Jodoh Pilihan Tuhan

Jodoh Pilihan Tuhan
Mengutarakan sebuah keinginan.


__ADS_3

"Asshalaatu khairum minan naum,"suara muadzin mengumandangkan azan subuh.


Artinya: Salat itu lebih baik daripada tidur.


"Shadaqta wa bararta.” (Engkau benar dan engkau telah berbuat kebajikan),"jawabku pelan.


"Allahu akbar, Allahu akbar," suara muadzin.


Aku dan seluruh anggota keluarga lainnya berkumpul di ruang salat untuk melaksanakan ibadah salat subuh berjama'ah.


Semua orang sudah bersiap-siap.


Termasuk Kak Reno yang akan menjadi imam salat kami.


Ia terlihat elok dan nikmat untuk dipandang mata menngenakan kain sarung bermotif garis hitam abu-abu dan baju koko abu-abu lengan panjang dengan songkok hitam.


Setelah selesai melaksanakan salat subuh seperti biasa Kak Reno memimpin zikir dan do'a.


Lalu,kami bergantian bersalaman.


Sebelum semuanya beranjak pergi meninggalkan ruang salat Kak Reno dengan cepat meminta semua orang untuk tetap disitu.


"Kek,pah,mah dan Mbak Riska bisa disini sebentar ada yang ingin Reno bicarakan,"ucapnya memohon kepada semua.


Maka mendengar permintaan Kak Reno semua orang pun menurutinya dan tetap duduk saling berdekatan.


"Ada apa Ren?,"tanya Bu Sri penasaran di wajahnya.


"Ada hal penting yang Reno ingin sampaikan mah,"jawab Kak Reno memandang ke arah Bu Sri dan mendekatinya.


"Hal penting apa Ren?,"giliran Pak Sugeng bertanya.


Kak Reno memandang ke arah sekitar lalu menatapku.


Pandangan kami berdua bertemu.


Lama ia menatapku seolah ingin meyakinkan dirinya bahwa aku benar-benar memilihnya.


"Loh kok malah pandang-pandangan sama Rani.Katanya Reno ada hal penting yang ingin dibicarakan,"sahut kakek tersenyum sambil menaikkan kedua alisnya.


"Iya nih Reno malah diem mandangin Rani....,"sela Mbak Riska menggoda Kak Reno.


"Akhhh...iy..iy..iya,"jawab Kak Reno cepat dan sedikit canggung.


"Iya apa Ren,"ucap Mbak Riska sambil mencolek pinggang Kak Reno.


"Aduh..mbak geli,"kata Kak Reno sambil menggeliatkan tubuhnya.


Melihat mereka bergurau semuanya tersenyum kecil menyaksikan keakraban kakak beradik tersebut.


"Udah Ris,seneng bener ganggu adeknya,"sela Bu Sri untuk menghentikan gurauan Mbak Riska.


"Ren,ayo...mau ngomong apa?mama penasaran?apa ada hubungannya dengan Rani juga ?,"tanya Bu Sri sambil menoleh ke arahku.


Kak Reno mengangguk.


"Ya sudah bicara saja,"sahut Pak Sugeng menunggu.


"Baik pah,"Kak Reno menurut.


Semua orang terdiam termasuk diriku.Harap-harap cemas menunggu rangkaian kata yang akan keluar dari mulut Kak Reno.


"Bismillah,begini pah,mah,kek dan Mbak Riska,"sambil membenarkan duduknya seperti bersila dan maju mendekat.


"Reno memiliki keinginan untuk melanjutkan kuliah di Mesir untuk...."


Kalimatnya terpotong ucapan Bu Sri yang kaget.


"Mesir?,"dengan wajah syok.


"Kenapa Mesir nak?itu jauh dan kamu baru pulang setelah sekian lama dan akan pergi lagi nak?,"ucap Bu Sri sedikit kecewa dan sedih.


Melihat ekspresi Bu Sri yang terkejut Kak Reno seperti bingung dan terlihat tidak enak hati menyaksikan kesedihan Bu Sri.


"Begini mah,"Kak Reno berusaha menjelaskan.


" Mama jangan langsung sedih seperti itu dong mah.Kita dengarkan dulu maksud dan tujuan Reno mah,"potong Pak Sugeng menenangkan Bu Sri seraya merangkul dan mengusap lembut bahunya.


"Ayo Ren silahkan teruskan ,"ucap kakek menyahut.

__ADS_1


"Iya kek. Kenapa Reno memilih Mesir.


Pertama,sebenarnya Reno mendapatkan beasiswa untuk melanjutkan pendidikan di Mesir dari pondok pesantren tempat Reno menuntut ilmu.


Kedua, Reno ingin menggali lebih dalam lagi ilmu agama sebagai pengembangan terhadap ilmu agama dasar yang telah Reno pelajari di pondok pesantren.


Sebagaimana kita ketahui, bahwa ilmu Agama Islam itu teramat sangat luas. Selain mempelajari Al -Qur'an sebagai kitab suci umat Islam, sekaligus sumber utama pedoman hidup manusia, ilmu Agama Islam juga mencakup ilmu Bahasa Arab yang merupakan instrumen untuk memahami semua literatur ilmu keislaman.Dan itu pun Reno masih harus mempelajari detail-detail ilmu sebagai anak cabang dan pelengkap ilmu Bahasa Arab seperti nahwu, shorof, i'lal, balaghoh, dan lain-lain. Belum lagi ilmu hadits dengan sanad, riwayat dan kredibilitas perawinya, juga ilmu fiqih dan ushul fiqh yang rumit, dan bercabang,"jelas Kak Reno panjang lebar.


Ia menghela napas perlahan seraya menyusun kata-katanya kembali.


Dan semua orang termasuk diriku diam dengan tenang mendengarkan penjabarannya.


"Untuk menguasai itu semua memang sangat tidak mudah dan sangat sulit.Tetapi,in syaAllah Reno ingin berkomitmen untuk serius dan tekun berupaya menuntut ilmu."


"Lalu bagaimana dengan Rani?,"tanya Mbak Riska.


Kak Reno menatap ke arahku untuk beberapa saat kemudian melihat ke arah Mbak Riska.


"Iya Ren,lalu bagaimana dengan Rani jika kamu terus pergi apalagi kali ini pilihanmu Mesir.Tempat yang jauh dan belum pernah Reno kunjungi sebelumnya,"sela kakek serius.


Huffffhhh....


Kulihat Kak Reno menarik napas panjang dan mengusap wajahnya sembari membetulkan songkoknya.


"Reno ingin mengajak Rani ikut bersama Reno kek."


Semua orang terlihat terkejut mendengar perkataan Kak Reno.


"Apakah sudah kau pertimbangkan sungguh-sungguh nak keputusanmu?,"tanya kakek menatap tajam Kak Reno sambil meluruskan kakinya.


"Iya kek.In syaAllah Reno sudah berpikir matang.Namun,sebelum Reno berangkat ke Mesir bersama Rani.Reno ingin menikah dengan Rani secara resmi sesuai peraturan negara kek,"matanya memandang serius dan tegang ke arah kakek.


Kakek terdiam memikirkan ucapan Kak Reno.Begitu pula dengan Bu Sri dan Pak Sugeng.


"Berarti mama akan jauh dari kedua anak-anak mama dalam waktu yang lama,"ucap Bu Sri dengan suara parau.


"Nanti Reno dan Rani bisa video call atau telepon mama,"jawab Kak Reno berusaha menenagkan Bu Sri.


"Mama berpikir setelah Reno pulang kita akan bersama-sama dan tidak ada yang akan pergi lagi.Mama paham akan keinginan cita-citamu Ren.Tetapi entah mengapa hati mama terasa berat sekali melepaskan Reno pergi terlebih lagi mengajak Rani bersama.Mama tidak bisa membayangkan betapa sepi dan rindunya mama nanti nak," ucapnya pelan dan tidak terasa air matanya pecah dalam isak tangisnya.


Kak Reno begitu tidak kuasa melihat kesedihan dan derita Bu Sri maka dipeluklah Bu Sri erat.Semua orang melihat mereka berdua dengan emosional.


Bu Sri membalas pelukan putranya dengan lembut namun kuat seolah-olah ia tidak akan berjumpa lagi dengan putranya.


Kakek yang sedari tadi hanya diam menyaksikan semua ini tiba-tiba ia berbicara dengan raut wajah yang terlihat sendu karena terbawa suasana haru.


"Ren,"ucapnya pelan.


Kak Reno dan yang lainnya menoleh ke arah kakek.


"Iya kek,"jawab Kak Reno berbalik memandang kakek sambil memeluk Bu Sri.


"Sebenarnya niatmu untuk menikah secara resmi dengan Rani itu sudah kakek,papa dan mamamu pikirkan jauh-jauh hari dan kami semua tidak keberatan dengan itu.Tetapi memang keputusanmu untuk belajar lagi ke Mesir membuat kami semua terkejut nak.Namun,jika keputusan itu sudah Reno pertimbangkan dengan seksama baik buruknya dan lebih banyak mendatangkan faedah untuk diri Reno dan semua orang.Kakek tidak akan menghalangi niatmu nak.


Setelah kepulanganmu dari pondok pesantren dan setelah Rani masuk menjadi bagian kehidupanmu kakek merasakan banyak perubahan positif yang terjadi pada diri cucu kakek.


Kakek senang melihat itu semua.


Oleh karena itu,kakek mendukung keputusanmu Ren.Dan untuk persiapan pernikahan biar kakek,papa,mamau dan Riska yang akan menyiapkan semuanya,"tutur kakek sambil menepuk pundak Kak Reno.


Mendengar ucapan kakek wajah Bu Sri terlihat tidak setuju.Ia terlihat gusar dan cemas akan dukungan kakek terhadap keputusan Kak Reno untuk menimba ilmu di Mesir.


"Tapi pah..,"sela Bu Sri.


Belum sempat Bu Sri meneruskan perkataannya kakek sudah mengisyaratkan dengan mengangkat telapak tangan kanannya ke atas dengan maksud Bu Sri tidak merintangi keinginan Kak Reno.


"Ssstttttttt....sudahlah Sri,jangan kau halangi niat baik putramu.Tidakkah kau lihat transformasi luar biasa akan sikap dan tingkah laku Reno.


Reno sudah cukup dewasa untuk menentukan pilihan hidupnya dan mengambil keputusan yang ia rasa tepat.


Kita sebagai orang tua hanya bisa mendoakan yang terbaik untuk Reno.Papa rasa kita harus mendukung keputusannya jangan malah membebaninya.Reno masih muda Sri,biarkan ia menggali ilmu dan pengalaman hidup sebanyak-banyaknya agar ia tumbuh menjadi imam yang soleh untuk Rani dan keluarganya nanti,"ucap pendapat kakek kepada Bu Sri.


Mendengar ucapan Kakek Bu Sri hanya terdiam.Namun,raut wajahnya tidak terlihat pilu seperti sebelumnya.


Sepertinya beliau mencerna apa yang kakek sampaikan dan ia pikirkan betul-betul.


"Lalu bagaimana dengan Rani.Apakah Rani setuju dengan keputusan Reno?,"tanya kakek sambil mengusap kepalaku pelan.


Aku yang sejak tadi asyik menjadi pendengar.

__ADS_1


Tiba-tiba terkejut dengan pertanyaan kakek.


Dan sekarang semua mata tertuju padaku.


Gleeekkkkk.....


Aku menelan air ludah karena tegang.


Kak Reno menatap ke arahku dan memberikan senyumannya padaku seraya menundukkan kepala.


Ia berusaha membuatku tenang.


Kubalas tatapannya seolah menggambarkan ucapan ya kak aku baik-baik saja.


Dan Kak Reno merespon kembali dengan senyuman.


Ia seperti cenayang yang memahami maksud hatiku.


"Hmmmm...sebelum Kak Reno mengutarakan keinginannya di hadapan semua anggota keluarga Kak Reno telah lebih dulu berbicara dengan Rani kek,"ucapku pelan.


Kakek tersenyum sambil mengusap kembali kepalaku.


"Ohh...rupanya Reno sudah rembukan dengan istrinya terlebih dulu,"ucap kakek menggoda.


"Ehemmmmmm....,"suara Mbak Riska mencairkan suasana.


"Berarti bagus dong pah.Itu tandanya mereka makin intens ngobrol dan semakin dekat,"kata Pak Sugeng sambil tersenyum bergurau.


Pipiku memerah seketika.


Rasanya malu dan salah tingkah.


Dari tempatku duduk kulihat raut wajah Bu Sri yang sudah mencair tanpa kesedihan yang berangsur-angsur menghilang.


"Lalu apa keputusan Rani?,"tanya Bu Sri yang ikut bergabung dalam pembicaraan.


Semua mata menatapku lagi terlebih Kak Reno yang menggumbar senyuman teduhnya untukku.


"Rani...In syaAllah mendukung keputusan Kak Reno mah.In sya Allah Rani siap mendampingi Kak Reno,"ucapku yakin.


"Termasuk menikah secara resmi?,"tanya Bu Sri.


Lalu aku mengangguk pelan.


Semua orang terlihat sumringah.


Kakek mengusap kepalaku pelan.


"In syaAllah Rani mengambil keputusan yang tepat,"sahut kakek terlihat senang.


Tergambar wajah bahagia kakek yang tidak pernah kulihat sebelumnya.


"Terima kasih ya Ran untuk pilihan Rani yang bersedia terus bersama Reno.Mama tenang dan sangat senang jika Rani selalu ada bersama Reno.Semoga kalian langgeng ya nak terus bersama hingga maut memisahkan,"ucap Bu Sri sambil mengusap wajah Kak Reno lembut.


Semua orang kompak mengucapkan,"Aamiin,"secara bersamaan.


Aku masih tersipu malu merasa canggung dengan keadaan yang ada.


Dan kulihat Kak Reno begitu bahagia.Terpancar jelas dari rona wajahnya yang berseri-seri.


Lagi matanya menatapku dan kubalas tatapannya dalam.


Akhh....


Matanya kembali seperti magnet yang membiusku.


Lambat tetapi begitu menusuk di kalbu hingga membuat getaran listrik yang terus menyambar di sekujur tubuh.


Tuhan,


Jika perasaan ini adalah karunia dariMu.


Maka jagalah keberadaannya dan jangan Engkau biarkan pupus atau layu sebelum berkembang.


Biarkan secara perlahan ia mekar menghadirkan kelopak-kelopak indah yang menyejukkan.


Dan untuk itu bimbinglah aku agar istiqamah dijalanMu.


Memantapkan cinta akan ridhoMu.

__ADS_1


Apapun masalah pelik yang akan tiba nanti .


Aku percaya Rabbku akan selalu bersamaku mengarungi semua ujian.


__ADS_2