Jodoh Pilihan Tuhan

Jodoh Pilihan Tuhan
Nasihat perawat.


__ADS_3

Sebelum transfusi darah di lakukan, beberapa petugas medis melakukan beberapa pemeriksaan terlebih dahulu pada ku. Dengan memeriksa golongan darah dan memastikan darah yang akan ku berikan pada Kak Reno cocok.


Setelah golongan darah ku cocok dengan Kak Reno.


Aku segera di pindahkan pada ruangan yang sama dengan Kak Reno.


Kemudian, beberapa perawat secara perlahan dan hati - hati memasukkan jarum pada pembuluh darah ku, beserta selang infus yang masih terpasang pada pergelangan tangan ku.


Dan perawat terus memantau ku dan Kak Reno selama prosedur transfusi darah berlangsung. Dengan mengukur dan melihat tekanan darah, suhu dan detak jantung ku juga Kak Reno.


Dimana saat ini Kak Reno masih dalam keadaan koma, dan masih terbaring tidak sadarkan diri di atas ranjang pasien.


Dokter pun mengatakan kepada ku,jika Kak Reno akan membutuhkan lebih banyak darah untuknya.


Peristiwa penembakan yang terjadi pada Kak Reno menyebabkan dirinya banyak kehilangan darah, dan harus segera mendapatkan donor darah dengan cepat.


Aku pun merasa sangat lega, karena dapat mendonorkan darah ku untuk Kak Reno.


Aku yang juga terbaring di atas ranjang pasien, terus menatap wajah Kak Reno yang lemah. Dengan banyak alat medis yang terpasang pada tubuhnya.


Tanpa ku sadari air mata ku terus mengalir, dengan terus menatap dirinya.


Perasaan yang terus menerus berkecamuk melihat kondisinya yang tidak berdaya.


Kilas balik ingatan ku membawa kenangan masa lalu ku. Saat pertama kali bertemu dengan dirinya. Kak Reno begitu berbeda dengan dirinya yang sekarang, bahkan pribadinya saat ini sangat jauh berbeda sekali dengan dirinya yang dulu. Perjalanan kehidupan dan takdir yang banyak merenggut semua kebahagiaan nya. Telah membawa dirinya bermetamorfosa menjadi sosok yang jauh lebih baik dari dirinya yang terdahulu.


Aku masih terus menatap wajah Kak Reno dengan dalam. Sembari mengharapkan kesembuhan untuk dirinya.


"As-alu Allah al-'azhima rabb al-'arshi al-'azhimi an yashfiyak.


Aku memohon kepada Allah Yang Maha Agung, Tuhan Pemilik 'Arsy yang Agung, agar menyembuhkanmu, " ucap ku pelan dan lirih sambil terus menatap wajah Kak Reno.

__ADS_1


Tidak terasa sudah satu jam lebih aku terbaring di dekat Kak Reno. Dimana secara perlahan aku merasakan perasaan takut akan kehilangan dirinya.


Seorang perawat mendekati ku dan menatap ku dalam. Dimana sikap nya membuat ku ingin segera berusaha, untuk menyeka air mata ku.


Tetapi perawat itu menghentikan nya.


Aku pun memandang ke arahnya dengan wajah penuh tanya.


Perawat itu tersenyum pada ku, lalu ia duduk perlahan di kursi kecil. Di dekat ranjang pasien tempat ku berbaring.


"Dari tatapan dan pandangan mata adik kepada dia, " ucap perawat itu sambil menunjukkan jemari tangan nya ke arah Kak Reno lalu melihat ku lagi.


"Saya melihat ada cinta yang begitu dalam, meskipun tidak terungkapkan melalui ucapan dan kata-kata, " imbuhnya sambil tersenyum pada ku.


Aku tersentak dan terdiam saat mendengarkan perkataan perawat itu.


Dimana perawat itu melihat sikap dan ekspresi yang ku tunjukkan.


"Apakah adik tidak menyadarinya, jika cara adik memandang nya itu sangat berbeda. Cinta dalam diam, yang dapat indra penglihatan saya lihat dan tangkap, " ucapnya lagi.


Perawat itu terus berkata pada ku. Meskipun diri ku tidak terlalu merespon perkataannya.


"Jangan membelenggu perasaan cinta yang sedang tumbuh dan bersemi di hati adik. Apalagi jika yang adik cintai, adalah seseorang yang pantas untuk di cintai dan sudah menjadi halal untuk adik. Dimana adik sendiri telah mengetahui jati diri dari pasangan adik. Maka, tidak ada salahnya selagi kesempatan itu ada dan ia masih berada di sisi adik. Untuk segera adik mengungkap perasaan adik yang sebenarnya untuknya. Sebelum terlambat.


Namun, cinta yang tumbuh karena iman, amal sholeh, dan akhlaq yang mulia, akan senantiasa bersemi. Dan tidak akan pernah lekang karena sinar matahari, dan tidak pula luntur karena hujan, dan tidak akan putus walaupun ajal telah menjemput.


Semoga adik mengerti akan maksud dari perkataan saya, " ucap perawat itu sambil memeriksa keadaan diri ku.


Aku pun masih terdiam melihat dirinya. Dimana tiba-tiba, ku rasakan perkataan perawat tersebut sedikit mulai mempengaruhi diri ku.


Aku lalu memandang lagi ke arah Kak Reno dengan lekat, sambil bertanya pada diri ku sendiri.

__ADS_1


"Apakah benar jika aku telah jatuh cinta pada Kak Reno, "tanya ku di dalam hati.


Pertanyaan yang berusaha coba ku lontarkan pada diri ku sendiri.


Hati ku terasa bergemuruh setiap kali indra penglihatan ku memandang wajah Kak Reno.


Perawat itu masih melihat diri ku dan tersenyum.


"Jika adik ragu akan perasaan adik. Coba adik tutup kedua mata adik. Lalu, bayangkan jika dia tiba-tiba menghilang atau tidak ada lagi di dunia ini. Apa yang akan adik rasakan, " ucap perawat itu menatap diri ku.


Aku tersentak mendengar ucapan nya, yang secara tidak langsung memancing lisan ku untuk bertutur pada perawat itu.


"Mengapa suster berkata demikan?, " tanya ku dengan raut wajah yang penuh tanya.


Perawat itu kembali tersenyum sambil melihat tekanan darah ku.


"Saya tidak bermaksud apa-apa, dengan mengatakan hal tersebut. Disini saya hanya berusaha untuk memberi saran. Itu pun jika adik menerimanya. Bahwa terkadang kita baru menyadari perasaan cinta kita terhadap seseorang. Dan mengetahui jika kehadiran nya begitu sangat berarti untuk kita. Setelah ia tidak ada lagi di dunia ini. Saya berharap hal tersebut tidak terjadi pada adik. Saya mengatakan hal demikian, karena saya secara pribadi pernah merasakan nya, " tutur perawat itu dengan mata yang berkaca-kaca.


Aku kembali terdiam mendengar perkataannya. Dimana hati ku menjadi bersimpati dan terenyuh akan perasaan nya.


"Kini saya menjalani kehidupan saya, dengan penuh rasa penyesalan yang teramat sangat. Karena saya tidak berani jujur dengan perasaan yang saya milki. Dimana semuanya telah terlambat. Orang yang sangat berarti di dalam kehidupan saya. Telah pergi karena kecelakaan yang merenggut jiwanya. Dan kini saya hidup dengan perasaan penuh penyesalan, sebab saya tidak dapat mengatakan kebenaran akan cinta saya, " ujar perawat itu sambil menyeka air matanya.


Aku memandangi nya dengan wajah haru.


"Saya turut bersimpati dan berduka akan kepergian orang yang suster cintai, " kata ku pelan.


Perawat itu tersenyum pada ku sambil menyeka air matanya.


Lalu, ia terlihat menarik napas panjang dan dalam beberapa kali.


"Tidak apa-apa adik. Maaf jika saya harus berkata seperti ini pada adik. Karena dari cara adik menatapnya. Menggambarkan ada sesuatu perasaan yang adik tahan.

__ADS_1


Adik jangan sampai seperti saya, menyesal dan terkukung dalam perasaan nya tidak pernah di ungkapkan. Rasanya sesak dan sakit. Karena nyatanya cinta itu memang harus di ungkapkan. Dan semoga adik juga dapat melakukan nya, selagi kesempatan itu masih ada. Serta yang paling penting keberadaannya masih dapat terjamah dan terlihat oleh panca indra kita, " jelas perawat tersebut sambil memegang pundak ku dan tersenyum.


Aku terdiam dan larut dalam perkataan nya, sambil terus memandangi wajah Kak Reno.


__ADS_2