Jodoh Pilihan Tuhan

Jodoh Pilihan Tuhan
Berjumpa lagi.


__ADS_3

Seorang wanita menghampiri anak perempuan kecil yang berada dalam dekapanku. Wanita itu dengan pelan, ingin segera menggendong anak perempuan itu dan membawanya pergi. Tetapi anak perempuan kecil di hadapanku menggelengkan kepalanya seraya menolak. Dan semakin memeluk diriku.


"Non Rani ikut bibi ya, sayang. Nenek, Kakek dan papa pasti sedang mencari Non Rani, " ucap wanita itu membujuk anak perempuan yang masih memeluk ku.


Aku pun menatap anak perempuan kecil itu, yang ternyata memiliki nama yang sama dengan diriku.


"Bibi apakah keluarga nya?, " tanyaku.


Wanita yang sudah berumur itu tersenyum kecil padaku, "Saya pengasuhnya Nak."


Aku membalas senyuman bibi pengasuh anak perempuan yang bernama sama denganku, "Tadi saya lihat, Rani bermain seorang diri dan hendak mendekati sungai buatan ini. Tanpa berpikir panjang saya segera menghentikan nya, karena tidak ada seorang pun disini. Padahal saya tidak dapat berjalan, dan hanya terduduk di kursi roda. "


Bibi pengasuh itu menatap diriku lekat, seakan- akan mengamati diriku secara detail. Setelah mendengarkan penjelasanku.


Ia seperti orang kebingungan, "Tetapi dimana kursi rodanya, Nak. Dan bagaimana bisa berjalan sampai kesini menolong Rani jika tidak bisa berjalan?. "


DEG...


Perkataan bibi pengasuh itu pun juga membuat diriku tersentak dan terdiam.


Aku memandangi sekitar dan memandang ke arah bibi pengasuh juga anak perempuan kecil bernama Rani, dengan mata yang berkaca-kaca. Hatiku bergetar seakan-akan tidak percaya, jika kakiku sudah dapat berjalan sejauh ini, tanpa kusadari.


Air mataku mengalir seketika, dimana bibi pengasuh yang juga ikut duduk lesehan di dekatku. Menatap diriku penuh kebingungan dan tidak mengerti akan hal apa yang membuat ku menangis. Tetapi anak perempuan kecil bernama Rani, menyeka air mataku dengan jemari mungilnya. Untuk beberapa saat pandangan matanya menatap wajah ku lekat. Aku seolah-olah terikat dengan dirinya, dan tak ingin jauh darinya.


Hingga suara Ummah dan Bik Inah yang datang berlari menghampiri diriku, memecah keheningan di antara diriku dan anak perempuan kecil bernama Rani.


"Rani!, " pekik Ummah.


"Nak Rani, " panggil Bik Inah sambil berlari mendorong kursi roda ku mengikuti Ummah.


Ummah langsung memelukku erat sambil menangis, "Ya Allah sayang, Ummah begitu bingung mencarimu kesana-kemari. "


"Iya Nak Rani, Bu Putri dan saya begitu terkejut dan sangat cemas mendapati Nak Rani sudah tidak ada di kursi roda, " sahut Bik Inah yang juga turut menangis.


Aku pun membalas pelukan Ummah, sekaligus meminta maaf kepadanya karena telah membuat dirinya khawatir mencari keberadaan diriku.


Tiba-tiba bibi pengasuh yang melihat ke arahku pun berkata, "Ternyata putri ibu juga bernama Rani. "


Ummah langsung menoleh dan mengangguk sembari menyeka air matanya.


"Putri ibu sudah menyelamatkan Non Rani, cucu majikan saya. Yang hampir saja akan jatuh ke sungai buatan ini, " ujar bibi pengasuh.


Ummah dan Bik Inah menatap wajah bibi pengasuh itu dengan penuh ekspresi terkejut dan seakan-akan tidak percaya.


"Bagaimana bisa Rani menolong anak perempuan ini? Padahal kondisinya tidak memungkinkan untuk berjalan?, " gumam Ummah bingung.


Ummah memandang ke arah diriku, untuk membenarkan apa yang telah diucapkan oleh bibi pengasuh tersebut. Dengan mata yang berkaca-kaca, aku pun mengenggam jemari tangan Ummah pelan lalu mengangukkan kepalaku. Seraya memberitahukan kepada Ummah bahwa telah terjadi keajaiban terhadap diriku.


Dan tanpa berkata banyak hal, aku pun mencoba bangkit dari duduk ku dengan perlahan.


Aku juga tidak menyangka sama sekali, jika diriku bisa melakukannya.


"MasyaAllah... Allahu Akbar, " ucap Ummah sambil menitikan air mata.


Ummah lalu mengisyaratkan pada diriku untuk melangkahkan kakiku.


Wajahku dan wajah Ummah juga Bik Inah terlihat tegang.


"Bismillah.La haula wa la quwwata illa billahil 'aliyyil azhimi. Tiada daya dan upaya kecuali dengan kekuatan Allah yang maha tinggi lagi maha agung, " ucapku sembari menguatkan hatiku.


Dan perlahan aku pun melangkahkan kakiku

__ADS_1


Dengan tertatih-tatih lalu menjadi lancar dan tidak sempoyongan.


Aku langsung menatap Ummah penuh keharuan. Dan Ummah pun langsung berdiri memeluk diriku erat, dengan tangis air mata penuh kebahagiaan.


Aku dan Ummah larut dalam perasaan bahagia yang penuh haru.


Begitu pula Bik Inah, yang menatap kami dengan berlinang air mata. Sembari mengucap syukur pada Sang Kuasa.


Sementara itu, Bibi pengasuh dan Rani kecil terus menatap ke arahku dan Ummah. Tanpa memalingkan pandangan mereka.


Tidak lama kemudian, terdengar suara memanggilku.


"Rani...!. "


Suara yang tidak asing pada indra pendengaran ku.


Aku dan Ummah pun segera melepaskan pelukan kami, dan menatap pada sumber suara yang memanggilku.


Dari kejauhan sosok itu terlihat samar, dan akhirnya mendekat.


Aku, Ummah, Bik Inah, bersama Bibi pengasuh dan Rani kecil memandangi ke arah orang tersebut lekat.


"Nenek...!, " teriak Rani kecil sambil berlari mendekati perempuan yang kukira memanggilku.


Perempuan itu lalu memeluk erat Rani kecil dan menghujani nya dengan limpahan ciuman dan kasih sayang pada kening dan wajah Rani kecil.


Aku dan Ummah memandangi wajah perempuan yang dipanggil nenek oleh Rani kecil, hingga saat pandangan mata nya bertemu dengan tatapanku dan Ummah. Sungguh membuat kami semua terkejut.


"Bu Putri!, " ucap neneknya Rani kecil penuh keterkejutan di wajahnya.


Hal itu juga terjadi pada diriku dan Ummah.


"Bu Desi.., " ucap Ummah pelan.


Aku terdiam menatap Tante Desi.


Ada keharuan dan kebingungan yang menyertai perasaan ku.


Tetapi di hati kecilku terselip kerinduan dan rasa bahagia dapat berjumpa dengannya.


Tante Desi lalu menggendong Rani kecil yang ternyata adalah cucunya.


Lalu ia berjalan menghampiri Ummah, sembari melepaskan kerinduan. Setelah lama tidak berjumpa.


Sementara itu, Bibi pengasuh Rani kecil memandang dengan penuh wajah bingung dan tanya.


Bik Inah pun menghampirinya, sembari melemparkan senyum padanya.


"Mereka adalah teman lama, yang sudah seperti keluarga sendiri dan memiliki hubungan yang istimewa, " jelas Bik Inah.


Bibi pengasuh itu pun menganggukkan kepalanya tanda mengerti dan tersenyum pada Bik Inah.


Rani kecil lalu meminta turun dari gendongan Tante Desi dan berlari ke arahku, lalu memeluk diriku.


Aku pun menatap wajah polosnya yang cantik, dia pun tersenyum kepada ku.


Ada ikatan aneh yang kurasakan saat menatap wajah Rani kecil. Sesuatu perasaan kasih sayang yang kuat, dan terus membuat diriku. Tidak bisa mengalihkan pandangan ku darinya.


Tanpa banyak berpikir aku pun langsung memeluk dan mencium keningnya, dia pun seperti menikmati sentuhan kasih sayangku kepadanya.


Tante Desi menatapku lekat, ia pun begitu terenyuh melihat kedekatan cucunya padaku. Untuk sesaat ia termenung memandangiku."Seandainya Rani belum menikah, tentu cucuku akan sangat bahagia memiliki ibu sambung seperti Rani, "gumam Tante Desi di dalam hatinya.

__ADS_1


Ummah melihat Tante Desi yang sedang termenung menatap diriku, lalu perlahan jemari tangan Ummah mengusap pundak Tante Desi perlahan.


" Apa yang Bu Desi pikirkan?, "tanya Ummah pelan.


Tante Desi terkejut, " Akh, bukan apa-apa Bu Putri. Oh ya bagaimana kabar Fariz? Saya tidak melihatnya bersama Rani. "


Tante Desi melihat ke sekitar, berusaha menemukan keberadaan Mas Fariz.


Ummah sedikit tertunduk lesu dan berubah raut mukanya seketika.


Tante Desi pun menoleh ke arah Ummah dan menyadari perubahan yang terjadi pada raut wajah Ummah, "Maaf Bu Putri, apakah pertanyaan saya ada yang keliru?. "


Tante Desi merasa tidak enak melihat perubahan wajah Ummah yang terlihat muram.


Ummah menggelengkan kepala nya pelan.


Tante Desi semakin penasaran dan ingin tahu. Hal apa yang membuat Ummah terlihat murung, dan tanpa menunda lagi. Tante Desi pun segera bertanya kepada Ummah, "Lalu apa yang membuat Bu Putri terlihat murung. Maaf Bu, bukannya saya bermaksud lancang. "


Ummah tersenyum dalam wajahnya yang teduh, "Tidak apa-apa Bu Desi."


Ummah menghela napasnya, sebelum berkata lagi kepada Tante Desi.


Tante Desi memandang lekat pada wajah Ummah, dan menunggu Ummah mengeluarkan kata-kata.


Ummah memandang wajah Tante Desi, sembari jemari tangan Ummah memegang lengan Tante Desi. Dengan suara yang bergetar Ummah pun berkata, "Fariz sudah tidak lagi bersama kami lagi Bu Desi. "


Tante Desi terkejut, "Maksud Bu Putri, Fariz sudah meniggal dunia. "


Ummah mengangguk,"Fariz sudah meninggalkan kami semua, sekitar satu setengah tahun. Karena kecelakaan pesawat terbang Bu Desi. "


Tante Desi terperangah dan seakan tidak dapat berkata-kata, air matanya tiba-tiba jatuh perlahan membasahi wajahnya.


Berita duka yang tidak pernah Tante Desi bayangkan sebelumnya. Dimana selama ini ia mengira jika diriku sudah memiliki kehidupan yang bahagia dengan Mas Fariz. Tetapi saat Ummah menceritakan semua kejadian yang menimpa diriku. Kesedihan Tante Desi tidak lagi terbendung. Dan dengan cepat ia pun memeluk Ummah, seraya mengucapkan rasa turut berdukacita nya atas kepergian Mas Fariz.


Ummah dan Tante Desi larut dalam rasa kesedihan dan keharuannya.


Setelah itu, Tante Desi melayangkan pandangan matanya ke arahku yang sedang bermain dengan Rani kecil.


"Saya kira selama ini Rani telah benar-benar bahagia menjalani kehidupannya, tetapi dugaan saya salah. Maafkan kami sekeluarga Bu Putri, yang tidak mengetahui kabar duka ini dan tidak berada di sisi keluarga Bu Putri, saat semuanya terjadi, " ucap Tante Desi penuh kesedihan.


Ummah dan Tante Desi kembali menumpahkan air mata mereka, dan saling menguatkan satu sama lain.


Sementara diriku, hanya dapat memandangi kedekatan mereka dalam diam ku bersama Rani kecil yang terus ingin berada di dekatku.


Angin bertiup semilir, menebarkan harumnya bunga-bunga di taman ini yang bermekaran.


Dimana cahaya teduh sang mentari mulai memberikan kehangatan nya.


"Rani!, " terdengar lagi suara seseorang memanggil.


Suara yang begitu dekat dengan diriku, dan telah menghilang lama dari peredaran kehidupanku.


Aku menoleh memastikan siapa pemilik suara itu, yang semakin dekat menghampiri.


Rani kecil menarik jemari tangan ku perlahan dan mengajakku mendekat pada seseorang yang tengah memanggil nama Rani.


Tiba-tiba ia berteriak kegirangan, mendapati sosok spesial di hadapan nya, "Papa!.


Aku terperanjat dalam keterkejutan pandanganku, begitu tahu jika sosok yang dipanggilnya papa. Tidak lain dan tidak bukan adalah Kak Roy.


Aku menatap nya lekat dan Kak Roy pun juga begitu, menatap diriku.

__ADS_1


__ADS_2