
"Apakah Dek Rani baik-baik saja, " tanya Ustad Fariz yang berkata kepadaku saat aku melewatinya untuk menaruh mukena di rak di pojok dinding.
Langkahku terhenti, sambil sedikit menoleh ke arah Ustad Fariz lalu menganggukkan kepalaku. Ustad Fariz pun menunjukkan ekspresi wajah penuh kelegaan seraya mengucapkan rasa syukurnya. "Alhamdulillah, saya senang mendengarnya. Saya berharap selama di rumah Wirda, Dek Rani dapat menjaga diri dengan baik, dan tidak mengulangi lagi tindakan seperti tadi yang dapat membahayakan keselamatan Dek Rani, sebab hal itu menimbulkan kecemasan dan rasa kekhawatiran di hati saya. "
"Iya Ustad, Jazakallah khairan katsiran untuk reminder nya. InsyaAllah saya akan menjaga diri saya sebaik-baiknya, untuk itu Ustad Fariz tidak perlu khawatir dan mencemaskan diri saya. Saya berharap mulai sekarang Ustad Fariz tidak perlu lagi untuk mencemaskan saya, karena hal itu sungguh membuat Rani menjadi tidak enak, sebab Rani menjadi selalu dan terus merepotkan Ustad Fariz tiada henti."
Pandanganku lalu melirik ke arah Ustad Fariz yang tertegun mendengar kata-kata dariku.
"Mengapa Dek Rani berkata seperti itu?. "
"Memang seperti itu kebenarannya Ustad, semenjak kedatangan Rani di dalam kehidupan Ustad, Rani hanya menjadi beban dan selalu merepotkan Ustad tiada henti. Untuk itu tolong maafkan Rani Ustad karena telah membuat Ustad hanya fokus untuk selalu membantu Rani keluar dari masalah, sehingga Ustad Fariz sendiri sampai lupa akan kehidupan dan prioritas tujuan hidup Ustad. "
Saat aku mengatakan ucapan itu kepada Ustad Fariz rasanya hatiku begitu nyeri, karena apa yang aku katakan seperti bertolak belakang dengan keinginan yang ada di hati kecilku. Aku sesungguhnya senang mendapati Ustad Fariz mau berbicara lagi denganku seperti ini, terlebih lagi jika ia selalu berada di dekatku dan selalu membantu diriku di dalam kesulitanku. Tetapi aku tidak ingin Ustad Fariz terus menerus hanya mengasihani ku, dengan perasaan iba dan simpatinya. Ustad Fariz berhak memikirkan kehidupannya, terutama dengan Kak Aisyah yang begitu dekat dengannya dan merenggang karena kedatangan diriku di dalam kehidupan Ustad Fariz dan Ukhti Aisyah yang sekarang lebih sering kupanggil Kak Aisyah.
Ustad Fariz terlihat sedih dengan ucapanku, ia diam sambil melihatku yang berjalan meletakkan mukenah dan sajadah pada rak yang ada di pojok dinding.
Saat aku hendak berjalan keluar dari musholla di rumah Wirda, Ustad Fariz mengikuti langkahku dari belakang.
"Bisa kita bicara sebentar Dek Rani?, " ucapnya yang mengagetkan diriku.
Aku menoleh ke arah belakang.
DEG....
Jantungku berdegup kencang dan cepat saat pandangan kami beradu, dan dengan cepat Ustad Fariz dan diriku lalu menundukkan pandangan kami berdua.
Aku terdiam mencoba untuk menetralkan gejolak debar yang kuat dalam dadaku, tetapi debar itu tetap ada, seakan tidak ingin berlalu di dari dadaku dan diam sambil terus memacu perasaan aneh yang menimbulkan getaran aliran listrik yang menjalar di sekujur tubuhku.
"Bagaimana Dek Rani, apakah kita bisa bicara sebentar?, " tanya Ustad Fariz lagi. Aku bingung sekali untuk menerima atau menolak permintaan Ustad Fariz yang ingin berbicara kepadaku. Dalam kebimbangan yang kurasakan, dengan refleks aku langsung saja menganggukkan kepalaku pelan, dan kulihat Ustad Fariz terlihat senang.
"Kita bicara di taman di samping Musholla ini saja Dek Rani, sebab tempatnya teduh dan juga terbuka, " ucap Ustad Fariz.
Aku pun mengangguk pelan tanpa berkata. Lalu aku pun berjalan terlebih dahulu menuju taman diikuti oleh Ustad Fariz yang berada di belakangku. Sesampainya di taman aku langsung duduk pada kursi kayu putih yang mengahadap langsung pada kaca jendela besar Musholla, yang di depan kaca itu terdapat landscape taman dan dipadukan dengan kolam ikan. Lalu Ustad Fariz duduk pada salah satu kursi kayu di dekatku dengan adanya meja bundar kayu berwarna coklat yang memisahkan duduk kami berdua. Sejuk dan asri kurasakan berada disini menikmati tarian ikan koi berwarna-warni yang sedang beraksi menyambut kedatanganku dan Ustad Fariz. Lisanku ingin segera berucap kepada Ustad Fariz, namun ia lebih dulu memulai pembicaraan dengan melantunkan penggalan demi penggalan ayat -ayat Suci Al-Quran kepadaku. Aku tidak paham dan mengerti apa maksud dari tindakan Ustad Fariz tersebut, tetapi diriku selalu terbius setiap kali Ustad Fariz melantunkan kalam Allah Subhanahu Wa Ta'ala dengan irama suaranya yang merdu dan sangat indah, hatiku pun menjadi tentram dan tenang.
"Wa min ayatihi an khalaqa lakum min anfusikum azwajal litaskunu ilaiha wa ja'ala bainakum mawaddataw wa rahmah, inna fi zalika la'ayatil liqaumiy yatafakkarun.
Artinya: Di antara tanda-tanda (kebesaran)-Nya ialah bahwa Dia menciptakan pasangan-pasangan untukmu dari (jenis) dirimu sendiri agar kamu merasa tenteram kepadanya. Dia menjadikan di antaramu rasa cinta dan kasih sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang berpikir.
__ADS_1
Al-Quran surat Ar Rum ayat 21," ucap Ustad Fariz sambil melihat kepadaku.
Kemudian, Ustad Fariz melantunkan Firman Allah Subhanahu Wa Ta'ala kepada diriku.
"Wa min kulli syai'in khalaqna zaujaini la'allakum tazakkarun.
Artinya: Segala sesuatu Kami ciptakan berpasang-pasangan agar kamu mengingat (kebesaran Allah).
Al-Quran surat Az Zariyat ayat 49."
"Innal-lazina amanu wa ‘amilus-salihati sayaj'alu lahumur-rahmanu wudda.
Artinya: Sesungguhnya bagi orang-orang yang beriman dan beramal saleh, (Allah) Yang Maha Pengasih akan menanamkan rasa cinta (dalam hati) mereka.
Al-Quran surat Maryam ayat 96."
"MasyaAllah Tabarakallah, " ucapku lirih dan pelan menikmati keindahan setiap lantunan ayat Suci Al-Quran dan artinya yang dituturkan oleh Ustad Fariz kepadaku.
Maka dengan rasa ingin tahuku, akan alasan apa yang mendasari Ustad Fariz mantunkan Firman Allah di hadapanku, maka dengan melihat Ustad Fariz yang terdiam memikirkan sesuatu. Aku langsung saja bertanya kepadanya.
Ustad Fariz terdiam sambil melihat Ikan koi yang berenang di dalam kolam. Dan untuk beberapa saat aku menunggu , akhirnya Ustad Fariz pun bertutur.
"Al-Qur’an adalah pedoman hidup umat Muslim, yang di dalamnya menjelaskan mengenai segala hukum hingga cara bagaimana kita bersikap dalam segala sesuatu menyikapi aspek kehidupan.Yang dimana dalam beberapa penggalan surat yang saya bacakan di hadapan Dek Rani,
menjelaskan mengenai rasa cinta dan kasih sayang yang Allah Subhanahu Wa Ta'ala berikan kepada hati setiap manusia.
Sebuah perasaan cinta yang dianugerahkan Allah Subhanahu Wa Ta'ala untuk menjadikan kehidupan seseorang merasakan di dalam kebahagiaan dan kedamaian.Namun, kebahagiaan dan kedamaian itu akan lebih menjadi sangat bermakna, apabila cinta yang kita berikan dan tunjukkan kepada sesama makhluk hidup tersebut dilandasi dengan niat beribadah kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala, sebab akan berbuah pahala untuk kita yang menjalankannya. Karena mengharap akan ridho dari Allah Subhanahu Wa Ta'ala," tutur Ustad Fariz.
Aku pun terdiam meresapi setiap rangkaian kata yang Ustad Fariz suguhkan dari lisannya kepadaku. Namun, hati dan pikiranku belum dapat terkoneksi dengan baik untuk mencerna intisari dari setiap maksud dari perkataan yang sudah Ustad Fariz tuturkan kepadaku. Aku melirik ke arah Ustad Fariz yang sepertinya ingin bertutur lagi kepadaku. Namun, keinginannya itu terhenti saat mendadak Kak Aisyah muncul di hadapanku dan Ustad Fariz .
"Afwan,Ustad dapatkah Ustad mengantar saya pulang sekaligus kita melihat-lihat wedding organizer yang terbaik untuk menangani pernikahan Dek Rafa dan Dek Wirda, mengingat waktu untuk akad nikah dan resepsinya sangat singkat waktunya, " Kak Aisyah menatap Ustad Fariz yang terdiam.
"Bagaiamana Ustad?, " tanya Kak Aisyah tidak sabaran.
"Bisakah Ukhti Aisyah menunggu sebentar lagi, sebab saya akan menyelesaikan pembicaraan saya dahulu kepada Dek Rani, barulah setelah itu kita akan membahas tentang wedding organizer, " jawab Ustad Fariz.
Namun, kulihat Kak Aisyah sepertinya tidak setuju akan usul dari Ustad Fariz.
__ADS_1
"Afwan, Ustad saya pikir akan lebih baik jika kita berangkat sekarang. Lagi pula ini lebih penting dari pada pembicaraan Ustad Fariz dengan Dek Rani, " kata Kak Aisyah dengan ekspresi wajah dingin menatapku.
Aku pun yang mendengar Kak Aisyah berbicara seperti itu merasa tidak enak dan sangat tidak nyaman, maka dengan segera aku pun mempersilahkan Ustad Fariz untuk segera pergi bersama dengan Kak Aisyah. Awalnya Ustad Fariz menolak, namun setelah aku memberikan pengertian. Akhirnya ia pun menuruti permintaanku, untuk langsung pergi bersama Kak Aisyah. Lalu aku pun menatap wajah Kak Aisyah yang air mukanya berubah seketika denah menunjukkan rasa bahagia.
Di saat Ustad Fariz dan Kak Aisyah hendak berjalan pergi meninggalkanku, mendadak Ummah datang dengan Wirda lalu bertanya kepada Ustad Fariz. "Hendak ke mana kalian,Nak."
dengan cepat Ustad Fariz pun menyampaikan .Jika ia dan Kak Aisyah akan pergi melihat jasa wedding organizer yang terbaik untuk segera dapat mengorganisir dan menghandle acara pernikahan Kak Rafa dan juga Wirda ,sekaligus mengantar Kak Aisyah pulang setelahnya. Mendengar hal itu Ummah pun langsung bereaksi untuk ikut serta bersama dengan Ustad Fariz dan Kak Aisyah. Ustad Fariz pun tersenyum mendengar keinginan Ummah untuk ikut serta dengannya,dan menyambut baik keinginan Ummah tersebut. Tetapi sebaliknya saat aku palingkan wajahku menatap Kak Aisyah, ekspresi wajahnya yang semula terlihat bahagia, kini menjadi murung dan terlihat kecewa. Setelah ia mendengar Ummah akan ikut bersama dengan dirinya dan Ustad Fariz untuk pergi bersama, dan tanpa menunda-nunda waktu lagi Ustad Fariz bersama dengan Ummah pun segera berjalan menuju ke halaman rumah Wirda dan bergegas menuju ke mobil, setelah sebelumnya mereka berdua berpamitan kepadaku dan Wirda, sedangkan Kak Aisyah berjalan mengikuti Ummah dan Ustad Fariz dari belakang dengan ekspresi wajahnya yang masih tertunduk lemas dan kecewa.
Dan tidak lama setelah itu pun seluruh anggota keluarga Imandar pulang dari kediaman Wirda.
***
Malam hari sudah tiba, aku dan Wirda asyik mengobrol tentang acara pernikahannya yang sebentar lagi akan digelar. Wirda mengatakan kepadaku Bahwa saat ini ia merasa gugup dan tegang dan tidak menyangka jika sebentar lagi ia akan bersanding menjadi istrinya Kak Rafa.
Aku pun menyimak semua tumpahan perasaan yang Wirda curahkan kepadaku, karena melihatnya bahagia seperti itu juga membuatku merasa senang melihatnya.
Dan disaat aku dan Wirda saling bercengkrama . Ingatanku kembali terulang tentang Rere bersama laki-laki yang duduk di kursi roda, yang membuatku tertabrak mobil karena begitu penasaran.Maka aku pun segera menceritakan semua kronologi kejadian yang kualami dan kulihat kepada Wirda dan juga mengatakan kepada Wirda. Jika benar laki-laki yang bersama Rere itu sangat tidak asing, dan mirip dengan Kak Roy. Wirda yang mendengar ceritaku pun juga terkejut dan kaget ternyata apa yang dia rasakan juga sama dengan yang kurasakan.Kami berdua pun saling berpikir, apakah mungkin jika itu Kak Roy. Tetapi terkadang pikiran itu hilang, karena kami berdua sama-sama tahu jika Kak Roy sudah meninggal dunia. Namun,di sisi lain hatiku dan Wirda juga mempertanyakan bagaimana bisa laki-laki yang bersama Rere itu mirip dengan Kak Roy. Kami berdua pun menjadi bingung dan terus memikirkan hal itu. " Itulah yang aku curigai dari Rere ,Ran.Masih ingatkah dirimu Ran, waktu kita semua bertakziah di kediaman Tante Warti, saat itu aku benar-benar menyaksikan dan melihat jika wajah Rere itu tidak terlihat sedih akan meninggalnya Kak Roy. Dan di saat itu pula aku merasakan ada sesuatu yang ia sembunyikan dari kita semua. Sesungguhnya kita semua tahu kan Ran, bagaimana Rere itu sangat tergila-gila dan terobsesi terhadap Kak Roy .Lalu tiba-tiba saat laki-laki yang begitu sangat ia cintai sudah tidak ada lagi di dunia ini . Rere sama sekali tidak menunjukkan ekspresi wajah yang sedih atau kehilangan sama sekali ,dan itu sangat aneh Ran.Maka dari situlah aku mulai menaruh perasaan curiga yang sangat besar terhadap Rere. Apalagi saat melihatnya bersama laki-laki yang kamu bilang mirip dengan Kak Roy atau jangan-jangan itu benar Kak Roy ya Ran, "kata Wirda dengan ekspresi wajah sedikit melotot dan terkejut.
Aku terdiam sebentar memikirkan kata-kata Wirda lalu berusaha untuk membuat Wirda tidak berpikiran negatif. Apalagi sebentar lagi, dirinya akan menikah. Maka aku pun berusaha bertutur kata yang membuat hatinya tidak memikirkan hal ini untuk sementara waktu.
"Tetapi mana mungkin kan Wirda. Orang yang sudah meninggal tiba-tiba bisa hidup lagi, mungkin aku saja yang salah lihat dan mungkin saja laki-laki itu hanya kebetulan mirip dengan Kak Roy, karena aku tidak terlalu begitu jelas melihatnya. Sebab itulah aku turun dari mobil untuk menghampiri Rere dan melihat kebenaran akan siapa laki-laki itu apakah benar Kak Roy atau tidak ,tetapi karena aku terburu-buru dan tertabrak mobil ,akhirnya Rere dan laki-laki yang mirip Kak Roy itu telah beranjak pergi dari tempat posisi semula aku melihat mereka, " ucapku kepada Wirda yang terlihat masih terkejut dan berpikir.
Maka melihat Wirda masih memikirkan tentang Rere, aku pun berusaha membuat dirinya untuk rileks dan memintanya untuk fokus kepada acara pernikahannya saja.
"Ya sudah Wirda, kamu tidak usah memikirkan hal ini dulu untuk sementara waktu, karena hal yang terpenting adalah kita fokus pada acara akad nikah dan resepsi pernikahanmu dulu ya. Aku tidak ingin kamu terlalu banyak berpikir yang nantinya akan membuat dirimu tegang dan terlihat tidak cantik di saat pernikahan, "ucapku menggoda Wirda dengan berusaha untuk mencairkan suasana.
Wirda pun tersenyum. " Kamu bisa saja Ran.Oh ya Ran, aku penasaran ingin tahu apa yang kamu bicarakan berdua saja dengan Kak Fariz?, "tanya Wirda dengan rasa ingin tahu.
Mendengar pertanyaan Wirda aku pun tersentak menjadi kaget, yang membuatku diam dengan perasaan berdebar tidak
terkendali saat Wirda menyebut nama Ustad Fariz di hadapanku.
Wirda memandang ke arahku dengan serius dan mencoba menelisik perasaan yang kurasakan. Wirda pun tersenyum kecil sambil mencubit pipiku dengan lembut. Aku makin tegang dan canggung, takut jikalau Wirda dapat menerka-nerka apa yang kurasakan saat ini.
Huft....
Aku menghela nafas untuk menyusun kata.
__ADS_1