
Wirda segera berjalan mendekati pintu keluar rumahnya di dekat ruang tamu. Kemudian ia mengintip dari balik hordeng di jendela untuk memastikan siapa yang datang ke rumahnya. Saat ini ia hanya berasal denganku, Bik Inah dan juga Bik Siti. Sementara papa dan mamanya sedang pergi menyelesaikan pekerjaan di luar kota bersama sopir pribadi keluarga mereka.
Hal itulah yang membuat dirinya gusar dan khawatir. Sebab tidak ada orang laki-laki fi dalam rumahnya. Mengingat Mbak Riska itu perempuan yang nekat dan tidak menyerah. Tentu ia tidak semudah itu untuk pergi saja dari rumah Wirda tanpa perhitungan yang jelas demi mencapai tujuannya.
Deru suara mesin mobil terdengar jelas di telinga Wirda. kedua matanya terus memandang pada sebuah mobil yang berhenti tepat di depan halaman rumahnya.
DAG... DIG.. DUG......
Jantung Wirda berdebar kencang dan cepat. Hatinya semakin risau dan diliputi kecemasan.
Ya Allah lindungi kami semua. Semoga mobil yang berhenti di halaman itu adalah milik Kak Fariz, ucap Wirda di dalam hati.
Sambil mengenggam telepon genggam miliknya sesekali ia melihat apakah ada panggilan telepon lagi dari Ustad Fariz untuknya.
Perlahan Wirda menyentuh layar telepon genggam miliknya untuk melihat apakah ada notifikasi pesan dari ustad Fariz.
Dan raut wajah Wirda terlihat tenang saat melihat ada sebuah pesan yang dikirimkan Ustad Fariz untuknya. Lalu dengan cepat pula Wirda membuka pesan dari Ustad Fariz tersebut dan membacanya;
Dek Wirda saya sudah berada di depan rumah Dek Wirda bersama Pak Budi dan Rafa. Bunyi isi pesan dari Ustad Fariz kepada Wirda.
Dan saat Wirda sedang fokus dengan telepon genggam miliknya terdengar suara pintu mobil terbuka. Dan terlihat salah satu kaki dari seseorang yang berada di dalam mobil turun.
Mata Wirda kini tertuju pada orang yang turun dari mobil. Glekk, Wirda sedikit menel ah ludahnya karena tegang.
Kini Wirda semakin tegang dan tidak menghentikan pandangan matanya kearah mobil tersebut.
Plakkkk... Suara pintu mobil tertutup.
"Hufh, Alhamdulilah, "ucap Wirda lega dengan penuh syukur seraya mengusap dadanya perlahan.
Ustad Fariz terlebih dahulu turun dari mobil lalu diikuti oleh Kak Rafa dan Pak Budi.
Maka dengan segera Wirda pun membuka pintu dan menyambut kedatangan mereka bertiga dengan penuh sukacita.
" Alhamdulillah akmiliknya Pak Budi ,Kak Fariz dan Kak Rafa datang juga. Ayo mari masuk semuanya!,"ajak Wirda kepada mereka bertiga.
Pak Budi Ustad Fariz dan Rafa pun tersenyum ke arah Wirda sambil mengucapkan salam sebelum melangkahkan kaki masuk ke dalam rumah Wirda. "Assalamualaikum, "ucap mereka bertiga berbarengan .
"Wa'alaikumussalam, "jawab Wirda.
"Mari Pak Budi ,Kak Rafa ,Kak Fariz.Silahkan duduk, "ucap Wirda lagi mempersilahkan mereka bertiga untuk duduk di ruang tamu miliknya.
" Iya Terima kasih Nak Wirda, "ucap Pak Budi.
" Dek Rani dimana Dek Wirda?, "tanya ustad Fariz kepada Wirda.
" Oh, saat ini Rani saya suruh berada di dalam kamar Kak Faris dan ditemani Bik Inah dan Bik Siti .Saya berjaga-jaga jika sewaktu-waktu Mbak Riska datang dengan paksa ingin membawa Rani .Setidaknya berusaha untuk melindungi Rani terlebih dahulu, "jawab Wirda kepada Ustad Fariz.
" Lalu dimanakah Bu Warti dan Pak Akmal serta sopir pribadi Nak Wirda berada sekarang?,"tanya Pak Budi kepada Wirda. "Papa, mama dan Pak sopir pergi ke luar kota untuk menyelesaikan pekerjaan papa, Pak Budi. Hal itulah yang membuat Wirda sedikit cemas dan khawatir Pak Budi .Sebab di rumah ini tidak ada satu orang pun laki-laki hanya ada Wirda, Bik Siti ,Bik Inah dan Rani. Wirda takut dan cemas jikalau tiba-tiba mbak Riska membawa orang suruhannya dan dengan paksa membawa Rani . Dan Wirda tidak bisa membayangkan hal itu. Maka dari itu dengan cepat Wirda segera menghubungi Kak Fariz, " ucap Wirda terlihat gusar. "Oh ya Pak Budi, Kak Fariz dan Kak Rafa mau minum apa ?,"tanya Wirda kepada mereka bertiga .
__ADS_1
"Tidak usah repot-repot Dek Wirda .Cukup air putih saja sudah cukup, "jawab Kak Rafa dengan senyum.
"Insya Allah tidak repot kok Kak Rafa, " balas Wirda kepada Kak Rafa dan tersenyum balik kepadanya.
" Sebentar ya kak saya panggilkan Rani supaya ke sini dahulu. Dan sekalian saya akan menyuruh Bik Inah dan Bik Siti untuk membuat minuman dan makanan ,"ucap Wirda lagi.
Kak Rafa dan Ustad Faris pun menggangguk mendengar perkataan Wirda. Kemudian Wirda pun berjalan menuju kamar untuk memanggil Rani .
"Bik Siti dan Bik Inah tolong buatkan minuman dan makanan kecil untuk pak Budi Kak Rafa dan Kak Fariz ya, " pinta Wirda kepada Bik Siti dan Bik Inah.
"Nak Fariz sudah datangkah Nak Wirda?, " tanya Bik Siti.
"Sudah Bik, barusan bersama dengan Pak Budi dan Kak Rafa, " jawab Wirda.
"Alhamdulillah jika begitu, " ucap Bik Siti dengan syukur.
"Ya sudah jika begitu Bik Siti dan Bik Inah tolong buatkan minuman dan makanan ya. Sekalian susu coklat hangat untuk Wirda ya Bik, " pinta Wirda dengan tersenyum.
" Baik Nak Wirda, "jawab Bik Siti dan Bik Inah bersamaan yang lalu keluar dari kamar milik Wirda dan menuju ke dapur untuk menyiapkan makanan dan minuman. Sementara Wirda mendekatiku yang sedang duduk di atas ranjang tempat tidurnya lalu mengusap tanganku pelan.
"Ayo ikut denganku Ran, kita menemui Pak Budi ,Kak Fariz dan Kak Rafa ,"ucap Wirda padaku.
"Iya Wirda. Ayo ,"jawabku menerima ajakan Wirda.
Maka dengan perlahan Wirda menuntunku berjalan menuju ruang tamu untuk menemui mereka bertiga.
Sesampainya di ruang tamu Wirda membantuku duduk lalu diikuti dengan dirinya yang duduk di sampingku. "Bagaimana keadaan Dek Rani ?,"tanya Ustad Fariz yang langsung bertanya kepada diriku.
"Saya rasa keberadaan Dek Rani di rumah Dek Wirda sekarang tidak cukup aman baginya,Pak Budi, "ucap Ustad Fariz seketika.
"Iya Kak Fariz.Wirda pun juga berpikir seperti itu. Tetapi yang menjadi pikiran Wirda. Mengapa tiba-tiba mbak Riska mencari Rani dan ingin memaksa Rani untuk ikut dengannya? dari raut wajah dan sikap mbak Riska yang Wirda lihat seakan-akan dia tidak bisa melepaskan Rani .Apakah ini ada kaitannya dengan Kak Reno dan gugatan cerai yang dilayangkan Rani kepada Kak Reno , Kak Faris ?,"tanya Wirda kepada Ustad Fariz.
" Kemungkinan itu bisa jadi Dek Wirda, "sahut Kak Rafa menjawab pertanyaan Wirda.
"Tetapi barangkali juga ada motif lain yang lebih besar daripada persangkaan yang diucapkan oleh Dek Wirda tadi .Apakah Pak Budi tahu mengapa keluarga Suprapto tidak begitu dengan mudah ingin melepaskan Dek Rani dan terus mengejar Dek Rani untuk kembali kepada mereka?,"tanya Kak Rafa kepada Pak Budi.
Namun sebelum Pak Budi menjawab pertanyaan dari Kak Rafa. Bik Siti dan Bik Inah telah masuk ke dalam ruang tamu dengan membawa nampan berisi makanan dan minuman. Lalu meletakkannya di atas meja. "Mari silahkan diminum dulu minumannya selagi masih hangat Pak Budi, Nak Rafa dan Nak Faris ,"ucap Bik Siti dengan sopan menawarkan mereka bertiga untuk minum.
"Iya Bik Siti .Baik terima kasih ,"sahut Kak Rafa .
"Silakan diminum Nak Fariz, "ucap Bik Siti menawari Ustad Fariz untuk minum .
"Iya Bik. Terima kasih, "ucap Ustad Fariz.
"Oh ya Bik Siti dan Bik Inah duduk saja di sini di dekat Rani dan Wirda. sekalian Bik Siti dan Bik Inah ikut minum dan mencicipi makanan yang sudah Bibi berdua buat dan jangan sungkan ya Bik. kita ini kan sudah seperti keluaraga, "ucap Wirda kepada Bik Siti dan Bik Inah.
Bik Siti dan Bik Inah pun mengganggukkan kepala dan duduk di dekat diriku juga Wirda. Sementara itu Wirda segera mengambil minuman coklat hangat yang ia pesan kepada Bik Siti dan menyeruputnya diikuti dengan Pak Budi, Kak Rafa dan Ustad Fariz serta Bik Siti juga Bik Inah yang juga meminum minumannya.
"Kamu mau minum Ran?,"tanya Wirda kepadaku sambil menyeruput susu hangat miliknya .
__ADS_1
"Tidak Wir aku belum haus. Lagi pula barusan aku sudah selesai makan dan minum obat,"jawabku pelan.
"Ya sudah Ran, nanti jika kamu haus kamu katakan kepadaku ya ,"ucap Wirda.
"Iya Wir, "jawabku pelan sambil menganggukkan kepala.
Tidak lama setelah Pak Budi menyeruput kopi hitam yang dibuatkan oleh Bik Siti dan Bik Inah sambil mengambil pisang goreng yang ada di atas piring dan mengunyahnya. Pak Budi pun menjawab pertanyaan yang diajukan oleh Kak Rafa sebelumnya.
"Apa yang Nak Rafa katakan bahwa ada motif lain atas sikap Nak Riska untuk membawa Nak Rani itu memang benar adanya, " ucap Pak Budi.
" Maksud Pak Budi apa motif lain yang Pak Budi maksud?, "tanya Kak Rafa ingin tahu.
Pak Budi pun berusaha mengunyah seluruh pisang yang ia makan dan menelannya secara cepat untuk dapat menjawab pertanyaan dari Kak Rafa. Lalu ia menyeruput kopi hitam kembali.
"Begini Nak Rafa. Keluarga Suprapto itu tidak akan dengan mudah melepaskan Nak Rani dan bahkan membiarkan Nak Rani keluar dari rumah itu .Apalagi membiarkan Nak Rani juga berpisah dari nak Reno itu pasti tidak akan mereka biarkan, " ucap Pak Budi.
"Mengapa bisa seperti itu Pak Budi?, " tanya Kak Rafa.
"Sebab seluruh aset dan kekayaan yang dimiliki oleh keluarga Suprapto itu sebenarnya adalah milik kakeknya Nak Rani yang berarti semua harta yang mereka miliki itu adalah kepunyaannya Nak Rani. Hal inilah yang membuat Pak Suprapto dulu memaksa menikahkan Nak Reno dengan Nak Rani dengan tujuan untuk mengikat Nak Rani menjadi bagian keluarga mereka. Sehingga dapat menguasai seluruh aset kekayaan yang telah direbut dan dirampas oleh Pak Suprapto kakeknya dari almarhum kakek Nak Rani yaitu bapak Widiyanto.Nah tentu saja jika Nak Rani keluar dan tidak menjadi bagian dari keluarga Suprapto. Mereka semua tentunya akan kehilangan semua harta kekayaan dan seluruh aset yang selama ini mereka akui sebagai milik mereka. Padahal sebenarnya tidak demikian, " jelas Pak Budi.
" lalu Mengapa mereka tidak memaksa Rani untuk menandatangani pengalihan dokumen kekayaan dan menyerahkannya kepada mereka ?, "tanya Kak Rafa kepada Pak Budi.
"Tentu mereka tidak dapat melakukannya dengan mudah Nak Rafa.Sebab jika harus dilakukan pengalihan secara paksa penandatanganan seluruh kekayaan yang harusnya dimiliki Nak Rani dan diserahkan kepada keluarga Suprapto. Itu harus disaksikan oleh pengacara yang telah ditunjuk oleh almarhum kakeknya Nak Rani sebelumnya. Dan tentu saja mereka tidak mungkin mau menunjukkan keberadaan Nak Rani kepada pengacara keluarga kakek nya Nak Rani, " ucap Pak Budi sambil menyeruput kopi kembali.
"Jadi maksud Pak Budi pengacara dari almarhum kakeknya Dek Rani itu tidak mengetahui jika masih ada penerus atau keturunan dari almarhum Bapak Widiyanto yang masih hidup seperti itukah Pak Budi?,"tanya Kak Rafa kepada Pak Budi.
"Iya benar Nak Raf seperti itu, " jawab Pak Budi.
"Oh, lalu apakah Pak Budi tahu di mana keberadaan pengacara dari kakeknya Dek Rani tersebut berada sekarang ?,"tanya Kak Rafa lagi kepada Pak Budi .
"Pak Budi tidak mengetahuinya Nak Rafa, " jawab Pak Budi.
" Sebenarnya akar dari masalah ini sudah dapat kita ambil Kak Fariz yaitu poin penting dalam masalah ini. Kita terlebih dahulu harus menemukan dimana keberadaan pengacara yang telah ditunjuk oleh almarhum kakeknya Dek Rani.Untuk mengetahui mengenai secara detail seluruh aset kekayaan yang akan dilimpahkan kepada keturunannya.Sekaligus memberitahukan kepada pengacara tersebut tentang keberadaan Dek Rani selalu pewaris tunggal yang sah dari seluruh aset yang dimiliki oleh almarhum Bapak Widiyanto. Nah ketika kita sudah berhasil menemukan pengacara tersebut akan mudah menentukan langkah kita selanjutnya dalam mengekang batas-batas kekuasaan keluarga Suprapto yaitu dengan mengalihkan semua hasil kekayaan yang memang sebenarnya harus menjadi milik dek Tini.Dan saat keluarga Suprapto kehilangan semua kekuasaan dan aset kekayaannya. Mereka pasti sama sekali tidak akan berkutik dan tidak mampu berbuat apapun juga. Jadi menurut saya sebaiknya sekarang kita segera mencari keberadaan pengacara itu sebelum persidangan terhadap Reno akan disidangkan. Karena selama mereka masih memiliki pengaruh terutama materi mereka akan dengan mudah untuk menghalalkan segala cara dan membebaskan putra kesayangan mereka dan terus menerus akan mengintimidasi kehidupan Dek Rani. Bukankah begitu Kak Fariz?,"ucap Kak Rafa kepada ustad Fariz.
Ustaz Fariz pun terlihat memikirkan perkataan adiknya Kak Rafa.
"Saya rasa apa yang kamu katakan benar dek Rafa. Kakak juga setuju dengan hasil pemikiranmu. Lalu menurutmu apa yang harus kita lakukan sekarang?,"tanya Ustad Fariz kepada Kak Rafa.
"Sekarang kita sebaiknya segera bergegas Kak Fariz untuk menghemat waktu kita yang semakin tidak banyak. Dan langkah pertama adalah kita harus mengamankan Dek Rani secepatnya yaitu dengan membawanya pergi dari rumah dek Wirda ,"ucap Kak Rafa kepada Ustad Fariz.
"Lalu kita akan membawa Dek Rani ke mana?,"tanya Ustad Fariz kepada Kak Rafa. "Untuk sementara waktu Dek Rani akan lebih aman jika berada di kediaman rumah kita Kak. Bagaimana menurut Kak Fariz?," tanya Kak Rafa.
Ustad Fariz pun terlihat memikirkan perkataan adiknya Rafa. "Baiklah kalau begitu kita segera membawa Dek Rani menuju ke rumah kita beserta dengan Bik Siti dan Bik Inah juga Dek Wirda untuk mencegah kemungkinan terburuk atau hal-hal yang dapat dilakukan oleh Riska dan keluarga Suprapto lainnya. Lalu setelah itu apa yang kita lakukan selanjutnya?,"tanya Ustad Fariz pada Kak Rafa.
"Setelah kita mengamankan Dek Rani dan menyembunyikan keberadaannya sementara waktu. Kakak beserta Pak Budi segera mengurusi kasus yang melibatkan Reno dan gugatan cerai yang sudah dilayangkan Dek Rani di pengadilan agama agar lekas di proses dan mengawasinya dari campur tangan keluarga Suprapto.Sementara itu saya beserta Dek Wirda akan mencari tahu keberadaan di mana pengacara dari keluarga kakeknya Dek Rani. Bagaimana apakah adik Wirda mau menemani saya?,"tanya Kak Rafa sambil melihat ke arah Wirda .
"Iya Kak Rafa tentu saja Wirda siap membantu, "jawab Wirda.
"Baiklah jika begitu. Ayo sekarang Dek Wirda, Bik Siti dan Bik Inah mempersiapkan semua barang-barang keperluan Dek Rani untuk segera berangkat ke rumah kami ," pintar Kak Rafa.
__ADS_1
"Iya baik Kak, "jawab Wirda.
Setelah semua orang menyelesaikan makan dan minum dan Bik Siti juga Bik Inah membereskannya. Kemudian Bik Siti dan Bik Inah serta Wirda berkemas-kemas mempersiapkan semua pakaian masing-masing dan juga perlengkapanku. Setelah itu kami semua masuk ke dalam mobil yang telah dibawa oleh Pak Budi sebelumnya .Dan tidak lama kemudian kami pun pergi meninggalkan rumah Wirda menuju kediaman rumah Ustad Fariz.