Jodoh Pilihan Tuhan

Jodoh Pilihan Tuhan
Kegundahan.


__ADS_3

Pandangan Kak Aisyah kosong, hatinya dipenuhi dengan rasa ketakutan dan kekecewaan. Dia begitu frustasi akan dirinya sendiri setelah apa yang ia lakukan kepada diriku, sambil berjalan perlahan dengan raut wajah yang sembab ia meraih foto Ustad Fariz yang sengaja Kak Aisyah pajang di figura foto. Dia mengambil foto Ustad Fariz secara candid, tanpa sepengetahuan Ustad Fariz.


Sambil membawa figura foto Ustad Fariz yang terbuat dari kayu dan kaca. Kak Aisyah berjalan perlahan menuju sofa di dekat jendela tempat tidurnya, lalu ia hempaskan tubuhnya ke dalam sofa sambil terus memandangi figura foto Ustad Fariz. Air matanya terus mengalir derasnya untuk melampiaskan hatinya yang begitu sangat terluka. Dalam derai tangisnya, bibirnya pun bergetar dalam rintihan lisannya menyebut nama Ustad Fariz.


"Mengapa Ustad? Kamu tidak sadar akan cinta yang kutunjukkan kepadamu? Mengapa dirimu tidak mengerti akan tulus dan besarnya cintaku kepadamu. Apa istimewanya Rani bagimu, hingga tidak sekalipun perasaan dan perhatian dariku engkau balas. Huhuhuhuhu... Huhuhuhuhu.... Aku tidak bisa hidup tanpa dirimu Ustad Fariz, aku begitu sangat mencintaimu. Hiks... Hiks.. Hiks... Engkau tidak tahu bagaimana diriku melewati batasan semua norma hanya demi dirimu dan hanya untuk meraih cintamu, tetapi engkau pun tetap tidak peduli terhadap perasaan yang kumiliki. Lalu untuk apa aku berada di dunia ini, jika dirimu menolak akan keberadaan ku juga cintaku. Huhuhuhu...huhuhuhuhu... ".


PYARRR....


Kak Aisyah membanting figura foto Ustad Fariz ke lantai. Pecahan kaca dari penutup figura berceceran kemana-mana. Dalam pandangan matanya yang nanar, ia terus melihat pada pecahan kaca yang berserakan. Kak Aisyah begitu rapuh, hingga saat dirinya bangkit dari duduknya dengan tidak memperdulikan rasa sakit pada tubuhnya. Kak Aisyah langsung saja berjalan menginjak pecahan kakinya yang tidak berselimut alas apapun. Alhasil, darah pun mengalir dari kedua telapak kakinya. Kak Aisyah masih seperti orang yang kehilangan kesadaran atas dirinya sendiri, dan dengan tiba-tiba ia langsung menghempaskan tubuhnya dan duduk di atas pecahan kaca dari figura foto.


Tatapannya begitu kosong dan lesu.


" Jika aku tidak dapat memiliki dirimu seutuhnya, maka untuk apa aku harus melihat dirimu berbahagia dengan wanita lain, huhuhuhuhu... "


Kak Aisyah yang terus menangis karena patah hati, dan tanpa berpikir panjang dengan sengaja ia terus melukai pergelangan tangannya dengan pecahan kaca. Rasa sakit akan tubuhnya yang terluka tidak membuatnya nyeri dibandingkan rasa sakit akan patah hati karena cintanya yang bertepuk sebelah tangan. Kak Aisyah semakin lemas, dengan darah yang terus mengalir dari pergelangan tangannya.


"Ustad Fariz, aku sangat mencintaimu. Jika engkau tidak bisa kumiliki maka aku pun tidak berdaya menjalani kehidupan ini. "


BRuuukkkk.....


Kak Aisyah jatuh pingsan, dengan darah yang terus mengalir.


Ibunda Kak Aisyah yang mendengar suara berisik dari kamar Kak Aisyah, dengan segera bergegas menuju kamar Kak Aisyah.


"Aisyah... Aisyah!, " panggil sang ibunda sedikit berteriak.


Tetapi tidak ada jawaban dari Kak Aisyah, yang semakin membuat sang ibundanya semakin penasaran dan segera mempercepat langkah kakinya.


Tok.. Tok.. Tok...


Ibunda Kak Aisyah mengetuk pintu kamar Kak Aisyah.


"Assalamu'alaikum Aisyah.., " panggil sang ibunda.


"Aisyah, ini bunda nak,"ucap sang ibunda lagi.


Namun, tetap tidak ada jawaban hingga sang ibunda berinisiatif menggerakkan gagang pintu kamar Kak Aisyah.


Tek..


Dengan mudah gagang pintu dapat di goyangkan.


" Oh, ternyata pintu kamar Aisyah tidak dikunci rupanya. Apa dia sedang tidur sehingga tidak menjawab panggil ku, "gumam ibunda Kak Aisyah.


Karena ibunda Kak Aisyah sudah mengetahui jika pintu kamar Kak Aisyah tidak dikunci, maka dengan segera ia pun mendorong pintu kamar Kak Aisyah yang melangkahkan kakinya masuk.


DRAGgg..


Pintu terbuka.


Ibunda Kak Aisyah pun terus memanggil Kak Aisyah, hingga pandangan matanya dikejutkan akan tubuh putrinya yang tergeletak tidak sadarkan diri dengan banyak noda darah sambil memegang foto Ustad Fariz.


" Aisyah!, "pekik sang ibunda dengan keras.


Ibunda Kak Aisyah segera berlari menghampiri Kak Aisyah dan mengangkat tubuh putrinya tersebut, sambil berteriak meminta tolong memanggil ayahanda dan orang-orang yang ada dirumah supaya dapat segera menolong Kak Aisyah.


Ibunda Kak Aisyah pun menangis histeris dan membuat seluruh anggota keluarganya yang lain berdatangan ke kamar Kak Aisyah.


Tidak lama kemudian ayahanda Kak Aisyah pun segera mengangkat tubuh Kak Aisyah untuk segera dilarikan kerumah sakit terdekat, supaya mendapatkan pertolongan.


***


Di tempat Kak Reno dimana ia ditahan. Pikirannya terus berkelana memikirkan perasaannya yang tak bertepi kepadaku.


Kerinduan yang terpendam di dalam lubuk hatinya, akan sebuah rasa untuk memiliki sepenuhnya yang tidak dapat ia rengkuh meskipun itu hanya sebatas dalam angan.


Hatinya yang merindu hanya dapat ia tahan dengan harapan keajaiban dari Sang Kuasa akan membawa kerinduannya dapat bermuara di hatiku.


Kegelisahan di dalam hatinya tak separah sebelumnya, setelah Pak Sipir banyak memberikan wejangan untuk dirinya mengenai mengelola perasaannya. Sambil duduk memandangi napi lain yang sedang beraktivitas. Kak Reno menatap cerahnya langit biru yang terbentang. Sesekali bibir tipisnya mengembangkan senyum kecil saat ilusinya menghasilkan fatamorgana diriku yang tersenyum menatap dirinya.


"Astaghfirullah, " ucapnya pelan menyadarkan dirinya dari halusinasi.


Kak Reno mengusap wajahnya dengan telapak tangan kanannya seraya menghembuskan napasnya pelan.

__ADS_1


"Meskipun yang kulihat hanyalah ilusi belaka, tetapi itu terlihat nyata dan sedikit dapat mengobati kerinduanku padamu Dek Rani. Sekarang aku ikhlas Lillahi Ta'ala akan semua takdir cinta yang akan Allah tetapkan kepada diriku dan dirimu, " ucap Kak Reno lirih sambil memejamkan kedua matanya.


Kata-kata Pak Sipir selalu terlintas di dalam pikirannya,yaitu jodoh tidak akan tertukar dan akan kembali kepada jodohnya meskipun jarak, waktu, keadaan memisahkannya.Kak Reno pasrah dan membiarkan Allah Subhanahu Wa Ta'ala yang akan menjaga hati dan perasaan calon pasangan hidupnya nanti. Entah itu diriku atau bukan meskipun di dalam hatinya Kak Reno berharap jika akulah jodoh yang Allah pilihkan untuknya. Namun, sekarang ia sungguh-sungguh memasrahkannya pada Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Sekarang ia hanya terus fokus untuk berbenah diri supaya dapat menjadi muslim yang baik.Seperti perkataan Pak Sipir mengatakan kepada dirinya. Allah Subhanahu Wa Ta'ala menjanjikan bahwa orang yang baik akan diperjodohkan dengan orang yang baik. Dan yang buruk akan dipertemukan dengan yang buruk.Keyakinan itu lah yang sekarang membuatnya untuk terus berusaha memperbaiki dirinya hingga ia berharap dapat secara layak disandingkan dengan diriku atas izin dari Allah Subhanahu Wa Ta'ala tentunya.


"Nak Reno... Nak Reno...!, " panggil Pak Sipir sedikit berteriak.


Kak Reno yang sedang termenung dengan cepat menoleh ke arah Pak Sipir yang sedang berjalan tengah berlari menuju tempat Kak Reno duduk.


"Ada apa Pak?, " tanya Kak Reno.


Huh... Hah... Huh..


Suara Pak Sipir terengah-engah sembari merentangkan telapak tangan kanannya untuk memberitahukan kepada Kak Reno untuk diam menunggu sebentar. Kemudian Pak Sipir duduk di samping Kak Reno sambil mengatur pola napasnya yang masih tersengal-sengal.


Kak Reno pun diam sambil menunggu Pak Sipir menjadi lebih tenang.


"Apa yang membuat Bapak menjadi seperti ini? Apakah ada sesuatu yang penting ingin Bapak sampaikan?, " tanya Kak Reno kembali.


Pak Sipir pun menganggukkan kepalanya.


Kak Reno seraya berpikir akan hal penting apa yang akan disampaikan oleh pak Sipir kepada dirinya.


Setelah menunggu beberapa saat, akhirnya pak Sipir pun sudah siap mengatakan berita penting kepada Kak Reno.


Tangan kiri pak Sipir menepuk pundak Kak Reno pelan seraya berkata


"Inna lillahi wa inna ilaihi rojiun.Allahummaghfirlaha warhama wa ‘afiha wa’fu ‘anha. Turut berduka cita yang sedalam-dalamnya Nak Reno. Semoga almarhumah kakak perempuanmu yang bernama Riska dapat diampuni segala kesalahan dan dosa-dosanya serta diterima segala amal ibadahnya oleh Allah Subhanahu Wa Ta'ala. "


Kak Reno terpaku dan tidak dapat berkata-kata lagi, dirinya bagaikan tersambar sesuatu yang membuatnya benar-benar seperti orang yang hilang kendali atas diri dan pikirannya.


Air matanya mengalir tanpa ia sadari, sekali lagi ia harus kembali hancur dan terluka menerima kepergian dari satu persatu anggota keluarganya.


"Kamu yang sabar ya Nak. Bapak mendapatkan informasi ini dari pihak rumah sakit jiwa yang merawat kakak perempuan mu. Almarhumah begitu depresi dan terus melukai dirinya sendiri secara terus menerus yang mengakibatkan dirinya harus merenggang nyawa. "


Pak Sipir dengan tatapan ibanya menjelaskan perihal keadaan yang terjadi pada Mbak Riska kepada Kak Reno.


Kak Reno tidak bergeming sedikit pun hingga pak Sipir yang beranjak pergi meninggalkan dirinya tidak Kak Reno sadari dan gubris. Hatinya sudah begitu sangat hancur menerima cobaan yang tiada henti-hentinya menguji dirinya.


***


Ummah masih belum beranjak duduk di sampingku. Entah kenapa Ummah seperti gelisah dan tidak ingin berjauhan denganku.


"Rasanya Ummah sudah tidak sabar menginginkan kamu segera menikah dengan Fariz sayang. "


Aku tersenyum memandangi wajah Ummah.


"Jika bisa Ummah ingin detik ini juga Fariz mengucapkan ijab qabul untuk menjadikan Rani sebagai istrinya. "


"Sabar Bu Putri, semua kan ada prosesnya. Lagi pula kan kita sudah sama-sama tahu jika Nak Fariz dan Nak Rani sudah bersiap untuk menikah, lalu mengapa Bu Putri gelisah, " ucap Bik Siti.


Ummah kembali menunjukkan wajah kecemasan nya.


"Tidak tahu kenapa Bik, saya merasa akan jauh lebih baik jika Fariz dan Rani segera menikah saat ini juga, " balas Ummah.


Namun, belum sempat Bik Siti dan diriku merespon perkataan Ummah.


Ustad Fariz yang semula duduk santai kini tiba-tiba berjalan cepat menuju ke tempatku.


Wajah Ustad Fariz semakin terlihat tegang setelah dirinya menerima telepon.


Kami semua memandangi wajah Ustad Fariz yang terlihat semakin panik.


"Ada apa nak?, " tanya Ummah yang sudah tidak tahan menahan rasa ingin tahunnya.


Ustad Fariz sedikit menundukkan kepalanya.


"Barusan saya mendapatkan kabar dari rumah sakit tempat kakak perempuan Dek Reno dirawat. "


"Maksud Ustad Fariz apakah Mbak Riska?, " tanyku.


Ustad Fariz menganggukkan kepalanya.


"Ada apa dengan Nak Riska? Nak Fariz?, " tanya Bik Siti penasaran.

__ADS_1


"Kakak perempuan Dek Reno telah meninggal dunia, karena terus melukai dirinya sendiri dan tidak dapat segera ditolong. "


"Inna lillahi wa inna ilaihi rojiun, " ucapku, Ummah dan Bik Siti secara bersamaan.


Aku begitu tersentak dan pikiran ku dengan segera teringat akan Kak Reno dan mengkhawatirkan keadaannya.


Apa yang akan terjadi kepada Kak Reno, pikirku.


Kak Reno terus mendapatkan cobaan yang tidak ada henti-hentinya, semoga saja hal ini tidak semakin membuatnya semakin terpuruk dan berputus-asa, batinku.


Ummah melihat kecemasan dalam wajahku.


"Rani, apa kamu baik-baik saja?, " tanya Ummah menelisik hatiku.


"Iya Ummah, " jawabku sambil menganggukkan kepalaku pelan.


Tetapi tetap saja Ummah seakan tidak yakin akan jawabanku, ia takut jika kabar duka ini memantik rasa simpatiku kepada Kak Reno.


Dengan cepat Ummah mengalihkan topik pembicaraan kami perihal acara pernikahan ku dengan Ustad Fariz yang sebentar lagi akan digelar setelah aku pulang dari rumah sakit ini.


"Oh, ya sayang bagaimana kalau sekarang kita memilih-milih gaun atau busana yang akan Rani pakai saat prosesi ijab qabul nanti, supaya semuanya dapat dipersiapkan dari sekarang, sehingga saat menggenakan busana atau pakaian saat akad Rani dan Fariz sudah merasa nyaman, bagaimana sayang?, " tanya Ummah.


Aku memandang wajah Ummah dan tahu jika pertanyaan Ummah sengaja ia lontarkan kepada diriku, supaya aku tidak mencemaskan keadaan Kak Reno dan berhenti berhubungan dengan keluarganya ataupun kehidupan Kak Reno.


"Bagaimana Ran?, " tanya Ummah lagi.


Aku tersadar dari lamunanku.


"Akh, terserah Ummah saja. Rani mengikuti saja Ummah yang penting pakaiannya nyaman saat digunakan dan tidak berlebihan serta menutupi aurat tentunya. "


"Lho kok terserah Ummah sih, sayang. "


Ummah mengusap kepalaku, lalu mengalihkan pandangannya menuju Ustad Fariz.


"Kalau Fariz bagaimana?, " tanya Ummah.


Namun, sebelum Ustad Fariz menjawab pertanyaan dari Ummah. Mendadak telepon genggam milik Ustad Fariz berdering kembali.


Dengan cepat Ustad Fariz pun mengangkatnya setelah melihat dari layar siapa panggil masuk yang menelepon dirinya.


DEG...


Jantungku berdebar-debar, apakah ini telepon dari rumah sakit tempat Mbak Riska dirawat. Apakah ada informasi lagi, pikirku dalam diam sambil memandang Ustad Fariz yang tengah serius menerima telepon.


Sementara itu, Ummah juga terus mengajakku berbicara supaya diriku tidak fokus akan berita kematian Mbak Riska.


Hingga tiba-tiba, Ustad Fariz mengucapkan istighfar sedikit keras yang membuat fokusku, Ummah dan Bik Siti kembali tertuju kepada Ustad Fariz.


"Ada apa lagi nak?, " tanya Ummah yang tidak dapat menyembunyikan rasa ingin tahunya.


Dengan segera Ustad Fariz menutup sambungan telepon dan memasukkan telepon genggam kembali dalam saku kemeja gamisnya. Dengan wajah sedikit tegang dan terkejut Ustad Fariz memandang wajah Ummah.


"Barusan Fariz mendapatkan telepon dari ibunya Ukhti Aisyah, Ummah."


"Mau apa lagi Aisyah menyuruh ibunya menelpon dirimu nak?, " tanya Ummah dengan wajah ketus dan tidak suka.


Ustad Fariz terlihat lesu.


"Ibundanya Ukhti Aisyah mengabarkan kepada Fariz, jika saat ini Ukhti Aisyah dirawat dirumah sakit karena dengan sengaja melukai dirinya sendiri. "


"Astagfirullah, "kata Ummah terkejut.


" Ya Allah, "ucap Bik Siti.


Dan aku pun juga sama terkejut nya mendengar kabar ini.


" Ini pasti tipu muslihat atau akal-akalan Aisyah untuk menarik simpatimu Nak, dan ia tidak ingin disalahkan untuk perbuatannya terhadap Rani. Bagaimana pun kamu tidak boleh menemuinya sampai kamu telah resmi menikah dengan Rani, "ucap Ummah dengan tegas.


Ustad Fariz dan diriku terdiam.


Kami berdua memikirkan keadaan Ukhti Aisyah, terlebih diriku yang mencemaskan Kak Aisyah. Terlepas dari perbuatannya yang telah menyakiti diriku.


Aku larut dalam perasaanku dan memikirkan hal apa yang harus kubuat selanjutnya.

__ADS_1


__ADS_2