
Sementara itu, Mas Fariz berjalan dengan cepat menuju ke ruangan tempat diriku berada. Pandangan matanya terus mencari diriku untuk segera dapat menangkap ragaku di dalam pelupuk tatapan kedua matanya.
Hatinya masih perih terasa teriris sembilu melihat diriku masih terbaring lemas dengan selang infus dan tabung oksigen yang masih terpasang pada tubuhku.
Dengan langkah kakinya yang perlahan, Mas Fariz mulai mendekat ke arahku. Air matanya terus mengalir membasahi wajahnya yang semakin sayu dalam kesenduan.
Duduklah ia perlahan pada kursi kecil di samping brankar tempatku berbaring. Dengan pelan jemari tangannya mengenggam jemari tanganku lembut dan mengusapnya penuh kasih sayang.
"Dek, segeralah bangun dan tataplah mata mas, " ucap Mas Fariz terbatas sambil mencium jemari tanganku.
Mas Fariz terlihat begitu rapuh, dimana ******* napasnya yang tersengal berpadu dengan suara alat detak jantung yang memantau irama nadi kehidupanku.
Di dalam kesunyian ruang IGD,suasana yang hening seakan-akan membalut kesedihan Mas Fariz yang begitu sangat teluka melihat keadaan diriku.
Sembari memejamkam matanya dengan erat dalam genggaman jari tangannya yang merengkuh jemariku dengan asanya, lisannya selalu basah akan kalimat dzikir dan do'a untuk menenangkan hatinya seraya meminta Sang Maha Pencipta memberikan kesembuhan atas diriku.
Bergetar seluruh raga juga sanubari nya yang menjadi rapuh menyaksikan tiap goresan luka yang tergambar memar dan lebam dalam paras dan tubuhku.
Kepalanya tertunduk lesu, hingga kedatangan Ummah yang masuk ke ruangan IGD tempat dimana diriku berada tidak diketahui oleh Mas Fariz.
Ummah yang begitu cemas dan panik begitu sangat syok dan terkejut melihat keadaan diriku. Wajahnya yang sudah sembab dan bengkak karena terlalu lama menangis kini berurai air mata kembali.
'Ya Allah, Rani!, "ucap Ummah lirih dengan suara paraunya begitu melihat kondisiku.
Sambil menutup mulutnya dengan tangan kanannya, Ummah berjalan mendekati Mas Fariz yang masih belum sadar akan kedatangan Ummah. Di usaplah kepala Mas Fariz perlahan oleh Ummah, " Nak bagaimana kondisi Rani saat ini?. "
Mas Fariz pun mengangkat kepalanya yang tertunduk setelah mengetahui kedatangan Ummah. Dengan air mata yang berderai, Mas Fariz menatap wajah Ummah yang juga menatap dirinya.
__ADS_1
Pandangan mereka bertemu dalam keharuan yang teramat dalam. Dengan bibir yang bergetar Mas Fariz seakan-akan tidak mampu untuk menjelaskan kondisi ku saat ini, "Um... Ummah.. Ra... Ra.. Ra.. Ni!. "
Suara terbatas Mas Fariz begitu menyayat hati mendengarkan nya, maka dengan cepat Ummah pun langsung memeluk Mas Fariz dalam dekapan nya. Dan larut lah ibu dan anak tersebut dalam keharuan yang mengikat batin mereka berdua satu sama lain akan seseorang yang amat sangat mereka kasihi yaitu diriku.
"Ummah tidak pernah menyangka bahkan menduganya Nak, jika kemalangan akan terus menimpa Rani seperti ini, hiks.. hiks.. hiks, " ucap Ummah sambil terus memeluk erat Mas Fariz.
Isak tangis Ummah dan Mas Fariz beriringan dengan suara samar alat-alat medis yang terpasang di tubuhku. Hingga dokter dan perawat meminta Mas Fariz juga Ummah untuk keluar, supaya diriku tidak terganggu akan kesedihan mereka berdua yang tidak terbendung. Maka dengan berat hati Ummah dan Mas Fariz pun keluar dari ruangan tempat ku berada.
Sementara di luar ruang IGD, Wirda, Kak Rafa,Pak Budi, Abi dan Enjid juga terlihat begitu cemas. Apalagi saat mereka semua melihat kedatangan Ummah dan Mas Fariz dengan wajahnya yang lesu dan masih menitikan air mata. Dengan cepat Wirda dan Kak Rafa menghampiri Ummah dan Mas Fariz, untuk mengajak mereka duduk.
Semua orang yang melihat kesedihan luar biasa di raut wajah Ummah dan Mas Fariz tidak mampu untuk menanyakan keadaan diriku, setelah mereka semua melihat asa yang melemah di paras Ummah dan Mas Fariz.
Kak Rafa , Abi, Pak Budi dan Enjid secara bergantian menenangkan Mas Fariz yang terlihat lesu.
"Sebaiknya sekarang kamu segera ganti pakaian mu Fariz dan salatlah dulu sembari medo'akan untuk kesembuhan istrimu, " pinta Enjid.
Mas Fariz mengangguk tanpa berkata dan mengambil tas berisi pakaian ganti dan alat mandi untuk membersihkan dirinya.
Semua orang pun memandang dengan haru, langkah kaki Mas Fariz yang gontai ditemani oleh Kak Rafa dan Pak Budi di kedua sisinya.
Ummah yang terus memandang ke arah Mas Fariz terus tidak berhenti menangis.
"Ummah jangan menangis terus Ummah, " pinta Wirda sambil mengusap lembut punggung Ummah lalu memeluk Ummah erat.
Abi dan Enjid pun hanya diam melihat keharuan di sepanjang kedua mata mereka memandang. Dan sering kali keduanya juga mengusap air mata yang menetes perlahan tanpa mereka sadari terhadap situasi yang sedang terjadi.
***
__ADS_1
Hahaha.... Hahaha... Hahaha...
Terdengar suara perempuan yang tertawa terbahak-bahak penuh dengan kebahagiaan di dalam ruangan tempatnya berada. Lorong yang sunyi dalam keheningan, kini berubah menjadi riuh rendah membangunkan orang-orang di sekitarnya yang terlelap dalam dekapan malam. Semuanya tiba-tiba menjadi gaduh seketika, sehingga membangukan perawat dan penjaga yang sedang bertugas harus berjalan keliling menenangkan mereka semua satu persatu melewati lorong-lorong yang penuh dengan keramaian pasien-pasien dengan gangguan jiwa.
"Rasakan! Rasakan! Rasakan! Aku bahagia melihatnya jauh dari cintaku! Apalagi jika dia benar-benar tiada untuk selamanya, Hahahaha... Hahahaha! , " suara Kak Aisyah terdengar nyaring sambil terus menari berputar-putar mencoret-coret fotoku dengan spidol hitam.
DUG.. DuG.. DUG... Tok.. Tok.. Tok..
Petugas yang berjaga memukulkan tongkat nya pada tiang besi panjang di depan ruang Kak Aisyah.
"Diam! Jangan berisik!, " teriak petugas untuk menghentikan kebisingan yang diciptakan oleh Kak Aisyah.
Tetapi Kak Aisyah tidak peduli dan larut dalam kebahagiaannya sendiri, sehingga membuat petugas yang berjaga masuk ke dalam ruangan nya untuk menenangkan Kak Aisyah. Tetapi dengan kasar Kak Aisyah mendorong petugas itu dengan kuat dalam tatapan matanya yang liar dan melotot, "Pergi! Jangan ganggu diriku! Jika tidak aku tidak akan segan-segan melukaimu. "
Kak Aisyah berteriak keras sembari mengeluarkan senjata tajam dari kantung bajunya. Petugas yang berjaga itu pun sangat terkejut dan syok melihat ada senjata tajam di tangan Kak Aisyah. Maka dalam keadaan masih tersungkur di lantai dengan segera ia bangkit dan berdiri, lalu cepat-cepat keluar dari ruangan Kak Aisyah untuk mengamankan dirinya terlebih dahulu sebelum ia melaporkan akan apa yang ia lihat.
Brukk...
Petugas itu dengan secepat kilat mengunci pintu ruangan Kak Aisyah.
Kak Aisyah membiarkan nya pergi begitu saja lalu berjalan mendekati ranjang tempat tidurnya untuk mengambil telepon genggam miliknya dan menghubungi seseorang berulang -ulang kali, tetapi tidak terkoneksi dengan baik.
Wajahnya terlihat kesal dan marah, tetapi ia tersenyum saat melihat galeri foto di telepon genggam miliknya.
Hahaha... Hahaha..
Wajahnya langsung berubah bahagia seketika, "Aku bahagia jika melihat dirimu menderita dan tidak berada di dekat cintaku. "
__ADS_1
Kak Aisyah membaringkan tubuhnya sambil terus menatap layar telepon genggam miliknya dengan tajam dan senang.