Jodoh Pilihan Tuhan

Jodoh Pilihan Tuhan
Menjenguk Bunda


__ADS_3

"Ran,kenapa kok malah diem aja.Ayo masuk ke kamar Rani,"ajak Mbak Riska.


Langkahku sedikit terasa berat.Hingga kuberanikan diri untuk berkata sesuatu kepada Mbak Riska,


"Mbak,tunggu sebentar.Apa tidak sebaiknya jika Rani satu kamar saja dengan kamar Mbak Riska.Daripada Rani di kamar ini,rasanya terlalu luas mbak,"bujukku.


"Nggak apa-apa dek,nanti lama-lama Rani akan terbiasa kok.Lagipula ini juga keputusan dari Mama,papa dan kakek.Hmm....atau jangan-jangan Rani takut ya sama Reno?,"ucap Mbak Riska sambil memandangku.


"Hmmm ...bukan begitu mbak.Rani kurang nyaman saja mbak,"jawabku.


"Rani,nggak perlu takut sama Reno.Di setiap sisi sudut depan koridor penghubung antara kamar Rani dan Reno sudah terpasang CCTV.Jadi Reno nggak akan macam -macam dengan Rani,"ucap Mbak Riska meyakinkanku.


Aku pun tidak kuasa menolak.Dengan sangat berat hati aku melangkah ke kamar.Sementara Kak Reno menyeringai senang melihat ketakutanku.


CEKREK...


Pintu kamar terbuka.


"Maa'syaAllah,besar dan indah sekali kamarnya mbak,"ucapku kagum.


"Iya Ran,semoga kamu suka ya.Mbak sendiri yang menghias kamar Rani,"ucapnya sambil mencubit lembut pipiku.


"Baiklah mbak, Rani ganti baju dan sekalian salat zuhur dulu ya mbak,"ucapku pelan.


"Iya dek,mbak turun dulu ke bawah ya.Rani nggak apa-apa kan,nanti pintunya dikunci saja jika Rani sudah selesai ganti baju langsung turun ya dek,"ucap Mbak Riska.


"Iya mbak,"ucapku sambil mengangguk pelan.


Mbak Riska keluar dari kamar dan aku langsung mengunci pintu.Segera aku membasuh tubuhku dan berwudhu.Tidak lama setelah itu aku berganti baju.Kulihat pakaian di dalam lemari.Semua berisi baju baru dan terlihat mahal,ucapku dalam hati.Bagaimana ini pikirku,semua pakaian ini terlalu mewah dan berlebihan untuk kupakai.Aku terus mencari seisi lemari barangkali ada pakaian yang lebih terlihat sederhana untuk dipakai dalam keseharian."Akh ini dia,"ucapku pelan sembari tersenyum pada salah satu baju set gamis berwarna ungu muda kesukaanku yang terlihat tidak terlalu mewah.Lalu kupakai dan bergegas menunaikan salat zuhur.Tidak lupa kubasahi lisanku dengan berdzikir menyebut asma Allah dan setelahnya aku pun berdo'a,


"A'udzubillahi Monas syaithonir rojim.


Bismillahirrahmanirrohim.Allahumma Sholli'ala Muhamad Wa'ala 'ali Muhammad.


Ya Allah,Ya Rahman,Ya Rahim


Bantulah hambamu ini menjalani akan semua ketetapanMu dengan hati yang ikhlas serta lillah hanya mengharap ridhoMu.Dan berilah kesembuhan untuk bunda serta angkatlah penyakitnya Ya Allah.


Allahummaghfirlii waliwaa lidayya warhamhumaa kamaa rabbayaanii shaghiraa.Artinya: Ya Tuhanku,ampunilah aku dan kedua orang tuaku,dan sayangilah kedua orang tuaku sebagaimana mereka telah memelihara dan mendidik ku sewaktu aku kecil.


Allahumma Arinal haqqo haqqo war zuqnat tiba'ah wa Arinal bathila bathila warzuqnaj tinabah.Artinya: Ya Allah,tunjukilah kami yang benar itu benar dan kami mampu melaksanakannya dan tunjukilah kami yang salah itu salah dan kami mampu menjauhinya.


Robbanaa Arina Fiddun ya khasanatawwafil akhiroti khasanah waqina 'adzaabannar.Artinya:Ya Allah berilah kami keselamatan di dunia dan di akhirat.


Subhanarobbika robbil 'izzati 'amma yashifun wassalamun 'alal mursalin wal hamdulillahi robbil'alamiin,"ucapku lirih dalam melangitkan do'aku kepada Allah Subhanahu wa ta'ala.


Aku pun bangkit dari dudukku lalu melepaskan mukena yang kukenakan dan menggantinya dengan hijab berwarna ungu.


Setelah auratku tertutup aku bergegas untuk kebawah.Rasanya aku sudah sangat tidak sabar untuk berjumpa dengan bunda.Sebelum kubuka pintu aku mengintip ke lubang intip pintu atau door viewer.Kulihat sepertinya aman Kak Reno sepertinya tidak ada di luar.


"Bismillah Ya Allah,"ucapku pelan sambil membuka pintu.


Namun,tidak lama setelah pintu terbuka.Wajah Kak Reno langsung berada tepat di hadapanku.Dengan spontan aku berteriak karena terkejut.Lalu dengan cepat ia menutup mulutku dan mendorong tubuhku ke dinding.Kak Reno terus menakutiku,


"Kamu mau kemana?,"ucapnya sambil tertawa.


Aku terus meronta berusaha melepaskan diri darinya.Tetapi ia semakin kuat menahan tubuhku.Karena begitu takut aku pun menginjak kakinya dengan sekuat-kuatnya.Kak Reno pun berteriak kesakitan.Tangannya terlepas,dengan segera aku bergegas menjauh darinya dan langsung menuju lift.Dengan cepat aku masuk ke dalam lift dan menekan tombol menuju kebawah.Pintu akan tertutup.

__ADS_1


"Alhamdulillah aman,"ucapku.


Tetapi tiba-tiba Kak Reno dengan cepat masuk ke dalam lift bersamaku.Pintu lift pun tertutup.Aku terperangah melihatnya.Kak Reno tersenyum kepadaku.Ia berjalan mendekatiku perlahan,aku pun berusaha menjauh darinya.


"Kamu mau kemana?kenapa harus takut denganku,bukankah kita sudah menjadi suami istri,"tanyanya padaku.


"Berhenti dan jangan coba macam-macam denganku,"ucapku mengertaknya.


"Kamu pikir aku takut dengan ancamanmu,"ucapnya sambil menyeringai dan semakin mendekatiku.


Aku menghindar darinya,tetapi dengan cepat ia menarikku.Pandangan kami bertemu,ia menatapku dengan tajam,dapat kurasakan dengan jelas hembusan dan aroma tubuhnya.Ia semakin mendekatkan wajahnya padaku.Aku pun semakin berdebar dan merasa takut.Kali ini wajahnya terlihat begitu sangat serius.Aku memalingkan wajahku darinya.Namun ia menarik kembali wajahku untuk menatapnya.


"Apa hubunganmu dengan Roy?,"tanyanya.


"Bukan urusanmu,"jawabku acuh tak acuh.


"Oh..begitukah,"ucapnya serius.


"Lepaskan aku.Kamu itu hanya berani pada anak perempuan saja kan,"ucapku kesal.


"DIAM!,"teriaknya.


Aku pun sontak terdiam mendengar teriakannya.


"Jauhi Roy,"ucapnya.


"Kenapa?apa kamu cemburu?,"ucapku.


"Ha ..Apa?cemburu?cemburu padamu.Jangan bermimpi kamu!,"sambil tersenyum mengejek.


"Lalu kenapa aku harus menjauhinya.Dia itu sangat jauh lebih baik dari dirimu,"ucapku ketus.


"Roy itu sahabatku dan aku mengenalnya dengan baik.Aku tahu jika kamu memiliki rencana buruk untuknya bukan?,"ucapnya menuduhku.


"Terserah apa maumu.Sekarang lepaskan aku,"ucapku dengan serius.


"Tidak akan,"jawabnya sambil terus mendekatiku.


Aku terus berusaha melepaskan diri darinya.Namun ia tampak begitu senang membuatku diam tidak bisa berkutik.Hingga tiba-tiba pintu lift pun terbuka.Aku dan Kak Reno menoleh,tepat di depan lift Kak Roy berdiri menatap ke arah kami.Melihat Kak Reno yang sedikit lengah aku pun berusaha menjauh darinya dan menuju ke ruang makan.


Sementara Kak Roy hanya termenung melihatku berlalu.


Sesampainya di ruang makan.Semua orang menyambutku dengan senang.


"Ran,ayo duduk nak,"ucap Pak Sugeng menyuruhku.


"Baik pa,"ucapku patuh.


Tidak lama setelah itu Kak Reno datang bersamaan dengan Kak Roy,


"Eh...ada nak Roy.Ayo duduk sekalian disini nak.Kita makan bersama,"ucap kakek.


"Tidak usah kek,Roy sudah makan siang tadi di rumah,"ucap Kak Roy menolak.


"Nggak baik loh Roy jika menolak rezeki,benar tidak Ran,"ucap kakek sambil bertanya padaku.


"Akh..iy...iy..iya kek,"jawabku gagu.

__ADS_1


Kakek pun tersenyum,"Nak Roy dengar kan kata Rani."


Kak Roy tersenyum dan mengangguk.Ia pun menerima ajakan kakek untuk makan bersama.Kak Roy melihat kursi kosong di sampingku,ia perlahan menarik kursi untuk duduk.Namun dengan cepat Kak Reno langsung menyerobot duduk disamping aku duduk.Tampak wajah Kak Roy yang sedikit kecewa,lalu ia pindah ke kursi kosong tepat di hadapanku.


Kami semua pun akhirnya makan bersama.


Dan Kak Reno seperti biasa berakting dengan pura-pura baik padaku.


"Ran,bisa tolong ambilkan kakak iga bakar itu,"ucap Kak Reno lembut.


Aku sedikit tertegun memandangnya,entah habis makan apa dia.Hingga dapat berkata lembut seperti itu padaku.


"Ran,kok malah melamun sayang.Reno minta Rani ambilin iga bakar tuh,"ucap Bu Sri.


"Akh...iy..iya ma,"jawabku sambil mengambil iga bakar dan meletakkannya di depan Kak Reno.


"Ran,tolong di ambilin dong Ran,biasakan,"ucapnya dengan ekspresi sok manis padaku.


Kak Roy dan aku saling melirik melihat sikap Kak Reno yang mendadak aneh.


Ughhh..permainan apa lagi yang sedang dimainkan oleh Kak Reno,batinku.


Aku pun mengambilkan beberapa potong iga bakar ke dalam piringnya.


"Terima kasih Rani cantik,"ucap Kak Reno.


Semua orang tertawa melihat sikap Kak Reno kecuali aku dan Kak Roy yang memahami kepura-puraannya.


Setelah makan aku dan Bu Sri,Kak Reno dan Kak Roy pergi ke rumah sakit tempat bunda dirawat.Sementara Kakek beristirahat dirumah ditemani Mbak Riska dan Pak Sugeng.


"Mah,Reno yang nyetir aja mah,"ucap Kak Reno.


"Ya udah nggak apa-apa.Oh ya Ran,Rani duduk di belakang sama mama ya.Biar Reno dan Roy di depan,"ucap Bu Sri.


Aku pun mengangguk.Namun tiba-tiba Kak Reno berkata,"Mah,Rani di depan aja sama Reno.Biar Roy di belakang sama mama ya,"ucapnya sambil menarik tanganku masuk ke dalam mobil.


Bu Sri tersenyum melihat sikap Kak Reno.Namun berbeda dengan raut muka Kak Roy yang terlihat tidak senang.Setelah semuanya masuk ke dalam mobil.


Kak Reno lagi-lagi bersikap sok baik dengan memakaikan sabuk pengaman padaku.Padahal aku sudah jelas menolaknya tetapi ia tetap bersikeras.


"Ran,sudah siap kan,"ucap Kak Reno lembut padaku.


Aku pun hanya melirik padanya.Kak Reno tersenyum dengan kerutan dahi dan alis yang terangkat.Hmm....dia sedang berakting lagi,ucapku dalam hati.


Mobil pun melaju dikendarai Kak Reno.


Tidak beberapa lama kemudian kami tiba di rumah sakit.Akh rasanya aku sungguh senang tidak sabar untuk berjumpa dengan bunda.


"Ren,nanti duluan sama Rani ya.Mama mau ke toilet sebentar.Nanti mama menyusul,"ucap Bu Sri yang kemudian berlalu pergi.


Sementara saat aku keluar dari mobil.Kak Roy menghampiriku,


"Ayo Ran,"ajak Kak Roy.


Aku pun mengangguk sambil menutup pintu mobil.Namun tidak berapa lama aku berjalan Kak Reno mengenggam tanganku sambil tersenyum.Aku berusaha melepaskan genggamannya tetapi jemarinya terlalu kuat mengenggam tanganku.Kak Roy melihat semua itu dengan tidak suka,


"Ren,jangan paksa Rani jika dia tidak suka,"ucap Kak Roy.

__ADS_1


"Kata siapa dia tidak suka.Dia suka kok,"ucap Kak Reno sambil menarikku pergi menjauh dari Kak Roy.


Dan Kak Roy hanya membisu mengikuti langkah kakiku dan Kak Reno yang berjalan menjauh dari hadapannya.


__ADS_2