Jodoh Pilihan Tuhan

Jodoh Pilihan Tuhan
Upaya melegalkan pernikahan siri


__ADS_3

Semua orang tampak sibuk mempersiapkan semua keperluan termasuk surat-surat dan dokumen yang akan digunakan untuk mendaftarkan pernikahan siriku dan Kak Reno agar secara sah tercatat dalam hukum negara dengan mengajukan Itsbat Nikah ke Pengadilan Agama. Sehingga aku dan Kak Reno tidak perlu dilakukannya ijab Kabul ulang.


Pak Sugeng,Bu Sri dan Kak Reno di dampingi Pak Gukul advokat(pengacara) keluarga mereka pergi mendatangi kantor pengadilan agama terdekat untuk membuat surat permohonan nikah.


Dengan bantuan Pak Gukul surat permohonan nikah dibuat dengan mengisi formulir dan melampirkan surat-surat yang diperlukan dan mengurus administrasi membayar panjar biaya perkara pengadilan agama.


Sementara aku,kakek dan Mbak Riska menunggu di rumah.


Aku yang sedang menemani kakek duduk di taman terngiang percakapan Kak Reno dan kakek setelah sarapan pagi sebelum pergi ke pengadilan agama.


Kakek mengatakan jika itsbat nikah sangat bermanfaat untuk mendapatkan hak-hak Kak Reno dan diriku seperti surat atau dokumen pribadi yang dibutuhkan dari instansi berwenang dan memberikan jaminan perlindungan serta kepastian hukum bagi masing-masing pasangan suami istri yang telah melakukan nikah siri.Dan menikah secara resmi yang tercatat pada instansi berwenang sebagai langkah preventif dari hal negatif.


Mendengar pendapat kakek.


Kak Reno pun tampak setuju dengan argument kakek.Ia pun mengeluarkan pandangannya tentang pernikahan siriku dan dirinya.


Maka mendengar pola pikir dari Kak Reno aku begitu tidak dapat berkata-kata mengetahui maksud dan tujuan Kak Reno untuk melegalkan pernikahan kami secara resmi.


"Benar sekali kek,Reno setuju dengan pendapat kakek sebab tidak ada surat nikah siri yang diakui oleh hukum. Pasalnya, nikah siri dilakukan tanpa pencatatan. Konsekuensinya, Rani selaku istri siri Reno tidak memiliki legalitas di hadapan negara.Seperti pengurusan warisan atau harta gono gini saat cerai tidak dapat dilakukan,istri siri tidak dapat menuntut apa pun dan yang terpenting masa depan anak mengenai statusnya,"jelas Kak Reno serius menanggapi kakek.


Kakek tersenyum bangga melihat Kak Reno.Maka ia tunjukkan rasa senangnya tersebut dengan menepuk pundak Kak Reno lembut penuh kasih sayang.


Lamunanku pecah tak berapa lama Pak Sugeng,Bu Sri ,Kak Reno dan Pak Gukul pulang.


"Bagaimana nak ?,"tanya kakek pada Pak Sugeng ingin tahu.


"Kita menunggu pengadilan  mengirim surat panggilan pah.Nanti di surat tersebut berisi tentang tanggal dan lokasi sidang.Selebihnya nanti biar Pak Gukul yang mengurus dan memantau pah,"jelas Pak Sugeng yang telah duduk di samping kakek.


"Iya pak,saya akan mengurus agar prosesnya bisa cepat dan berjalan lancar,"sahut Pak Gukul sambil memandang ke arah kakek.


"Baik kalau begitu Pak Gukul.Saya percayakan pada anda dan mohon bantuannya ya,"kata kakek.


"Baik Pak Suprapto siaapppp,"jawab Pak Gukul lantang.


"Bismillah semoga semuanya di permudah,"sahut Bu Sri.


"Aamiin ya rabbal alamiin,"ucap Kak Reno sedikit keras sambil berjalan mendekat ke arahku.


Melihat Kak Reno semua orang tersenyum.


"Duhh,baru pergi sebentar sudah mau nempel aja sama Rani,"goda Mbak Riska.


Kak Reno hanya melempar senyum kecil pada Mbak Riska.


Dan srrrrrrrrrr.....


Aliran darahku terasa kencang.


Jantungku berdebar-debar.


Kak Reno meraih jemariku dan mengenggamnya lembut.


Ia hanya tertawa melihat ekspresi wajahku yang terkejut dengan tindakannya.


Lagi matanya menatapku lembut namun dalam dan penuh arti.


Di saat semua orang sedang sibuk berbincang.


Ia mendekatiku seraya berbisik lembut


"Mataku tidak dapat berhenti untuk memandangmu Ran."


Nyesssss....


Suaranya berbisik lembut namun terasa tajam menembus kain kerudungku.


Dag...dig..dug...dag..dig...dug..


Detak jantungku berdebar semakin tak menentu.


 


Setelah menunggu sekitar lima hari akhirnya surat panggilan sidang dari pengadilan tiba.


Aku dan Kak Reno ditemani seluruh anggota keluarga serta Pak Gukul menghadiri persidangan itsbat nikah.

__ADS_1


Persidangan berjalan hampir satu hari dengan dua kali persidangan.


Sidang pertama hakim menanyakan identitas asli diriku dan Kak Reno serta memeriksa isi permohonan.Intinya di sidang awal ini berkaitan dengan dokumen pribadi kami masing-masing.


Lalu di sidang kedua membahas dokumen dan bukti pernikahan.


Dengan menghadirkan saksi-saksi yaitu orang yang mengetahui pernikahanku dan Kak Reno di antaranya wali nikah dan saksi nikah, seperti orang-orang terdekat yang mengetahui pernikahan kami.


Dengan bantuan Pak Gukul selaku pengacara keluarga Suprapto.


Pada hari itu juga kami semua dapat langsung mengetahui putusan atau penetapan pengadilan.


Apakah permohonan Kak Reno untuk melegalkan pernikahan kami dikabulkan atau tidak.


Setelah menunggu beberapa lama pengadilan  mengeluarkan putusan atau penetapan itsbat nikah.


Dan alhamdulillah permohonan nikah dikabulkan.


Semua orang terlihat sangat bahagia.


"Tinggal menunggu salinan putusan atau penetapan  itsbat nikah," kata Pak Gukul.


"Lalu berapa hari salinan keputusannya keluar Pak Gukul?,"tanya kakek.


"Siap diambil dalam jangka waktu kurang lebih 14 hari sejak sidang terakhir ini Pak Suprapto, nanti salinannya dapat diambil sendiri oleh Reno ke kantor pengadilan di dampingi saya atau diwakilkan kepada saya dengan surat kuasa jika Reno sibuk dan tidak bisa hdir,"jelas Pak Gukul menerangkan.


"Lama juga ya,"sahut Bu Sri.


"Apa tidak bisa di percepat salinan keputusannya pak?,"tanya Pak Sugeng.


"In syaAllah akan saya usahakan pak Sugeng.Sebab semua ada prosesnya yang membutuhkan waktu,"kata Pak Gukul.


"Baiklah Pak Gukul kami percayakan pada anda dan mohon bantuannya ya,"kakek mengatakan sambil memegang bahu Pak Gukul.


"Siap Pak,"jawab Pak Gukul.


"Lalu setelah mendapat salinan keputusan apa lagi yang harus dilakukan Pak Gukul"tanya Pak Sugeng.


"Setelah itu, kita bisa meminta KUA (kantor urusan agama) setempat untuk mencatatkan pernikahan Reno dan Rani dengan menunjukkan bukti salinan putusan atau penetapan pengadilan tersebut.Lalu akan mendapatkan akta nikah atau buku nikah. Setelah itu, dilakukan pencatatan nikah oleh kantor pencatatan sipil setempat.Kemudian semuanya sudah selesai Pak Sugeng,"Pak Gukul menerangkan.


"Baik pak,"jawab Pak Gukul.


Tidak lama kemudian kami semua pulang ke rumah setelah makan dari restoran.


 


Ughhhhh....


Rasanya lelah sekali satu hari ini.


Aku rebahan sebentar hingga lupa mengganti pakaian dan tertidur sekejap di sofa bed di ujung kamar tidurku.


Cekrrrrrrreeeeek...


Suara pintu kamarku terbuka.


Aku terkejut karena lupa menguncinya.


Dengan segera aku bangkit dari tidurku memastikan siapa yang masuk ke kamarku.


"Ran...,"suara memanggilku.


Aku mendekat ke arah sumber suara menuju pintu.Ternyata Mbak Riska yang datang.


"Ehh...iya mbak,"sahutku sambil merapikan kerudungku.


Mbak Riska berjalan mendekatiku membawa seperti buku atau seperti map cokelat besar di salah satu tangan kanannya.


"Maaf ya dek mbak langsung masuk habisnya pas gagang pintunya mbak pegang nggak di kunci,"ucap Mbak Riska sambil menggandeng tanganku untuk duduk di sofa bed.


Aku menuruti langkahnya.


Tidak berapa lama aku dan Mbak Riska duduk di sofa bed yang menghadap langsung ke jendela yang ku buka.


Semilir angin sepoi-sepoi berhembus segar menyapa obrolanku dan Mbak Riska sore ini.

__ADS_1


"Ran,ini mbak bawakan sample gaun pernikahan berhijab.Rani tinggal pilih ya.Rencana mama, papa dan kakek akan menggelar pesta pernikahan untuk Rani dam Reno.Tetapi Reno ingin pesta yang sederhana dan tidak banyak tamu undangan hanya orang-orang yang di kenal dan keluarga serta sahabat terdekat saja.Reno ingin intimate wedding di outdoor.Rani setuju nggak?,"tanya Mbak Riska.


"Hmmmmmm.....Rani terserah saja mbak mana yang baik mbak,"jawabku pasrah.


"Loh kok terserah sih dek.Kan ini pernikahan Rani.Adek pasti punya konsep atau dream wedding gitu dek.Apalagi Rani kan perempuan pasti ada keinginan.Mbak aja sebagai perempuan punya loh dek dream wedding.Rani nggak perlu merasa sungkan atau nggak enak.Ngomong aja ke mbak yah,"ucap Mbak Riska sambil memegang wajahku.


Aku membalasnya dengan senyuman.


"Loh kok senyum dek,"tanya Mbak Riska heran.


"Nggak apa-apa mbak.Rani nurut aja mbak.Apapun pilihan Kak Reno,papa,mama,kakek dan Mbak Riska.Karena jujur Rani nggak kepikiran sampai di situ.Mbak Riska tahu kan semua ini terjadi begitu cepat dalam kehidupan Rani,"terangku pada Mbak Riska.


Mbak Riska memandangku lalu memegang tanganku layaknya kakak perempuan dengan adiknya ia berusaha menyelami perasaanku.


"Ran,jika boleh mbak masuk dalam area privasimu.Sebenarnya bagaimana perasaan Rani kepada Reno?."


Mendengar ucapan Mbak Riska spontan aku terkejut.Mungkin Mbak Riska membaca ekspresi wajahku yang tegang dan bingung.


"Ehhh....,"ucapku bingung menjawab pertanyaan Mbak Riska.


"Mbak tahu dek, Rani meneruskan pernikahan ini atas permintaan mama kan?,"tanyanya serius.


Aku lebih terkejut lagi.


Bagaimana Mbak Riska tahu batinku dalam hati.


"Rani nggak perlu kaget.Mbak Riska mendengar percakapan mama dan Rani kapan hari tetapi mbak pura-pura tidur,"jelasnya.


Aku masih terdiam dan bingung ingin menjawab apa.


"Ran,untuk pilihanmu mbak senang dan berterima kasih.Kamu mengorbankan perasaan,hidup dan memaafkan kesalahan papa,mama dan Reno demi kebahagiaan keluarga ini terutama kakek.


Tetapi seharusnya kami semua tidak boleh egois.Rani juga berhak bahagia dengan hidup Rani bukan.Maka dari itu mbak menanyakan pada Rani.Bagaimana perasaan Rani kepada Reno ?," ucapnya dalam.


Huffhhhhh..


Aku lama terdiam dan Mbak Riska menunggu jawabanku.


"Hmmmmm....entahlah mbak sejauh ini Rani menjalani saja semua dan biarkan Allah yang mengatur segalanya mbak,"ucapku pasrah.


"Berarti sampai saat ini Rani tidak memiliki perasaan untuk Reno? walau hanya sedikit saja?," tanyanya menginterogasiku.


"Wallahualam mbak.Seperti yang Rani bilang tadi.Semuanya Rani serahkan segala sesuatu kepada Allah Subhanahu wa ta'ala.Untuk saat ini Rani berusaha menempatkan diri pada posisi nyaman berada di tengah keluarga ini khususnya Kak Reno.Jika mbak menanyakan perasaan biarlah perasaan itu tumbuh dengan berjalan seiringnya waktu mbak,"ucapku lugas.


"Lalu bagimana Rani menjalani pernikahan tanpa cinta?."


"Rani menjalani pernikahan ini dengan cinta kok mbak,"jawabku.


Dahi Mbak Riska mengkerut berpikir.


"Cinta.Berarti Rani cinta dong sama Reno,"ceplosnya.


"Cinta karena Allah mbak.Semua Rani jalani karena Allah.Dan hanya mengharap ridhoNya.Biarkan Allah yang menghubungkan dan menautkan perasaan Rani dan Kak Reno.Lagi pula hubungan kami berdua halal dan suci di hadapan Allah mbak.Anggap saja sekarang Rani dan Kak Reno sedang masa ta'aruf setelah menikah,"jelasku.


Mbak Riska terlihat bingung dengan perkataanku.


"Hmmmmm....apapun itu lah dek.Mbak berharap kalian berdua langgeng nantinya.Yaudah sekarang Rani harus pilih rancangan model gaunnya.Nanti jika sudah Mbak Riska akan temani Rani fitting bajunya,"sambil menyodorkan map berisi gambar desain pernikahan.


Maka aku pun melihat desain gaun pernikahan satu persatu dibantu Mbak Riska yang menjelaskan detailnya.


Mbak Riska pun pindah duduk di sampingku.


"Ran,tadi Reno ke sini mau nunjukkin kamu desain gaun pengantin yang mbak bawa ini tapi kamu tertidur di sofa bed lelap dan terlihat kecapekan .Jadi Reno nggak tega bangunin Rani,"ucap Mbak Riska.


Aku terkejut mendengar ucapan Mbak Riska.


Kak Reno masuk ke kamarku saat aku tertidur.


Ya Allah, kenapa aku tidak menyadari kedatangannya.


Apa yang ia lakukan,batinku.


Aku termenung sambil menatap ke arah desain gaun pengantin.


Suara Mbak Riska samar-samar dalam sayup pendengaranku.

__ADS_1


Pikiranku berkelana menerka misteri pertanyaan hatiku.


__ADS_2