
Selepas melaksanakan prosesi ijab qabul, pada hari yang sama pula Ummah, Abi dan Enjid menginginkan untuk menggelar pesta resepsi di hotel tempat kami menginap.
Tentunya dengan pesta yang sederhana sesuai permintaan dari ku. Tidak banyak tamu yang di undang, hanya sekitar lima puluh orang. Karena pernikahan ku berlangsung secara mendadak. Lagi pula, aku sendiri pun tidak menginginkan banyak tamu undangan. Setelah pernikahan ku sebelumya, kali ini aku lebih ingin sangat intimate untuk menjaga privasi.
Semua orang tampak bahagia dan senang. Begitu pula Kak Reno yang tidak pernah berhenti tersenyum memandang ke arahku, meski dengan tatapan matanya yang berkaca-kaca.
Aku hanya diam dan tidak banyak menunjukan ekspresi apa pun. Sesuatu keputusan yang tidak mudah untuk ku ambil sebenarnya, tetapi entah mengapa petunjuk dari Sang Pencipta menginginkan diri ku melakukan ini. Ucapan selamat dan do'a juga terus mengalir kepada diri ku dan Kak Reno. Untuk mendo'akan keberkahan dan kelanggengan hubungan pernikahan kami.
Bahkan saat Ummah membawa diri ku menuju kamar pengantin, yang sudah ia persiapkan di hotel tempat kami menginap.
Sekali lagi, aku ingin menolak nya karena hal ini semua begitu membuatku tidak nyaman. Tetapi apa daya ku di dalam keterbatasanku, saat Ummah kembali mengingatkan diri ku akan status ku kini yang telah menjadi istri sah dari Kak Reno.
Bibir ku hanya diam dan terus diam, tanpa dapat membantah atau pun menolak akan perkataan Ummah.
Dengan segera aku membersihkan diri ku dan menganti pakaian.
Pemandangan dekorasi di kamar sungguh membuat dada ku terasa sesak, dengan aroma bunga dan wewangian yang menusuk indra penciuman ku. Penat dan gusar perasaan ku berkecamuk, sehingga membuat diri ku segera bergegas menuju balkon untuk menghirup udara segar nanti sejuk. Pandangan mata ku terus melihat ke langit yang luas dan gelap akan kerlap-kerlip bintang bertaburan.
"Takdir seperti apa yang sedang ku jalani ini Ya Allah, hingga aku harus kembali pada sosok yang membuat kehidupan ku kelam. Mengapa Engkau begitu cepat, memanggil Mas Fariz dari kehidupan ku?
Padahal ia begitu berarti dan sangat ku cintai, " ucap lirih dengan air mata yang berlinang sembari memejamkan kedua mata ku.
Tanpa ku sadari ternyata Kak Reno sudah duduk di samping ku.
__ADS_1
"Mengapa di hari yang penuh kebahagiaan dimana semua do'a-do'a kebaikan mengalir kepada kita, dirimu justru terbenam dalam kesedihan Ran?, "tanya Kak Reno sambil memandang diri ku.
Aku pun sangat terkejut melihat kedatangan nya di dekat ku.
" Apa yang sedang kamu Kak Reno lakukan di dekat ku?, "tanyaku balik.
Kak Reno tersenyum memandangi diri ku, " Perkataan mu tidak menjawab pertanyaan dari ku Ran. "
Aku mengalihkan pandangan ku darinya dan segera menyeka air mata ku.
"Ran,aku tahu dirimu belum sepenuhnya menerima diri ku sebagai suami mu. Tetapi, aku sadar dan tidak memaksakan dirimu untuk harus mencintai diri ku saat ini juga. Biarlah semua mengalir dan berjalan sebagaimana renacana Sang Ilahi menginginkan hal yang terbaik akan hubungan kita berdua, " ucap Kak Reno yang terus memandang diri ku.
"Lebih baik Kak Reno tinggalkan aku sendiri saja, " pinta ku melihat ke arahnya.
Kak Reno kembali tersenyum dan terus memandang diri ku dalam dan lekat.
"Aku mohon tinggalkan aku sendiri. Tolong!, " pinta ku dengan sangat memohon padanya.
Namun, Kak Reno tetap tidak mau beranjak dari duduk nya. Dan itu membuat diri ku kesal dan air mataku kembali tumpah.
Segera ku paling kan pandangan ku darinya dan beranjak berdiri dari duduk ku.
Namun, saat diri ku sudah melalui dirinya dengan cepat Kak Reno meraih tangan ku dan langsung mendekap ku dari belakang.
__ADS_1
Aku meronta dan meminta dirinya untuk melepaskan diri ku, tetapi tenaganya terlalu kuat untukku.
"Aku ingin membuat dirimu menjadi wanita yang paling bahagia di dunia ini Ran. Karena aku sangat mencintai dirimu, dan tidak ingin melihat kesedihan menghiasi parasmu juga kehidupan mu lagi, " bisik Kak Reno dengan lembut pada indra pendengaran ku.
Aku terus meronta dan memintanya melepaskan tangannya dari diri ku. Tetapi Kak Reno seakan tidak peduli dan dengan cepat ia membalikkan tubuh ku, lalu memeluk diri ku dengan erat hingga indra penciuman ku dapat mengendus aroma wangi tubuhnya.
"Tidak Ran, bagaimana pun engkau meminta. Aku tidak akan pernah melepaskan mu lagi.. Tidak akan pernah Ran.. Meskipun.. Nyawa ku menjadi taruhannya. Itu karena kamu lah kehidupan ku... Segala-galanya untuk ku, " ucap Kak Reno sambil menangis tersedu memeluk diri ku
Aku lemah dan akhirnya pasrah, tidak mampu melawan tenaga Kak Reno yang merengkuh tubuh ku. Dimana air mata ku juga terus mengalir dan membasahi pakaiannya.
Malam ini aku dan Kak Reno menjadi dekat dalam kesedihan yang merajai hati kami masing-masing. Sekuat apa pun aku berusaha menjauh dari nya, Kak Reno akan selalu mampu menarik raga ku berada dalam dekapan nya.
Meskipun pikiran ku menolak, tetapi entah kenapa hati ku merasakan damai dan ketenangan saat ia berada di dekat dengan diri ku.
"Maafkan aku Ran, jika pernikahan kita tidak membuat dirimu bahagia. Tetapi, inilah salah satu cara ku agar dapat menjaga dan melindungi dirimu serta keinginan hati ku untuk dapat membuat dirimu bahagia, tanpa air mata kesedihan lagi Ran, " ucap Kak Reno sambil terus menangis.
Aku terdiam dan terbenam dalam pelukan nya, dimana setiap perkataan darinya tetap selalu ku dengarkan dengan baik.
Kesedihan ku seakan tidak dapat terbendung dan terus menumpahkan air mata ku dalam dekapan nya.
"Ku mohon berikan kesempatan pada diri ku Ran, untuk menjadi imam mu yang dapat terus membimbing dan menjaga diri mu hingga ke surga-Nya. Meskipun aku tahu, jika diri ku masih sangat jauh dari kata sempurna. Tetapi dengan adanya dirimu di sisi ku, maka hidup ku akan sangat jauh dari sempurna. Aku mencintaimu Ran.. sangat mencintaimu... Dimana Allah Subhanahu Wa Ta'ala lebih mengetahui akan kebenaran hatiku padamu.. Dan aku berharap engkau pun juga dapat merasakan ketulusan perasaan ku pada mu, " ucap Kak Reno dengan pelan dan lembut.
Ucapan nya begitu menembus perasaan ku.
__ADS_1
Walaupun pikiran ku ingin menjauh darinya, tetapi hati ku berlawanan dan merasakan kenyamanan saat berada di dekatnya.
Entah apa yang terjadi pada diri ku... Tetapi aku terus terbenam dalam dekapan hangat Kak Reno...