
Air mata Ummah dan Abi mengalir seketika setelah melihat kondisiku yang jatuh dari pesawat hingga saat ini masih belum sadarkan diri.Tubuhku masih terbaring tidak berdaya di atas ranjang pasien.
Pilu hati Ummah dan Abi menatap ragaku yang begitu lemah , dengan beberapa selang yang terpasang pada tubuhku.
"How is my daughter?, " tanya Ummah lirih pada suster yang merawat diriku.
"The patient's condition is stable, but still unconscious too. The patient has been in the ICU since a few days ago. (Kondisi pasien sudah stabil, tapi masih belum sadar juga.Pasien sudah di ICU sejak beberapa hari kemarin),"sahut suster sambil melihat ke arah Ummah.
Ummah masih terus meneteskan air matanya, langkah kakinya seakan tidak kuasa untuk membawa dirinya semakin dekat padaku. Abi lalu mengusap punggung Ummah untuk menguatkannya.
Ummah terus menarik napas pendek secara berulang kali, untuk menguatkan dirinya yang rapuh.
Barulah dalam beberapa saat Ummah benar-benar kuat untuk terus melangkah kan kakinya melihat diriku dari dekat.
Ummah hampir terjatuh, saat kedua matanya menyaksikan rasa sakit dari deritaku. Dengan kedua tangan menutup mulutnya, Ummah benar-benar tidak kuasa membendung kesedihannya. Badannya bergetar dengan suara isak tangis yang terdengar sesenggukkkan terus menerus menggema. Suster yang melihat Ummah tidak dapat menahan dirinya, dengan segera meminta Abi untuk membawa Ummah keluar dari ruang ICU. Agar tidak menganggu. Abi mengangguk dan mengerti, lalu secara perlahan Abi langsung menuntun Ummah untuk keluar hingga hati Ummah benar-benar tenang dan mampu menerima kenyataan akan keadaan diriku yang masih terus berjuang melawan rasa, sakit.
Ummah pasrah dan tidak menolak, ketika Abi membawa Ummah keluar dari ruang ICU. Diluar ruang ICU, Abi segera mengajak Ummah untuk duduk dan menenangkan nya. Tangis Ummah justru semakin pecah dan tidak terkendali, kesedihannya pun makin menjadi dalam keharuannya yang masih berselimut duka.
Tidak lama kemudian, telepon genggam milki Abi berdering. Abi tampak kaget dan segera mengambil telepon genggam dari tas kecil yang ia kalungkan di pundaknya.
Terlihat dari layar telepon genggam milknya Kak Rafa sedang memanggil, dan dengan cepat Abi pun segera mengangkat telepon masuk dari Kak Rafa. Sambil duduk di samping Ummah, Abi terus berkomunikasi dengan Kak Rafa mengenai kondisiku saat ini. Selama bercakap-cakap dengan Kak Rafa melalui sambungan telepon, Abi beberapa kali meneteskan air matanya. Tetapi dengan cepat ia seka air mata itu, sebelum banyak jatuh membasahi wajahnya yang sudah tampak lelah.
__ADS_1
Sementara Abi tengah sibuk berbicara dengan Kak Rafa. Ummah masih terlihat larut dalam perasaannya, pikirannya hening termangu dalam lamunannya sendiri. Dengan tatapan yang seakan kosong, sesekali nafasnya terdengar tertarik pelan.
Ada kegetiran yang masih tergambar jelas dari parasnya yang terlihat pucat dan sayu.
Setelah Abi selesai melakukan sambungan telepon dengan Kak Rafa dan Enjid, dengan cepat Abi langsung menutup telepon dan kembali fokus menenangkan Ummah yang masih terlihat begitu syok , setelah melihat kondisiku.
"Apakah Ummah baik-baik saja?, " tanya Abi sembari memandangi wajah Ummah yang menatap wajah Abi dengan lesu.
Ummah mengangguk tak bergairah.
"Ummah harus kuat dan tegar, kita serahkan semuanya kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Termasuk untuk kesembuhan dan segala sesuatu yang terjadi kepada Rani, " ucap Abi pelan.
Abi pun tak kuasa membendung tangis Ummah,hanya sentuhan lembut dari tangan nya yang Abi rasa cukup mampu untuk membuat Ummah dapat sedikit tenang.
"Inna lillahi wa inna ilaihi rooji’un. Allahumma’jurnii fii mushibatii wa akhlif lii khoiron minhaa .Segala sesuatu adalah milik Allah dan akan kembali pada-Nya. Ya Allah, berilah ganjaran terhadap musibah yang menimpaku dan berilah ganti dengan yang lebih baik.Mudah-mudahan Allah akan memberinya ganjaran dalam musibah yang kita hadapi dan menggantinya dengan yang lebih baik, Ummah, " tutur Abi lembut sambil mendekap tubuh Ummah.
Tidak lama setelah itu perwakilan dari pihak KBRI yang megantar Abi dan Ummah, ikut duduk pula di samping Abi.
"Semoga Bapak Iwan dan Bu Putri, di diberikan kekuatan dalam mendapati musibah ini dan semakin ringan menghadapinya dengan keikhlasan dan ketegaran yang menyertainya.Meskipun saya tahu itu tidaklah mudah, tetapi semoga Bapak Iwan dan Bu Putri selalu dianugerahi kesabaran dari Allah Ta’ala.
Segala puji bagi Allah yang dengan nikmat-Nya segala kebaikan menjadi sempurna.Saya memohon kepada Allah semoga anda berdua, diberikan kekuatan dan keikhlasan, serta kebaikan lahir dan batin dalam menghadapi ujian dari Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Sungguh Allah Maha Mendengar lagi mengabulkan do'a. "
__ADS_1
"Aamiin.Jazakallah Khairan,semoga Allah membalasmu dengan kebaikan pak, " sahut Abi sambil menyeka air matanya.
Perwakilan KBRI pun menjelaskan kepada Abi akan membantu sepenuhnya kepulangan diriku ke Indonesia, setelah kondisi ku benar-benar dinyatakan mampu dan dapat dibawa menggunakan transportasi pesawat terbang.
Abi dan Ummah tidak henti-hentinya menghaturkan terima kasih kepada pihak perwakilan KBRI dan otoritas setempat yang dengan segenap hati terus membantu mereka mencari keberadaan diriku.
Tidak lama kemudian, Ummah meminta kepada Abi untuk mengantarkan nya masuk kembali ke ruang ICU. Sementara Abi bersama pihak perwakilan KBRI dan otoritas setempat menemui dokter untuk mengetahui keadaan diriku secara detail dan terperinci.
Ummah sudah memakai pakaian hijau polos, dengan hatinya yang jauh lebih kuat dan tegar. Langkah kaki Ummah dengan mantap dan yakin masuk ke dalam ruangan tempat dimana diriku dirawat.
Meskipun hatinya masih terasa pilu, tetapi kali ini ia benar-benar berusaha untuk tegar.
Ummah menyadari Allah Taala akan menguji setiap hamba-Nya dengan berbagai musibah, dengan berbagai hal yang tidak mereka sukai. Semua membutuhkan kesabaran, tidak putus asa dari rahmat Allah dan tetap konsisten dalam beragama.
Ummah menghela napasnya sambil terus mendekat ke arahku, dimana perkataan Abi kembali terngiang di pikiran Ummah, "Hendaknya setiap orang tidak tergoyahkan dengan berbagai cobaan yang ada, tidak pasrah begitu saja terhadap cobaan yang Allah berikan, bahkan setiap hamba hendaklah tetap komitmen dalam agamanya. Hendaknya setiap hamba bersabar terhadap rasa capek dan lelah yang mereka emban ketika berjalan dalam agama ini. Seseorang akan diuji sesuai dengan kondisi agamanya. Apabila agamanya begitu kuat (kokoh), maka dia akan mendapat ujian begitu kuat. Apabila agamanya lemah, maka dia akan diuji sesuai dengan agamanya. Senantiasa seorang hamba akan mendapatkan cobaan hingga dia berjalan di bumi dalam keadaan bersih dari dosa.(HR. Tirmidzi).
Semoga Ummah, Abi dan seluruh anggota keluarga kita yang sedang mendapat ujian atau musibah merenungkan dapat terus kuat dan bersabar. Sungguh ada sesuatu yang tidak kita ketahui di balik musibah yang Allah Taa'la berikan kepada kita. Maka bersabarlah dan berusahalah ridho dengan taqdir ilahi. Sesungguhnya para Nabi dan orang sholeh dahulu juga telah mendapatkan musibah sebagaimana yang kita peroleh. Lalu kenapa kita harus bersedih, mengeluh dan marah? Bahkan orang sholeh dahulu,sesuai dengan tingkatan keimanan mereka, mereka malah memperoleh ujian lebih berat , " tutur Abi.
Perkataan Abi terus memberikan kekuatan bagi Ummah. Ummah memegang jemari tanganku pelan dengan tangannya yang bergetar, "Ya Allah,semoga engkau masukkan diriku dalam golongan orang-orang yang bersabar ketika menghadapi musibah, baik dengan hati lisan atau pun anggota badan. Ya Allah, jadikanlah kami termasuk hamba-hamba-Mu yang selalu ridho dengan taqdir-Mu."
Ummah memejamkan kedua matanya , dengan berharap penuh memohon keridhoan dari Allah Subhanahu Wa Ta'ala.
__ADS_1