
Ustad Fariz dan Pak Hadi sudah tiba di kediaman rumah Ustad Fariz.
"Pak Hadi,silahkan duduk dulu.Sementara saya akan memanggil Dek Rani untuk turun,"kata Ustad Fariz.
Pak Hadi tersenyum ke arah Ustad Fariz.Namun,sebelum Ustad Fariz berjalan meninggalkan dirinya.Pak Hadi pun berkata,"Nak Fariz,saya tunggu di halaman belakang saja ya.Supaya lebih enak suasananya saat berbicara dengan Nak Rani".
"Baik Pak Hadi.Oh ya saya sampai lupa,Pak Hadi ingin minum apa Pak?," tanya Ustad Fariz.
Pak Hadi yang sedang sambil berjalan pun menjawab pertanyaan Ustad Fariz,"Aduh,Nak Fariz tenang saja.Saya bisa bilang sendiri ke Bibi nanti.Sekarang Nak Fariz segera panggil Nak Rani saja untuk memberitahukan kabar yang akan membuatnya bahagia".
"Baik Pak Hadi,"jawab Ustad Fariz.
Pak Hadi pun berjalan menuju taman belakang rumah Ustad Fariz untuk duduk di sana sedangkan Ustad Fariz segera naik ke atas untuk memanggil diriku.
Tok..Tok...Tok...
Ustad Fariz mengetuk pintu kamarku dan Wirda tinggal sementara di kediaman Ustad Fariz.
"Assalamualaikum Dek Rani," panggil Ustad Fariz.
" Waalaikumsalam Warahmatullahi Wabarakatuh," ucap Winda menjawab salam dari Ustad Fariz sambil membukakan pintu kamar.
Cekrekk....
Pintu pun terbuka.
"Eh,Kak Fariz.Ada apa kak?," tanya Wirda.
"Dek Rani mana Dek Wirda?," ucap Ustad Fariz bertanya balik.
"Oh Rani sedang salat ashar Kak Fariz.Ada apa Kak?,"tanya Wirda melihat ke arah Ustad Fariz.
" Oh ya sudah Dek Wirda kalau begitu setelah Dek Rani selesai mengerjakan salat asar.Saya minta tolong Dek Wirda segera mengajak Dek Rani untuk turun ke halaman belakang ya. Sebab Pak Hadi dab saya ingin memberitahukan sebuah kabar yang sangat penting kepada Dek Rani," ucap Ustad Fariz sambil menundukkan sedikit pandangannya dari Wirda.
Wirda tampak mengkerutkan dahinya mendengar ucapan Ustad Fariz.
"Hal penting?," ucap Wirda pelan sedikit menggumam.Lalu dengan rasa penasarannya. Dia segera bertanya kepada Ustad Fariz mengenai pembicaraan apa yang ingin Ustad Fariz sampaikan kepada diriku. "Memangnya hal penting apa yang ingin Kak Fariz dan Pak Hadi sampaikan kepada Rani, jika Wirda boleh tahu?," tanya Wirda dengan rasa penasarannya.
Ustad Fariz pun tersenyum kecil mendengar perkataan Wirda. "Insya Allah nanti Dek Wira juga akan tahu perihal kabar penting yang akan saya dan Pak Hadi sampaikan. Ya sudah kalau begitu ,saya turun ke bawah untuk menemani Pak Hadi sambil menunggu Dek Rani selesai mengerjakan salat asar ,"sahut Ustad Fariz lalu meninggalkan Wirda yang masih berdiri terpaku menatap kepergian dirinya.
Wirda pun masih seraya berpikir untuk menerka hal penting apa yang ingin Ustad Fariz dan Pak Hadi sampaikan kepada diriku, sambil meletakkan jari telunjuknya di dekat keningnya. Wirda terus berjalan pelan untuk melihat keadaanku. Apakah sudah selesai melaksanakan salat atau belum.
Melihat diriku yang masih melantunkan dzikir dengan lisanku, Wirda pun dengan sabar menungguku dengan duduk tidak jauh dari tempatku sekarang.
__ADS_1
"Yaa Hayyu Yaa Qoyyum, bi-rohmatika as-taghiits, wa ash-lih lii sya’nii kullahu wa laa takilnii ilaa nafsii thorfata ‘ainin abadan.
Wahai Rabb Yang Maha Hidup, wahai Rabb Yang Berdiri Sendiri (tidak butuh segala sesuatu), dengan rahmat-Mu aku minta pertolongan, perbaikilah segala urusanku dan jangan diserahkan kepadaku sekali pun sekejap mata (tanpa mendapat pertolongan dariMu),"ucapku pelan.
Dan tidak lama aku pun sudah selesai melaksanakan salat ashar. Maka Wirda dengan segera menghampiriku dan berkata," Ran, tadi saat dirimu sedang mengerjakan salat .Ustad Fariz datang kemari.Dia mengatakan kepadaku, jika Pak Hadi dan dirinya ingin memberitahukan kabar yang sangat penting kepada dirimu. Untuk itu, aku diminta untuk membawamu ke halaman belakang sebab Ustad Fariz dan Pak Hadi sedang menunggumu ,"ucap Wirda menjelaskan kepadaku. Aku yang mendengarkan perkataan Wirda sambil melepaskan mukena dan melipatnya dengan perlahan, seraya berpikir hal penting apa yang ingin dibicarakan Pak Hadi dan Ustad Fariz kepadaku,tanyaku dalam hati. Tetapi dengan cepat Wirda segera menyuruhku untuk bergegas agar Ustad Fariz dan Pak Hadi tidak terlalu lama menungguku.Kemudian Wirda membantu merapikan jilbabku .Setelah itu Wirda menuntunku untuk segera turun menemui Ustad Fariz dan Pak Hadi.
Sesampainya di halaman belakang rumah Ustad Fariz .Terdengar dari indra pendengaranku ,suara semua orang sedang berbincang-bincang.
"Nah itu Rani sudah datang," ucap Enjid memberitahukan kedatanganku dengan yang lainnya setelah melihat diriku.
Ummah yang mendengar akan kedatangan segera bangkit dari duduknya dan membantu Wirda menuntunku untuk duduk di samping Ummah.
"Ayo Rani dan Wirda duduk di samping Ummah ya," tutur Ummah lembut.
Setelah aku dan Wirda duduk di samping Ummah.Pak Hadi pun langsung memulai pembicaraan denganku.
"Assalamualaikum, Nak Rani bagaimana keadaannya sekarang?".
" Wa'alaikumsalam Warahmatullahi Wabarakatuh. Alhamdulillah Pak Hadi, keadaan Rani baik-baik saja",jawabku.
" Alhamdulillah jika demikian.Pak Hadi senang mendengarnya".
Mendengar Pak Hadi sudah memulai pembicaraan denganku. Semua orang yang berada di halaman belakang dan sedang duduk pun terdiam tanpa berkata apapun, untuk menyimak apa yang akan Pak Hadi katakan kepadaku. Dan untuk seketika suasana pun menjadi hening, hanya terdengar gemercik suara aliran air dari kolam ikan yang begitu riuh menyelingi pembicaraan Pak Hadi denganku.
" Iya Pak, silahkan katakan saja. Insya Allah Rani siap mendengarkannya ,"ucapku dengan tenang dan menanti sebuah kabaryang akan dibagikan oleh Pak Hadi kepadaku..
" Hari ini pengadilan agama sudah menerbitkan akta cerai dari perceraian antara Nak Rani dan juga Dek Reno, sehingga Nak Rani sudah resmi bercerai dengan Dek Reno".
DEG....
Perasaanku terasa sedikit ngilu mendengarkannya.Dan debar irama jantungku seakan berlari dengan sangat cepat.
Sementara itu terdengar sahutan suara yang lain,akan berita yang membuat mereka senang.
" Alhamdulillahirobbilalamin ya Allah," sahut Enjid dan Abi secara bersamaan.
"Alhamdulillah,akhirnya Rani sudah terbebas dari Kak Reno dan keluarganya,"ucap Winda dengan sangat bahagia.
"Alhamdulillah,Kak Rafa turut senang mendengar berita ini Dek Rani,"ujar Kak Rafa.
"Alhamdullilah,"ucap Ummah juga dengan pelan sambil mengusap kepalaku,seraya menuturkan do'a dengan lisannya.
"Allohumma zidnaa walaa tanqushnaa wa akrimnaa walaa tuhinnaa wa a’thinaa walaa tahrimnaa wa aatsirnaa wa tu’tsir ‘alainaa wardhinaa wardho ‘annaa.
__ADS_1
Artinya: Ya Allah, tambahilah kami dan jangan kurangi kami, muliakan kami dan jangan hinakan kami, berilah kami dan jangan cegah kami, kedepankan kami dan jangan kesampingkan kami, ridhailah kami dan ridhailah perbuatan-perbuatan kami".
"Aamiin ya robbal alamiin," ucapku.
Kemudian Pak Hadi pun,meneruskan perkataannya."Di dalam map ini berisi semua dokumen Nak Rani yang kemarin digunakan untuk proses perceraian Nak Rani dan Dek Reno.Di dalamnya juga ada lembar dokumen asli akta cerai yang sudah saya susun dengan rapi.Dan Pak Hadi mengucapkan selamat kepada Nak Rani, karena sudah terbebas dari Dek Reno dan keluarganya.Semoga setelah ini Nak Rani dapat melanjutkan kehidupanny sekarang. Dengan awal yang baru ,harapan yang baru dan tujuan yang baru pula .Semoga apa yang telah terjadi dalam kehidupan Nak RNi dapat memberikan faedah berupa pelajaran yang begitu sangat berharga. Supaya menjadi teladan dan juga renungan yang semakin dapat mendewasakan Nak Rani untuk menjalani kehidupan di dunia ini. Insya Allah apapun yang sudah Nak Rani lewati baik suka duka dan derita. Pak Hadi harap semua menjadi ladang pahala dan lillah karena Allah Ta'ala".
" Aamiin.Iya Pak Hadi terima kasih," jawabku pelan.
"Dan setelah ini kita dapat fokus untuk segera mempersiapkan Dek Rani. Yang sebentar lagi akan menjalankan operasi matanya ,"ucap Ustad Fariz terlihat senang.
Dan tiba- tiba Enjid ikut berkata lagi.
"Kenapa Enjid lihat Nak Rani seperti banyak pikiran? Apakah Nak Rani tidak senang mendengar berita perceraian Nak Rani dengan Dek Reno?," tanya Enjid mencoba menelisik hatiku.
Dan saat Enjid bertanya seperti itu. Semua orang pun terdiam dan mengamatiku. Aku pun merasa menjadi canggung dan tidak enak mendengar pertanyaan dari Enjid. "Bukan begitu Njid.Rani hanya merasa terkejut mendengar berita perceraian Rani dengan Kak Reno,"ucapku pelan. Lalu aku meneruskan perkataanku lagi," Karena sekarang Rani sudah resmi bercerai dengan Kak Reno.Maka Rani apakah lebih baik segera keluar dan pergi dari kediaman rumah Enjid.Sebab sekarang Rani sudah tidak memiliki hubungan apapun dengan keluarga Suprapto,sehingga Rani sudah terbebas dari gangguan mereka.Lagi pula Rani merasa tidak enak jika harus merepotkan seluruh anggota keluarga Enjid," kataku pelan.
Ummah dengan segera mengusap kembali kepalaku dengan penuh kasih sayang layaknya putri Ummah sendiri. "Mengapa Rani berkata demikian?jujur Ummah tidak suka mendengarnya.Ummah, dan seluruh keluarga Ummah tidak merasa direpotkan akan kehadiran Rani disini,Nak".
"Benarkan Abi,Enjid,Fariz dan Rafa?," tanya Ummah.
"Iya benar Ummah," jawab mereka semua kompak.
"Tuh kan Rani dengar sendiri. Insya Allah tidak ada yang keberatan jika Rani berada di sini sampai kondisi Rani benar-benar sembuh dan dapat melihat lagi seperti semula. Ummah dan keluarga Ummah yang lain ikhlas membantu Rani. Dan Ummah berharap Rani tidak memiliki pikiran seperti itu lagi ya," ucap Ummah dengan lembut dan pelan.
Enjid pun lalu juga menyampaikan apa yang ada di dalam hatinya juga kepadaku. "Iya Nak Rani. Wujud sudah menganggap Rani itu layaknya Cucu Wujud sendiri.Rani itu adalah cucu sahabat terbaiknya Enjid, jadi mana mungkinlah Enjid menjadi merasa keberatan dan juga merasa terbebani dengan keberadaan Rani disini.Justru Enjid dan seluruh keluarga Enjid merasa sangat senang jika Rani dapat tinggal di sini.Dan Enjid minta Rani tidak usah berpikir macam-macam ya. Fokus saja untuk persiapan operasi mata yang akan Rani hadapi. Kami semua berharap penglihatan Rani dapat kembali pulih seperti sedia kala. Sehingga kami semua dapat turut senang melihat Rani dapat mandiri dan kembali menjalani kehidupan normal seperti biasanya," tutur Enjid.
"Iya dek Rani ,apa yang dikatakan Ummah dan Enjid itu benar. Dek Rani tidak usah berpikiran yang macam-macam yang akan dapat mengganggu kesehatan Dek Rani. Sekarang yang terpenting Dek Rani fokus. Seperti yang telah Enjid katakan yaitu untuk mempersiapkan diri menjalani operasi mata yang sebentar lagi akan dilakukan. Kami semua mendo'akan yang terbaik untuk Dek Rani," sahut Kak Rafa yang juga ikut mengutarakan isi hatinya.
" Benar kan Kak Farid," celetuk Kak Rafa kembali sambil menepuk lengan Ustad Fariz yang termenung. Ustad Fariz pun terkejut akan tindakan yang Kak Rafa lakukan dan menjawab pertanyaan Kak Rafa dengan sedikit terbata, "I...ya ...iya benarr Dek Rafa".
Kak Rafa tersenyum melihat sikap Kak Fariz yang terlihat tegang dan menjadi gugup.
Semua orang pun tertawa melihat Kak Rafa dan Kak Fariz .Lalu tidak lama kemudian Pak Hadi pun pamit pulang karena hari sudah mulai petang dan azan maghrib akan mau berkumandang.
Abi,Enjid,Kak Rafa dan Ustad Fariz mengantar Pak Hadi menuju ke halaman depan. Sementara Ummah dan Wirda menuntunku kembali untuk masuk ke dalam kamar.
Setelah Ummah keluar dari kamar. Aku pun duduk pada sofa di dekat jendela ditemani Wirda yang membaca semua dokumen yang diberikan oleh Pak Hadi kepadaku. Perasaanku terasa hambar.Namun ada rasa lega dan juga perasaan tertekan yang sudah menghilang dari dalam hatiku.Tetapi entah mengapa pikiranku tertuju kepada Kak Reno dan sedikit mengkhawatirkannya. Aku kembali teringat akan percakapanku yang terakhir kepada Kak Reno. Bagaimana ia mengutarakan isi hatinya kepadaku, tetapi dengan cepat aku membuang jauh-jauh ingatan itu agar tidak berputar dan memenuhi isi kepalaku. Aku tidak ingin kembali terperdaya atau menjadi iba akan sikap dan tutur kata yang Kak Reno ucapkan kepadaku,karena aku tahu Kak Reno itu sangat pintar bersandiwara dan memanipulasi semua keadaan. Aku sudah jera dan tidak ingin lagi kembali terluka serta terperdaya akan tipu muslihatnya lagi yang baru.
Ughhhhhhhh.....
Aku menghela nafas panjang dan bersyukur atas semua nikmat yang Allah Subhanahu Wa Ta'ala berikan kepadaku. Karena satu persatu masalah yang melilit hidupku mulai terselesaikan. Wirda mengusap bahuku dengan pelan. "Aku turut bahagia akan berita yang sangat luar biasa ini,Ran.Semoga ini adalah awal untuk memulai kehidupanmu yang baru ya ,"ucap Winda sambil memelukku dan aku pun juga mengusap lembut tangan Wirda seraya berkata kepadanya ."Terima kasih ya Wir, karena kamu selalu menemaniku di saat keadaanku yang begitu terpuruk. Kamu adalah sahabat terbaik yang aku miliki Wir," ucapku pelan dan lirih.Lalu Wirda pun menjawab pertanyaanku," Akh Ran, dalam pertemanan tidak ada ucapan terima kasih yang berulang .Bukankah sudah kukatakan kamu itu lebih dari sahabat untukku. Kamu itu sudah seperti saudariku sendiri dan untuk itu aku tidak pernah merasa lelah dan terbebani berada di sisimu .Aku ingin melihatmu bahagia Ran,"ucap Wirda kepadaku."Dan aku pun juga ingin melihatmu bahagia Wir," sahutku kembali.
Wirda lalu memelukku kembali untuk meluapkan rasa bahagianya karena aku sudah resmi berpisah dengan Kak Reno. Setelah itu, kami berbincang-bincang diiringi gelak tawa yang memenuhi suasana hati kami dengan rasa bahagia. Dan tidak terasa waktu pun bergulir dengan cepat hingga adzan Magrib pun berkumandang. Dan Wirda membantuku untuk mengambil air wudhu dan lekas menuntunku untuk kembali ke bawah melaksanakan salat magrib berjamaah bersama keluarga Ustad Fariz,menuju mushola yang ada di kediaman rumahnya.
__ADS_1