Jodoh Pilihan Tuhan

Jodoh Pilihan Tuhan
Diculik.


__ADS_3

"Mas Fariz! Mas Fariz! Mas Fariz, " teriakku sambil menyeka air mataku yang terus mengalir.


Bik Siti terus mengejarku untuk menghentikan langkah kakiku, dengan napasnya yang terengah-engah, "Nak Rani! Nak Rani tunggu bibi nak. "


Aku tidak peduli akan panggilan Bik Siti, hingga seorang petugas sipir menghentikan diriku untuk tidak masuk ke dalam area lapas.


"Maaf Dek, silahkan tunggu disini saja demi keamanan adek. Jangan masuk ke dalam karena berbahaya sebab sedang terjadi kericuhan yang sedang ditangani, " ucap petugas lapas kepada diriku.


"Tetapi pak, suami saya sedang berada di dalam. Dia terjebak di dalam saat memberikan tausiyah nya,hiks..hiks..hiks", ucapku cemas sambil menangis.


Pak Sipir mengangguk sambil menjelaskan kepada diriku, " Iya Dek, saya mengerti akan hal itu. Tetapi kami tidak bisa membiarkan adek masuk ke dalam karena berbahaya bagi keselamatan adek sendiri. "


"Tetapi bagaimana dengan keselamatan suami saya pak!, " ucapku emosional.


Dan Bik Siti tiba -tiba datang dengan napasnya yang masih terengah-engah, lalu memegang tangan ku, "Nak Rani, jangan nekat Nak. Bibi mohon Nak Rani sabar dulu. Bibi yakin Nak Fariz akan dapat menjaga dirinya dengan baik, lagipula ada petugas lapas yang akan menolongnya. "


Aku memandangi wajah Bik Siti, "Huhuhuhu


... Huhuhuhu... Tetapi Bik, jika terjadi sesuatu kepada Mas Fariz bagaimana Bik? Hiks.. Hiks. "


Bik Siti menyeka air mataku dengan jemari tangannya, "Nak Rani tidak boleh berkata seperti itu, kita berdo'a saja kepada Allah supaya Nak Fariz berada dalam lindungan-Nya, ya Nak Rani. "


Aku mengangguk sambil terus menangis. Suara teriakan dan lemparan benda-benda keras terdengar jelas dan semakin membuat hatiku semakin resah. Para petugas lapas yang berbicara kepada diriku membawaku dan Bik Siti ke tempat yang aman.


Suara gemuruh, riuh rendah terus menyita pendengaranku. Dimana hal ini terus menerus membuat ku menyeka air mata yang terus mengalir membahasi wajahku dan Bik Siti pun tidak melepaskan genggaman tangannya dariku. Sambil melangkah mengikuti petugas lapas yang membawa kami menuju gedung lain. Aku dan Bik Siti terus berjalan dengan perasaan yang tidak menentu, hingga terdengar suara seseorang berteriak memanggil diriku.


"Rani! Rani! Rani!. "


Aku menoleh dan melihat sekitar, tetapi tidak kutemukan sumber suara yang memanggilku. Dan Bik Siti terus menarik tanganku hingga memastikan jika diriku benar-benar berasal di tempat yang aman.


Lalu datang dua orang petugas sipir perempuan yang datang menghampiriku dan bapak petugas lapas yang membawa kami menuju ke tempat yang aman. Kemudian, salah seorang petugas sipir perempuan itu berbicara kepada bapak petugas lapas yang membawaku ke tempat aman.


"Bapak, tolong segera masuk ke dalam membantu petugas lain menertibkan napi yang berbuat kericuhan di dalam, biar kami yang akan mengantar istri dari Ustad Fariz menuju ruangan di atas. "


Bapak petugas lapas memandang penuh dengan sangat serius wajah dari petugas sipir perempuan yang berkata kepadanya, "Maaf, tetapi saya sepertinya belum pernah melihat anda berdua sebelumnya disini. "


Sipir perempuan itu terlihat tegang dan canggung seketika, dan saling melirik ke arah teman sipir perempuan yang berdiri di sampingannya.


"Kami berdua petugas baru disini, pak, " sahut teman sipir perempuan yang sejak tadi diam di sebelah sipir perempuan yang berbicara kepada bapak petugas lapas.


Bapak petugas lapas masih masih memandang dan mengamati kedua perempuan sipir baru tersebut secara seksama, "Baiklah jika begitu, tolong tunjukkan kartu pengenal kalian. Supaya saya yakin jika kalian adalah petugas sipir yang baru di lapas ini. "


Dengan cepat kedua sipir perempuan itu menunjukkan kartu pengenal mereka kepada bapak petugas lapas yang langsung menerima dan melihat kartu pengenal milik mereka berdua secara detail.


Setelah bapak petugas lapas sudah selesai mengecek kartu pengenal kedua sipir perempuan itu dan tidak ditemui kejanggalan, maka bapak petugas lapas pun mengembalikan kartu pengenal itu kepada dua sipir perempuan yang baru itu. Kemudian, bapak petugas lapas mengucapkannya permisi kepadaku dan Bik Siti untuk masuk ke dalam lapas membantu para petugas yang lain, lalu beliau memintaku untuk mengikuti kedua sipir perempuan itu menuju tempat yang aman sampai situasi terkendali.


Aku pun mengangguk meskipun perasaan ku masih tidak tenang dan penuh kegelisahan. Aku pun memandangi kepergian bapak petugas lapas yang berlalu pergi dari hadapan ku, tetapi selama ia berjalan. Pandangan nya terus menoleh ke arah diriku. Hal ini sedikit membuatku merasa aneh dan tidak tenang akan sikap was-was yang ditunjukkan oleh bapak petugas lapas.


"Ayo Dek Rani!, " ucap sipir perempuan mengajak diriku bergegas mengikuti dirinya.


Aku masih terdiam dan memandang wajah kedua sipir perempuan itu lekat dengan penuh tanya, "Bagaimana ibu bisa tahu nama saya. Bukankah kita belum saling mengenal satu sama lain. "


Aku sedikit menaruh curiga akan sikap kedua sipir perempuan ini.


Mendengar pertanyaan dariku kedua sipir itu saling berpandangan satu sama lain, lalu sipir perempuan yang diam sebelumnya di samping sipir perempuan yang memanggil namaku pun berkata, "Kami sudah diberitahukan oleh atasan kami, yang diminta secara langsung oleh Ustad Fariz untuk mengamankan istrinya. Ustad Fariz pula yang memberitahukan kepada atasan kami jika nama istri dari Ustad Fariz adalah Rani. Yang kemudian atasan kami meneruskannya kepada kami. "


Aku terdiam memandangi kedua sipir perempuan itu , dimana Bik Siti juga terus memenangi tanganku dan tidak pernah melepaskannya.


"Mari Dek Rani, segera ikuti kami, " pinta sipir perempuan yang pertama kali memanggil namaku.


Langkah kedua sipir perempuan itu berjalan melawan arah, dimana bapak petugas sipir sebelumnya akan membawa ku dan Bik Siti ke tempat yang aman. Karena merasa ada perbedaan dari tujuan keberadaan tempat aman untuk ku akan ku tuju, maka tanpa ragu pun diriku langsung bertanya kepada sipir perempuan yang mengajakku untuk mengikuti langkahnya, "Maaf Bu, mengapa jalannya berbeda ya. Tadi bapak sipir sebelumnya akan membawa kami menuju ke tempat aman ke lantai atas gedung ini. Tetapi mengapa sekarang kita malah berjalan ke tempat lain. "


Sipir perempuan itu pun tersenyum, "Bapak sipir sebelumnya salah tempat Nak Rani, yang benar adalah tempat sekarang yang akan kita tuju. "


Entah kenapa hatiku sedikit ragu, tetapi kedua sipir perempuan itu terus mendesak agar diriku cepat mengikutinya karena keadaan sudah semakin tidak terkendali dan kondusif.


Dimana suara-suara teriakan dan lengkingan semakin terdengar jelas dan membuat bulu kuduk merinding mendengarkannya.


Aku pun mengikuti langkah kedua sipir perempuan itu dengan pelan dan mengamati keduanya dari belakang, seraya berbisik kepada Bik Siti, "Bik, entah mengapa Rani merasakan ada hal aneh dari kedua sipir perempuan ini. "


"Bibi juga merasakan hal seperti itu Nak Rani, " ucap Bik Siti dengan berbisik kepadaku juga.


Sambil mengenggam jemari tangan Bik Siti erat, aku pun berbisik kembali kepada Bik Siti, "Bik pegang telepon genggam milik Rani ini dan hubungi Kak Rafa atau siapapun yang ada di nomor kontaknya di dalam telepon genggam Rani. Sementara itu, kita berjalan perlahan-lahan saja, dan jika bisa kita menjauh dari kedua sipir perempuan ini tanpa mereka sadari. "


Bik Siti mengangguk dan menerima telepon genggam miliki lalu memasukkannya ke dalam tasnya, setelah kuganti ke mode silent dan menyalakan lokasinya.


Saat ada kesempatan bagiku dan Bik Siti untuk menghindar, tiba-tiba kedua sipir itu menoleh dan tersenyum sinis dengan wajah tidak biasa. Aku semakin merasakan kejanggalan akan sikap mereka, sambil berjalan mundur secara perlahan-lahan dan bersiap untuk lari. Tangan kedua sipir perempuan itu dengan cepat memegangi tanganku dengan erat.

__ADS_1


"Ada apa ini? Kenapa ibu memegangi saya seperti ini? Lepas kan! Lepaskan saya!, " teriakku.


Bik Siti pun juga membantu diriku untuk melepaskan genggaman tangan mereka dari tanganku, tetapi tenaga kedua sipir perempuan itu lebih kuat dari tenagaku dan Bik Siti. Aku terus meronta-ronta dan berteriak minta tolong, tetapi memang tidak ada orang atau petugas lapas yang berada di sekitar ku. Mereka semua tampak sedang berada di dalam area lapas untuk menertibkan kerusuhan yang terjadi.


Aku berusaha mengigit lengan salah satu sipir perempuan itu, dan usahaku membuahkan hasil dimana kedua jemari tangan salah seorang sipir perempuan itu terlepas dariku karena kesakitan. Maka dengan cepat aku mendorong tubuh teman sipir perempuan itu yang masih erat memegangi diriku, dan dibantu dengan kekuatan Bik Siti. Aku pun dapat terbebas dengan menendang kuat kakiku pada tubuh sipir perempuan yang masih ingin menangkap diriku. Mengetahui aku sudah terbebas dengan cepat kutarik tangan Bik Siti untuk berlari dan berteriak meminta tolong, berharap ada bantuan ataupun orang yang akan menolong ku dan Bik Siti.


Aku terus berlari bersama Bik Siti dengan napas yang terengah-engah tanpa menoleh ke belakang, karena ku tahu kedua perempuan yang mengaku sebagai sipir itu masih saja mengejar kami.


Karena begitu berusaha sekuat tenaga dapat melepaskan diri dari kedua sipir palsu itu, tanpa kuduga kakiku tersandung.


BRuukkkk...


Aku pun terjatuh.


"Nak Rani!, " teriak Bik Siti panik dan berusaha untuk menolong diriku.


Kepalaku nyeri dan terasa sakit.


Bik Siti membantuku untuk segera bangkit berdiri dan berlari lagi, sebab kedua sipir palsu itu sudah semakin dekat ke arah ku dan Bik Siti.


"Ya Allah Nak Rani, kening Nak Rani banyak mengeluarkan darah, " ucap Bik Siti ketakutan.


Dengan sekuat tenaga aku pun berusaha bangkit dan bersiap untuk berlari menjauh dari kedua sipir perempuan itu. Tetapi kedua sipir itu telah berada di dekat ku dan memegangi tubuhku dengan erat dan kuat.


Aku terus meronta dan meminta mereka melepaskan diriku, dibantu Bik Siti yang memukul-mukul mereka supaya melepaskan ku. Tetapi usaha yang dilakukan Bik Siti dan diriku sia-sia. Dengan cepat dan kasar salah seorang sipir perempuan itu mendorong tubuh Bik Siti hingga tersungkur ke tanah.


"Bik Siti!, " teriakku.


"Lepaskan! Lepaskan saya! Mengapa ibu berdua ingin membawa saya? Siapa yang menyuruh kalian melakukan hal ini? Lepaskan, " ucaoku lagi dengan berteriak.


Kedua sipir perempuan itu pun tersenyum dan semakin menarik tubuhku dengan kuat, "Diam! Jangan banyak memberontak, atau kami tidak segan-segan akan melukai orang tua itu. "


Salah seorang sipir perempuan itu mengancam diriku dengan benda tajam yang ia keluarkan dari saku celananya untuk melukai Bik Siti.


Bik Siti berteriak histeris ketakutan, "Ahhhhh! Tidak jangan sakiti saya! Huhuhuhuhu. "


Aku sungguh tidak tega melihat ketakutan dan kecemasan di wajah Bik Siti.


"Jangan... Hentikan. Saya mohon jangan sakiti Bik Siti, " pintaku sambil menangis.


"Baiklah jika kamu tidak ingin melihat wanita tua ini terluka, maka kamu harus ikut dengan kami tanpa perlawanan. Mengerti!, " gertak salah seorang sipir perempuan itu.


"Nak Rani jangan ikut bersama dengan mereka Nak. Bibi mohon, " ucap Bik Siti histeris sambil memandang diriku.


Lalu tanpa banyak berkata lagi kedua sipir perempuan itu menarik tubuh ku kasar untuk ikut bersama mereka.


Sementara Bik Siti masih terduduk lemas di lantai sambil berteriak memanggil diriku yang di tarik paksa oleh kedua sipir perempuan itu.


"Nak Rani!, " teriak Bik Siti keras.


Aku pun berusaha menoleh ke arah Bik Siti yang masih merintih kesakitan di tanah, lalu aku pun memberikan kode untuk Bik Siti segera menelpon.


Bik Siti segera paham maksudku, lalu ia mengeluarkan telepon genggam milik ku dan berusaha meminta bantuan. Tetapi belum sempat Bik Siti menghubungi siapa pun . Wirda sedang menelpon ke telepon genggam milikku, maka dengan cepat Bik Siti pun mengangkatnya.


"Halo.Assalamu'alaikum Rani, dimana kamu?, " ucap Wirda cemas.


Huhuhu... Huhuhuhu... Terdengar suara Bik Siti menangis histeris menjawab sambungan telepon masuk dari Wirda.


Wirda terkejut mendengarkan suara Bik Siti, "Halo.. Bik Siti ada apa? Mengapa Bik Siti menangis? Dimana Rani?. "


Wirda bertanya dengan penuh kecemasan dan kepanikan.


Dengan suara yang bergetar dan menangis Bik Siti pun berkata, "Nak... Ra... ni... Nak.. Ra.. Ni... "


Wirda semakin panik mendengar suara Bik Siti yang terbata-bata, "Bik, Rani kenapa Bik? Tolong bicara yang jelas. "


"Huhuhuhuhu.... Tolong Nak Wirda, Nak Rani diculik, " ucap Bik Siti sambil menangis.


"Apa Bik? Rani diculik?, " Wirda semakin syok.


"Iya Nak Wirda, ada dua orang perempuan yang memakai pakaian sipir membawanya, " kata Bik Siti.


"Baik Bik. Sekarang Bik Siti dimana?, " tanya Wirda panik.


Bik Siti pun menjelaskan detail tempat keberadaannya kepada Wirda.


"Baik Bik. Bibi tetap diam disitu ya. Tunggu saya dan Kak Rafa akan segera bergegas ke situ, tidak lama Bik. Sebab kami berdua sudah ada di tempat parkir, " pinta Wirda kepada Bik Siti.

__ADS_1


"Iya Nak Wirda, " jawab Bik Siti lesu.


Telepon pun terputus.


Bik Siti yang masih lemas dan dapat melihat kedua sipir perempuan yang membawa diriku secara paksa masuk untuk ke dalam mobil. Dengan sekuat tenaga Bik Siti berteriak meminta tolong dan merekam tindakan penculikan oleh kedua sipir perempuan itu dengan telepon genggam milikku.


Dan teriakan Bik Siti pun tidak sia-sia, dimana terdengar langkah kaki yang menghampiri dirinya dengan tergesa-gesa.


"Bik Siti tidak apa-apa?, " ucap suara seorang laki-laki kepada Bik Siti.


Bik Siti menoleh ke arah sumber suara yang menanyakan keadaannya, dan berapa terkejutnya Bik Siti setelah ia melihat sosok yang sedang membantunya untuk berdiri adalah Kak Reno.


" Nak Reno!, " ucap Bik Siti terkejut.


Kak Reno tersenyum kecil sambil membantu Bik Siti ditemani pak sipir yang sebelumnya bersama dengan diriku dan Bik Siti.


Bik Siti lalu memegang pundak Kak Reno, "Nak Reno, tolong! tolong Nak Rani diculik oleh dua orang perempuan yang menyamar menjadi petugas sipir penjara.


, hiks... hiks. "


"Maksud Bibi, dua perempuan yang menunjukkan identitasnya kepada saya, " tanya bapak sipir.


Bik Siti mengangguk dan meminta Kak Reno juga bapak sipir yang berada di samping nya untuk segera membantu diriku.


Kak Reno terkejut sambil memandang wajah panik Bik Siti yang menunjukkan mobil yang membawa diriku belum terlalu jauh. Maka tanpa banyak berkata lagi. Kak Reno langsung bergegas berdiri dan mengajak pak sipir untuk menuju ke sepeda motornya mengejar mobil yang membawa diriku menjauh pergi.


Bik Siti pun terus menangis sambil menatap kepergian Kak Reno dan pak sipir yang sudah bersiap di atas sepeda motor yang dikendarai oleh Kak Reno, dan kini melaju cepat mengejar mobil yang menculik diriku.


"Nak Reno tidak boleh keluar seperti ini, karena melanggar peraturan di lapas, " ujar pak sipir yang diboncengi Kak Reno.


Sambil mengemudikan sepeda motor milik pak sipir, Kak Reno yang sangat panik dan khawatir terhadap diriku tidak memperdulikan aturan apapun juga, "Nyawa Rani lebih penting dari hal apapun juga pak, lagi pula saya tidak melarikan diri. Bapak segera telepon bantuan atau aparat kepolisian untuk berjaga-jaga terhadap kemungkinan yang tidak kita inginkan, " ucap Kak Reno keras dan melajukan sepeda motor untuk mengejar mobil yang membawa diriku cukup jauh darinya.


Pak sipir pun terdiam tidak dapat berkomentar dan melakukan apa yang di ucapkan oleh Kak Reno dengan terus berpegangan pada Kak Reno yang melajukan sepeda motor secara meliuk-liuk bak pembalap.


Sementara itu, Mas Fariz dan Pak Budi bersamaan datang dengan Wirda juga Kak Rafa menghampiri Bik Siti yang terduduk lemas di tanah dengan luka di wajahnya.


"Bik, dimana Dek Rani?, " tanya Mas Fariz panik dengan mata berkaca-kaca.


Bik Siti dengan berderai air mata lalu menceritakan semua kronologi kejadian yang menimpa dirinya dan diriku. Hal ini membuat Mas Fariz dan semua orang kaget dan syok. Tubuh Mas Fariz terasa lemas seketika, dan dengan cepat Kak Rafa memegangi tubuh Mas Fariz.


"Astagfirullah ya Allah,lindungilah Dek Rani dimanapun ia berada, " ucap Mas Fariz.


Bik Siti terus menangis dan Wirda membantu mengusap luka dan darah yang mengalir di wajah Bik Siti dengan tisu secara perlahan.


Mas Fariz lalu meminta Pak Budi untuk mengecek CCTV di tempat kejadian dimana diriku diculik. Lalu tiba-tiba Bik Siti pun teringat akan video rekaman yang sengaja Bik Siti ambil saat kedua sipir perempuan palsu itu membawa diriku. Dengan cepat Bik Siti menunjukkan rekaman dari telepon genggam milikku kepada Mas Fariz. Lalu Mas Fariz Pak Budi untuk tetap berada disitu. Mas Fariz menangis melihat keadaan diriku yang terluka dan mendapatkan perlakuan kasar dari kedua sipir palsu tersebut, hatinya begitu tersayat dan marah. Maka dengan cepat Mas Fariz meminta Kak Rafa segera membuat laporan ke pihak berwajib dan mencari tahu keberadaan posisi mobil yang menculik diriku,sekaligus membawa Bik Siti untuk segera mendapatkan pertolongan.


Semua orang bergegas dengan cepat menuju ke mobil. Wirda lalu menghubungi Abi dan Enjid atas peristiwa yang menimpa diriku. Abi dan Enjid pun terkejut juga syok, dan dengan perlahan memberitahukan kepada Ummah perihal yang terjadi kepada diriku. Ummah tidak kuat mendengar kabar penculikan atas diriku, sehingga membuat Ummah jatuh pingsan dan tidak sadarkan diri.


Mas Fariz dan Pak Budi segera mengejar mobil yang membawa diriku dengan menggunakan plat nomor yang terekam dalam video rekaman yang diambil Bik Siti melui telepon genggam milikku.


Kali ini Pak Budi yang menyetir dan Mas Fariz mencari keberadaan mobil yang membawa diriku melalui aplikasi signal dengan memasukkan plat nomor mobil. Sementara itu, Kak Rafa ditemani Wirda dan Bik Siti segera membuat laporan ke pihak berwajib dan meminta melakukan pengejaran dengan segera pelaku penculikan terhadap diriku.


Setelah itu, Kak Rafa meninggalkan Wirda di rumah sakit yang menemani Bik Siti di ruang IGD untuk mendapatkan pertolongan atas luka robek yang terjadi di keningnya.


Kak Rafa pun bergabung dengan aparat kepolisian untuk segera mengejar mobil yang membawaku sambil terus berkomunikasi dengan Mas Fariz melalui sambungan telepon genggam tentang dimana posisi keberadaan mobil yang membawa diriku.


Sementara itu, di dalam mobil yang membawaku. Kedua sipir perempuan itu mengikat dan menyumpal mulutku dengan kuat. Dimana kurasakan nyeri dan sakit pada keningku yang terluka tempo hari karena perlakuan Kak Aisyah terhadap diriku, dan dapat kurasakan jika di tempat yang sama pula terjadi robekan kembali pada keningku. Sambil menahan rasa nyeri yang menyerang kepala ku. Aku pun memandangi wajah-wajah pelaku di dalam mobil. Kedua sipir perempuan palsu itu mengampit diriku di sisi kanan dan kiri, sementara dua orang laki-laki bertubuh besar dengan wajah seram sedang fokus menyetir mobil dan seorang lagi sedang menelpon seseorang. Dimana dari percakapannya dapat kudengar, ia sedang melapor kepada seseorang yang telah meminta jasa mereka jika telah berhasil membawa diriku.


Perasaan takut dan cemas terus menyergap diriku, dan memikirkan siapa orang yang berniat jahat dengan melakukan semua ini kepada diriku. Aku lemas dan tidak berhenti berdzikir dan berdo'a kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala agar senantiasa melindungi dan menjaga diriku dari hal-hal buruk dan niat-niat jahat seseorang.


Perempuan di sisi kiriku menatap wajahku dengan sinis dan menekan luka di keningku, hingga membuat diriku merasakan sakit yang luar biasa dimana laki-laki yang sedang menelpon tersebut merekam tindakan yang dilakukan oleh perempuan yang menyakiti ku.


Air mataku mengalir tanpa ada jeritan dari mukutku yang tersumpal kain dan tertutup plester dengan kuat.


"Ya Allah kuatkan diriku dan bantulah aku untuk keluar dari kejahatan ini, " ucapku di dalam hati.


Hahaha... Hahaha... Hahahaha...


Terdengar suara mereka berempat tertawa terbahak -bahak dengan sangat senang melihat diriku merasakan kesakitan.


Tidak lama kemudian, perempuan yang menyakiti diriku dengan cepat menutup kepala ku dengan karung atau pembungkus berwarna hitam untuk menghalangi pandangan mataku melihat ke sekitar jalan dimana mereka akan membawa diriku.


Sementara itu, Kak Reno sudah semakin dekat membuntuti laju mobil yang membawa diriku.


"Nak Reno, ikuti saja kemana mobil itu akan membawa Nak Rani. Jika kita sudah tahu lokasi keberadaan mereka membawa Nak Rani. Barulah bapak akan menelpon pihak berwajib, " ucap Pak sipir kepada Kak Reno.


"Iya Pak, " jawab Kak Reno sambil terus fokus melajukan sepeda motor.

__ADS_1


Begitu pula dengan Mas Fariz yang terlihat tegang dengan terus menyeka air matanya karena begitu mengkhawatirkan diriku, dimana lisannya tidak pernah terputus atau berhenti untuk berdoa meminta perlindungan kepada Sang Maha Kuasa untuk melindungi diriku.


__ADS_2