Jodoh Pilihan Tuhan

Jodoh Pilihan Tuhan
Melihat kembali.


__ADS_3

Ummah dan keluarga Ustad Fariz merawatku dengan baik, begitu juga dengan Bik Siti yang selalu berada di sampingku tanpa kenal lelah dan banyak mengeluh.Di rumah keluarga Imandar aku laksana putri yang selalu diperhatikan dan diprioritaskan. Terkadang perasaan tidak enak karena menyusahkan mereka terbersit di dalam hati dan pikiranku, tetapi Ummah berulang kali mengatakan kepadaku untuk membuang jauh-jauh akan rasa itu. Ummah selalu membuatku merasakan kenyamanan dan ketenangan saat berada di dekatnya, beliau selalu setia menemani diriku untuk bolak-balik kontrol ke rumah sakit untuk memeriksakan kondisi mataku. Dan beliau juga orang pertama yang akan begitu histeris penuh rasa bahagia mengetahui kondisi mataku terus berangsur-angsur membaik. Ucapan rasa syukur dan pelukan hangat darinya terus mengalir tiada henti ia berikan kepadaku. Aku memang yatim piatu dan tidak memiliki siapa pun lagi termasuk saudara atau pun keluarga yang menemaniku. Selama ini aku hanya bergantung kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala dalam menjalani kesendirian dan kesepian hidup yang kujalani. Namun, rencana Allah begitu baik nan indah. Dalam kesendirianku Allah mengirimkan orang-orang yang baik dan peduli terhadap ku. Seperti dalam surat Ar Rahman ayat 13 yang berbunyi: Fa bi'ayyi ala'i rabbikuma tukazziban.


Artinya: Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?.


MasyaAllah, aku begitu merasakan betapa Allah tidak pernah absen dalam memberikan nikmat-nikmat yang tiada henti terhadap diriku.


Dan kali ini aku yang sudah rapi dengan memakai gamis syar'i yang dipilihkan Ummah untukku.


"MasyaAllah Tabarakallah, gamis warna pastel yang Rani kenakan membuat gaya tampilan Rani terlihat cantik, santun dan anggun, serta terkesan sederhana, ditambah lagi hijab panjang warna dusty pink makin menciptakan penampilan putri Ummah makin sholehah dan sejuk di pandang, " puji Ummah sambil memegang pipiku lembut.


"MasyaAllah Tabarakallah, Jazakillah Khair Ummah, " balasku pelan sedikit malu-malu.


Ummah selalu saja pandai dalam membesarkan dan membuat hatiku senang. Terkadang aku berfikir jika Ummah itu seperti duplikat almarhumah bundaku. Dengan bersamanya aku dapat mengobati kerinduanku pada bunda, dan tetap saja posisi bunda akan tetap menjadi nomor satu di dalam hatiku.


Setelah selesai bersiap-siap, Bik Siti masuk ke dalam kamar dan memanggil diriku dan Ummah supaya lekas turun sebab Pak Budi , Ustad Fariz dan Enjid sudah menunggu. Maka setelah Bik Siti memberitahu dan memanggil, aku dan Ummah langsung bergegas untuk turun. Yang seperti biasanya Ummah dan Bik Siti menuntunku untuk turun ke bawah menuruni tangga.


Setibanya di ruang makan, Ummah mengajak diriku dan Bik Siti untuk sarapan terlebih dahulu bersama anggota keluarga Ummah yang lainnya dan termasuk Pak Budi. Terdengar olehku bunyi sedikit riuh perlatan makan dan obrolan kecil di antara semua laki-laki yang ada di meja makan.Dan membuat diriku sedikit risih untuk bergabung menyantap makanan bersama.


"Ummah, Rani nanti saja makannya. Lebih baik Ummah sarapan dulu saja, dan Rani akan menunggu di taman samping rumah sambil duduk menikmati udara pagi dan berjemur, " kataku.


Ummah megenggam jemariku, "Rani sarapan juga ya bersama Ummah, sedikit saja ya Nak. Supaya perut Rani tidak kosong dan kuat nanti menjalani pemeriksaan mata, " pinta Ummah.


Aku terdiam sesaat dan berusaha untuk menolaknya, tetapi semua anggota keluarga Ummah yang lain memaksa dan meminta diriku dengan rasa harap dan permohonan. Sehingga aku tidak kuasa untuk menolaknya.


Ummah lalu membantuku duduk di kursi makan dan beliau tepat memilihkan kursi kosong tepat di hadapan Ustad Fariz sementara Bik Siti dan Ummah mengapit diriku di masing-masing sisi kiri dan sisi kanan diriku duduk. Seperti biasa Bik Siti makan dengan lahap dan cepat selesai terlebih dahulu, setelah itu ia membuatkan susu coklat hangat untukku dan menggambilkan beberapa lauk dan sayur di atas piring makanku.


"Bik Siti, jangan terlalu banyak ya bik mengambilkan makanan untuk Rani, " pintaku sambil memegang lengan Bik Siti.


Terdengar olehku Bik Siti tersenyum kecil.


"Iya Nak Rani. Banyak juga tidak apa-apa supaya Nak Rani badannya lebih berisi sedikit, " sahut Bik Siti lalu melontarkan perkataannya kepada Ustad Fariz. "Benar tidak Nak Fariz, untuk apa yang bibi sampaikan kepada Nak Rani?. "


Bik Siti memandang wajah Ustad Fariz yang terlihat sedikit memerah saat Bik Siti mencoba menggodanya.

__ADS_1


Sambil menundukkan pandangannya Ustad Fariz menganggukkan kepalanya dan berkata, "Iya Bik Siti, betul. Tetapi biarkan Dek Rani makan sesuai keinginan dan mengikuti akan rasa signal laparnya bik, supaya makanan yang di makan Dek Rani dapat dihabiskan dan tidak terbuang percuma atau mubazir. "


"Siapp Nak Fariz, " sahut Bik Siti sambil tertawa.


Semua orang yang ada di ruang makan menatap ke arahku, Bik Siti dan Ustad Fariz.


Ustad Fariz menyapa diriku dengan menanyakan keadaanku pagi ini. Senyum-senyum dan dencakan suara menggoda dari Kak Rafa dan Pak Budi membuat Ustad Fariz sedikit tersipu malu menyembunyikan rona merah dari wajahnya yang putih berseri.


Dengan santai aku pun menjawab pertanyaan dari Ustad Fariz sebelum diriku memulai menyantap makanan untuk sarapan. "Alhamdulillah keadaan Rani baik Ustad Fariz, " kataku pelan. Dan dalam rasa canggung yang di rasakan oleh Ustad Fariz, ia membalas ucapanku dengan kata hamdalah tanpa menambahkan kata atau kalimat apapun.


Allahumma baarik lanaa fiimaa rozaqtanaa wa qinaa 'adzaa bannaar.Ya Allah, berkahilah kami dalam rezeki yang telah Engkau berikan kepada kami dan peliharalah kami dari siksa api neraka, ucapku lirih membaca do'a setelah itu aku mulai menikmati sarapan pagiku bersama anggota keluarga Imandar lainnya.


Setelah selesai sarapan Ummah dan Bik Siti segera bergegas mengajak diriku menuju mobil di halaman parkir yang sedang dipanaskan mesin mobilnya oleh Pak Budi.


"Nak semuanya sudah siap kan?, " tanya Ummah kepada Ustad Fariz yang berjalan mendekati Pak Budi.


"Alhamdulillah sudah Ummah, " jawab Ustad Fariz.


Ummah tersenyum lega lalu menuntunku masuk ke dalam mobil, untuk menuju rumah sakit membuka perban mataku.


" Kalian berangkat saja dulu Enjid akan menyelesaikan pekerjaan Enjid bersama Rafa dan abinya. Insya Allah Jika pekerjaan yang kami lakukan sudah selesai kami semua akan menyusul ke rumah sakit untuk mengetahui keadaan Rani. Namun jika pekerjaan dan urusan kami belum selesai, kemungkinan kita akan bertemu kembali di rumah ya nak, "tutur Enjid kepada Ustad Fariz.


Ustad Fariz pun mengangguk, lalu segera berpamitan kepada Enjid, Abinya dan Kak Rafa begitu pula dengan Ummah yang juga ikut berpamitan. Tidak lama setelah itu mobil yang dikendarai Pak Budi melaju meninggalkan kediaman rumah Imandar dan menuju rumah sakit.


Di rumah sakit Wirda sudah berada duluan disana dan menunggu kedatangan kami.Dia terus mondar-mandir sambil menantikan kedatanganku dan yang lainnya. Matanya terus memandang sekitar di luar gedung rumah sakit, untuk melihat mobil milik Ustad Fariz, apakah sudah memasuki area rumah sakit atau belum. Dan akhirnya apa yang ia cari dapat ia temukan dengan senyumannya yang lebar Wirda segera bergegas menghampiri mobil kami yang sudah terhenti di halaman parkir rumah sakit. Seperti biasa Ustad Fariz turun terlebih dahulu, lalu membukakan pintu mobil untuk Ummah. Dan Ummah keluar dari mobil yang kemudian menggenggam jemari tanganku dan menuntunku untuk keluar. Sementara Wirda sudah menyambut kedatangan kami dengan senyumannya yang begitu marekah dan tidak sabar untuk menunggu proses pelepasan perban di mataku dibuka.


Sekarang aku sudah berada di poli mata dan dokter memeriksa keadaan dan kondisi mataku. Ummah dan Wirda menemaniku sementara Pak Budi, Ustad Fariz dan Bik Siti menunggu diluar karena memang tidak diperbolehkan banyak orang untuk masuk ke dalam ruang pemeriksaan. Jantungku berdetak kencang dalam debat rasa cemas bercampur khawatir yang begitu menyita perasaanku. Dalam kecemasan yang kurasakan aku terus beristighfar memohon ampun kepada Allah, supaya mempermudah urusan dan mengangkat penyakitku ini. Aku sudah tidak sabar untuk dapat kembali melihat dan menatap langkah baruku dalam mengarungi kebidupanku selanjutnya. Akh, rasanya saat Allah mengujiku dengan hilanganya penglihatanku, disinilah aku baru menyadari begitu banyak nikmat yang tidak pernah untuk kusyukuri akan rahmat dari-Nya. Semua terasa kurang bagiku hingga karunia berupa indra penglihatan yang Allah berikan kepadaku adalah hal luar biasa yang tidak akan pernah tergantikan nikmatnya. Keinsyafanku dalam proses perjalanan mengarungi ujian kehidupanku menyadarkan diriku, bahwa sekecil apapun karunia dan rahmat yang Allah berikan harus senantiasa kita syukuri dan amalkan dalam hal kebaikan yang dapat membawa banyak kebaikan untuk kita dan orang lain.


Perasaanku terus menyelami pikiranku yang bercampur aduk dalam rasa yang penuh sensasi ketegangan.


Terdengar dokter meletakkan beberapa alat -alat yang ia gunakan untuk memeriksa mataku. Terdengar desah suara kelegaan dari nafasnya. "Alhamdulillah hasilnya baik, sejauh ini cangkok kornea pada mata Nak Rani tidak ada iritasi atau peradangan. Setelah ini saya akan meminta Nak Rani melihat pada layar di hadapan Nak Rani, " pinta dokter padaku.


"Iya dok, " jawabku dengan penuh rasa senang setelah mendengar ucapan dokter.

__ADS_1


Perban yang menutup mataku telah dibuka, setelah dokter memerikskumataku, lalu dokter mengaplikasikan obat tetes mata pada kedua mataku. Barulah setelahnya aku di perintahkan untuk melihat pada layar besar di hadapan ku.


Rasa tegang dan takut bercampur aduk, aku benar-benar merasa kaku dalam kecemasan. Dan dengan arahan dari dokter secara perlahan demi perlahan aku pun membuka mataku yang semula tertutup dan mengarahkannya ke layar besar di hadapanku. Samar... Buram.. Sedikit buram.. Makin jelas... Jelas... Dan sangat jelas serta jernih. Indra penglihatan ku telah mampu melihat gambar dan tulisan pada layar dengan sangat baik. Wajahku sumringah dengan senyum yang merekah.


Dokter menatapku dan juga Ummah, perawat dan Wirda.


" Apa yang Nak Rani rasakan dan bagaimana penglihatan Nak Rani sekarang?,"tanya Dokter.


Aku tersenyum tetapi tidak menoleh kearah dokter. " Alhamdulillah dok saya dapat melihat tulisan dan gambar di layar yang sangat jelas dan begitu jernih, " jawabku sambil tersenyum.


Dan dokter mengucapkan syukur mendengar ucapanku sampai melihat alat yang mengecek keakurasian ketajaman indra penglihatanku.


Senyum dokter kembali semakin lebar, setelah ia melihat ketajaman mataku menunjukkan angka 100% baik yang kiri dan kanan, lalu dengan pelan dokter menyuruhku untuk melihat ke arahnya ,ke arah perawat dan melihat keadaan ruangan di sekitarku dan terakhir melihat ke arah Ummah dan juga Wirda yang berdiri sedikit jauh dari tempatku berada.


"Bagaimana nak Rani?, " tanya dokter sambil mengkerutkan dahinya.


Aku memandangi wajah tegang sang dokter lalu tersenyum kecil kearah nya. "Alhamdulillah dok saya dapat melihat semua dengan sangat jelas, " jawabku.


Mendengar ucapanku dokter pun lalu tersenyum senang Begitu juga dengan perawat yang membantuku mereka berdua terlihat penuh dengan rasa bahagia dan mengucap syukur karena proses pencangkokan mataku berhasil mengembalikan penglihatanku seperti semula. Dan dari kejauhan aku pun melihat raut wajah Ummah dan Wirda yang begitu sangat bahagia. Ummah dan Wirda saling berpelukan mendengar kabar bahagia karena Indra penglihatanku kembali seperti sedia kala.Dan sontak saja Ummah dan Wirda yang merasa begitu senang dan sangat bahagia mengetahui penglihatanku yang sudah kembali seperti semula, dengan segera berjalan menghampiriku dan memelukku dengan erat tanpa memperdulikan dokter dan perawat yang ada di dekatku. Dokter dan perawat pun seperti memakluminya. Mereka pun hanya dapat menyaksikan pemandangan yang penuh keharuan di hadapan mereka ,sambil sesekali kulihat dokter dan perawat menyerka air mata yang menetes di pipi mereka masing-masing. Sementara diriku begitu sedikit terkejut melihat paras wajah Ummah yang hampir begitu mirip dengan almarhumah bundaku. Aku sedikit terpaku seakan tidak percaya saat mataku bertemu dengan kedua mata Ummah. Di mana kami saling menatap lama dan lekat dalam perasaan haru.Wajah Ummah begitu tidak asing bagiku,hatiku seakan telah begitu sangat mengenal nya.


Tangis bahagia membasahi wajah Ummah yang begitu teduh memandangi diriku, lalu Ummah memelukku lagi.MasyaAllah,dekapannya begitu menenangkan jiwa dan hatiku.Belaian lembutnya yang mengusap kepalaku membuat ketenangan dalam hatiku. Ummah mendaratkan ciumannya di keningku, sembari menggenggam jemari tanganku lagi dan dia benar-benar merasakan kebahagiaan yang teramat sangat karena dapat melihatku dapat kembali melihat.


Ummah terus mengucapkan hamdalah dan dan tidak henti-hentinya memanjatkan doa kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala.


" Allaahummaftah lanaa min khazaa-ini rahmatika laa tu'adz- dzibnaa ba'dahaa abadan fid-dunyaa wal aakhirati, wa min fadlikal waasi'i rizqan halaalan thayyiban, wa laa tufqirnaa ba'dahu ilaa ahadin siwaaka abadan, taziidunaa laka bihaa syukran wa ilaika faaqatan wa faqran, wa bika 'amman siwaaka ghinan wa ta'affufan.


Ya Allah, bukakanlah (pintu rahmat-Mu) dari gudang-gudang rahmat-Mu untuk kami, janganlah siksa kami selamanya setelah kami mendapatkan rahmat itu di dunia maupun di akhirat. Dan dari karunia-Mu yang Maha Luas, rezeki yang halal serta baik untuk kami. Setelah itu, janganlah Engkau membuat kami membutuhkan orang lain selain-Mu selamanya, sebab rahmat dan karunia-Mu, membuat kami semakin bersyukur kepada-Mu, dan semakin membutuhkan-Mu, dan semakin tidak membutuhkan orang lain selain Engkau ya Allah, "ucap Ummah dalam lantunan doa nya yang lirih.


Wirda lalu bergegas keluar untuk memberitahukan kabar yang bahagia ini kepada Ustad Fariz, Pak Budi dan Bik Siti.


Sementara aku yang masih berada dalam dekapan hangat Ummah merasakan kelegaan dan rasa bahagia yang begitu besar. Sambil memegang tangan Ummah kupejamkan mataku perlahan dan melafazkan ucapan syukur kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala.


"Allaahumma maa ashbaha bii min ni'matin au bi-ahadin min khalqika fa minka wahdaka laa syariika laka fa lakal hamdu wa lakasy syukru.

__ADS_1


Ya Allah, nikmat apa pun yang ada padaku di waktu pagi atau yang ada pada setiap makhluk-Mu, semuanya hanya dari-Mu semata, tiada sekutu bagi-Mu, bagi-Mu segala puji dan bagi-Mu segala syukur."


Hatiku penuh kelegaan dan bahagia.


__ADS_2