Jodoh Pilihan Tuhan

Jodoh Pilihan Tuhan
Pulang kembali.


__ADS_3

Setelah beristirahat dan dianjurkan oleh dokter untuk banyak berbaring. Keesokan harinya, dokter memeriksa kondisi mataku yang dibalut dengan perban. Dengan perlahan dokter yang dibantu perawat membuka perban setelah sebelumnya aku melakukan pembedahan operasi transplantasi kornea mata.


Perasaanku berdebar- debar begitu pun dengan Ummah dan Bik Siti yang menemaniku. Dokter terus memeriksa mataku. Kemudian, dokter memintaku untuk membuka mataku secara perlahan-lahan. Lalu memintaku untuk melihat tulisan pada sebuah layar. Seberkas cahaya sedikit demi sedikit dapat kurasakan menembus perlahan-lahan masuk ke mataku. Samar dan sedikit buram dan belum terlalu jelas.


"Bagaimana Nak Rani?apakah Nak Rani dapat melihat dengan jelas tulisan pada layar itu?, " tanya dokter padaku.


Aku berusaha sedikit memincingkan mataku berusaha beradaptasi dengan keadaan sekitar.


"Saya belum sepenuhnya dapat melihat tulisan pada layar itu dok, penglihatan saya masih sedikit buram dan mata saya agak sedikit perih, " jawabku.


Dokter tersenyum.


"Tidak apa-apa Nak Rani nanyo setelah ini saya akan memberikan obat tetes mata untuk menghilangkan rasa nyeri. Kemampuan penglihatan Nak Rani sudah lumayan bagus sekitar 30%.InsyaAllah kemampuan penglihatan mata Nak Rani akan berangsur-angsur membaik, dalam 3 minggu sudah bisa beraktivitas dengan baik, " jelas dokter.


Dokter lalu meminta perawat untuk menyiapkan obat tetes mata dan langsung mengaplikasikannya kepada mataku.


Ummah yang sedari tadi melihat pemeriksaan terhadap diriku, begitu tidak tahan untuk segera bertanya kepada dokter.


"Jadi keadaan Rani bagus ya dok?, " tanya Ummah cemas.


"Alhamdulillah baik bu, " jawab dokter sambil memberikan obat tetes ke mataku.


Ummah tersenyum sambil memandang ke arah Bik Siti.


"Alhamdulillah wa syukurillah wa ni’matillah


wala haula wala quwwata illa billah.


Segala puji hanya kepada Allah, dan ucapan syukur serta nikmat kepada Allah, dan tidak ada daya upaya dan kekuatan kecuali atas pertolongan Allah, " ucap Ummah dengan penuh rasa syukur setelah mendengar kondisiku dari dokter.


Dan Bik Siti pun juga turut senang sambil mengucap syukur.


"Alhamdulillah wa syukurillah


Segala puji hanya kepada Allah, dan ucapan syukur kepada Allah, " ucap Bik Siti sembari mengusapkan kedua jemari tangan pada mukanya.


Ummah lalu bertanya kembali kepada dokter, "Lalu kapan Rani sebaiknya pulang dok? Apakah sampai penglihatannya membaik sampai 100% dok?. "


"Setelah saya memberikan obat dan membalut mata Nak Rani dengan perban. Maka Nak Rani sudah diperbolehkan untuk pulang Bu Putri.Tetapi jangan lupa untuk rutin kontrol dan minum obatnya. Dan juga saya melarang Nak Rani untuk melakukan aktivitas-aktivitas seperti; mata tidak boleh terkena cahaya matahari secara langsung, berenang, menggosok atau mengucek mata.Sehingga mata Nak Rani harus benar-benar dijaga ,dan minum obat yang saya resepkan secara rutin digunakan, baik obat yang diminum atau oral maupun obat yang diteteskan langsung pada mata, " jelas dokter.


"Oh ya Dok. Saya mengerti dan paham, " sahut Ummah.


"Iya Bu Putri. Adapun guna dari obat tetes mata dan obat oral adalah untuk mencegah infeksi, mencegah bengkak, dan nyeri.Seperti yang dirasakan oleh Nak Rani, " ujar dokter.


"Lalu mata Rani harus ditutup dengan perban terus kah dok?, "tanya Ummah lagi.


"Tidak seterusnya Bu Putri. Penggunaan perban adalah agar mata Nak Rani terhindar dari infeksi atau kerusakan yang tidak disengaja saat beraktivitas dan berkegiatan. Namun, saat memakai obat tetes mata perban dibuka dan tetap harus rutin diganti. Nanti setelah Nak Rani kontrol kembali dan oenglihatannya sudah membaik dan tidak ada indikasi infeksi atau peradangan maka Nak Rani tidak memerlukan memakai perban lagi, " jawab dokter.


"Baik dok saya paham, " ucap Ummah tersenyum.


Lalu dokter melanjutkan memasang perban pada mataku.


"Nak Rani saya berpesan untuk menghindari menekan atau menggosok mata selama masa pemulihan ya, " pinta dokter.


Aku pun mengangguk, "Baik dok. "


"Alhamdulillah sudah selesai Bu Putri. Setelah ini Nak Rani bisa bersiap-siap untuk pulang. Namun, pastikan untuk rutin kontrol sesuai jadwal yang saya berikan nanti pada kartu kontrol ya Bu Putri. Supaya saya dapat mengevaluasi hasil pengobatan.


Jika nanti ada ditemukan kemungkinan kerusakan kornea pada cangkok kornea Nak Rani. Mudah-mudahan itu tidak terjadi, " ucap dokter.


Ummah mengkerutkan dahinya.


"Korneanya bisa rusak ya dok?. "


"Bisa ibu, " jawab dokter.


"Lalu jika terdapat kerusakan pasca operasi apa harus dilakukan pembedahan atau operasi kembali dok?, " tanya Ummah serius dengan khawatir.


"Langkah awal akan diberikan obat.Namun,jika tidak dapat diperbaiki dengan obat. Kemungkinan besar saya akan merekomendasikan transplantasi kornea kembali Bu Putri. Tetapi kita berharap semoga hal itu tidak terjadi kepada Nak Rani, " jawab dokter.


"Aamiin iya dok, " sahut Ummah.


Kemudian dokter dan perawat yang sudah memeriksa keadaanku izin pamit keluar dari ruang perawatan tempatku berada. Sementara itu, Bik Siti sibuk mengemasi barang-barangku yang ada di ruang perawatan, dan Ummah menelpon Ustad Fariz untuk memberikan kabar keadaanku sekarang serta menjemput kami di rumah sakit untuk pulang ke rumah kediaman Enjid.


"Alhamdulillah ala barokatillah

__ADS_1


Segala puji hanya kepada Allah atas berkah-Nya, " ucapku bersyukur.


Aku masih berbaring di ranjang pasien atas anjuran dokter, sembari menunggu Ustad Fariz datang menjemput kami.


Sudut bibirku tersenyum kecil di dalam pandanganku yang gelap, dan semua ujian yang terasa sulit aku lewati. Kini aku dapat merasakan lagi indra penglihatanku mulai berfungsi kembali. Meskipun belum sepenuhnya dan hanya seberkas cahaya putih yang menembus masuk melalui mataku perlahan.Namun,klise hitam putih yang terlukis dari tangkapan mataku.Membuat diriku tidak henti-hentinya memanjatkan rasa syukur atas nikmat dan karunia yang luar biasa Allah Subhanahu Wa Ta'ala berikan kepadaku.


"Alhamdulillah ala kulli halin wa ni’matin.


Segala puji hanya kepada Allah atas setiap keadaan dan nikmat, " ucapku lagi pelan.


Tidak lama kemudian Ustaz Faris datang bersama Pak Budi.


" Alhamdulillah Nak Rani. Pak Budi sangat senang sekali mendengar berita jika penglihatan matanya Nak Rani sudah mulai dapat berfungsi ,meskipun belum sepenuhnya pulih secara total. Tetapi Pak Budi yakin sebentar lagi Nak Rani akan cepat sembuh dan dapat melihat seperti semula,"kata Pak Budi sambil mengusap kepalaku.


"Aamiin ya Rabb. Terima kasih Pak Budi, " jawabku.


Kemudian Ustad Fariz mendekat ke arahku sambil menanyakan keadaanku.


"Bagaimana keadaan Dek Rani sekarang?. "


"Bikhoir Alhamdulillah.


Baik-baik saja, segala puji bagi Allah, " jawabku.


"Alhamdulillah barakallah tabarakallah


Segala puji hanya kepada Allah, semoga Allah memberkahi. Saya senang sekali mendengarnya jika penglihatan Dek Rani sudah mulai kembali. Semoga secepatnya penglihatan Dek Rani segera kembali dan Dek Rani diberikan kesehatan serta kebarokahan, " ucap Ustad Fariz kepadaku.


"Aamiin ya robbal alamin. Alhamdulillah biidznillah. Segala puji hanya kepada Allah, atas izin Allah. Jazakallah khairan katsiran


Segala puji bagi Allah, semoga Allah membalasmu dengan kebaikan yang berlimpah, Ustad Fariz. "


" Fa jazakillahu khairan,semoga Allah


membalasmu dengan kebaikan Dek Rani.


Ustad Fariz, Pak Budi, Ummah dan Bik Siti begitu tampak senang dan bahagia akan berita kesembuhanku yang berangsur-angsur mulai membaik dan aku pun juga terus memanjatkan rasa syukur atas karunia yang Allah Subhanahu Wa Ta'ala berikan kepadaku.


Imsahil ba'sa rabban naasi. Bi yadikas syifa'u. Laa kasyifa lahu illa anta.


Kemudian setelah Bik Siti sudah membereskan semua barang-barangku di ruang rawat inap, dan Ustad Fariz juga telah menyelesaikan administrasi di rumah sakit.


Ummah dengan perlahan membantuku untuk duduk di kursi roda.


Ughhhhh.... Aku menarik napas panjang dengan penuh rasa kelegaan.


Setidaknya setelah ini aku akan kembali menata kehidupanku dari awal.


Ummah mendorong kursi roda ku perlahan, diikuti oleh Bik Siti di samping Ummah serta Pak Budi dan Ustad Fariz yang membawa koper kecil berisi barang-barangku.


Masih dengan perasaan yang penuh rasa syukur dan penuh kebahagiaan, bagaimana perjalanan kehidupanku membawa diriku dapat bertemu dengan Ustad Fariz dan keluarganya. Yang menjadi tonggak awal baru kebebasan diriku dari belenggu keluarga Suprapto.


Ya Allah aku ingin segera dapat melihat kembali dan tidak lagi menyusahkan Ustad Fariz dan seluruh anggota keluarganya yang lain, pintaku di dalam hati.


Di dalam mobil Ummah terus mengusap lembut pundakku begitu juga Bik Siti.


"Ran,Ummah ingin kamu tetap tinggal bersama Ummah sampai kamu benar-benar sembuh ya nak, " pinta Ummah padaku.


Aku pun mengangguk, "InsyaAllah iya Ummah, " kataku.


"Sebenarnya Ummah ingin jika Rani tinggal terus bersama Ummah di kediaman keluarga Imandar, tetapi apa bisa ya, " ucap Ummah dengan nada sedih.


Aku pun mengenggam jemari tangan Ummah.


" Ummah meskipun nanti setelah Rani sembuh dan dapat melihat kembali Rani tidak tinggal lagi bersama Ummah di kediaman Enjid. Ummah jangan merasa sedih ,Umma nanti dapat menemui Rani atau Rani dapat berkunjung menemui Ummah. InsyaAllah kita akan sering bertemu, "ucapku membesarkan hTi Ummah.


" Benarkah itu nak?, "tanya Ummah.


" InsyaAllah iya Ummah, "jawabku.


" Kemarin saat di rumah sakit Bik Siti menceritakan kepada Ummah jika nanti setelah Rani sembuh dan dapat melihat kembali. Rani ingin membeli sebuah rumah sederhana yang dapat ditinggali bersama Bik Siti juga Pak Budi.Jujur Ummah mendengar apa yang disampaikan Bik Siti tiba-tiba merasa sangat sedih.Rasanya Ummah seperti tidak dapat berpisah dengan Rani, rasanya berat sekali hati Ummah. Seperti akan melepas kepergian Putri kandung Ummah sendiri ,"tutur Ummah dengan nada suaranya yang sedikit bergetar.


"Ummah jangan bersedih. Lagi pula sebentar lagi jika Kak Rafa akan menikah dengan Wirda. Ummah tidak akan kesepian. Sebab Wirda akan datang ke rumah Ummah menjadi menantu sekaligus putri Ummah. Lagi pula Rani kan juga sudah mengatakan kepada Ummah,meskipun kita tidak tinggal satu rumah. Tetapi insya Allah kita akan dapat bertemu lagi Ummah. Rani akan mengunjungi Ummah sesering mungkin saat Rani tidak memiliki kesibukan, " ucapku berusaha untuk meyakinkan Ummah.


"Iya Nak Ummah tahu itu sayang. Maafkan Ummah ya, jika Ummah mengatakan hal seperti ini. Memang sebenarnya sangat tidak pantas, tapi Ummah hanya ingin berusaha meluapkan dan menyampaikan apa yang menjadi ganjalan di hati Ummah pada Rani. Sebab Ummah sangat menyayangi Rani seperti putri Ummah sendiri, "ucap Ummah sambil mengusap kepalaku dengan penuh kasih sayang.

__ADS_1


" Iya Ummah tidak apa-apa. Rani mengerti apa yang Ummah rasakan. Rani justru sangat berterima kasih karena Ummah mau menganggap Rani seperti putri kandung Ummah sendiri. Apalagi Rani sudah menjadi yatim piatu dan tidak mempunyai siapa-siapa lagi. Kasih sayang yang Ummah curahkan kepada Rani itu sangat berarti dan bernilai bagi Rani, dan untuk itu Ummah tidak perlu sungkan mengatakan apa yang mengganjal di hati Ummah, karena Rani akan siap mendengarkan keluh kesah Ummah, "kataku.


Ummah memelukku erat.


Ustad Fariz, Bik Siti dan Pak Budi hanya dapat memandang dan mendengarkan percakapan antara diriku dan Ummah.


" MasyaAllah saya begitu tersentuh menyaksikan kedekatan antara Bu Putri dan Nak Rani. Semoga kasih sayang yang tercurah di antar kalian berdua akan terus bergulir dan tidak terputus, "sahut Bik Siti sambil mengusap lembut punggungku.


" Aamiin, "sahut Ustad Fariz dan Pak Budi bersamaan.


Ustad Fariz tersenyum sembari menggoda Ummah.


" Semenjak Dek Rani tinggal di rumah kita. Ummah lebih banyak memikirkan dan memperhatikan Dek Rani dari pada Fariz dan Rafa. Kalau begini terus Fariz bisa cemburu lho Ummah. "


"Akh, kamu itu Fariz bicara apa. Kasih sayang dan cinta Ummah kepada kedua putra Ummah tetap sama tidak berkurang dan tidak tergantikan dengan apapun. Dan kehadiran Rani dalam keluarga kita malah menambah warna baru dalam hidup Ummah sebagai seorang ibu, " sahut Ummah.


"Hehehe, Fariz hanya bercanda saja Ummah. Fariz senang jika kehadiran Dek Rani dapat menambah kebahagiaan untuk Ummah, " ujar Ustad Fariz sambil menoleh ke arah Ummah.


Dan di saat Ummah dan Ustad Fariz berbicara, mendadak Bik Siti pun menimpali percakapan antara Ummah dan Ustad Fariz.


" Sebenarnya ada satu solusi supaya Bu Putri tidak kehilangan Nak Rani dan Nak Fariz tidak merasa cemburu akan kasih sayang yang dicurahkan oleh Bu Putri kepada Nak Rani, "ucap Bik Siti sambil tersenyum simpul.


" Solusi apa itu Bik Siti?, "tanya Ummah penasaran.


" Apa Bik?, "tanya Ustad Fariz juga.


Hihihihi....


Bik Siti tersenyum sambil terkekeh.


" Benar nih Nak Fariz mau mendengarkan solusi dari Bibi?, " Bik Siti berbalik bertanya.


Ustad Fariz terlihat mengkerutkan keningnya.


"Sepertinya ada yang aneh dari perkataan Bik Siti, " terka Ustad Fariz sambil tersenyum.


Pak Budi pun menyela.


"Iya Nak Fariz. Bik Siti suka bercanda orangnya. "


" Tidak apa-apa Pak Budi bercanda sekali-sekali, supaya tidak tegang lagi pula kalau bawaannya serius terus nanti malah cepat tua dan menambah stress, "ujar Ummah.


" Iya Bu Putri, "jawab Pak Budi.


" Oh ya Bik apa solusinya. Saya jadi penasaran, "kata Ummah.


" Fariz juga penasaran Ummah, "sahut Ustad Fariz.


" Wah, saya juga ingin tahu, "timpal Pak Budi.


Bik Siti semakin tersenyum.


" Baiklah jika semua ingin tahu. Maka akan Bik Siti katakan apa solusi dari Bibi.


Supaya Bu Putri tidak kehilangan Nak Rani dan Nak Fariz tidak merasa cemburu akan kasih sayang Bu Putri terhadap Nak Rani. Maka solusi paling tepat dan terbaik adalah dengan Nak Fariz menikah dengan Nak Rani, "ucap Bik Siti dengan lantang dan keras.


Glekk...


Aku tersentak mendengar ucapan Bik Siti begitu pula Ustad Fariz yang langsung terdiam. Sementara Ummah, Bik Siti dan Pak Budi saling berpandangan dan melemparkan senyum.


" Ehemmm, bagaimana solusi dari saya Nak Fariz?, "goda Bik Siti.


Ustad Fariz pun terdiam tidak dapat berkata, sementara aku merasa canggung dan tidak enak akan candaan dari Bik Siti.


" Bik Siti jangan seperti itu bercanda nya Bik, "ucapku pelan.


Bik Siti mengusap kepalaku pelan.


" Bibi tidak bercanda Nak Rani, itu saran dari Bibi. Siapa tahu bisa menjadi kenyataan. Benar tidak Pak Budi dan Bu Putri?. "


"Benar Bik Siti, " ucap Ummah dan Pak Budi bersamaan.


Ummah, Pak Budi dan Bik Siti pun tersenyum dan tertawa. Namun, aku dan Ustad Fariz merasa kaku dan tidak nyaman.


Hufhhhh....

__ADS_1


Bik Siti ada-ada saja, batinku.


__ADS_2