidak akan menyakiti cucuku juga Roy, " ucap Tante Desi pelan.
Tidak lama kemudian, Kak Roy berjalan mendekati Tante Desi.
"Ada apa mah? Mengapa mama tampak gusar?, " tanya Kak Roy sembari memegang bahu Tante Desi.
Tante Desi menatap Kak Roy, "Mengapa kamu setuju akan usul Budemu Roy? Padahal sebelumnya, kamu berkata pada mama untuk tidak melakukan hal atau tindakan yang dapat menyakiti putrimu juga Rani. Tetapi kenapa sekarang kamu berubah pikiran Nak?."
__ADS_1
Kak Roy terdiam dan menundukkan kepalanya, dimana raut wajahnya berubah seketika. Tante Desi berusaha membuat Kak Roy agar mau berbicara, tetapi Kak Roy tetap diam membisu.
Hingga bibi pengasuh yang menjaga Rani, berlari dengan wajah panik dan tegang menghampiri Kak Roy dan Tante Desi.
"Bu,To..to..tolong!, "ucap Bibi pengasuh terbata dengan raut wajah penuh kecemasan.
"Ada apa Bik?, " tanya Tante Desi panik.
"Non Rani, Bu Desi!. "
"Ada apa dengan Rani, Bik?, " tanya Tante Desi yang kini sudah beranjak berdiri.
Kak Roy pun ikut berdiri dan panik.
"Non Rani demam tinggi dan mengigau memanggil nama Nak Rani terus Bu, " jawab Bibi pengasuh.
Tante Desi dan Kak Roy langsung menuju kamar Rani, setelah mendengarkan apa yang di sampaikan oleh Bibi pengasuh tentang keadaan Rani.
Dan benar saja saat Kak Roy dan Tante Desi tiba. Rani terus mengigau dan berteriak memanggil namaku.
Tante Desi segera menghampiri Rani, dan memegang kening Rani yang memang sangat panas. Tante Desi pun menangis dan panik, lalu segera meminta Kak Roy untuk membawa Rani ke rumah sakit.
Tanpa banyak berpikir lagi, Kak Roy pun langsung mengangkat tubuh Rani, untuk segera di bawa turun menuju mobil.
Tante Desi pun tidak berhenti menangis, begitu pula dengan Kak Roy.
Sementara itu pak sopir dengan segera melajukan mobil dengan cepat menuju rumah sakit.
__ADS_1