Jodoh Pilihan Tuhan

Jodoh Pilihan Tuhan
Rencana tersembunyi.


__ADS_3

"Ummah tidak habis pikir. Mengapa kita masih saja harus bertemu dengan Aisyah dan keluarganya itu, " gumam Ummah sambil memegang jemari tanganku.


Aku dan Mas Fariz terdiam mendengarkan luapan kekesalan Ummah akan perkataan ibunda Kak Aisyah tentang Mas Fariz. Kali ini pandangan mata Ummah tertuju kepada Mas Fariz yang masih sedikit tertunduk dan terdiam dengan sikap Ummah.


"Lagi pula Fariz, kenapa kamu malah menanggapi mereka?," celoteh Ummah.


Mas Fariz menghela nafas pendeknya,sembari merangkul dengan pelan tubuh Ummah,"Ummah,Tidak bertegur sapa atau memutuskan hubungan dengan sesama muslim itu tidak dibolehkan.Ummah pasti tahu itu kan?. "


"Iya nak Ummah paham akan hal itu, tetapi sikap ibunya Aisyah itu keterlaluan dan tidak sadar diri akan kesalahan putrinya. Ummah tidak terima jika ibunya Aisyah terus menerus menyalahkan dirimu nak, " ucap Ummah terlihat geram.


Mas Fariz tersenyum kecil memandang Ummah, "Ummah beristighfar ya, tidak baik jika Ummah terus berkata seperti itu. "


"Ughhhh, " suara Ummah menghembuskan nafasnya.


"Iya Nak.Untung saja Ummah melihat kalian, jika tidak entah apa yang diucapkan ibunya Aisyah itu dengan perkataan yang melantur kemana-mana dan akan semakin memojokkan dirimu nak, " ucap Ummah lagi yang masih kesal.


Mas Fariz lalu memandang Ummah dan mengingatkan Ummah untuk beristighfar.


Ummah pun mengangguk,"Astaghfirullah hal Adzim Alladzi Laa Ilaha Illallah.Aku mohon ampun pada Allah yang Maha Agung yang Tidak ada Tuhan selain Allah. "


Aku dan Mas Fariz tersenyum melihat Ummah jauh lebih tenang sekarang.


Dan saat langkah kakiku, Mas Fariz dan Ummah sudah hampir tiba kembali di ruangan tempat Kak Roy di rawat, tampak Abi dan Enjid sedang berdiri menunggu kami.


"Mengapa Abi dan Enjid berada diluar Ummah?, " tanya ku penasaran.


Ummah memandang kearahku, "Sebab di dalam Roy sedang mengamuk sayang, dia terus memanggil-manggil namamu. Jadi Ummah, segera menghampiri kalian berdua untuk segera pulang setelah ini. "


"Tanpa melihat keadaan Kak Roy, Ummah?, " tanyaku.


"Iya sayang, " jawab Ummah sambil merangkul pundakku.


"Lalu mengapa Dek Roy bisa mengamuk Ummah, bukankah saat kita di dalam ruangan nya. Tampak Dek Roy sedang tertidur pulas, "ucap Mas Fariz.


Ummah menghembuskan napasnya, " Sebab Nak Roy rupanya mendengarkan percakapan antara kedua orang tuanya juga dengan Abi, Ummah dan Enjid."

__ADS_1


Aku pun segera bertanya kepada Ummah,dengan rasa ingin tahu akan percakapan apa yang membuat Kak Roy menjadi mengamuk dan Ummah berkata kepadaku jika Kak Roy begitu syok dan terpukul mengetahui jika diriku telah menikah dengan Mas Fariz di tambah lagi Kak Roy juga mengetahui jika saat ini Rere sedang mengandung anaknya.


Aku terdiam mendengarkan perkataan Ummah, sembari pikiranku memikirkan akan kondisi Kak Roy yang saat ini sangat mengkhawatirkan keadaannya.


Tidak terasa langkah kakiku dan langkah kaki Ummah juga Mas Fariz sudah tiba di hadapan Abi dan Enjid.Dengan segera Abi pun berkata setelah diriku, Mas Fariz dan Ummah berada di hadapannya,"Kita langsung pulang saja ya, karena keadaan Nak Roy saat ini tidak memungkinkan untuk dapat ditemui. Terlebih lagi Nak Roy pasti akan sangat syok dan terpukul ,jika melihat kebersamaan Rani dan Fariz. Sehingga Abi memutuskan untuk kita semua langsung pulang saja ke rumah, demi kebaikan kita semua. "


Mas Fariz langsung merespon perkataan Abi, "Baiklah Abi, jika menurut Abi itu adalah hal yang baik maka Fariz setuju saja. Oh ya apakah Abi sudah pamit dengan Tante Desi dan Om Surya?. "


"Sudah Nak, mereka berdua juga yang meminta supaya dirimu dan Rani untuk sementara waktu tidak menemui Roy dulu, sampai keadaan Roy benar-benar dalam kondisi yang stabil dan layak untuk di besuk, " jawab Abi.


Mas Fariz mengangguk sambil sesekali ia melirik ke arah diriku yang terlihat terdiam.


"Ya sudah ayo, kita lekas pulang!, " ajak Ummah.


Ummah menggandeng tanganku melangkah pergi meninggalkan ruangan tempat Kak Roy di rawat. Di ikuti dengan langkah kaki Abi, Enjid dan Mas Fariz dari belakang.


Aku masih terdiam, membayangkan bagaimana Kak Roy akan melalui masa-masa sulit ini dengan hatinya yang terluka.


***


Di saat langkah kakinya terus berjalan mengikuti tim medis yang membawa Kak Aisyah ke ruangannya.Pandangan mata ibunda Kak Aisyah melihat pada seseorang pasien yang terus lalu-lalang memanfaatkan luas kamar sambil bertepuk tangan tanpa sebab, lalu diam dengan tatapan kosong.Maka bertambah ngilu dan sesaklah perasaan dan hatinya melihat hal itu, dirinya sungguh tidak dapat membayangkan jika hal itu terjadi kepada Kak Aisyah putrinya. Di kamar lainnya,yang mereka lewati terdengar suara raungan isak tangis dan suara kencang seseorang yang berteriak seolah-olah sedang putus cinta.


"Huhuhu...Huhuhuhu...Huhuhu...Dasar pria kejam!...jahat!Tega kamu memilih wanita itu dari pada diriku! ," begitu teriaknya sangat keras seakan-akan suaranya dapat memekakkan telinga bagi yang mendengarkannya. Ibunda Kak Aisyah semakin takut sambil memeluk suaminya dan memberanikan diri untuk kembali melangkah hingga ia dikejutkan dengan suara tawa terbahak-bahak dari pasien lainnya. Hingga mereka melewati taman di area rumah sakit itu, tampak oleh pandangan ibunda Kak Aisyah. Ada seorang perempuan sebaya dengan Kak Aisyah yang duduk di atas kursi roda sedang berjemur. Meski pandangannya kosong, telapak tangannya seperti mengisyaratkan meminta makan dan memandang tajam ke arah ibunda Kak Aisyah, lalu tersenyum menyeringai.


DUG....


Jantung ibunda Kak Aisyah berdetak kencang seketika dan bertambah takut lah dirinya.


"Ayah, bunda semakin takut dan khawatir jika kita menitipkan putri kita Aisyah disini. Apakah tidak sebaiknya Aisyah kita rawat saja di rumah ayah?, " tanya Ibunda Kak Aisyah dengan matanya yang berkaca-kaca.


Ayahnya Kak Aisyah pun dengan ucapan nya yang lembut berusaha menenangkan istrinya, "Bunda tidak perlu takut, semua ini demi kesembuhan putri kita Aisyah. Lagi pula kita membawa Aisyah kemari kan juga atas rekomendasi dari dokter yang menangani Aisyah. Sudah bunda tenang saja dan banyak berdoa saja demi kesembuhan putri kita. "


Dengan wajah yang masih berat dan tidak rela. Ibunda Kak Aisyah pun hanya bisa diam dan terus melangkah mengikuti tim medis yang sedang membawa putri mereka menuju ruang isolasi untuk di observasi lebih lanjut.


Kak Aisyah yang duduk dengan tangan dan kaki terikat hanya diam dengan tatapan pandangan matanya yang kosong. Ia seakan membisu dan larut dalam pikirannya sendiri. Tidak ada guratan senyum di wajahnya yang pucat. Hingga tidak terasa langkah kaki mereka sudah tiba pada ruangan kamar isolasi untuk Kak Aisyah. Ruangan yang tidak terlalu besar , dimana hanya ada ranjang kayu dengan kasur di atasnya disertai sepasang bantal guling juga selimut. Dengan perlahan tim medis melihat keadaan Kak Aisyah terlebih dahulu, baru setelah itu melepaskan ikatan yang membelenggu tangan dan kakinya. Kak Aisyah pun lalu dituntun untuk duduk di atas kasurnya. Ibundanya Kak Aisyah semakin tidak kuasa melihat keadaan putrinya, lalu sebelum pergi ia memeluk erat tubuh Kak Aisyah sembari mendaratkan ciuman bertubi-tubi pada pada kening, pipi dan kepala Kak Aisyah. Air matanya terus mengalir sambil memandangi wajah sang putri yang menatap dirinya dengan tatapan kosong.

__ADS_1


"Jaga diri baik-baik ya nak, dan lekas sembuh supaya kita dapat berkumpul kembali, " ucap ibunda Kak Aisyah sambil merapikan hijab yang menutup kepala putrinya.


Dengan langkah gontainya dan hatinya yang sangat berat, ibunda Kak Aisyah melangkah pergi dituntun suaminya keluar dari ruangan Kak Aisyah dan meninggalkan nya seorang diri jauh dari pelupuk pandangan matanya.


BRakkkk...


Pintu di ruangan Kak Aisyah tertutup. Ibunda Kak Aisyah masih memandangi Kak Aisyah yang masih duduk terpaku dengan tatapan kosong dari balik jendela.


Dengan perlahan ayahnya Kak Aisyah menarik lengan sang istri untuk segera melepaskan putrinya.


Angin berhembus sedikit kencang, dalam udaranya yang terasa dingin dan membuat bulu kuduk merinding. Setelah kedua orang tua Kak Aisyah pergi dan hilang dari jangkauan pandangan Kak Aisyah.


Dengan perlahan Kak Aisyah pun bangun dari duduknya dan berjalan ke arah jendela, pandangan matanya melihat ke sekitar. Kali ini tatapan matanya tidak lagi kosong, bibirnya tiba-tiba tersenyum tanpa menunjukkan deretan giginya. Dan tangannya mengetuk pintu di kamar isolasi nya sebanyak tiga kali dan lumayan kencang.


Tidak lama pintu pun terbuka, tampak seorang perawat membawa koper besar masuk ke ruangan Kak Aisyah.


"Letakkan koper dan barang-barang yang kuminta di dekat ranjang tempat tidur, " ucap Kak Aisyah lantang dan tegas.


"Baik Mbak, " sahut sang perawat.


Kak Aisyah lalu berjalan kembali ke ranjangnya dan menaruh koper yang dibawa perawat perempuan itu di atas kasur, lalu membuka koper dan mengeluarkan isinya.


Sementara sang perawat itu bolak-balik mengambil beberapa barang yang di butuhkan oleh Kak Aisyah. Setelah selesai perawat itu menghampiri Kak Aisyah.


"Semua barang-barang Mbak sudah saya bawa masuk ke sini. Apa ada lagi yang Mbak butuhkan?, " tanya sang perawat.


Kak Aisyah menggeleng kan kepalanya, "Tidak ada, jika nanti aku memerlukan bantuan darimu aku akan menghubungi dirimu. "


"Baik Mbak, " sabut sang perawat.


Kak Aisyah lalu mengambil bungkusan amplop coklat dari tasnya, lalu memberikan kepada perawat yang sedang berdiri du hadapannya, "Ini uang bayaran untukmu karena telah membantuku menjadi pura-pura mendapatkan gangguan jiwa. "


Sang perawat tersenyum sambil menerima bungkusan amplop berisi uang, lalu membawanya keluar dari ruangan Kak Aisyah berada.


Pintu ruangan Kak Aisyah tertutup kembali. Dengan cepat Kak Aisyah merebahkan dirinya di atas kasur sembari memegangi foto diriku dan Mas Fariz secara terpisah. Pandangan matanya penuh dengan kebencian, "Sekarang kalian berdua boleh berbahagia sebentar, tetapi sebentar lagi kebahagiaan yang kalian semai akan berakhir. Sebab aku tidak akan membiarkan kalian berdua hidup dengan tenang. Sebelum rasa sakit hatiku terbalaskan dan merebut Ustad Fariz dari Rani. "

__ADS_1


Kak Aisyah menyeringai sambil mencoret-coret fotoku dengan spidol hitam.


__ADS_2