Jodoh Pilihan Tuhan

Jodoh Pilihan Tuhan
Melihat dirinya.


__ADS_3

Pak Budi mengajak Kak Reno untuk berbicara. Kak Reno pun tidak menolaknya ia sekaligus memberitahukan kepada Pak Budi, jika kedatangannya kembali bukan untuk bermaksud menganggu kehidupanku.


Pak Budi mengangguk mengerti dan melihat kejujuran di mata Kak Reno.


Kak Reno menanyakan kepada Pak Budi, akan sikapku yang begitu sangat terkejut melihat kehadirannya.


"Apakah Rani masih sangat membenci diriku Pak? Hingga ia bersikap demikian, yaitu langsung berlari melihat kehadiran ku dan membuat nya menangis seperti itu?. "


Pak Budi menghela napasnya, lalu menepuk lembut pundak Kak Reno. Dimana pandangan Pak Budi terlihat serius dan dalam menatap Kak Reno.


Kak Reno melihat balik Pak Budi dan ia merasakan ada sesuatu yang berusaha ingin di sampaikan oleh Pak Budi, kepada dirinya.


Kak Reno pun diam, menunggu lisan Pak Budi bertutur kepada dirinya.


Setelah beberapa menit menunggu, Pak Budi pun mulai berkata kepada Kak Reno dan menceritakan segalanya, baik peristiwa saat diriku melewati masa kritis, setelah Kak Reno benar-benar menghilang dari kehidupan ku. Hingga kepergian Mas Fariz, yang begitu membuat syok Kak Reno.


Kak Reno mengucapkan kalimat istirja' dengan air mata yang berlinang.


Indra pendengarannya terus menyimak setiap rangkaian cerita akan kronologi peristiwa kehidupan ku, setelah kepergian Mas Fariz. Dimana hal itu terus membuat hati Kak Reno terenyuh dan pilu mendengarkan nya.


Tidak ada yang mampu untuk ia ucapkan, selain menjadi pendengar setia dari penuturan cerita yang di sampaikan oleh Pak Budi.


Sesekali terdengar isak tangisnya yang lebih keras, dan Pak Budi segera menepuk pundaknya pelan, untuk menguatkan Kak Reno.


"Bapak tidak tahu, mengapa bapak menceritakan semua ini kepada dirimu Nak Reno? Tetapi ada sesuatu yang terus memaksa hati bapak untuk menuturkan, semua peristiwa yang membuat kesedihan di dalam kehidupan Nak Rani. Bahkan setelah Nak Reno pergi, kehidupan Nak Rani benar-benar berada dalam titik terendah.


Dia begitu kehilangan Nak Fariz, suami dan orang yang sangat berarti di dalam kehidupannya.Dan sampai sekarang, kenangan akan cintanya bersama almarhum, tetap terus mengikutinya. Meskipun sudah lama Nak Fariz pergi dari kehidupannya, tetapi cintanya terhadap almarhum terus tumbuh dan semakin besar tanpa dapat ia kendalikan, " tutur Pak Budi dengan matanya yang berkaca-kaca memandang Kak Reno.


Dan bertambah sedih dan terlukalah Kak Reno, mengetahui jika selama ini diriku begitu menderita. Hatinya terasa sangat sakit, setiap kali mendengarkan cerita Pak Budi.


Pikirannya menerawang tertuju pada diriku, pantas saja selama ini ia begitu terus memikirkan diriku, gumamnya di dalam hati.

__ADS_1


Dimana perasaan dan nalurinya seakan -akan terhubung kuat dengan diriku, bahkan saat dirinya dan diriku tidak saling menghubungi juga bertemu satu sama lain. Tetapi firasatnya membawa dirinya untuk segera kembali di kota yang penuh dengan kenangan akan diriku. Setiap detik berlalu pergi, tetapi hati dan pikirannya senantiasa merindukanku dan terus menerus memikirkan nama ku. Seolah-olah hatinya terhubung secara emosional dan mengenali energiku yang mengalir kepadanya.


Pak Budi melihat kesedihan yang terlukis di wajah Kak Reno yang sendu.


"Nak Rani masih berjuang melawan kegetirannya, Nak Reno. Maka dia masih membutuhkan waktu untuk menyembuhkan setiap kepingan kecil luka hatinya, akan takdir yang telah merenggut seseorang yang sangat di cintai dan berharga di dalam kehidupannya, " ujar Pak Budi.


Kak Reno mengangguk, lalu menyeka air matanya. Kemudian, ia meminta Pak Budi untuk menunggu sebentar dan masuk ke dalam masjid untuk mengambil sesuatu.


Pak Budi pun mengiyakan permintaan Kak Reno dan setia menunggu hingga kedatangan Kak Reno kembali.


Setelah beberapa menit menunggu, Kak Reno pun keluar dan menghampiri Pak Budi. Lalu memberikan sepucuk surat kepada Pak Budi.


"Tolong,Pak Budi berikan surat ini kepada Rani. Saya tahu, dia tidak akan mau menemui saya. Maka dari itu, saya menuliskan surat ini untuknya, " ucap Kak Reno dengan serius.


Pak Budi pun menerima surat itu, lalu pamit kepada Kak Reno untuk segera mencari keberadaan diriku, dan mengajakku juga Bik Inah untuk pulang.


Kak Reno mengerti, lalu membiarkan Pak Budi berlalu pergi dari hadapannya.


Hujan yang turun juga belum berhenti.


Ia seakan tahu kegundahan akan relung jiwa yang terpaut dalam takdir penuh misteri.


Kak Reno menghela napasnya panjang dan kuat, ia berharap di dalam hatinya. Entah kapan,asanya ingin dapat di pertemukan lagi dengan diriku.


Guyuran hujan terbawa angin menari dalam hembusannya, dan menyisakan gundah ketika udara dingin membalut raga yang menyepi. Matanya terus berair, menunjukkan kegelisahan akan kesedihan hatinya yang kian menjadi.


***


Pak Budi terus berjalan menyusuri masjid untuk menemukan keberadaan diriku, dengan penuh kekhawatiran.


Hingga pandangan nya penuh kecemasan, berhasil mendapatkan diriku yang tengah duduk bersama Bik Inah menikmati suasana hujan yang turun dari langit .

__ADS_1


Pak Budi dengan segera menghampiri diriku, dan turut duduk tidak jauh dari diriku duduk.


Ia tampak begitu terlihat tenang, setelah melihat diriku jauh lebih baik dari sebelumnya. Sehingga dengan segera Pak Budi memberikan sepucuk surat yang di berikan Kak Reno padaku.


Dengan ekspresi wajah bingung dan terkejut, aku pun menerima surat yang Pak Budi berikan. Lalu memandanginya sekilas, sebelum membukanya.


Belum sempat aku membuka surat itu, Pak Budi mengajak diriku untuk segera pulang. Sebab Ummah sudah menunggu dan mengkhawatirkan diriku.


Aku pun mengiyakan apa yang Pak Budi katakan, meski hujan masih turun dengan derasnya.


Entah mengapa hatiku tiba-tiba tidak ingin berlalu pergi dari sini, dan tetap menetap lebih lama lagi.


Tetapi Pak Budi berulang kali memanggil ku untuk segera mengikutinya, dan aku pun terpaksa berlalu pergi dari tempat ini.


Dalam guyuran hujan, aku terus memandangi masjid penuh makna kenangan indah, akan awal pertemuan ku dengan yang ku cinta. Hingga saat kakiku melangkah menjauh pergi pandangan ku bertemu pada wajah sendu yang dari jauh menatap diriku berlalu darinya.


Itu Kak Reno, gumamku.


Tetapi aku terus menatapnya, dan terasa berat untuk mengalihkan pandangan ku darinya.


Dan dari samar-samar jauh pandangan ku, tiba-tiba terlintas raut wajah Mas Fariz dalam wajah Kak Reno yang seolah tersenyum kepada diriku.


Aku terkejut dalam tatapan diriku padanya.


"Ya Allah, apa yang ku lihat ini, " batinku dengan mata yang berkaca-kaca dan wajah terenyuh.


Bik Inah lalu merangkul tubuhku, untuk segera berlalu pergi bersamanya.


Aku masih belum dapat menghilangkan rasa keterkejutan ku, hingga sekali lagi diriku menoleh ke arah Kak Reno, dan lagi ia tersenyum padaku dalam raut wajah Mas Fariz.


Aku beristighfar dengan segera, dan memalingkan pandangan ku darinya.

__ADS_1


Diriku langsung terdiam dan hanyut dalam pikiran Kak Reno yang terus memecahkan hening ku.


__ADS_2