Jodoh Pilihan Tuhan

Jodoh Pilihan Tuhan
Terkejut


__ADS_3

Hambar,perasaan kelabu dalam samar kabut misteri.Pertanyaan yang membuat hatiku gelisah.Semua seakan berotasi menekanku.Aku diam,dalam gandengan Mbak Riska.Ia terus memandangiku,seolah pikirannya mengetahui pertanyaan yang bergejolak di hatiku.


"Ran,kok melamun.Kamu kepikiran omongan Reno tadi ya Ran?nggak usah dipikirin ya Ran.Reno anaknya gitu tapi sebenarnya dia baik,"sambil berjalan mengandengku.Aku pun hanya memandangnya dan diam.


Sesampainya di parkiran mobil langkah Kak Ren terhenti,"Mbak yang nyetir ya,"sambil memandang ke arah Mbak Riska.Mbak Riska yang berjalan pun juga berhenti mendengar ucapan Kak Reno,"Kamu lah Ren.kamu kan cowok dek,"melirik ke arah Kak Reno. "Sekalian bukain pintu mobil buat Rani.Biar Rani duduk di kursi depan di samping kamu.Mbak biar di belakang."


"Eh..enak aja mbak.Reno nggak mau.Mbak Riska aja di depan.Udah dianterin pulang malah banyak tingkah lagi kayak princess aja,"tersenyum sinis.


"Ya udah kalau gitu biar Rani sama mbak di belakang.Kamu di depan sendirian biar kayak sopir,"goda mbak Riska sambil tersenyum.


"Mending kayak sopir mbak.Dari pada deketan sama dia,"ucapnya ketus sambil berjalan masuk ke mobil.


"Ren,bener-bener nih anak,"ucapnya dengan geram. "Ya udah Ran,yuk kita masuk,"sambil menarik tanganku perlahan masuk ke dalam mobil.


Kak Reno sudah berada di dalam kursi kemudi dengan muka kesalnya.Aku duduk di belakang bersama Mbak Riska.Malas rasanya harus melihat wajah anak angkuh itu apalagi harus satu mobil lagi dengannya.Tetapi karena Mbak Riska yang meminta dan sedikit memaksa akhirnya aku turuti keinginannya tersebut.Setidaknya sikapku sebagai wujud menghormati dirinya.Meskipun harus mendengarkan ucapan buruk dari Kak Reno.


Selama di perjalanan aku hanya diam.Lidahku keluh.Mbak Riska yang terus melihatku berusaha untuk mencairkan keadaan,"Ran,kok diam aja.Mikirin apa?,"tanyanya sambil tersenyum.


"Akh..ng..nggak kok mbak,"jawabku sambil tersenyum kecil.


"Benarkah?,tanya Mbak Riska dengan mencolek lenganku.


Aku pun mengangguk.Mbak Riska terus mengajakku berbicara,


"Ran,apa hobimu?".


"Baca buku mbak,"ucapku.


"Wah,sama dong kayak mbak.Rani suka baca buku apa?".


"Semua sih mbak suka,tepatnya buku apa yang tersedia dan ada ya Rani baca."


"Hehehehe,"Mbak Riska tertawa tampak deretan giginya yang putih dan bersih menambah kecantikan wajahnya.


Aku meringgis melihat tingkah Mbak Riska yang tertawa.

__ADS_1


"Nanti kapan-kapan mbak ajak Rani ke rumah ya.Mbak punya banyak koleksi buku dari semua Genre.Rani bisa baca dan pilih buat Rani."


Kak Reno yang sedari tadi asyik menyetir tiba-tiba menyela pembicaraan,


"Enak aja nyuruh dia ke rumah mbak.Nggak mbk,pokoknya nggak boleh dia sampe ke rumah,"ucapnya ketus.


"Kamu itu kenapa sih Ren,sensi amat sama Rani.Mbak ingetin ya jangan terlalu benci sama seseorang nanti kamu malah over suka sama orang yang kamu benci.Dan...".Belum selesai Mbak Riska meneruskan ucapannya Kak Reno dengan cepat menjawabnya,


"Amit-amit ya Mbak suka sama dia.Kayak nggak ada cewek lain aja.Dan meskipun dia wanita satu-satunya di dunia Reno tetep nggak bakal mau sama dia.Ikhhhhhh,"ucapnya dengan sangat kesal.


Mbak Riska yang mendengar ucapan Kak Reno pun menggelengkan kepalanya,


"Jangan ngomong gitu ya Ren.Benci dan cinta itu bedanya sangat tipis banget.Hati-hati dengan omonganmu ya Ren.Mbak Riska noted loh.One day,if later your words turn around.I hope you're ashamed to admit it,"Mbak Riska menjelaskan dengan serius.


Kak Reno pun menanggapi ucapan Mbak Riska,


"I make sure that won't happen."


"Baik,kita lihat saja nanti.Because that life no one dan predict it."


"Maaf mbak,boleh berhenti disini saja."


"Lah kenapa Ran,apa sudah nyampe rumahmu?,"tanya Mbak Riska dengan ekspresi tanya.


"Nggak mbak,Rani mau ambil titipan kue dan nasi di warung depan sekalian Rani bawa pulang,"jelasku.


"Oh kirain.Ya udah Rani ambil aja nanti di taruh ke belakang".


"Ng..nggak usah mbak,nanti ngerepotin,"ucapku dengan rasa malu.


Kak Reno pun menimpali perkataanku,


"Bener itu sangat merepotkan.Udah tau masih aja ngomong.Nggak tau diri bener.Emang dikirain kita pelayannya apa,"Kak Reno berucap dengan kesal.


"Kamu ngomong apa si Ren,"sambil mencubit lengan Kak Reno."Ngomong mulu dari tadi dan asal aja ngomongnya."

__ADS_1


Kak Reno berteriak,"Akh,aduh ..aduh mbak,sakit!malah nyubit adeknya.Gimana sih mbak malah belain orang lain,"dengan muka yang sedikit cemberut.


"Biarin aja,"ucap Mbak Riska.


Mbak Riska menatapku dan memegang tanganku,"Omongan Reno jangan di dengerin ya Ran.Terus mbak nggak ngerasa di repotin kok.Lagi pula sekalian biar mbak tau rumah Rani,nanti kalau mbak mau ke rumah Rani udah hafal jalannya.


"Tapi mbak..,"ucapku pada Mbak Riska.


"Udah nggak apa-apa,"sambil menepuk pipiku lembut.Lalu Mbak Riska menyuruh Kak Reno menepi.Aku kemudian turun ditemani Mbak Riska mengambil keranjang kue dari warung dan meletakkannya di belakang mobil.Sementara Kak Reno diam di dalam mobil.Selang beberapa lama,aku mengambil titipan kue dari beberapa warung.Selanjutnya Mbak Riska menyuruh Kak Reno melanjutkan perjalanan menuju rumahku.


Di dalam mobil mbak Riska bertanya padaku,


"Ran,ini kue nya bikin sendiri ya?".


"Iya mbak."


"Rani yang bikin?."


"Nggak semua mbak,beberapa ada yang dibantu bunda sih,"ucapku sembari memandangnya.


"Wah hebat dong.Nanti kapan-kapan Rani ajarin mbak bikin kue ya Ran,"ucap Mbak Riska sambil tersenyum simpul.


Sementara Kak Reno hanya melirik sinis dari kaca depan.Aku pun mengangguk kepada Mbak Riska,"In syaAllah mbak,"ucapku pelan.


"Wah yang jadi suamimu nanti beruntung banget loh Ran dapat istri seperti kamu.Udah cantik,baik hati,sederhana,pinter dan jago masak.Paket komplit deh pokoknya,"tangan Mbak Riska sambil menepuk lengan Kak Reno,"Bener nggak Ren,"godanya kepada adiknya.Kak Reno pun menjawab dengan ketus,"Apa'an sih mbak."Mbak Riska tertawa,"hehehe".


Tidak lama kemudian,sampailah di rumahku.Mbak Riska menyuruh Kak Reno membawa keranjang -keranjang kue untuk diturunkan dari mobil dan dibawa masuk.Padahal sudah kularang,tetapi Mbak Riska tetap saja menyuruh adiknya.Dengan muka cemberut dan berat hati Kak Reno mematuhi juga perintah Mbak Riska.Sementara itu,aku mengajak Mbak Riska masuk ke dalam rumah dan di sambut oleh bunda.


Mbak Riska yang melihat warung makan bunda pun,tertarik untuk menjajal masakan bunda.Ia pun makan dengan lahap dan senang,"Wah,ini enak banget Bun masakannya,top deh Bun,boleh tambah kan bun,"ucap Mbak Riska dengan senyuman sambil terus mengunyah makanan di dalam mulutnya.


Dan Kak Reno duduk diluar dengan raut wajah merah menahan marah.


Selang beberapa jam kemudian,suara deru mesin mobil berhenti.Aku melihat keluar,sepertinya mobil yang tidak asing bagiku,batinku.Benar saja setelah itu keluarlah Kak Roy dengan memakai kaos berwarna ungu tua dan celana jeans panjang.Ia terlihat fresh dan menawan.Senyumnya merekah,ia berjalan ke arahku dengan membawa bingkisan berwarna ungu.Aku dan Kak Reno menatapnya.


Angin semilir bertiup,menghembuskan kedamaian dalam diam.

__ADS_1


Kak Roy sudah berada tepat dihadapanku.


__ADS_2