Jodoh Pilihan Tuhan

Jodoh Pilihan Tuhan
Naluri Ummah dan Wirda.


__ADS_3

Selama dua hari Ummah dan yang lainnya menginap di kediaman rumah ku dan Kak Reno. Banyak hal yang kami bicarakan khususnya mengenai keputusan Kak Reno yang mengizinkan diri ku untuk bertemu langsung dengan Kak Roy dan putrinya.


Meskipun Ummah sudah berusaha untuk mencegahnya. Tetapi aku dan Kak Reno sepakat untuk datang langsung ke kediaman rumah Kak Roy. Karena bagaimana pun juga Kak Roy adalah sahabat ku dan orang yang pernah paling dekat dengan diri ku. Dimana selama ini juga ia telah banyak membantu diri ku tanpa pernah dapat ku balas semua kebaikannya.


Selepas menunaikan salat dhuha aku berjalan santai di halaman rumah tempat tinggal ku yang asri nan teduh.


Udara paginya masih terasa sangat sejuk meskipun cahaya matahari bersinar dengan hangat.


Wirda lalu menghampiri diri ku.


"Ran!, " sapa Wirda sambil meletakkan jemari tangannya pada lengan ku.


Aku terkejut dengan kehadiran dirinya saat pandangan mata ku menatap Wirda yang sudah ada di samping ku.


"Wirda, " ucap ku.


Wirda tersenyum dengan sedikit menyipitkan kedua matanya.


"Maaf Ran, kehadiran diri ku membuat mu terkejut ya?. "


"Akh iya sedikit, " kata ku sambil tersenyum meringgis.


Wirda menatap diri ku dalam dan lekat.


Dan tatapannya itu membuat ku segera bertanya kepada dirinya.


"Ada apa Wirda? Apakah semuanya baik-baik saja?, " tanya ku padanya.


Wirda tampak diam sejenak lalu mengajak diri ku untuk duduk pada sebuah kursi kayu panjang, yang berada di tengah halaman tidak jauh dari tempat keberadaan ku dan Wirda saat ini.


Aku pun tidak menolak permintaan Wirda dan mengiyakan permintaannya.


Aku merasakan kegelisahan di raut wajah Wirda yang berulang kali menatap diri ku.


Setelah aku dan Wirda duduk di kursi kayu panjang. Tanpa menunggu Wirda untuk berkata lagi. Aku pun dengan segera bertanya kepada dirinya. Mengapa ekspresi wajahnya menunjukkan kegelisahan dan keresahan.


Mulanya Wirda diam sejenak.


Kemudian, ia memegang tangan ku lalu mengenggam jemari tangan ku dengan tatapan kedua matanya yang begitu menunjukkan ekspresi ketakutan dan kekhawatiran yang berlebihan pada ku.


"Ada apa Wirda?, " tanya ku padanya yang sudah tidak tahan melihat wajah cemasnya.


Hingga perlahan Wirda menarik napas dalam-dalam dan panjang sebelum ia bertutur kepada diri ku.


"Ran, jujur entah kenapa keputusan mu dan Kak Reno untuk datang berkunjung ke rumah Kak Roy sungguh membuat diri ku khawatir, " ucap Wirda dengan nada resah.


Aku berusaha mengkonfirmasi maksud perkataan Wirda akan hal apa yang membuatnya mencemaskan diri ku dengan sangat berlebihan. Dan Wirda menjelaskan semua nya kepada diri ku.


"Ran, dulu aku tidak suka melihat hubungan mu dengan Kak Reno. Karena saat itu aku tahu Kak Reno tidak layak untuk mendapatkan diri mu. Tetapi kita tidak dapat menduga khususnya diri ku sendiri. Di buat takjub dan terdiam dengan perubahan sangat besar yang terjadi pada sikap dan attitude Kak Reno. Yah, siapa sangka jika Allah Subhanahu Wa Ta'ala memiliki rencananya sendiri untuk menyatukan kalian berdua kembali. Setelah semua kepahitan hidup yang telah masing-masing dari kalian hadapi. Dan jujur aku saat ini aku bahagia dapat melihat diri mu menikah serta menjadi istri Kak Reno. Perasaan yang sama ku rasakan saat engkau menikah dengan almarhum Kak Fariz. "


Aku terdiam dengan ekspresi wajah yang berubah menjadi sedikit lebih sedih dan sendu. Ketika Wirda menyebutkan nama Mas Fariz.


Wirda pun seakan mengetahui perubahan sikap dan wajah ku yang drastis. Dan dengan cepat ia pun meminta maaf kepada diri ku.


"Maafkan diri ku Ran. Aku tidak bermaksud untuk mengingatkan diri mu pada kenangan masa lalu mu bersama almarhum Kak Fariz."


Aku tersenyum kecil kepada Wirda dan sedikit menggelengkan kepala ku.


"Tidak apa-apa Wirda. Aku tidak merasa tersinggung, marah atau bersedih saat diri mu menyebutkan nama almarhum Mas Fariz. Tetapi memang sosoknya adalah hal yang menjadi bagian terindah di dalam kehidupan ku. Dan ia memiliki tempat khusus dan tersendiri di dalam diri ku. Karena sampai saat ini pun aku masih terus mengingat dirinya. Meskipun aku sudah menikah lagi dengan Kak Reno, " jelas ku pada Wirda.


Wirda terdiam dan mendengarkan perkataan dari ku.


Sambil memandang ke langit biru yang luas. Aku pun meneruskan perkataan ku kepada Wirda.


"Kamu tahu Wirda. Mengapa aku menerima lamaran Kak Reno dan menikah dengannya?," tanya ku sambil menoleh ke arah Wirda sebentar.

__ADS_1


Wirda menggelengkan kepalanya dan menatap ku serius.


Aku lalu kembali menatap langit yang terhampar biru nan bersih dengan bentangan pemandangan alam yang indah di sekelilingnya.


"Itu karena Allah Subhanahu Wa Ta'ala yang menuntun ku untuk menikah dengan nya. Dan benar saja saat berada di dekat Kak Reno. Aku pun merasakan persaan yang sama persis seperti perasaan ku kepada almarhum Mas Fariz. Sebuah rasa yang semulanya hanya ku milki untuk Mas Fariz. Namun, rasa itu juga muncul dan terus tumbuh membersamai diri ku dengan Kak Reno. Tetapi aku tidak merasa kehilangan akan perasaan ku pada almarhum Mas Fariz. Dimana di dalam diri dan sikap Kak Reno. Aku juga merasakan jika seolah-olah karakter almarhum Mas Fariz tumbuh dan hidup di dalam diri Kak Reno. "


"Apakah itu tandanya engkau mulai mencintai Kak Reno sama seperti diri mu mencintai almarhum Mas Fariz?, " tanya Wirda dengan mencoba menerka hati ku.


Aku mengangkat kedua pundak ku perlahan sambil menoleh kepadanya dan tersenyum.


"Entahlah Wirda untuk saat ini aku tidak yakin jika perasaan yang ku milki terhadap Kak Reno adalah perasaan cinta. Tetapi biarkan waktu dan rencana Allah Subhanahu Wa Ta'ala yang akan memastikan rasa yang sesungguhnya menetap di hati ku ini. Apakah cinta atau bukan. "


Wirda tersenyum pada ku.


"Aku sungguh senang melihat keadaan diri mu sekarang Ran. Ternyata keputusan ku, Ummah, Abi dan Enjid untuk meminta diri mu menikah dengan Kak Reno adalah keputusan yang tepat.


Aku benar-benar dapat melihat aura pancaran kebahagiaan di kedua mata mu saat ini Ran."


"Benarkah Wirda?, " tanya ku.


"Iya Ran, " jawab Wirda sambil memantuk-mantukkan kepalanya.


Kemudian, ekspresi wajah Wirda berubah seketika.


"Aku dan semua orang di keluarga kita sudah sangat bahagia dan senang sekali melihat mu sudah dapat tersenyum seperti dulu. Tetapi tiba-tiba ketakutan dan kecemasan itu datang pada diri kami semua Ran. "


"Ketakutan apa Wirda?, " tanya ku ingin tahu sambil memandang Wirda lekat.


"Ketakutan akan keputusan kalian berdua untuk bertemu dengan Kak Roy, " jawab Wirda.


"Memangnya ada apa dengan Kak Roy, Wirda?, " tanya ku lagi.


"Terakhir kali aku bertemu dengan dirinya. Aku merasakn kesedihan hebat dalam dirinya yang tergambar jelas pada raut wajahnya. Aku bersimpati dan turut bersedih akan semua musibah yang menguji dirinya. Tetapi entah mengapa aku merasakan ada sesuatu yang aneh dari sikapnya. "


"Aneh bagaimana Wirda?. "


Aku menepuk pelan pundak Wirda seraya berkata, "Wirda.Tidak baik kita berburuk sangka kepada Kak Roy. Bukankah kita selama ini sangat mengenal bagaimana sikap Kak Roy. Dia adalah laki-laki yang baik dan tidak pernah ingin mencelakai orang lain. Jadi menurut ku tidak mungkin Kak Roy memiliki niat buruk terhadap diri ku. "


Wirda seakan tidak setuju dengan perkataan ku.


"Tidak Ran, Kak Roy yang ku lihat sekarang memang sangat jelas berbeda. Aku mohon Ran. Kamu dan Kak Reno mempertimbangkan keputusan kalian untuk menemui Kak Roy. Akan jauh lebih baik jika engkau dan Kak Reno tetap berada di sini dan menjalani kehidupan kalian berdua yang mulai menumbuhkan tunas-tunas kebahagiaan. "


Aku lalu mengenggam kedua tangan Wirda dan berusaha untuk meyakinkan dirinya.


"Wirda.InsyaAllah tidak akan terjadi apa-apa pada diri ku dan Kak Reno. Ada Allah Subhanahu Wa Ta'ala yang menjaga dan melindungi kami berdua. Lagi pula niat kami baik dan tidak ada keinginan untuk melukai bahkan menyakiti siapa pun.


InsyaAllah semuanya akan baik-baik saja. Aku telah memasrahkan hidup dan mati ku, bahagia dan juga kesedihan ku, sehat dan sakit ku. Semuanya kepada Allah.


Sebab hanya Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Sebaik-baiknya tempat bergantung dan berlindung dari semua bentuk kejahatan dan sikap buruk semua orang. Karena sesuai yang di mulai dengan niat dan tujuan yang baik. InsyaAllah akan menghasilkan hal yang baik pula pada perbuatan yang telah kita lakukan, " jelas ku pada Wirda sambil melemparkan senyum ku kepada dirinya.


Kali ini Wirda terdiam dan menatap ku dalam. Kemudian ia langsung memeluk diri ku.


"Aku berharap seperti itu Ran.


Aku hanya ingin melihatmu bahagia.


Semoga Allah Subhanahu Wa Ta'ala senantiasa menjaga dan melindungi diri mu Rani, " ucap Wirda dengan nada suara yang masih di penuhi keresahan.


"Aamiin ya rabbal'alamiin, " kata ku sambil mengusap punggung Wirda.


Tidak lama kemudian Ummah pun datang menghampiri kami berdua sambil memegangi Fariz yang berjalan di sampingnya. Yang di ikuti dengan kedatangan Bik Inah yang membawa kotak makan Fariz.


Fariz lalu melepaskan genggaman tangan Ummah dan berlari menghampiri diri ku.


"Tante Rani... Tante Rani kapan tante Rani pulang ke rumah, " ucap Fariz dengan suaranya yang masih sedikit tersendat -sendat.

__ADS_1


Aku tersenyum padanya lalu mengangkat tubuhnya yang berisi untuk duduk di pangkuan ku.


"O.. Ya ampun. Ternyata sekarang keponakan tante sudah bertambah besar ya, " ucap ku sambil mencium pipi nya yang gembul.


Fariz tersenyum sambil menekuk kedua lengannya untuk menunjukkan otot-otot kekuatannya pada ku. Layaknya seperti atlet binaraga yang kuat.


"Iya tante. Fariz makan yang banyak supaya Fariz cepat tumbuh besar dah dapat menjaga Tante Rani, " ucapnya dengan suaranya yang mengemaskan.


"Ooh.. Manisnya keinginan keponakan kesayangan tante ini, " kata ku sambil mencubit lembut kedua pipinya yang mengemaskan lalu ku peluk dirinya.


"Jadi kapan Tante Rani pulang ke rumah?, " tanya nya dengan suara ingin tahu.


Aku pun lalu memegang kepalanya dan mengusapnya lembut.


"InsyaAllah besok tante akan pulang ke rumah bersama dengan Fariz, " jawab ku sambil mendaratkan ciuman ku keningnya.


Fariz langsung berteriak kegirangan dan mencium pipi ku.


"Hore.. Hore.. Hore!. Besok Tante Rani akan pulang bersama Fariz. "


Aku tersenyum melihat sikapnya. Begitu pun Ummah, Wirda dan Bik Inah yang ikut tersenyum melihat kepolosan Fariz.


"Fariz sayang sekali dengan Tante Rani, " ucap Fariz lagi sambil memeluk ku erat.


Aku pun membalas pelukannya sambil mengusap kepalanya lembut dan mendarat kan ciuman sayang berulang kali pada pipinya.


"Tante Rani juga sayang sekali dengan Fariz, " kata ku sambil tersenyum lebar.


Kemudian, Bik Inah mendekati Fariz dan memintanya untuk menghabiskan makanan nya. Fariz pun tidak menolak dan langsung makan dengan lahapnya tanpa di suapi.


Saat pandangan mata ku tertuju pada Fariz yang sedang makan dengan lahapnya.


Tiba -tiba Ummah duduk di tengah di antara diri ku dan Wirda.


Ummah kembali memandang diri ku dengan tatapannya yang terlihat resah. Tatapan sama seperti yang Wirda tunjukkan.


"Ada apa Ummah?, " tanya ku.


Ummah mengusap kepala ku lembut.


"Sayang, apakah kamu sudah benar-benar memikirkan secara matang kepulangan mu bersama kami esok hari? , " tanya Ummah ragu.


Aku tersenyum sambil mengenggam jemari tangan Ummah dan mencium nya.


"Ummah, " panggil ku pelan lalu ku hembuskan napas pendek dan melanjutkan ucapan ku pada Ummah.


"InsyaAllah semuanya sudah Rani pertimbangkan Ummah. Lagi pula sebenarnya tidak ada hal khusus yang menjadi pertimbangan berat Rani untuk mencegah Rani bertemu dengan Kak Roy dan putrinya. Rani tahu Ummah mencemaskan Rani. Tetapi percayalah Ummah semuanya akan baik-baik saja. Ummah tidak usah khawatir dan cemas ya, " pinta ku.


"Iya sayang. Ummah percaya pada mu. Ummah ingin bersikap tidak cemas dan khawatir pada mu. Tetapi tetap saja keresahan itu selalu timbul pada diri Ummah.


Ummah hanya ingin melihat putri kesayangan Ummah dapat menjalani kehidupan yang penuh kebahagiaan tanpa ada lagi kesedihan dan air mata di dalam kehidupannya, " tutur Ummah pada ku.


"Iya Ummah Rani mengerti. Rani sangat beruntung memiliki Ummah di dalam kehidupan Rani, " ucap ku sambil memeluk Ummah.


Ummah pun tersenyum dan membalas pelukan ku dengan wajahnya yang masih terlihat penuh pikiran kecemasan akan kepulangan ku untuk berniat menemui Kak Roy dan putrinya.


Sambil menghela napas beberapa kali Ummah terus melihat ke arah diri ku dan berharap jika keputusan ku tidak salah.


Aku pun kembali mengenggam tangan Ummah dan meyakinkan dirinya.


Bahwa semuanya akan baik-baik saja.


Ummah menganggukkan kepalanya perlahan dan pelan. Seperti sedikit di paksakan dalam keraguannya.


Sungguh di dalam hati kecil Ummah ia sangat berharap jika aku dan Kak Reno mengurungkan niat ku untuk turut pulang bersama Ummah dan menemui Kak Roy juga putrinya.

__ADS_1


Karena Ummah seperti merasakan sesuatu hal yang aneh pada diri Kak Roy.


Beberapa kali Ummah memandang ke arah ku dan Wirda. tetapi tetap saja hatinya masih resah memikirkan diri ku.


__ADS_2