
Beberapa hari putri Kak Roy di rawat di rumah sakit, dan setelah di lakukan pemeriksaan fisik lebih lanjut. Dokter mendiagnosis dari hasil laboratorium pengujian darah dan pemeriksaan aspirasi dan biopsi sumsum tulang yang sudah keluar, jika Rani mengidap penyakit leukimia seperti Kak Roy. Faktor genetik menjadi faktor utama yang menyumbang sakit yang di derita Rani.
Dimana dokter yang menangani Rani pun berkata,"Seorang anak yang mewarisi gen risiko leukimia dari orang tuanya, dipastikan berpotensi mengidap penyakit tersebut. "
Tante Desi, Om Surya dan Kak Roy sangat syok dan terguncang mendengar hal itu. Hancur dan terluka perasaan mereka, setelah mengetahui kondisi Rani saat ini.
Apalagi saat Rani terus memanggil namaku tiada henti, hati Tante Desi bagai tersayat sembilu. Dengan rasa ke terputusasaannya, Tante Desi menumpahkan segala rasa kecewa dan amarahnya kepada Kak Roy.
"Apa sekarang kamu sudah senang melihat keadaan putrimu seperti ini Roy? Mengapa kamu begitu menjadi egois, akan cintamu pada Rani, sehingga membuat putrimu sendiri menderita seperti sekarang ini?, " ucap Tante Desi sambil memegang wajah Kak Roy.
Kak Roy hanya diam memandang wajah Tante Desi, sambil terus menangis.
Dengan segera Tante Desi menyeka air matanya dan meminta Om Surya untuk datang ke kediaman rumah keluarga Imandar. Supaya segera mengajak diriku ke rumah sakit. Om Surya pun tidak menunda-nunda lagi permintaan dari Tante Desi. Dengan segera Om Surya bersama sopir pribadi keluarga mereka menuju ke kediaman rumah keluarga Imandar.
Tetapi betapa terkejutnya Om Surya ,setelah mengetahui dari pak satpam yang menjaga rumah keluarga Imandar.Bahwa seluruh anggota keluarga Imandar tidak ada di rumah, dan sedang pergi berlibur. Setelah mendengar informasi dari pak satpam. Om Surya pun berusaha untuk menghubungiku, tetapi telepon genggam ku tidak aktif. Om Surya tidak menyerah lalu ia pun menghubungi semua nomor telepon anggota keluarga Imandar lainnya, tetapi hal yang sama juga seperti saat menghubungi diriku.
Om Surya tampak kecewa dan terlihat murung, kemudian ia pun hanya bisa berpesan pada Pak satpam. Dan meminta diriku untuk segera ke rumah sakit, setelah pulang dari berlibur. Om Surya menceritakan semuanya kepada pak satpam apa yang terjadi pada cucunya, supaya di sampaikan kepada diriku. Pak satpam pun mengangguk, sambil menerima alamat rumah sakit pada secarik kertas kecil yang di berikan oleh Om Surya padanya. Tidak lama setelah itu, Om Surya pun pergi meninggalkan kediaman rumah keluarga Imandar.
Sesampainya di rumah sakit, Om Surya menceritakan semuanya kepada Tante Desi. Jika diriku dan seluruh anggota keluarga Imandar lainnya tidak ada di rumah.
Tante Desi terlihat semakin cemas dan sangat ketakutan.
"Bagaimana ini pah? Bagaimana? Jika Rani dan seluruh anggota keluarga Imandar lainnya pindah dari kota ini, dan kita tidak tahu keberadaan mereka. Lalu apa yang akan terjadi pada cucu kita, pah? Huhuhuhuhu... Huhuhuhuhu. "
Om Surya lalu memeluk tubuh Tante Desi yang menangis histeris.
Sementara itu, Kak Roy yang mendengar kepergian diriku. Juga membuat dirinya lemas dan seakan tidak berdaya.
Tante Desi yang melihat Kak Roy hanya diam saja seperti itu, segera melepaskan dekapan Om Surya dari tubuhnya. Dan segera menghampiri Kak Roy lagi.
"Apakah hal ini yang kamu inginkan nak?, " tanya Tante Desi memegangi wajah Kak Roy yang diam menatapnya tanpa bergeming sedikit pun.
Tidak lama kemudian, Bude Ayu datang bersama suaminya. Ia segera menghampiri Tante Desi yang sedang menangis dan melupakan rasa kecewa juga amarah nya pada Kak Roy. Dengan cepat Bude Ayu pun menghentikan Tante Desi untuk memaki Kak Roy.
__ADS_1
"Sudah! Hentikan Desi! Apa yang kamu katakan terhadap Roy! Ingat dia itu putramu satu-satunya," bentak Bude Ayu yang melepaskan kedua tangan Tante Desi yang terus menggoyang-goyangkan tubuh Kak Roy.
Tante Desi semakin murka dan menumpahkan rasa kecewa juga kesedihannya pada Bude Ayu juga.
Bude Ayu, yang terus di salahkan oleh Tante Desi merasa tidak menerima akan sikap dan perkataan dari Tante Desi yang menyudutkan dirinya.
"Apa yang Mbak lakukan ini hanya untuk melihat kebahagiaan Roy dan putrinya. Dan tidak ada motif lain di dalam hati Mbak. Apalagi sampai ingin membuat cucumu sakit seperti ini. Tetapi kamu juga harus melihat dari sisi positif nya. Dengan sakitnya cucumu, maka akan semakin mudah mendesak Rani untuk menikah dengan Roy. Rani pasti akan iba dan tidak dapat menolak permintaan cucumu, untuk meminta Rani benar-benar menjadi mamanya, " ujar Bude Ayu.
Mata Tante Desi terbelalak dengan sedikit menggelengkan kepalanya.
"Aku tidak menyangka, jika Mbak mempunyai pikiran seperti itu Mbak, " ucap Tante Desi dengan keras.
"Pikiran apa Des? Kamu seharusnya berterima kasih dengan rencana mbak. Karena setelah mendengar cucumu sakit seperti ini. Rani pasti akan langsung kemari dan tidak akan menolak untuk menikah dengan Roy, " bantah Bude Ayu juga dengan keras.
"Seharusnya Mbak Ayu, tidak meracuni pikiran cucuku yang masih kecil untuk terus mendesaknya meminta Rani menikah dengan Roy. Selama ini cucuku sudah bahagia dapat dekat dan merasakan kasih sayang dari Rani. Tetapi, sekarang Rani pergi bersama seluruh anggota keluarga Imandar dengan alasan berlibur, yang tidak diketahui keberadaannya. Bagaimana jika mereka pindah dari kota ini, dan tidak kembali? Apa yang akan terjadi pada cucuku Mbak? Huhuhu.. Huhuhu... Huhuhu. "
Tante Desi semakin menangis dengan histeris, sementara itu Bude Ayu diam memandang wajah Tante Desi yang terduduk lemas di lantai. Dengan segera Om Surya pun mengangkat tubuh Tante Desi, untuk berpindah duduk di kursi. Lalu berusaha menenangkan Tante Desi dengan memeluk dan mengusap tubuh Tante Desi.
Bude Ayu pun lalu menghampiri Tante Desi dan memegang pundak adiknya, "Desi, jangan bersedih seperti ini Mbak mohon. Percayalah, Rani pasti kembali dan tidak akan terjadi apa-apa pada cucumu. "
Bude Ayu memandang wajah Tante Desi, dan berusaha meyakinkan adiknya.
"Mbak akan mencari keberadaan Rani, Desi."
"Bagaimana jika Rani tidak mau menemui cucuku Mbak? Bagaimana jika seluruh anggota keluarga Imandar melarangnya untuk menemui cucuku, setelah perlakuan dan ucapan Mbak padanya? Setelah kita semua mengacuhkan Rani, dan melarang nya untuk bertemu dengan cucuku. Bagaimana jika Rani terluka hatinya hingga membuat dirinya tidak peduli lagi pada cucuku, Mbak?. "
Bude Ayu menggelengkan kepalanya, "Tidak Des. Rani tidak akan pernah melakukan hal tersebut. "
"Bagaimana Mbak bisa seyakin itu?, " tanta Tante Desi.
"Sebab, kita sudah tahu bagaimana sifat dan karakter Rani sesungguhnya. Rani sangat menyayangi cucumu, dan tidak akan membuat cucumu bersedih. Maka dengarkan kata Mbak, hapuslah air matamu dan jangan bersedih. Untuk sekarang ini, kita fokus pada pengobatan cucumu, sampai menunggu kepulangan Rani dan anggota keluarga Imandar lainnya dari berlibur. Mbak akan membawa Rani kemari. Mbak janji padamu Des, " tutur Bude Ayu.
Tante Desi menatap wajah Bude Ayu dalam dan serius.
__ADS_1
Tidak lama, dokter pun keluar dan memberitahukan. Supaya Rani segera dilakukan kemoterapi mengingat penyakit leukimia yang di deritanya cukup berbahaya dan parah.
Tante Desi semakin tidak dapat menahan kesedihannya, setelah mendengarkan perkataan dokter.
Bude Ayu yang tak kuasa melihat kesedihan adiknya, pun berusaha menenangkan adiknya dengan terus mengusap punggung Tante Desi.
"Rani akan sembuh Des. Kamu harus kuat. "
"Bagaimana Mbak bisa berkata seyakin itu?, " tanya Tante Desi sambil menangis.
Bude Ayu mengusap air mata Tante Desi, "Bukankah Roy juga mengidap penyakit leukimia, bahkan ia divonis dokter hanya mempunyai kesempatan hidup sedikit. Tetapi Allah berkendak lain, nyatanya keajaiban itu terjadi pada Roy. Dimana ia berhasil sembuh dari sakitnya, dan sek kanker dari tubuhnya pun menghilang. "
Tante Desi mengangguk dan memeluk Bude Ayu erat, lalu menumpahkan semua kesedihannya.
Sementara itu, Kak Roy masuk ke dalam ruang perawatan putrinya. Dalam pandangan matanya yang nanar penuh kesedihan. Ia duduk terpaku menatap raga putrinya yang terbaring tidak berdaya di atas ranjang pasien rumah sakit, dalam kondisi tertidur karena pengaruh obat.
Hati Kak Roy sakit dan begitu terluka, melihat putri kesayangan itu harus berjuang melawan rasa sakit, karena ulahnya.
"Maafkan papa Rani.. Maafkan papa..., " ucap Kak Roy lirih sambil terus menangis dengan kepala tertunduk.
Om Surya yang sudah selesai berbicara dengan dokter, akan proses persiapan kemoterapi untuk Rani. Kini berjalan masuk menghampiri Kak Roy yang sedang menunggui putrinya, dalam kesedihan yang menyimutinya.
Om Surya menepuk pelan pundak Kak Roy berulang kali untuk menguatkan putranya itu.
"Kamu yang sabar dan kuat ya nak!. Putrimu sangat membutuhkan dirimu dan kita semua, untuk berada di dekatnya, " ucap Om Surya pelan.
Kak Roy mengangguk sambil menyeka air matanya yang tidak berhenti mengalir.
"Semua ini salah Roy pah. Seandainya saja, Roy tidak melarang putri Roy untuk bertemu Rani, dan membiarkan Bude Ayu mendoktrin pikirannya. Supaya meminta Rani menikah dengan Roy.Tentu, saat ini putri Roy tidak akan tertekan dan drop keadaannya. hiks.. hiks.. hiks.., " ucap Kak Roy penuh rasa penyesalan.
Om Surya kembali menepuk pundak Kak Roy berulang kali lagi, "Sudahlah nak, tidak perlu dirimu menyesali apa yang sudah terjadi. Jadikan semaunya sebagai pembelajaran, sekarang yang terpenting kita fokus pada kesembuhan putrimu. Kamu harus kuat dan tegar, supaya putrimu juga tidak menjadi lemah dan menyerah selama menjalani pengobatan ini, " pinta Om Surya pada Kak Roy.
"Iya pah, Roy akan melakukannya. Roy akan kuat dan tegar, serta menjadi papa yang akan selalu berada di samping putri Roy, selama ia menjalani semua rangkaian pengobatannya. Roy akan benar-benar mencurahkan kasih sayang Roy pada putri Roy, dan tidak akan memikirkan hal yang lainnya, " tutur Kak Roy sambil terus memandang wajah putrinya yang terlihat sangat pucat dalam tidurnya.
__ADS_1
Air mata Kak Roy kembali mengalir perlahan.
Ia ingin berusaha tidak menangis, tetapi pandangan matanya tidak cukup mampu kuat menahan raga putri kesayangannya sedang berjuang dengan rasa sakit yang luar biasa.