
"Dari mana Kak Roy mengetahui keadaan Rani?,"tanya Wirda pelan.
Hiks...Hiks...Hiks...
Kak Roy terus menangis tanpa membalas pertanyaan dari Wirda.
"Sudahlah Nak Roy.Nak Roy jangan bersedih seperti itu,"pinta Bik Siti kepada Kak Roy.
"Maafkan kakak Ran!Maafkan kakak yang tidak bisa menjagamu dan melindungimu.Hiks..hiks...hiks...tolong maafkan kakak Ran!Hiks..hiks..hiks...,"ucap Kak Roy dengan begitu sedihnya dan merasa penuh rasa bersalah.
Semula aku ingin tetap diam.
Namun,mendengar Kak Roy menangis pilu seperti itu hatiku tidak tahan.
Sudah cukup air mata kesedihan di wajahnya karena diriku,pikirku.
"Kak..Roy,"ucapku pelan.
Wirda,Bik Siti dan Kak Roy mendadak terkejut mendengar suaraku.
"Bik..Bik Siti dengarkan Rani berbicara Bik,"ucap Wirda sedikit berteriak senang kepada Bik Siti.
"Iya nak Wirda.Bibi juga dengar.Alhamdulillah ya Allah,"ucap Bik Siti ikut senang sambil mengusap kerudungku.
"Kak.. Roy..ti..dak salah.Dan Kak Roy jangan me...nangis,"ucapku pelan dan sedikit terbata.
"Tetapi semua ini salah kakak Ran.Seandainya saja kakak tidak mengejarmu maka Reno tidak akan melukaimu dan menyebabkan dirimu kehilangan penglihatan.Hiks...hiks..hiks...,"ucap Kak Roy lagi sambil terus menangis.
"Semua ini takdir Kak,"ucapku pelan dengan tidak terbata dan mulai lancar.
"Tetapi tetap kakak yang bersalah untuk semua yang terjadi padamu Ran.Hiks...hiks...,"kata Kak Roy lagi.
"Kak Roy tidak salah dan tolong jangan keras kepala dengan menyalahkan diri kakak sendiri,"ucapku pelan.
"Ran...,"ucap Kak Roy.
"Tolong dengarkan Rani kak,"ucapku memotong kalimat Kak Roy.
Kak Roy terdiam sambil memandangiku.
"Saat ini Rani tidak dapat melihat wajah Kak Roy.Tetapi Rani dapat mendengar bahwa Kak Roy begitu sangat bersedih dan terpukul atas musibah yang menimpa Rani.Apa yang Rani terima hari ini adalah bagian dari takdir yang Allah sudah tetapkan untuk Rani kak.Dan untuk itu Rani ikhlas menerimanya.Maka Kak Roy berhentilah untuk menyalahkan diri kakak sendiri karena ini semua bukan kesalahan Kak Roy,"ucapku lirih.
"Ran,"ucap Kak Roy dengan suara pelan dan air matanya yang terus mengalir.
"Kakak begitu tertegun mendengar ucapanmu.Bagaimana dirimu dapat setegar ini Ran,untuk semua yang telah terjadi padamu hingga engkau harus kehilangan penglihatanmu.Kamu itu manusia yang terbuat dari apa Ran?,"ucap Kak Roy sambil berlinang air mata.
"Apa yang harus kutangisi kak.Jika semua yang kumiliki telah pergi dariku.Aku sendiri dan menjadi kuat karena Allah menggelilingiku dengan orang-orang baik seperti Kak Roy,Wirda,Bik Siti,Pak Budi dan Ustad Fariz.Lalu bagaimana aku harus menuntut hal lebih kepada Tuhan yang telah menciptkan diriku.Aku telah pasrah dan bertawakal sepenuhnya kepada Allah subhanahu wa ta'ala kak,untuk semua hal yang terjadi kepada hidupku.Dan aku percaya Kak untuk apapun yang telah hilang dariku maka Allah akan menggantinya dengan sesuatu hal yang lebih baik dari sebelumnya.Untuk itu jangan cemaskan Rani,Kak Roy.
Rani mohon Kak Roy jangan bersedih dan jangan kasihani Rani.Kak Roy harus mulai memikirkan kehidupan Kak Roy sendiri mulai dari sekarang.Menata semuanya dari awal yang baru bersama istri Kak Roy yaitu Rere,"tuturku pelan.
"Mengapa Rani berkata seperti itu kepada kakak?Apakah Rani tahu jika kata-kata Rani melukai hati kakak? Mana mungkin kakak tidak bersedih melihat keadaan dan kondisimu seperti ini Ran.Mana mungkin kakak memulai kehidupan kakak dari awal bersama wanita lain.Jika awal dan akhir dalam kehidupan kakak hanyalah dirimu Ran.Hiks....Hiks...Hiks...hanya dirimu yang kakak cintai Ran....hanya kamu...kamu seorang....tidak ada Rere...tidak ada siapapun yang ada di hati kakak...Hiks...Hiks....Hiks....hanya ada Rani seorang.Huhuhuhuhuhu......,"ucap Kak Roy lirih dengan air matanya yang tidak berhenti mengalir.
Aku pun tidak dapat menyembunyikan rasa kesedihanku mendengarnya menangis seperti itu.
Tes...Tes....tes....
Air mataku mengalir menahan perih.
__ADS_1
"Jangan berkata seperti itu kak.Jangan paksa hati dan pikiranmu untuk terus mencintaiku.Kak Roy berhak bahagia,Kak Roy berhak mendapatkan kehidupan yang nyaman dan penuh tawa.Tetapi semua itu tidak akan kakak dapatkan pada Rani kak,"ucapku bergetar sambil menahan air mataku.
"Apakah Kak Roy tidak menyadari bahwa kita telah berada jauh pada jarak yang sulit untuk ditemukan.Ada batasan yang mengikat dan memaksa kita untuk menjauh kak yaitu pernikahan.Kak Roy telah terikat pada Rere dan begitu pula dengan Rani yang terikat oleh Kak Reno,"ucapku.
"Tetapi pernikahan kita karena paksaan Ran,bukan atas keinginan kita.Di dalam pernikahan itu tidak ada cinta yang menguatkannya.Kakak akan segera menceraikan Rere dan mengurus semua surat perpisahan.Begitu juga denganmu Ran,kamu dapat mengajukan gugatan cerai kepada Reno.Setelah kita lepas dari belenggu pernikahan paksa itu.Kita akan memulai semuanya dari awal Ran.Kakak akan menikahimu dan menghabiskan seluruh sisa kehidupan kakak bersamamu Ran.Bersama wanita yang kakak cintai.Hiks...hiks....hiks....bersama dirimu Ran,"sahut Kak Roy dengan menatap wajahku dalam.
"Lalu bagaimana dengan perasaan Rere Kak Roy? Bukankah ia juga korban dari pernikahan paksa ini.Dan Rere tidak bersalah dalam hal ini kak.Cintanya tulus pada Kak Roy dan ia benar-benar mencintai kakak,"tuturku emosional.
"Kakak tidak peduli terhadapnya Ran.Karena yang kakak cintai hanyalah dirimu bukan Rere.Lalu sampai kapan kita harus memikirkan perasaan orang lain dan menyingkirkan perasaan kita sendiri Ran,"balas Kak Roy.
"Bukankah itu pilihan yang egois kak.Hanya karena Kak Roy ingin bersama Rani.Kak Roy tega menyakiti perasaan istri kakak sendiri.Cinta itu mendatangkan kebahagiaan kak bukan justru menyakiti orang lain dan itu salah.
Rere berhak mendapatkan kesempatan untuk memperoleh cinta Kak Roy,"ucapku.
"Lalu bagaimana dengan cinta kakak padamu Ran?,"tanya Kak Roy.
"Melupakannya kak,"jawabku singkat.
"Semudah itu kamu mengatakannya Ran.Apakah tidak ada sedikit pun di hatimu keinginan untuk mencintai kakak?Tolong jawab pertanyaan kakak Ran.
Apakah Rani mencintai kakak? ,"tanya Kak Roy dengan wajah sangat serius.
Aku terdiam untuk menjawab pertanyaan Kak Roy yang semakin menekanku.
"Mengapa kamu hanya diam Ran?
Apakah begitu sulit untukmu mengatakan perasaanmu yang sebenarnya kepada kakak?jawab Ran.Kebisuanmu adalah bagian keraguanmu untuk menerjemahkan hatimu,"ucap Kak Roy lagi.
"Aku diam bukan karena diriku ragu kak.Tetapi diamku adalah bagian sikapku untuk menjaga hatimu.Tanpa harus kukatakan Kak Roy seharusnya paham dan mengerti.Hubungan kakak dan Rere itu lebih suci dan mulia di hadapan Allah karena terikat pernikahan yang sah di hadapan Allah dan di mata manusia.
Cinta Rere pada Kak Roy itu halal dan suci karena terdapat ridho dari Allah.
"Penjelasanmu tidak menjawab pertanyaan kakak Ran.Dirimu hanya berputar-putar dalam kata-katamu.Lalu bagaimana dengan Reno.Apakah dia juga berhak sepenuhnya akan dirimu dan cintamu Ran?Lalu mengapa dirimu begitu terluka saat dia mencumbumu?Lalu dimana letak kesucian cinta dalam pernikahan paksaan yang tidak membuat dirimu sendiri bahagia Ran. Kakak tahu Ran, semua ini bagian dari takdir yang Allah tetapkan untuk kita. Namun, kita juga berhak berikhtiar untuk mendapatkan pernikahan impian yang sakinah mawaddah dan
warahmah. Cukuplah untuk selalu mementingkan perasaan orang lain Ran, dengan mengabaikan perasaan dan kehidupanmu sendiri. Kamu juga berhak untuk bahagia Ran begitu pula dengan kakak. Kakak rasa semua kepahitan dan kepayahan yang kita alami sudah cukup sampai disini. Sudah saatnya kita menentukan pilihan atas kehidupan kita mulai sekarang. Dan untuk itu kakak tidak akan mengubah keputusan kakak.
Dengan segera kakak akan menceraikan Rere. Apapun resiko dan dampaknya akan kakak terima. Sebab kakak sudah tidak mampu melihatmu seperti ini Ran. Dan untuk itu tolong jangan halangi niat kakak, "ucap Kak Roy.
" Tetapi Kak Roy.., "sahutku.
" Jangan berkata apapun lagi Ran, "sela Kak Roy.
" Kakak mohon jaga dirimu baik-baik Ran. Setelah kakak menyelesaikan semua urusan kakak dan mengakhiri pernikahan kakak dengan Rere. Kakak berharap Rani juga melakukan hal yang sama seperti yang kakak lakukan, "ucap Kak Roy.
Aku terdiam tanpa berita apapun kepada Kak Roy. Karena sulit untuk memberitahu nya dalam keadaannya seperti itu.
" Wirda dan Bik Siti mohon bantuannya untuk menjaga Rani, "pinta Kak Roy.
" Tentu Kak Roy, "jawab Wirda.
" Iya nak Roy, "sahut Bik Siti.
Sesaat Kak Roy terdiam sambil menatapku dalam dan lama tanpa berkata.
Lalu ia pergi meninggalkanku dengan kebisu annya.
Sementara aku masih terdiam dan bermain dengan pikiranku.
__ADS_1
"Ran, apakah kamu baik-baik saja ?,"tanya Rani sambil mengusap lembut pundakku.
"Iya Wir ,"jawabku pelan dengan tatapan yang terasa kosong.
Dan tidak lama kemudian terdengar langkah kaki yang mendekat ke arah kami.
Tuk... Tuk.. Tuk...
Suara langkah kaki yang begitu dihentakkan dan terasa tergesa-gesa dalam pendengaranku.
"Bagaimana keadaanmu sekarang Ran ?,"ucap seseorang yang menyapaku dengan nada suara tidak terlalu ramah padaku.
Aku pun mencoba mengingat kembali suara yang pernah ku kenal dan tidak asing bagiku. Namun, sebelum diriku berhasil mengingatnya Wirda telah menyapa seseorang yang memanggil namaku tersebut.
" Apa yang kamu lakukan disini Re?, "tanya Wirda dengan nada tidak senang.
" Mengapa kamu berkata seperti itu seolah-olah kamu tidak menyukai kehadiranku di sini ?, "tanya Rere dengan nada ketus.
Wirda dengan wajah terlihat kesal pun menjawab pertanyaan Rere dengan sinis pula ,"Iya aku memang tidak suka dengan kehadiranmu disini.Karena aku tahu maksud kedatanganmu di sini hanya untuk membuat Rani merasa down dan semakin terpuruk saja. Iya kan?,"ucap Wirda kepada Rere. "Sudahlah Wir kamu tidak perlu mencampuri urusanku. Lagi pula aku tidak memiliki keperluan denganmu. Aku disini ingin berbicara dengan Rani .Bukan dengan dirimu!,"ucap Rere.
"Jika semua menyangkut Rani maka aku juga berhak tahu, " sahut Wirda ketus.
"Wirda kamu siapa yang ingin selalu mencampuri urusan Rani?,"balas Rere dengan sangat ketus.
Aku yang mendengar Rere dan Wirda saling beradu mulut .Dengan segera aku pun berinisiatif melerai pembicaraan mereka yang mulai menimbulkan percikan konflik. "Sudah-sudah
...kalian jangan bertengkar ,"ucapku pelan.
Wirda dan Rere pun terdiam mendengar ucapanku.
" Kabarku baik Re.Apa yang ingin kamu katakan kepadaku?,"tanyaku kepada Rere dengan wajah masam dan kesalnya karena ucapan Wirda sebelumnya langsung berkata kepadaku,"Baiklah Ran aku tidak akan berbasa-basi dan aku akan langsung saja mengatakan kepadamu ,"ucap Rere terhenti sambil berpikir lalu meneruskan kembali ucapannya ."Aku sudah mendengar pembicaraanmu dengan Kak Roy dan jujur saja aku kecewa akan keputusan yang akan diambil oleh kak Roy .Sungguh jika itu terjadi kepadaku maka kamu adalah penyebab dari hancurnya rumah tanggaku bersama Kak Roy. Dan untuk itu kamulah orang yang harus disalahkan dan kamulah yang menjadi Akar masalah dalam hubunganku dengan Kak Roy. Maka aku tidak akan pernah memaafkanmu jika sampai Kak Roy benar-benar ingin berpisah dariku, "tutur Rere dengan kesal.
" Hey, apa maksud kata-kata mu seperti itu pada Rani?, "teriak Wirda yang emosi mendengar ucapan Rere.
" Sudah Wirda. Biarkan Rere menyampaikan isi hatinya aku tidak apa-apa, "Ucapmu menenangkan Wirda.
" Tetapi Wirda, "bantah Wirda.
" Sudahlah Wir, "sahutku.
Rere pun melanjutkan perkataannya lagi kepadaku.
" Aku tidak ingin kamu memanfaatkan kebutaanmu untuk menarik simpati dari Kak Roy dan untuk itu sebaiknya kamu menjauh dari kehidupanku dan juga Kak Roy. Aku berharap kamu mengerti .Dan jujur dari dalam hatiku sebenarnya aku tidak ingin mengatakan semua ini kepadamu. Tetapi keadaanlah yang memaksaku .Untuk harus mengatakan semua ini padamu. Karena pria yang sangat ku cintai lebih memilihmu dari pada aku sendiri sebagai istrinya. Tolong penuhi permintaanku Ran, "kata Rere.
Tidak lama setelah itu Rere pun pergi dari hadapanku. Aku masih terduduk diam di dalam kursi roda ditemani Wirda dan Bik Siti.
" Kamu baik-baik saja kan Ran?, "tanya Wirda memastikan keadaan ku.
" Iya Wirda, "sahut ku.
" Rere itu sungguh keterlaluan sekali. Dia tidak memikirkan perasaan dan kondisimu saat ini. Sungguh aku semakin tidak suka dengannya Ran, "ucap Wirda menumpahkan rasa kekesalannya.
" Sudahlah Wir. Biarkan saja Rere berkata seperti itu. Dia juga berhak marah atas keputusan yang Kak Roy buat karena Rere adalah istri Kak Roy yang mempunyai kesempatan dan hak penuh terhadap Kak Roy juga dalam mempertahankan hidup rumah tangga mereka, "balas ku.
" Mengapa kamu masih saja membela Rere dan baik kepadanya dengan sikap Rere yang buruk seperti itu Ran?, "tanya Wirda.
" Karena sesungguhnya aku telah mengenal Rere sebelumnya Wir. Dia juga sahabat ku. Cinta yang membuatnya menjadi seperti ini. Karena yang ku tahu sebenarnya Rere adalah gadis yang baik dan santun, "balas ku.
__ADS_1
Wirda terdiam mendengar ucapanku.
Dan aku masih memikirkan kata-kata Rere yang terus memenuhi pikiranku.