
Kak Roy duduk sembari memandang keluar jendela, dari ruang keluarga kediaman rumahnya.Kegelisahan begitu tampak jelas tersirat pada raut wajahnya.
Bude Ayu yang melihat Kak Roy dari kejauhan, segera mendekatinya.
"Ada apa Roy? Apakah kamu memikirkan Rani?, " tanya bude Ayu seraya memegang bahu Kak Roy.
Kak mengangguk dengan menunjukkan wajah murungnya.
"Katakan pada Bude, apa yang terjadi. Hingga dirimu tampak murung dan gelisah seperti ini, nak!. "
Kak Roy menghela napasnya, seraya mengambarkan berapa sesak dadanya menahan perasaannya padaku.
"Tidak ada yang lebih menyakitkan lagi Bude ,saat menyadari bahwa ia berarti segalanya bagi kehidupan ku. Namun, diri ini tak berarti apa-apa baginya."
Bude Ayu menatap Kak Roy lekat.
"Maksudmu, Rani menolak perasaan mu kepadanya?. "
"Bukan menolak Bude, tetapi lebih tepatnya. Rani tidak akan bisa membuka hatinya untuk siapa pun, setelah kepergian almarhum Kak Fariz. "
"Itu sama saja menolak sayang. Rani mungkin belum move on dari kenangan masa lalunya, " ucap Bude Ayu menatap Kak Roy lalu meneruskan perkataannya.
"Apakah dirimu benar-benar sangat mencintai Rani, nak?. "
Kak Roy menatap Bude Ayu dengan wajannya yang serius, "Tidak hanya sekedar cinta Bude. Tetapi perasaan yang Roy miliki untuk Rani adalah alasan untuk Roy, tetap bertahan menjalani kehidupan ini. Rani adalah napas kehidupan Roy, Bude. "
"Begitu dalam kah perasaan mu kepadanya, nak?, " tanya Bude Ayu.
"Sangat dalam Bude, dan hasrat Roy untuk memiliki Rani setelah kepergian Kak Fariz, semakin besar. "
Bude Ayu terdiam dan memikirkan perkataan Kak Roy.
"Jika Rani tidak dapat membuka hatinya untuk dirimu, maka kamu harus melakukan sesuatu untuk membuat dirinya menerima dirimu, meskipun dengan cara memaksanya. Tetapi dengan cara yang halus, tanpa Rani sadari nak. "
Kak Roy menatap penuh tanya pada Bude Ayu, "Bagaimana caranya Bude? . "
Bude Ayu tersenyum lebar dan berbisik pada telinga Kak Roy.
Kak Roy nampak terkejut mendengarnya, "Apakah hal itu tidak akan menyakiti Rani dan putri ku Bude?. "
Bude Ayu menepuk pundak Kak Roy pelan,"Semua tergantung keputusan mu. Apakah dirimu benar-benar ingin memiliki Rani atau tidak. Dalam cinta butuh pengorbanan, nak. Maka pikirkanlah, sebelum Rani semakin menjauh darimu. "
Bude Ayu bangun dari duduknya, dan melemparkan senyumannya pada Kak Roy, lalu meninggalkan Kak Roy yang masih duduk termenung memikirkan perkataan akan saran dari rencananya.
Tidak lama kemudian, putri Kak Roy menghampiri dirinya dan meminta untuk membawanya menemuiku. Kak Roy menatap wajah putrinya dengan lekat.
"Apakah aku harus mengorbankan perasaan putri ku, hanya untuk memenuhi hasrat ku memiliki Rani, " gumam Kak Roy di dalam hatinya.
"Papa! Ayo! Kita ke rumah mama Rani! Rani ingin ketemu mama, pah!," renggek Rani dengan terus menarik tangan Kak Roy.
Kak Roy berusaha menenangkan putrinya, dengan mengengam jemari tangan Rani. Tetapi juga tidak dapat menenangkan Rani, hingga Kak Roy harus menggendong Rani, dan terus memberikan pengertian kepada putrinya.
"Sudah mau malam sayang, nanti kedatangan kita justru menganggu mama Rani. Besok saja kita kesana ya, " bujuk Kak Roy.
"Benar kah pah? Papa janji ya!, " ucap Rani sambil menyodorkan jari telunjuk nya.
Kak Roy pun melingkar kan jari kelingking nya pada jari kelingking Rani, dan membuat janji jari kelingking, "Iya papa janji sayang. "
Rani terlihat senang dan bisa tenang.
"Rani sayang papa!, " ucap Rani sambil mencium pipi Kak Roy.
Kak tersenyum dan membalas ciuman putrinya, dengan mencium kening Rani dan membelai kepalanya lembut, penuh dengan kasih sayang.
Dari kejauhan Bude Ayu dan Tante Desi pun mengamati Kak Roy dan putrinya, tanpa sepengetahuan mereka.
"Apakah hatimu tidak merasa terketuk melihat Roy dan putrinya, begitu sangat membutuhkan Rani, Des, " ucap Bude Ayu pada Tante Desi.
Tante Desi terdiam dan larut dalam pikirannya.
__ADS_1
Bude Ayu dengan cepat menepuk lengan Tante Desi, untuk menyadarkannya dari lamunan.
"Bukan waktunya untuk terus berpikir, kamu harus segera mengambil tindakan. Supaya Rani dapat segera menjadi menantumu, Des, " bujuk Bude Ayu mempengaruhi Tante Desi.
"Tentu aku sangat menginginkan Rani menikah dengan Roy, dan menjadi menantu di rumah ini, Mbak Ayu. Tetapi, aku juga tidak boleh egois, dengan memaksa Rani menjadi istrinya Roy. Karena aku paham betul mbak, bagaimana sifat Rani, " tutur Tante Desi.
"Tetapi kamu juga harus memikirkan Roy dan cucumu, sudah cukup kesedihan menghiasi hidup mereka selama ini. Dan kini saatnya mereka berdua berhak mendapatkan kebahagiaan dalam kehidupan mereka, meskipun harus menawan Rani dalam paksaan untuk menjadi istrinya Roy. "
Tante Desi tidak setuju akan pemikiran Bude Ayu, yang ingin memaksa diriku supaya menikah dengan Kak Roy.
"Aku tidak bisa melakukan hal itu mbak. Rani juga sudah kuanggap seperti putri ku sendiri, dan aku tidak mampu melihat kesedihan membalut kehidupannya lagi, setelah ia melalui masa suram dan kelabu, yang baru terjadi pada hidupnya. "
Bude Ayu terlihat kesal akan jawaban dari Tante Desi.
"Akh.. Terserah sekarang apa keputusan mu. Aku hanya membantu putramu Roy untuk mendapatkan kebahagiaannya. Namun, semua nya tergantung dirimu dan Roy. Apakah benar-benar menginginkan Rani masuk ke dalam rumah ini, sebagai istri Roy. Atau membiarkan cucu dan putramu kembali menderita, jika ternyata Rani menikah dengan orang lain, nantinya. Tidak ada yang tahu akan hal itu, bukan. "
Setelah mengatakan apa yang ada di hatinya, Bude Ayu lalu meninggalkan Tante Desi yang tengah berpikir seorang diri.
***
Kak Roy mengantarkan putrinya ke kamar, sembari membacakannya dongeng hingga tertidur. Di pandanginya lekat wajah putrinya yang sudah tertidur, ada rasa berkecamuk penuh kegusaran , menyeruak di hatinya. Dengan lembut dan pelan, ia usap kepala putrinya, lalu mendaratkan kecupan sayang pada kening putrinya.
"Mama Rani! Mama Rani!, " ucap putri Kak Roy mengigau dalam tidurnya.
Kak Roy berusaha mengusap kepala putrinya lembut dan berulang, untuk membuatnya tertidur dengan lelap.
Namun, sekali lagi putrinya mengigau dan terus memanggil namaku berulang-ulang.
Ssssstttt....stttttttt..sttttt...
Kak Roy membuat suara supaya putrinya berhenti mengigau dann terus mengusap kepala sang putri hingga berhenti mengigau.
Remuk hatinya melihat putrinya begitu sangat merindukan Rani.
"Akh, mana bisa aku egois dengan memanfaatkan putri ku sendiri, demi untuk memiliki Rani. Aku tak sanggup melihatnya terluka, karena sejak lahir ia telah tumbuh tanpa sosok seorang ibu. Dan kini kebahagiaannya terdapat pada Rani. Jika aku memaksa dan melakukan tindakan yang melukai perasaan Rani. Ia akan menjauhi diriku, yang akan berimbas pada putri kecilku. Ya Allah, aku tak akan sanggup melihat air mata menyakiti hati putri ku, " gumam Kak Roy dengan air matanya yang mengalir perlahan.
Tidak lama kemudian, pintu kamar Rani terbuka. Kak Roy segera mengusap air matanya yang mengalir, lalu melihat ke arah pintu, untuk melihat siapa yang datang.
Dan ternyata adalah Tante Desi yang melihat ke arah Kak Roy, kemudian segera menutup pintu kamar dengan pelan agar tidak membangunkan cucunya yang sedang tertidur.
Tante Desi mendekat ke arah Kak Roy sambil menepuk pundak putranya.
"Mama dengar suara putrimu memanggil nama Rani cukup keras, sehingga membuat mama kemari, " ucap Tante Desi pelan dan duduk di samping ranjang tempat tidur cucunya di hadapan Kak Roy.
"Rani mengigau dalam tidurnya. Bahkan saat tidur pun, pikiran dan hatinya terus memikirkan Rani, " ucap Kak Roy sedih dengan wajar murung nya menatap sang putri.
Tante Desi menghela napas dan memandang wajah Kak Roy, lalu beralih memandang wajah cucunya.
"Iya nak, betapa besar rasa sayang putri mu kepada Rani, yang sudah ia anggap benar-benar seperti mamanya sendiri.
Tiba-tiba Kak Roy mengalihkan topik pembicaraan,supaya Tante Desi tidak larut dalam kesedihan," Dimana Bude Ayu mah? Apakah sudah pulang?. "
Tante Desi menggeleng kan kepalanya, "Belum nak, Bude dan pakde mu menginap disini, sekarang mereka berdua sedang mengobrol dengan papamu di ruang keluarga. "
"Ohhh, " ucap Kak Roy.
Tante Desi memegang tangan kak Roy, dan menatap paras putranya dengan sangat serius. Kak Roy pun memandang balik Tante Desi.
"Ada apa mah?, " tanya Kak Roy.
"Sayang, mama tahu kamu sangat mencintai Rani, " tutur Tante Desi lalu menjed perkataan nya dengan memandang lekat dan dalam Kak Roy.
Kak Roy diam dan menunggu kelanjutan perkataan Tante Desi.
"Nak,jangan engkau turuti saran dari Bude mu yah. Meskipun kamu sangat mencintai Rani dan ingin memilki nya seutuhnya menjadi istrimu."
"Mengapa mah? Apa alasannya Roy tidak boleh melakukan saran dari Bude Ayu?, " tanya Kak Roy yang berusaha ingin tahu lebih dalam lagi pemikiran Tante Desi.
Tante Desi menarik napas dalam, sembari mengusap lembut wajah Kak Roy.
__ADS_1
"Nak,tidak perlu memaksakan cinta kepada seseorang yang sangat kita cintai, karena bila Rani adalah takdir mu bagaimanapun juga caranya, Dia akan menjadi milikmu. Namun, bila Rani bukan takdirmu, sememaksa apapun dirimu, dengan berbagai cara dan upaya, tidak akan pernah membuat dirinya menjadi milikmu."
Kak Roy terdiam mendengarkan apa yang Tante Desi katakan.
"Jangan sampai hasrat keegoisan yang ada di hatimu, untuk ingin memiliki Rani,sehingga membuat dirimu menjadi orang yang tidak punya hati. Coba pikirkan bagaimana rasanya menjadi orang yang dipaksa untuk mencintai seseorang,dan menikah dengan seseorang yang tidak ia cintai.Pasti sangat menyiksa dan menyakitkan.Apalagi Rani pernah mengalami pernikahan paksa, yang merenggut semua kebahagiaan hidupnya. Hingga penawar dari rasa sakit itu datang mengobati hati dan pikiran nya yaitu almarhum Nak Fariz, seseorang yang sangat ia cintai hingga saat ini, " imbuh Tante Desi.
Nyessss....
Hati Kak Roy terasa ngilu mendengarkan perkataan Tante Desi. Sementara itu, Tante Desi pun meneruskan perkataannya kembali.
"Bahkan dirimu pun juga pernah merasakan bukan, bagaimana di paksa untuk mencintai Rere."
Kak Roy menganggukkan kepalanya, dan menatap wajah Tante Desi.
Tante Desi pun memandang lekat wajah Kak Roy, dan kali ini ia mengenggam tangan kanan Kak Roy dengan kedua jemari tangannya, seraya memohon kepada Kak Roy.
"Jadi,kendalikan dirimu nak!, apapun jawaban orang yang kamu sukai dan cintai yaitu Rani, tolong sebaiknya kamu hargai.
Perasaan itu akan tumbuh seiring berjalannya waktu, bila kalian memang ditakdirkan oleh Allah Subhanahu Wa Ta'ala untuk bersatu. Jangan sampai hubungan pertemanan kalian yang sudah layaknya seperti saudara menjadi hancur, hanya karena sikap keras kepalamu saja, karena menuruti hasrat dirimu. Tidak ada manfaatnya juga kamu memaksakan perasaan cinta pada Rani. Hal itu akan membuat nya merasa tidk nyaman, dan menjauh darimu. Dimana akan berdampak pada psikis putrimu, yang sangat menyayangi Rani dan tidak bisa jauh darinya. Jadi mama tolong, pikirkan baik-baik perkataan mama nak.
Karena kamu juga tahu, mama juga sangat menyayangi Rani layaknya putri mama sendiri. Sudah banyak air mata kesedihan mewarnai di kehidupan nya. Maka jangan engkau tambah lagi rasa sakit dan duka di hatinya. Jika memang engkau sangat mencintai nya, maka berusahalah membuat dirinya bahagia dengan cinta yang engkau miliki untuknya. Cinta adalah anugerah dari Sang Pencipta, dimana kehadirannya membuat bahagia, bukan justru memberi duka atau kesedihan di hati seseorang. "
Kak Roy terenyuh hatinya mendengar apa yang Tante Desi sampaikan padanya. Pikiran dan hatinya terasa bercampur aduk dalam sebuah perasaan yang membuat dirinya gusar dan gelisah. Tetapi ia menyadari, jika ternyata Tante Desi satu frekuensi pemikiran dengannya saat ini.
Kak Roy masih terdiam dan hanyut dalam perasaannya, ia masih berusaha berdamai dengan hatinya.
"Cinta memang tak harus memiliki, tetapi mencintainya dan tidak memiliki dirinya, memang masih sangat begitu sulit untuk Roy terima mah. Namun Roy akan berusaha,meski itu akan sangat menyakitkan, " ujar Kak Roy.
Tante Desi mengusap kepala Kak Roy dengan penuh kasih sayang.
"Urusan hati dan perasaan memang tidak bisa dipaksakan, nak. Kita tidak bisa begitu saja membuat orang yang kita cintai ,juga bisa punya perasaan yang sama dengan kita. Ada kalanya memang jalan terbaik untuk kebaikan bersama adalah melepaskan orang yang kita cintai, tanpa memaksanya untuk menerima cinta kita. Walaupun hal itu terkadang pedih dan sangat menyakitkan untuk kita, namun bisa jadi melepaskan orang yang kita cintai itu memang jalan yang terbaik untuk kita.
Cinta sejati akan menemukan jalannya. Mama yakin,Allah pasti akan mengarahkan dirimu pada pintu-pintu baru untuk menemukan cinta yang lebih baik. Rani yang kamu cintai mungkin memang bukan jodohmu. Sehingga cara terbaik dari Allah akan perasaan mu adalah berpisah darinya, supaya dirimu segera menemukan jalan yang tepat menyambut cinta sejatimu. Ingatlah nak, akan selalu ada kesempatan untuk cinta yang lebih baik. Sehingga dirimu tidak perlu terus meratapi cinta yang tidak bisa engkau miliki.
Jangan pernah takut untuk terluka ,nak. Sebab hati kita memiliki kekuatan yang tidak pernah kita duga sebelumnya. Saat ini mungkin hatimu patah dan luka, karena harus melepaskan lagi dan lagi...Rani yang sangat dirimu cintai. Namun, seiring berjalannya waktu dan ikhtiar yang dirimu lakukan,untuk berdamai dengan keadaan, hatimu yang patah dan terluka itu akan tumbuh kembali. Percayalah,akan ada ruang baru untuk membuat dirimu lebih bahagia dan mendapat cerita yang lebih indah, dari sebelumnya, "tutur Tante Desi menyemangati Kak Roy dengan perkataannya.
Kak Roy terdiam dengan matanya yang berkaca-kaca, lalu ia mengucapkan terima kasih pada Tante Desi yang telah menasehatinya agar tidak salah mengambil langkah.
Kak Roy menyadari selalu ada alasan kenapa dirinya dipertemukan dengan diriku. Termasuk saat ia harus menghadapi kenyataan , jika cintanya tak bisa memiliki diriku dan harus membuat dirinya melepaskan perasaan cinta itu. Cinta memang tidak dapat memiliki diriku. Namun,ia paham jika hal itu bukan berarti akhir dari segalanya.
Ia ingin terus berada di dekatku, dan melihat ku menemukan kebahagiaan.
Semakin ia mencintai diriku, semakin ia seharusnya dekat dengan Sang Pencipta.
Dan semakin banyak juga, seharusnya kebaikan yang ia lakukan dan membuat dirinya menjadi orang yang lebih baik,pikirnya di dalam benaknya.
Tante Desi mencium kening Kak Roy dan beranjak pergi dari kamar tidur cucunya.
Sementara itu, Kak Roy malam ini ingin tidur menemani dan menjaga putrinya.
Pandangan nya masih tertuju pada langit-langit kamar, dimana ia menyadari bahwa pertemuan diriku dan dirinya adalah untuk membawa kebahagiaan di dalam kehidupan putri cantiknya.
Kak Roy mengusap kembali kepala Rani, dan mencium jemari tangan putrinya dengan penuh kasih sayang.
"Papa menyayangi mu Nak, papa berjanji akan selalu membuat hidupmu bahagia, meskipun papa harus terluka demi membuat mu bahagia, " ucap Kak Roy lirih dan pelan.
"Rani juga sayang papa, " jawab putri kecilnya dengan langsung memeluk Kak Roy.
Kak Roy begitu terkejut, mendengar putrinya berkata demikian.
"Apakah Rani mendengar semua pembicaraan ku dengan mama tadi?, " ucap Kak Roy di dalam hatinya dengan raut wajah panik.
Kak Roy memandang kembali wajah putrinya, yang masih terlelap dalam tidur.
Kak Roy merasa tenang, karena Rani hanya mengigau.
Kedua mata Kak Roy terpejam bersamaan, menunjukkan kelegaan akan ketakutan nya.
Cukup lama ia terdiam dalam pikirannya, hingga rasa kantuk menghinggapi dirinya dan membuat dirinya tertidur, tanpa ia sadari.
__ADS_1