
Aku langsung berjalan menuju ruang makan dimana Ummah dan yang lain sudah menunggu diriku. Bik Inah lalu menyampaikan kepada Ummah dan yang lain, tentang kedatangan kedua orang tua Kak Roy dan Bude nya.
Ummah yang selesai makan segera berdiri untuk menyambut kedatangan mereka di ruang tamu. Sementara itu, Bik Inah diminta Ummah untuk membuatkan minuman dan makanan, yang akan di sajikan kepada Tante Desi, Om Surya dan Bude Ayu.
Kak Roy dan Abi yang selesai makan pun segera menyusul Ummah ke ruang tamu.
Kemudian,aku mengambil nasi di atas piring beserta lauk untuk Rani.
Enjid menatap diriku, setelah menyelesaikan makannya.
"Kamu tidak ikut makan juga Rani?, " tanya Enjid padaku.
"Rani belum lapar Njid, " kataku sambil menyuapi putri Kak Roy.
Rani makan dengan lahap, dan ia meminta untuk makan sendiri.
"Apa yang sedang kamu pikirkan nak? Enjid melihat kegelisahan di wajahmu. Apakah ini kaitannya dengan kedatangan Roy dan putrinya?," tanya Enjid serius.
Aku terdiam memandang Enjid, dan berusaha untuk menutupi perasaan gundahku. Tetapi, tiba-tiba Rani yang sedang menikmati makannya. Langsung bertutur pada Enjid.
"Enjid!, " panggil putri Kak Roy dengan mulut penuh dengan makanan.
Enjid pun menoleh ke arah Rani, "Ada apa sayang? Di habiskan dulu makannya ya, baru bicara. "
Rani mengangguk, dan dengan cepat ia pun menelan makanan
Rani lalu menelan makanan yang ada di mulutnya dengan cepat, dan meminum air putih dari gelas di dekatnya, yang sudah ku siapkan.
"Pelan-pelan sayang, " ucapku mengusap kepalanya.
Rani tersenyum padaku, lalu memandangi wajah Enjid.
"Apakah mama Rani menjadi gelisah karena permintaanku, supaya mama mau menikah dengan papa Roy dan menjadi mamaku selamanya, " kata Rani.
Aku terkejut dan lumayan syok mendengar ucapannya lagi, begitu juga dengan Enjid yang langsung memandang ke arahku.
Lisanku tidak mampu untuk menjawab pertanyaan Rani. Rasanya mulutku terbungkam dalam lidah yang begitu keluh.
Enjid pun juga turut diam seketika, seolah ia memahami apa yang menjadi kegelisahan di dalam hatiku saat ini.
Namun, Rani terus menunggu jawaban dariku, dan menarik tanganku untuk segera menjawab pertanyaannya.
__ADS_1
Aku menarik napas dalam-dalam dan panjang, untuk membuat perasaan ku jauh lebih baik dan tenang. Supaya dapat membuat Rani tidak terus mendesak diriku dengan pertanyaannya, yang ingin dijawab segera olehku.
Dengan pelan dan lembut ku usap kepalanya, dimana matanya yang berkaca-kaca memandang ku penuh harap.
Aku benar-benar tidak kuasa melihatnya. Apalagi saat ia berkata, "Apakah mama Rani tidak sayang padaku, sehingga mama tidak mau menikah dengan papa Roy, supaya menjadi mamaku selamanya. "
Aku mengeleng-gelengkan kepala ku, dan bingung untuk menjelaskan padanya.
"Mama Rani kenapa diam?, " tanyanya sambil mengerak-gerakan pergelangan tanganku.
Rani mulai merenggek dan menunjukkan raut wajahnya yang terlihat sedih.
Aku terus mengusap kepalanya.
"Itu berarti Mama Rani, tidak mau menjadi mamaku dan menikah dengan papa Roy kan?, " terkanya.
"Bukan begitu sayang, "jelasku.
Wajahnya yang penuh harap terus menatap diriku, " Berarti mama Rani mau menikah dengan papa Roy kan?, "tanyanya lagi dengan mengenggam tanganku.
Tetapi aku hanya diam memandangi wajahnya, tanpa dapat berkata-kata apapun.
Dan tiba-tiba, Rani turun dari kursi meja makan, kemudian berlari sambil menangis memanggil nama Kak Roy. Sontak aku da Enjid sangat terkejut akan tindakannya. Dengan cepat pula aku berlari mengejarnya, begitu pula juga Enjid yang menyusulku.
Namun, Rani tidak menggubris ku dan terus berlari mencari keberadaan Kak Roy. Hingga ia pun berhasil menemukannya. Semua orang kaget melihat Rani menangis tersedu-sedu sambil memeluk Kak Roy erat, dan meminta untuk segera pulang.
Semua orang panik, dengan sikap yang ditunjukkan Rani.
Aku yang sudah berada di ruang tamu dan terus memanggil Rani, dan mendekatinya. Sekarang tidak di pedulikannya.
"Ada apa Rani? Apa yang terjadi pada cucu Tante?, " tanya Tante Desi memandangi ku.
Semua orang bertanya padaku, dengan tatapan penuh tanya dan curiga. Seakan -akan diriku seperti orang yang melakukan kejahatan dan merasa begitu di pojok kan akan tatapan mereka.
Rani pun terus menangis tersedu-sedu dan bergumam dalam isak tangisnya, memandangi wajah Kak Roy.
"Papa, Mama Rani. Tidak mau menikah dengan papa. Mama Rani tidak sayang dengan ku, mama Rani tidak mau menjadi mama ku pah, hiks... hiks.. hiks. "
"Bukan begitu sayang, " ucapku membujuk Rani dengan mengusap kepalanya.
Kak Roy memandangi ku sambil menyeka air mata putrinya, dan memeluk erat tubuh Rani.
__ADS_1
"Sayang, sudah jangan menangis ya. Ayo kita pulang sekarang ya, " ajak Kak Roy dengan terus mengusap kepala Rani.
"Rani! Bukan itu maksud mama, " kataku berusaha menjelaskan.
Tetapi Bude Ayu, segera memotong perkataan ku.
"Kamu tega Rani, mematahkan hati anak kecil. Bude tidak menyangka kamu bisa seperti ini , " ucap Bude Ayu yang terlihat kesal padaku.
Aku pun berusaha membela diriku, "Tidak Bude.Saya tidak mengatakan hal apapun pada Rani. Bude salah paham, saya pun tidak bermaksud membuat Rani menangis. "
"Jika memang kamu tidak berkata demikian, lalu mengapa Rani menangis seperti ini. Pasti kamu sudah menolak permintaannya kan? Lagi pula apa salahnya, jika kamu mengiyakan permintaannya, dia pasti tidak merasa sedih seperti sekarang ini, " ucap Bude Ayu ketus padaku.
"Sudahlah mbak, saya yakin Rani tidak mungkin berniat membuat cucu ku bersedih. Karena Rani sangat menyayangi putri Roy, " bela Tante Desi.
Tetapi Bude Ayu seakan tidak setuju, dan terus memojokkan diriku. Bahkan saat Enjid pun turut membela diriku. Bude Ayu pun tetap salah paham.
Akhirnya, aku hanya diam sambil memandangi Rani yang masih menangis di dalam dekapan Kak Roy.
Dimana Kak Roy pun tidak berkata apapun padaku, dan hanya memandangi ku sekilas lalu kembali menatap putrinya lagi.
Aku sungguh merasa tidak enak dan merasa terintimidasi akan tatapan kecewa dari keluarga Kak Roy.
Ummah mendekatiku dan menarik tubuhku untuk berada di dekat nya. Beliau lebih memahami perasaan ku.
Dengan rasa bersalah aku pun meminta maaf pada Tante Desi dan keluarganya.
Meskipun hanya Tante Desi dan Om Surya yang merespon permintaan maaf ku.
Ummah melakuan hal sama seperti yang ku lakukan. Dan akhirnya Kak Roy bersama keluarganya pamit pulang meninggalkan kediaman keluarga Imandar.
Abi dan Ummah mengantar mereka semua sampai ke halaman depan.
Sementara itu, Enjid duduk melihat diriku yang masih duduk dengan kepala tertunduk.
"Nak, kamu tidak salah sayang. Enjid ingin melihat mu bahagia, dan menjalani kehidupan mu tanpa paksaan dan permintaan orang lain. Hanya dirimu sendiri yang berhak menentukan kehidupan mu, baik dalam pernikahan dan menentukan pasangan hidupmu, yang akan menggantikan Fariz. Enjid mohon, jangan biarkan siapa pun yang ingin mengintimidasi pilihan kehidupan mu. Termasuk putri Roy , " tutur Enjid padaku.
Aku memandang Enjid dengan mata berkaca-kaca. Dan tak lama setelah itu, Ummah sudah berada di dekat ku dan memelukku erat.
"Sabar ya sayang, " ucap Ummah sambil mengusap kepala ku yang bersandar pada bahunya.
Perasaan ku tidak menentu dan terus teringat akan keadaan Rani yang masih begitu sangat sedih.
__ADS_1
Aku sangat berharap semoga Rani baik-baik saja, dan tidak terjadi hal yang buruk padanya.
Aku benar-benar mengkhawatirkan dirinya.